Hari ini Rayyan mulai melangkahkan kakinya menuju perusahaan abangnya. Seminggu pasca pulang dari rumah sakit, Rayyan memutuskan bekerja di kantor abangnya namun bukan sebagai karyawan berjabatan tinggi. Tidak juga sebagai office boy. Hanya karyawan biasa.
Dengan pakaian kemeja yang di belinya kemarin, celana formal berwarna hitam dan sepatu hitam mengkilat yang di belikan mamanya. Rayyan nampak gagah dengan memakai pakaian formal seperti itu namun wajahnya yang tetap manis tak memungkiri jika usianya terlalu boros bagi wajah semanis itu.
Awalnya Athar mengajaknya untuk berangkat bersama namun Rayyan menolak karena ingin menikmati waktunya bersama pepa kesayangan.
Si pepa tetap motor kesayangan meski dari jaman awal-awal bisa motor sampai ahli pun pepa tetap juara. Rayyan sampai di basemant kantor. Dia memakirkan, motornya di barisan belakang.
Dengan langkah ringan, Rayyan memasuki gedung dan mencari orang yang di panggil Pak Yuda. Tatapan aneh di berikan pada Rayyan, dia sih sudah terbiasa dengan tatapan aneh mereka. Pak Yuda mulai memberikan tugas yang sederhana saja.
"Ini tolong di hancurkan ya kertasnya."perintah Pak Yuda.
"Baik, Pak." Rayyan mulai kerjanya. Di temani Pak Yuda selaku penanggung jawab Rayyan.
"Nanti jika ada yang menyuruhmu untuk apapun tolong dilakukan saja."
"Baik, Pak."
Rayyan ditinggalkan sendiri dengan mesin penghancur kertas-kertas yang harus di musnahkan. Kerja di kantoran tentu saja banyak kertas-kertas yang harus di hancurkan supaya bisa di daur ulang kembali.
"Pekerja baru?" tanya seorang karyawan.
"Iya," jawab Rayyan ramah.
"Dito, ini karyawan baru yang di rekomendasiin bos?" Tanya karyawan itu dengan nada sombongnya.
"Iya," jawab Dito dengan simple. Lalu kembali bekerja dengan laptopnya.
"Anak baru, tolong buatin kopi dong." Rayyan memandang tak suka. Dia tahu jika dirinya di bully.
"Maaf Pak, saya sedang mengerjakan tugas Pak Yuda." Rayyan berusaha seramah mungkin.
"Jangan ngebantah lo ama senior," ucap Rafqa memberikan salam pengenalan demgan memukul kepala Rayyan menggunakan gulungan kertas yang di bawanya.
"Kalian mau ga?" tawarnya pada rekan-rekan kerjanya yang sibuk masing-masing.
"Boleh deh," ucap perempuan yang asik dengan melihat cermin. Saat kerja begini malah asik berdandan.
"Semuanya. Buatin sana di dapur." Rayyan tak peduli. Dia bukan pekerja seperti itu. Rafqa yang melihat si anak baru yang diam saja pun menjadi geram.
"Cepet sana!" Rafqa sedikit mendorong bahu Rayyan sampai mundur beberapa langkah. Sontak Rayyan melawan, dia menepis tangan Rafqa.
"Saya selesaikan ini dulu, Pak." tunjuk Rayyan pada dua tumpukan kertas HVS yang berada di dekatnya.
"Alaaah ... nanti aja."
Sempat ada aksi dorong mendorong antara Rafqa dan Rayyan. Sampai akhirnya Rayyan dengan tanpa sengaja membuat Rafqa jatuh terduduk di lantai.
"Ups ... sorry." tanpa rasa bersalah Rayyan hanya berucap seperti itu. Rafqa terpancing, tatapan geram dan penuh emosi langsung berdiri dan memukul ulu hati Rayyan dengan kerasnya.
"Akhhh ...."
"s****n lo, anak baru udah ngelunjak." Orang-orang yang ada di sini hanya bereaksi biasa saja saat Rafqa melakukan pemukulan itu. Tanpa seorang pun yang menegur maupun melerai mereka.
"Cepet buatkan kopi!" Nada bicara Rafqa terlihat dingin. Rayyan tak mau menambah masalah dia melakukan apa yang di perintah Rafqa. Membuat kopi di dapur sebanyak lima belas orang.
