Pagi ini Rayyan hanya bisa tiduran di atas tempat tidur, melewatkan acara sarapan bersama keluarganya. Beberapa kali Nadine mengetuk pintu kamar putranya itu namun tak ada jawaban dari sang pemilik kamar. Semalam tak ada luka serius hanya tangannya saja yang terkilir dan langsung memanggil tukang urut langganan keluarganya.
Rayyan menatap seluruh kamarnya, sudah belasan tahun dia tinggal di kamar ini dan tak ada perubahan. Hahhh, rasanya bosan juga memiliki kamar yang tak ganti-ganti. Maka dari itu dia memutuskan untuk bangun, menggulung selimut, mencabuti semua sprei, sarung bantal guling dan mengangkat satu persatu ke balkon untuk di jemur.
Setelahnya dia memikirkan lemari majalah, lemari perlengkapan mottocrossnya sampai lemari pakaiannya. Belum lagi tempat tidur yang itu-itu saja.
"Gue rombak semuanya?" Monolog Rayyan. Dengan cepat dia membuka jendela dunia dan mencari warna yang bagus untuk kamarnya.
"Apa minta saran sama si kodok?" Pikir Rayyan. Secara adiknya arsitek jadi dia bisa tahu apa aja yang di butuhkan. Tapi mengingat ucapan adiknya kemarin, Rayyan mengurungkan niatnya untuk bertanya pada si kodok Athalla.
Dengan berselancar di mbah oogle akhirnya Rayyan menemukan contoh kamar yang di inginkannya. Awalnya Rayyan mengemas semua barang-barangnya dalam satu kardus besar dengan perlahan karena tangannya masih terasa sakit jika di gerakan terlalu keras. Mulai memilih barang-barang yang akan di pakainya atau lebih baik di berikan saja. Beberapa pakaian dan celana yang sekiranya jarang di pakai akan di pisahkan begitu juga koleksi sepatu dan mungkin jersey miliknya.
Setelah semuanya bersih, kini hanya funiturenya saja seperti lemari-lemari besar, tempat tidur, sofa, meja belajar dan kursi belajarnya. Sejenak, Rayyan berfikir. Tidak mungkin dia mengeluarkannya seorang diri. Berdiri di balkon dari sana terlihat Mang Asep masih stand by di depan.
"Mang!" Teriak Rayyan
"Iya, Dik. Kenapa?" Tanya Mang Asep yang kini berjalan lebih dekat dengan balkon kamarnya.
"Kesini, Maang." Mang Asep menganggukkan kepalanya.
Dengan sigap keduannya memindahkan tiga lemari besar, tempat tidur dan meja belajarnya ke balkon di simpan bertumpuk. Senyum lega terpancar di wajah Rayyan. Lain dengan Mang Asep yang khawatir dengan tangan kanan anak majikannya yang semalam terkilir. Namun, Rayyan terlihat biasa-biasa saja walaupun keringat sudah bermunculan. Ruangan kamarnya yang luas kini hanya melompong tak ada satupun barang-barang.
"Dik mau di apain kamarnya?" Tanya Mang Asep yang kini berdiri di samping Rayyan.
"Di cat ulang Mang, bosen."
"Sudah sarapan belum Dik? tuh muka kaya mayat. Pucet." Rayyan melebarkan kedua matanya yang sipit.
"Ihh mamang kalau bandingin tuh ya sama orang ganteng gitu. Jangan sama mayat." Rayyan memajukan bibirnya yang jelas-jelas sudah tak sesuai usia.
"Thank's ya, Mang. Mamang boleh kerja lagi sana."
"Iya adik.S ama-sama kaya ke siapa aja ih. Yaudah Mamang ke depan dulu ya." Rayyan mengiyakan dan tersenyum lebar. Kamarnya kini sudah kosong melompong dan dia siap-siap untuk mengecat ulang. Dengan pakaian santainya, Rayyan keluar dari kamar dan menuju si pepa yang terparkir cantik didepan rumahnya. Sebelum mengecat dia harus membeli catnya dulu kan?
***
Nadine tak percaya dengan tingkah anaknya ini, saat dirinya tiba di rumah setelah pengajian rutin mingguan. Di balkon kamar anaknya terlihat berantakan, lemari-lemari tinggi dan tempat tidur di luar.
"Mang, itu adik kenapa?" Tanya Nadine kepada Mang Asep yang sedang menemani satpam di pos depan rumahnya.
"Adik lagi renovasi, Bu. Bosan katanya." Nadine hanya mengganggukan kepalanya. Namun terselip rasa khawatir karena kejadian semalam. Tangannya masih terkelir bagaimana bisa melakukan pekerjaan berat?.
"Maaf ya Mang, nanti tolong masukin mobilnya." Nadine memberikan kunci mobilnya pada Mang Asep.
"Baik bu."
***
Nadine bisa mencium bau cat yang memang menyengat. Di buka sedikit pintu kamar putranya itu. Terlihat jika Rayyan sedang mengecat dinding kamarnya dengan warna abu-abu dan putih. Dia memakai kaos oblong coklat dan celana hitam di bawah lutut di lengkapi sandal jepit dengan merk sejuta umat berwarna biru.
