Rayyan kembali termenung ketika sarapan roti gandum isi telur mata sapi dan sayuran itu di kunyahnya. Termenung bukan karena sarapan seadanya tapi karena video yng di kirim Ali. Kali ini dia pindah ke tim Rio berada. Jika Rayyan masih di Amerika mungkin dia yang ada di video. Tiba-tiba saja Rayyan merindukan Amerika untuk pertama kalinya.
"Pergilah. Saya mohon demi kebahagiaan dia."
"Kalau makan tuh jangan melamun, Dik." Tegur sang Mama yang akhir-akhir ini sering melamun sendirian.
"Ga melamun kok, Ma. Cuma bengong."
Nadine tersenyum. Dia mengusap-usap bahu putranya yang kini kokoh. Namun masih dalam ukuran kecil jika di banding bahu Athalla dan Athar.
"Dik, kamu kangen Amerika?"
"Ga," Jawab Rayyan cepat.
"Mama tahu jika kamu merindukan Amerika. Apalagi si Taylor. Kamu udah lama kan ga ketemu sama dia." Nadine bisa melihat jika raut wajah putranya terlihat termenung.
"Apa keputusan adik benar-benar yakin?jika tidak bisa membuat adik bahagia, lebih baik adik kembali kesana."
"Umma, adik cinta Umma. Tak ada yang menggantikannya. Bahkan si Taylor sekalipun. Jangan pernah menyuruh adik pergi, Umma." Rayyan menciumi lengan Naadine lembut.
"Amerika bisa kalah dengan rumah ini Umma." Rayyan tersenyum dengan lepasnya namun Nadine tahu jika di lubuk hati putranya ada sesuatu yang masih mengusiknya.
"Kali ini Umma?" Nadine bertanya heran. Pasalnya putranya ini selalu mengganti panggilannya.
"Iya. Gara-gara ini Umma. Adik baper sangat." Rayyan mengambil smarthphonya dan menunjukan episode terbaru dari seri nussa dan rara.
"Umma..umma..umma.adik nyaman dengan sebutan umma." Rayyan menyandarkan kepalanya di bahu sang mama.
"Mau Umma, Ummi, Mama, Ibu, Bunda atau yang lainnya. Tak akan merubah jika Mama adalah Mama kamu." Tangan kanan Nadine mengusap pungung Rayyan dengan lembutnya. Putranya ternyata sudah dewasa.
"Iya. Mama tetap Mamanya adik. Bahkan abang dan si kodok ga boleh miliki Mama." Rayyan dalam mood manjanya. Dengan kedua tangan memeluk Nadine dengan erat. Pelukan seorang Ibu di butuhkannya sekarang terlebih kondisi hati sedang tak baik.
***
"Astaghfirullah!" Rayyan kaget saat suara kencang seseorang berteriak heboh dari BLUE CARE. Siapa lagi kalau bukan si Jodie yang kini sudah beranak satu.
"Bang Jay lihat. Tamu agung kita datang." Hebohnya lagi.
Jodie kini berkacamata. Tampilannya masih sama hanya sedikit kerutan di wajahnya. Rayyan bersalaman ala-ala genk motor dan memeluk erat jodie.
"Badan lo segini-gini aja. Ga makan lo di Amrik, hah," ucap Jodie seraya menelisik badan Rayyan.
"Mata lo rabun tuh, kacamata minusnya banyak. Badan gue gede gini juga," sela Rayyan dengan wajah kesal.
"Lo kalau ada tamu tuh di ajak masuk, bukannya berdiri di depan pintu kaya gini. Susah," tegur Bang Jay.
"Bang!" Rayyan memeluk Bang Jay dengan erat bahkan menitikan air matanya.
"Ckckkc masih aja cengeng," Cibir Jodie.
"Biarin aja," Sahut Rayyan.
Kini ketiganya menikmati kopi hitam dengan snack seadanya. Keadaan BLUE CARE nampak lebih besar dari yang dulu.
"Bang, gue bingung mau kerja apa? Kasih kerjaan ke di bengkel ini. Biarin deh jadi teknisi aja." Jodie terkekeh mendengar keluhan Rayyan.
"Lo tuh b**o, masa punya perusahaan ga bisa nyemplung tuh di perusahaan," sindir Jodie.
"Bukan ke ahlian gue kali. Lagian bosan diam di depan komputer mulu."
