Dimas menatap tajam sosok putranya yang masih menunduk. Wajahnya yang penuh lebam terlihat menyedihkan.
"Kamu ini, papa kan ga suka anak-anak papa minum khamr? Haram dan dosa, setetes kecil yang masuk ke dalam tubuh kamu pasti ada balasannya. Apalagi ini, baunya. Subhanaallah."
"Kalau ada masalah itu di bicarain bukan ngerusak diri kaya gini." Rayyan tak menjawab nasihat papanya, toh dia sadar diri.
"Bukan hanya itu, si pepa di curi semua surat-surat hilang. Atm, KTP, STNK dan uang raib. Adik-adik, ceroboh banget sih. Papa ga masalah soal itu semuanya, materi bisa di ganti. Tapi.." Dimas menangkupkan kedua telapak tangannya yang kekar di wajah putranya.
"Kamu di pukulin. Bagaimana kalau orang-orang itu membunuh kamu hmm.. papa ga mau kehilangan adik. Papa mohon untuk bulan ini saja,