Kerja? kerja? kerja? apa hanya itu yang menjadi tolak ukur seseorang sukses. Apa hanya karena abangnya seorang pemimpin perusahaan? Dirinya di anggap kecil. Apa karena karir adiknya sekarang yang lebih maju sebagai arsitek, dirinya di anggap orang tak berguna? Sungguh dunia nyata lebih kejam dari pada drama korea.
Rayyan berusaha untuk tutup telinga dengan komentar-komentar pedas dari teman-teman Mamanya. Belum lagi tetangga yang julid padanya.Untungnya Rayyan tak main media sosial, jika dia main sudah habislah dirinya. Padahal mentalnya sudah terlatih kuat tapi kenapa jika di hadapkan masalah sosial sekaligus pribadi begini saja rumit sekali.
"Kenapa drama hidup gue sesakit ini? Gue lebih suka tanding di arena jika dunia kehidupan segini rumitnya." monolog Rayyan sembari lari kecil mengelilingi jalanan kompleks rumahnya.
Pas awal-awal pensiunnya dulu banyak sekali tawarannya dari berbagai produk terutama untuk model iklan otomotif, tapi Rayyan menolaknya dengan alasan yang simple. Dia mau istirahat.Namun ucapannya terkabulkan karena sampai sekarang dia istirahat.
Brukkk...
Langkahnya terhenti saat mendengar teriakan maling .. copet.. jambret...!!!Pagi-pagi begini ada orang yang sudah berbuat dosa? Reflek Rayyan menengok ke arah kerumunan orang-orang yang berlari ke arahnya. Wajah orang-orang itu terlihat emosi.
Dugh...
***
Bau khas rumah sakit, Rayyan membuka matanya. Sedikit mengernyit saat lampu di atasnya terasa menyilaukan.
"Dik?" Itu suara Nadine. Namun Rayyan tidak bisa melihat dimana Mamanya karena tiba-tiba saja rasa pusing menderanya.
"Shhhsshh"
"Jangan bangun dulu dik." perintah Nadine tersirat nada khawatir.
Rayyan akhirnya bisa melihat semuanya dengan jelas, Athar dan Athalla tidur di sofa rumah sakit dan papanya sedang shalat malam, mungkin. Karena Rayyan tak tahu jam berapa ini.
"Ma."
"Ada apa Dik? mau minum?" Tangan Nadine yang lembut membelai pipi Rayyan.
"Adik cinta Mama," lirih Rayyan. Nadine tersenyum melihat wajah Rayyan yang sedang tersenyum meski ada beberapa lebam menghiasi.
"Jangan nakal. Masa keluar rumah buat jogging malah berakhir di opname."
"Takdir."
"Ihhh masih jawab aja" Nadine memukul pelan bahunya Rayyan.
"Tidur lagi ya." Rayyan menanggukan kepalanya. Dengan senandung shalawat dari Nadine perlahan kedua mata Rayyan menutup. Tertidur kembali.
***
SALAH ORANG.
Itu yang menimpa Rayyan. Orang-orang yang mengejarnya kemarin menyangka jika dirinya si penjambret. Padahal dirinya tak tahu apapun.
"Tambah lagi, penderitaan si pengangguran." Lirih Rayyan.
"Jangan gitu, Dik." Itu suara Athar. Kini kedua anak muda itu tengah berada di dalam mobil setelah seharian ini merajuk ingin pulang.
"Terus apa?" Rayyan menatap Athar yang sedang mengemudi.
"Abang gak ngetri perasaan Adik. Coba Abang ada di posisi Adik yang pengangguran di komentarin ini itu, heuhh sampai di gebugin sama orang di kira jambret." Rayyan tanpa sadar menitikan air matanya.
"Kalau aja di Amrik baik-baik aja, gak mungkin Adik balik," lirih kecil Rayyan yang tak bisa di dengar Athar.
"Adik mau kerja? Yaudah kalau sudah sembuh Abang akan carikan posisi di kantor Abang." Namun Rayyan tak menjawabnya. Karena hatinya masih bergejolak panas.