"Ya, keahlian lo kan di mottocross kenapa ga coba buat sekolah mottocros aja. Tapi buat anak-anak. Sekarang anak-anak kecil juga udah banyak yang suka." Saran Bang Jay.
"Mottorcross ya." Rayyan termenung sejenak. Dia kembali dengan Taylor di Amrik sana. Bagaimana keadaannya setelah dia pergi? Apa dia baik-baik saja? Jika teringat Taylor, Dia juga jadi ingat seseorang bertubuh tinggi darinya.
"Kalau kamu gak mengerti juga. Terpaksa saya memakai kekerasan."
"Yee ... ngelamun lo. Gimana menurut lo?" Rayyan terdiam. Dia tak mengerti maksud Jodie. Pikirannya melayang ke Amerika dimana Taylor berada. Benar kata Nadine jika dirinya merindukan Taylor.
"Lo bisa buat usaha lo sendiri. Kaya Denis, dia buat hodie dan kaos lainnya yang menarik anak-anak motor. Apalagi lo, mantan atlet international, Bro. Pasti banyak yang minta buat beli barang dagangan lo. Dengan pengalaman yang lo punya pasti bakalan menarik pelanggan dengan mudah." Rayyan tersenyum dikit.
"Males, tapi gue mau kalo di balik layarnya. Ya, jika Denis butuh modal, gue bisa pinjemin. Tabungan gue masih ada." Dengan santainya Rayyan berkata meski di barengi dengan bercanda.
"Ngomong-ngomong soal modal, si Raka tuh lagi butuh banget. Dia buka bengkel di daerah Jonggol. Awal-awal sih, soalnya dia lagi semangat tuh."
"Kasian lo, matanya nambah sipit gara-gara mikirin modal," Sindir Jodie.
"Nanti gue hubungin dia deh," ucap Rayyan dengan mengesap kopi hitamnya.
"Apapun pekerjaan lo yang penting lo nyaman di situ." Nasihat Bang Jay.
***
Jalanan siang ini begitu panas dan macet, Rayyan yang bermacet-macet ria bersama pengendara lain pun ikut merasakan euporianya jalanan macet. Kali ini dengan helmet full face keluaran KYT berwarna merah dengan mengendarai motor barunya Si Jodie yang di panggil Prince, motor matic besar berwarna hitam itu menyamarkan penampilannya.
Kedua mata Rayyan menatap sebuah coffe shop. Terlihat ramai mengingat ini sudah waktunya istirahat bagi pekerja kantoran. Hatinya berdenyut nyeri ketika dua orang di sana tertawa bersama. Seperti dejavu bagi Rayyan.
"Kalian lupain gue Bang, Kodok," ucap. Rayyan dengan mencengkram pegangannya pada stang motor .Meski sudah bertahun-tahun tapi Rayyan masih enggan saja membagi abangnya bahkan kedua orang tuanya pada yang lain. Egois.
***
Sampai rumah, Rayyan bertemu dengan teman-teman Mamanya yang baru saja bertamu. Ibu-ibu arisan itu kaget melihat Rayyan yang baru pertama kalinya menampakan diri di depan ibu-ibu itu.
"wah, Jeung Nadine punya pekerja baru?" bisik-bisik para si ibu pemburu gosip.
"Iya, sepertinya. Mungkin supir yang gantiin Mang Asep. Kan Dia izin pulang kampung dua minggu."
"Permisi, Bu," ucap Rayyan sopan saat melewati ibu-ibu arisan yang rempong itu. Rayyan yakin jika anak-anak mereka lebih manja di banding dirinya.
Rayyan masuk lewat pintu samping. Di sana sudah ada Mbak Tami yang sedang membuat jamuan untuk tamu-tamu Mamanya itu.
"Mau makan dulu, Dik?" tanya Mbak Tami.
"Gak deh. Tidur aja," jawab Rayyan sembari melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya di lantai tiga.
Cuaca di luar sana panas. Tapi kenapa dirinya merasa kedinginan? Terbayang-bayang wajah Taylor lalu si Bapak berwajah tegas yang mengancamnya, lalu wajah ceria adik dan abangnya di coffe shop tadi. Jika di pik
kirkan terlalu larut kepalanya terasa nyeri.
"Ishhh nyebelin."