Dengan nampan di penuh dengan paperglass, Rayyan kembali ke ruangan divisinya dengan menahan sakit di perutnya. Dalam sebulan ini ulu hatinya selalu menjadi sasaran tangan-tangan kasar.
"Kok kopi hitam." tegur Rafqa lagi.
"Ada apa ini?" tanya Pak Yuda saat kembali masuk ke ruangan yang di pimpinnya. Wajah-wajah pekerja itu tegang terlebih Rafqa.
"Tidak ada apa-apa, Pak." Rafqa kembali duduk di kursi kerjanya. Pak Yuda bisa melihat raut wajah Rayyan yang kesal.
"Kamu bagi-bagi kopi? Ini masih terlalu pagi untuk meminum kopi." tegur Pak Yuda.
"Gak kali, Pak. Contohnya Papa saya suka minum kopi setiap habis sarapan." Rayyan menyimpan nampan berisi kopi-kopi itu di atas mejanya.
"Kamu sudah selesai? jika sudah ikut saya." Rayyan merenggut. Dia baru menghancurkan seperapat kertas yang di bawanya tadi.
"Belum, Pak. Ini masih banyak." tunjuknya dengan lesu.
"Belum? Ini bisa di selesaikan lima belas menit." Pak Yuda menatap wajah Rayyan dengan kaca matanya beningnya.
"Iya, tapi saya di suruh buat kopi sama mereka." adu Rayyan seperti anak kecil. Seketika Pak Yuda menatap anak buahnya yang langsung berwajah horor.
"Apa benar?" tanyanya dengan berdiri tegak sembari memeprhatikan semua wajah anak buahnya yang kini menatap ke arah Pak Yuda.
"Bukan menyuruh, Pak. Tapi meminta tolong," ucap Rafqa.
"Jika ingin minum kopi kalian ambil sendiri. Jangan menguruh rekan kerja yang lainnya. Ini akan menghambat kinerja divisi kita." Tegas Pak Yuda yang langsung membuat Rafqa diam.
"Jika hal seperti ini terulang kembali, saya tidak akan segan-segan melaporkan ini pada atasan." Ancam Pak Yuda dengan jelas, singkat dan padat.
Rayyan menatap Rafqa dengan senyum penuh kemenangan. Rayyan bisa melihat jelas jika Rafqa menatapnya sebal.
Athar melihat ruangan adiknya bekerja, dia mempercayakan Rayyan pada temannya, Yuda. Semoga Rayyan bisa belajar dengan baik.
Kini Rayyan tengah mendengarkan penjelasan dari Yuda yang tak di mengertinya. Jika begini, dia lebih baik mengutak-ngatik si tomo di rumah. Berdiam diri di depan komputer membuatnya pegal. Bahkan pantatnya terasa panas duduk saja sejak empat jam lalu.
"Bagaimana, Yud?" tanya Athar akrab yang membuat Pak Yuda langsung menegakkan badannya.
"Lumayan. Tapi banyak kekurangannya. Kamu ngambil anak ini dari mana sih?sampai nulis laporan aja ga bisa." Athar terkekeh mendengar penjelasan Yuda berbanding terbalik dengan Rayyan yang masih memanyunkan bibirnya kesal.
"Biasa,"
"Kalian sudah makan siang? Kita makan siang di kantin." Ajak Athar yang langsung di iyakan Rayyan dengan semangat.
"Kamu ini, jaga sopan santunmu. Giliran makan semangat." tegur Yuda.
"Marah-marah aja, cepet tua lho." Rayyan bergidik ngeri saat Yuda menatapnya.
"Hahahahha ... kalian cocok" ucap Athar yang langsung di jawab kompak keduanya.
"TIDAK!"
***
Jam enam Rayyan baru sampai rumah dengan badannya yang lelah. Padahal kerjanya hanya mendengarkan celotehan Pak Yuda yang tak lain sahabat Abangnya.
Dengan langkah lemas, Rayyan menaiki tangga tanpa memperdulikan Athalla yang memperhatikannya dari arah kamarnya.
"Baru pulang." Rayyan kaget luar biasa saat akan memijakkan kakinya di anak tangga ketiga.
Srekkk...
"Haduhhh!" Rayyan mengaduh saat kakinya salah berpijak. Athalla menghampiri kakaknya yang tengah duduk di anak tangga dengan memegangi sandaran tangga.