***
Athalla memandangi kakaknya itu dengan miris. Wajahnya aja masih bonyok apalagi area perut yang jadi sasaran keganasan orang-orang kalap yang memukulinya kemarin. Rasanya ingin sekali Athalla memukuli orang-orang itu.
Rayyan susah bergerak karena luka-luka di tubuhnya akan terasa sakit jika dia bergerak terlalu berlebihan. Di belakangnya Athalla diam dalam keheningan.
"Gue baik, gimana kabar lo, Li?" Rayyan sedang bertukar kabar dengan Ali yang kini berada di Paris bersama Rio.
"Ihh bawel banget sih lo. Di bilang gue baik-baik aja. Gue rindu Taylor, kalau lo ada waktu kasih kabar dia ya."
"Ya ga mungkinlah. Gue ga bisa kembali, Gue udah nyaman tinggal di sini. Lo tahu sendirikan, Mama gak ada teman di rumah, Abang sama Adik gue kerja. Jadi sibuk."
"Hmm"
"APA?" Refleks Rayyan bangun dari posisi duduknya menjadi berdiri saat Ali mengabarkan sesuatu. Athalla terkejut melihatnya belum lagi ekspresi kesakitan terlihat di wajah kakaknya.
"Akh.."
"Hm ... okey, baik Li. Gue cuma kepentok kaget, njir. Serius? Kasihan banget si Max."
"Oke, pokoknya lo harus kasih kabar ke gue ya, awas, lo. Jaga kesehatan salam buat Rio. Wa'alaikumsalam." Rayyan meringkuk dengan perlahan di kasurnya kembali. Tiba-tiba tubuhnya terasa dingin.
"Hahhh ... awas aja kalo macem-macem." Athalla bisa mendengar itu. Dan mulai berasumsi yang iya-iya soal Rayyan, kakaknya yang manis.
"Apa yang lo sembunyiian dari gue, kak?" Batin Athalla.
***
Rayyan hanya bisa melamun ketika tak ada seorang pun yang menjaganya. Ruangannya sepi, Athar pergi ke kantor, Athalla sibuk dengan bata dan semen. Dimas izin ke Bandung karena ada kerjaan ke sana. Tinggallah Rayyan seorang dengan sang Mama. Namun sampai kini Nadine tak di ketahui keberadaannya. Tadi bilangnya keluar sebentar tapi belum kembali setelah tiga puluh menit.
"Max ... Ali ... Rio ...." guman Rayyan. Pikirannya masih memikirkan ketiga temannya yang ada jauh di sana. Dia ingin sekali bertanding di arena yang menjadi impian semuanya para crosser. Namun apa daya, dia harus pergi dari sana.
Taylor, dia adalah motivasinya dalam bertanding di setiap arena. Arena di luar negeri memiliki karakteristiknya tersendiri. Glen Helen Raceway, sirkuit para legenda. Untungnya Rayyan bisa sekali merasakan euporia di sirkuit para legenda itu. Sirkuit yang terletak di kawasan San Bernardino, California dianggap sebagai salah satu sirkuit motocross tersulit serta yang pernah ada. Sirkuit ini terletak di utara San Bernardino di sebuah area bernama Devore. Sirkuit ini memang terjal dan sulit karena berada di area yang membelakangi penggunungan dan memiliki tanjakan setinggi 60 meter di punggung Gunung St Helen serta turunan curam yang kemudian mengikutinya. Tak hanya itu, Glen Helen raceway ini juga memiliki rintangan yang amat curam. Rintangan alam yang sangat luar biasa dari undakan tanah serta pasir pegunungan hingga tikungan yang memerlukan skill tinggi dari para pembalap.
Namun sirkuit ini memang di mimpikan oleh semua pembalap, rasanya kurang lengkap jika tidak di jajal oleh pada pembalap termasuk Rayyan. Sirkuit yang berada di Amerika Serikat ini menjadi sirkuit yang paling di impikan.
"Hah ... " mendadak kepalanya pusing kembali. Memikirkan mottocross adalah yang paling memusingkan dari pada masalah perempuan. Tapi, Rayyan juga bingung. Dia juga tak ahli dalam bidang perempuan yang biasa dia urusi adalah oli, rantai, obeng dan t***k bengek motor.