***
Dimas mendengar jika putra kesayangannya tidak keluar kamar sejak tadi sore, dia berinisiatif untuk menemuinya. Kamarnya ternyata tak di kunci kebiasaan kecilnya tak berubah. Kamar yang dengan nuansa baru itu terlihat nyaman. Di tempat tidur sana,Rayyan menggulung dirinya dengan selimut tebal. Bahkan lampu kamarnya saja tidak di nyalakan.
Cletak..
Dimas menyalakan lampunya supaya memudahkan untuk melihat keadaan anaknya itu.
"Dik, shalat dulu. Baru makan." Dimas bisa merasakan jika suhu putranya meningkat sedikit.
"Enghhhh, hmm." jawabnya dengan memejamkan matanya.
"Badan kamu bangat, sudah minum paracetamol?" Tanya Dmas lagi.
"Iyaa," jawab lemas Rayyan.
"Maunya tidur, Papa sana," Ucapnya dengan membalikkan badannya untuk membelakangi Dimas.
"Yasudah, nanti bangun ya. Jangan sampai gak makan."
"Abang? Kodok?" tanya Rayyan sambil mengeratkan selimutnya.
"Abang lembur di kantor, kalau Athalla nginep di rumah temannya karena kemalam pulang."
"Hmm." Dimas mencium kening rayyan lembut sebelum keluar dari kamar putranya itu.
Rayyan harap setelah Dimas keluar, dia akan tidur dan melupakan semuanya. Namun kini bayang-bayang di tinggalkan semakin menghantuinya. Bayang-bayang hidup sendirian di panti bersama Amih selalu membuatnya takut. Takut sendirian, di campakan, tidak di perdulikan dan pada akhirnya di buang begitu saja. Sungguh Rayyan takut.
"Ya Allah," ucap Rayyan seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. Kepalanya yang sejak siang pusing kini nambah pusing belum lagi suhu badannya yang semakin meninggi.
Rayyan memutuskan untuk mengadu pada sang Maha Kuasa. Dengan rasa ngilu di kedua kakinya Rayyan melangkahkan kakinya ke kamar mandi mengambil wudhu meski terasa seperti air es.
Dengan memakai sarung dan kaos, Rayyan mengelar sajadah menghadap kiblat. Dalam keheningan malam dia berkeluh kesah hanya pada sang Maha Pencipta. Karena hanya Allah, tuhannya yang bisa menyembuhkannya dari segala kerisauan yang melandanya.
***
Nadine dan dimas bangun tepat sepertiga malam. Pasangan suami istri itu selalu melaksanakan tugasnya untuk shalat malam.
"Yang, kamu dulu aja ya yang wudhu. Aku lihat adik dulu. Semalamkan ga makan."
"Iya, kalau bisa bangunin aja, Dim. Sekalian shalat dan makan."
"Iya."
Dimas keluar kamar dan mulai menaiki tangga menuju kamar putranya yang ada di lantai tiga.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka. Dimas bisa melihat jika di sana sajadah sudah di bentangkan. Namun pemilik kamarnya tak juga menampakan batang hidungnya. Suara air dari kamar mandi terdengar.
Tok..tok..
"Dik kamu di dalam?"
"Iya." Dimas mengernyit suara putranya terdengar lemah.
"Are you okey, Boy?"
"Hmmm. Im okey."
"Kalau sudah shalat nanti makan ya. Semalam kamu gak makan kan?"tanya Dimas kembali.
"Iya."
Dimas tak berlama-lama setelah memastikan kondisi putranya baik-baik saja. Dia kembali ke kamarnya tanpa tahu jika di dalam sana Rayyan membutuhkan pertolongan.
***
Dimas tak tega melihat putranya masih tiduran di tempat tidur. Bahkan saat pamit berangkat kerja pun Rayyan hanya bergumam di balik selimutnya.
"Yang, kalau ada apa-apa hubungi aku ya." Pesannya pada sang istri. Lalu masuk ke dalam mobil dan berangkat.
Nadine yang akan membawakan makanan ke atas pun terdiam saat putranya berjalan pelan dengan wajah pucatnya.
"Kenapa turun?" Nadine langsung memegang tangan Rayyan.
"Olah raga, Ma."
"Istirahat saja, tuh muka pucet." Nadine khawatir melihatnya.
"Gak apa-apa cuma demam kecil. Adik jogging dulu." Setelah mencium pipi Mamanya Rayyan pergi berniat jogging untuk melupakan sejenak pikirannya yang bergelayut berat.
***