Dimas terbangun dengan nafas terengah-engah. Dia menatap kanan kiri ruang tamu sudah kosong. Namun senyum lega tercetak di wajah nya, ketika melihat putra manisnya tengah bermain ps di ruang keluarga bersama Athalla. Sungguh, mimpinya tadi amat buruk. Bermimpi jika putra manisnya meninggal. Mimpi buruk bukan pertanda burukkan, bisa jadi itu efek dari ketidak bacaan doa dan dzikir saat mau tidur tadi. Toh, dirinya tadi kelelahan setelah open house dengan para tetangga bersilaturahim.
"Dim, sudah bangun." Nadine duduk di samping suaminya yang masih bengong mengumpulkan nyawa.
"Kenapa? Kok keringatan gini sih." Nadine mengelap keringat dingin yang membasahi kening suaminya. Dimas hanya menatap wajah cantik istrinya yang kini sudah ada beberapa kerutan.
"Aku mimpiin adik meninggal, yang. Ny