"Belum dapet kerjaan aja udah pusing," lirih Rayyan sambil melangkahkan kakinya menuju sofa. Dia bosan tiduran terus tanpa bergerak. Jika di gerakan pun kakinya terasa sakit, terlebih perutnya yang menjadi sasaran empuk.
"Segini aja udah pusing banget, gimana kalau orang-orang di luar sana? Gak dapet kerjaan jadi tukang panggul di pasar, kalau gak jadi pengamen, atau yang lebih parah jadi begal. Nau'udzubillah deh. Makanya Rayyan, nikmat mana lagi yang kau dustakan? Di kasih sehat aja harusnya bersyukur, sakit gini kan susah juga. Nyusahin." Rayyan terus saja mendumel tak tahu arah. Yang ada di otaknya yang di keluarkan belum lagi uneg-uneg dari hatinya. Udah jomlo ngenes pengangguran juga.
Rayyan menyalakan televisi menampilkan iklan dan kartun spongebob. Kenapa harus spongebob sih? Itu kan buatan dari Amerika. Lagi-lagi Amerika. Rayyan menekan tombol di remot dan memunculkan acara talk show. Rayyan tak sepenuhnya menonton televisi yang asik dengan acaranya. Sampai lamunannya terbuyarkan ketika suara pintu di buka dari luar.
"Lho, kenapa bangun?" Tanya Nadine. Dia kaget melihat putranya sudah berada di sofa. Duduk melamun dengan tangan memengang remot televisi.
"Bosen, Ma. p****t Adik panas." Nadine mengusap lembut rambut Rayyan. Memberikannya kecupan singkat.
"Sudah makan? Susternya gak balik lagi ya?" Nadine melihat nakas di samping tempat tidur Rayyan kosong. Biasanya jam segini sudah ada yang mengantar sarapan.
"Males kali, pegawai Eyang udah gak kuat ngeladenin cucu gantengnya." Rayyan menjawab asal sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Katanya pegel? Panas? Lah kenapa tiduran di sofa?"
"Males aja, Ma. Kasurnya udah kayak bata. Harus di jemur itu. Ntar ada tuma." Rayyan masih saja menjawab. Lain halnya Nadine yang menggelengkan kepalanya. Toh, putranya memang luar biasa aneh. Jadi tak heran jika kelakuan sama ucapan tidak berbeda jauh. Sama-sama absurd.
"Ma, menurut Mama nih, Adik pantesnya kerja apa ya?" Nadine yang sedang mengupas buah nada pun terhenti akibat ulah putranya.
"Ehm ... jadi apa ya? Adik kan gak lulus SMA. Jadi susah cari kerja." Hati Rayyan teriris tebal mendengar jawaban Nadine. Mamanya ini terlalu jujur.
"Adik lulus, Ma. Cuma gak ikut kelulusan aja." Rayyan cemberut tanda kesal. Dirinta lulus dengan nilai yang lumayan namun tak bisa ikut acara akhir tahunan karena sudah hijrah ke Amerika sana.
"Bagi Mama itu gak lulus. Gak lengkap, Dik. Harusnya Adik ikut pakai jas, naik ke podium menerima serah terima dari kepala sekolah. Foto bareng temen-temen, sama orang tua pakai baju toga dari sekolah. Semua moment yang harusnya jadi kenangan malah hilang gitu aja." Rayyan semakin cemberut, Mamanya suka sekali membahas hal masa lalu. Jelas-jelas dirinya sudah baik-baik saja tapi memang kenangan lebih melekat dari pada apapun. Akan teringat selalu.
"Iya, Yaudah Ma. Besok Adik ke sekolah buat numpang foto sama Pak Kepsek." Nadine hanya tersenyum mendengar ocehan putranya.
"Dari pada ngelantur terus, makan buahnya ya sayang." Nadine menyuapi putranya dengan sabar walaupun ocehan gak penting masih di dengar olehnya. Dengan ocehan-ocehan tak berfaedah itu membuktikan jika Rayyan Samir sudah sehat kembali. Dan mudah-mudahan besok sudah keluar dari rumah sakit. Kamar ini sudah di siapkan baginya karena sedari kecil Rayyan memang lemah.