"Ihhh kodok, ngapain sih lu ngagetin. Ahhh haduhhh sakit banget ini." Rayyan terus meringis saat pergelangan kakinya terkilir.
"Ahhh lo sih yang bengong, ngapain nyalahin gue sih." Athalla berjongkok di anak tangga bawah, membuka sepatu formal itu dan melepaskan kaos kakinya.
"Yah, Kan lo. Kalau nyapa itu jangan tiba-tiba."
"Ckckck, cerewet lo kaya mbak-mbak sales." Rayyan memukul kepala Athalla keras. Athalla pun membalas dengan menepuk bahu kanan rayyan.
"Ishhh, sakit bego." Rayyan meringis memegangi bahunya yang di pukul Athalla.
"Alaaah. Jangan kaya anak perawan lo. Di pegang dikit aja teriak." Sambil memijit-mijit kaki kanan yang keseleo.
"Ishhh." Rayyan masih mengernyit sakit. Bahkan wajahnya sampai merah menahan sakit.
"Jangan lebay deh-" ucapan athalla terhenti saat tangan kanan itu terkulai lemas di susul badannya yang menubruk Athalla.
"Ckckck, udah. Jangan akting. Gue mukul lo ga keras-keras bangetkan." Namun tak ada pergerakan berarti. Wajah Rayyan yang bermandikan keringat masih setia di d**a Athalla dengan napas lemah.
"Rayyan! bangun lo!" Athalla menepuk-nepuk pipi Rayyan yang kini bisa terlihat jika wajahnya sedikit memucat.
"Ya allah, Mama!"teriak Athalla pada akhirnya.
***
Dimas di buat ketar-katir saat di hubungi oleh istrinya via telepon. Suara istrinya yang panik sampai menangis membuatnya hilang akal. Dengan cepat, Dimas memerintahkan Mang Asep untuk segera menancap gas.
Sesampainya di rumah, Dimas melihat Athalla menggendong Rayyan yang sudah tak sadarkan diri di punggungnya. Mereka berniat akan membawanya ke rumah sakit. Namun Rayyan bergumam lirih.
"Kamar." ucapnya dengan lirih. Athalla awalnya tak akan menurut tapi Dimas menyuruhnya membawa ke kamar karena dirinya sudah menghubungi Ina..
Nadine membantu menggantikan pakaian putranya yang basah oleh keringat. Sedetik kemudian Rayyan sedikit meringis ketika bahunya di tekan oleh Nadine. Belum lagi kakinya yang berdenyut-denyut. Kepalanya pun ikut pusing. Badannya langsung lemas tak bertenaga, entah karena menahan sakit atau dirinya yang memang lemah.
"Ssshhh" Rayyan meringkuk sambil memegangi bahunya. Dimas dan Athalla yang melihatnya pun bertanya-tanya.
"Bahunya sakit? Tadi jatuh di tangganya gimana?" Tanya Nadine panik. Dia tak tega melihat wajah kesakitan Rayyan yang sampai memerah dan urat-urat lehernya timbul.
"Ma, kalau di tangga tadi gak apa-apa. Hanya kakinya aja terkilir." Athalla yang bersuara karena dirinya yang ada di sana. Saksi hidup satu-satunya, dia tak mau jika dia di salahkan.
"Pasti ada yang salah." Dimas merengkuh tubuh Rayyan supaya duduk. Kedua mata sipit putranya nampak memejam karena sakit. Dimas membuka kaus putih polos yang di pakai putranya.
"Ganti dulu ya, ini basah semua." Nadine sudah siap dengan kaos yang baru di ambilnya dari lemari. Rayyan menurut, sembari meringis sakit jika bahunya tersentuh maupun bergesekan. Kaos putih sudah terlepas, kini Dimas, Nadine dan Athalla terkejut ketika melihat luka memar di bahu kanan Rayyan. Warnanya sangat mengerikan. Pantas saja sakit, belum lagi memar di atas perutnya.
"Ya Allah, Adik." Dimas mengernyitkan dahinya. Ini bukan hal sepele. Jelas sekali jika ini luka karena sesuatu namun buka terjatuh.
"Athalla, telepon Tante Ina. Bilang cepetan, jangan lelet." Dimas tak bisa tenang-tenang saja melihat kondisi putranya yang benar-benar butuh pertolongan.