Rambutnya hitam memakai headband berwarna merah dan memakai buff bandana hitam menutupi area wajahnya. Nadine tak mau menganggu anaknya itu merasa cukup melihat kondisi putranya yang terlihat baik-baik saja, Nadine kembali ke ruang bawah untuk melihat Mbak Tami dan Oma.
Tak sampai sore Rayyan selesai dengan kamar barunya tentu di bantu dengan Mang Asep yang setia setiap saat. Kali ini kamarnya terlihat lebih luas karena beberapa barangnya di simpan di gudang. Rencananya mau di bawa pulang oleh Mang Asep untuk adik-adiknya di kampung bahkan baju-baju dan barang-barang lainnya yang menurut Rayyan tak di pakainya lagi.
Rayyan memandangi hasil kerjanya. Lumayan juga mengecat kamarnya yang luas dengan alat Athalla yang ada di gudang. Bermanfaat sekali. Kamarnya terlihat lebih nyaman jika begini. Tanpa mengganti bajunya yang kotor oleh cat, Rayyan merebahkan badannya yang letih di kasurnya. Posisi tempat tidurnya di rumah menghadap tepat ke jendela luar bahkan pemandangan depan rumahnya pun terlihat jelas.
"Shhhh.." Rayyan mendesis. Perutnya terasa perih karena belum di isi apapun. Hanya air putih dan s**u coklat saja.
"Maafkan adik ya perut. Sampai menduakan kamu." Monolog Rayyan sembari mengusap-usap perutnya yang ber abs.
Langkahnya terhenti ketika berpaspasan dengan Athalla. Senyumannya begitu lebar ketika adiknya itu berhadapan dengannya.
"Tumben baru pu ... " Athalla mengangkat tangannya tanda dia tak ingin di ganggu. "...lang," Rayyan saat menatap punggung kokoh adiknya memasuki kamar miliknya.
Mungkin lelah batin Rayyan. Dia tak memikirkan itu yang lebih penting dia mengisi perutnya.
"Tamtam, bikinin bubur dong."
"Ya allah Dik, jam segini bikin bubur? lama atuh, beli aja deh." Rayyan mendengus. Selera makannya tiba-tiba menghilang.
"lho, Dik. Mbak buatin omlete sosis ya."
"Ga usah," jawab rayyan ketus. Dia pergi ke garasi mengeluarkan si pepa dari sana. Tanpa menggunakan helm ataupun kelengkapan berkendara, adik keluar dari gerbang yang di tatap aneh oleh satpam. Kenapa aneh? Karena sang majikan masih menggunakan perlengkapan mengecatnya tadi.
Di jalan komplek perumahannya memang ramai, namun tak seramai jalan raya. Dia akhirnya memilih makan di tempat tukang bubur nasi dan bubur kacang yang mangkal di pinggir jalan. Setelah memarkirkan si pepa, Rayyan memesan buburnya.
"Baru tinggal di daerah sini?" Tanya si penjual.
"Ga kok, Bang. Udah dari ngompol. Bang, buburnya jangan pakai kacang ya. Ayamnya dikit aja, lagi mahal."
"Oke," Kata si penjual.
Suasana sore di sekitar komplek ternyata bisa di katakan ramai. Rayyan beruntung bisa melihat suasana sore ini. Bahkan ada anak-anak komplek bergerombol untuk mengaji di mesjid komplek.
"Bang, rame juga ya sore-sore begini," tanya Ryyan pada si Mamang tukang bubur.
"Iya. Apalagi sabtu sama minggu pasti rame. Udah sore masih kerja aja, di kompleks ada bangunan-bangunan baru ya, Dek." Sejenak Rayyan berfikir.
"Kerja?" Jawab Rayyan sembari menerima mangkok berisi bubur ayam.
"Siapa yang kerja, Bang?" tanya Rayyan kembali setelah mengaduk-aduk bubur di mangkoknya.
"Alahhh si adek ini. Jangan malu gitulah dek. Abang tahu kok, ga lulus SMA itu susah dapet kerja. Jadi tukang bangunan aja sudah lumayan."
"Uhukkkk..." Rayyan tersendak buburnya sendiri. Pangkal hidungnya terasa perih akibat bubur yang masuk ke saluran pernapasannya. Rayyan sadar jika penampilannya mirip pekerja bangunan.
Rayyan menyuruput air teh hangat yang di sediakan si Mamang bubur dan menghela napas panjang sebelum memulai makannya lagi.
"Ya Allah, derita pengangguran." Batin Rayyan.
***
Athar mengerutkan keningnya, adik yang di sayanginya kini telah cemberut maksimal namun tetap saja imut meski usianya tak lagi abg.
"Kalau jalan tuh lihatin jalannya, jangan cemberut."
Rayyan hanya semakin merenggut. Dia duduk di teras yang tak peduli jika kotor dan berdebu.
"Bang. Gu.." nada dering handphone Athar terdengar.
"Iya, Zia. Apa? sudah siap. Baiklah. Suruh tunggu setengah jam."
"Dik" Athar berhenti berbicara ketika melihat adiknya beranjak dari tempat duduknya. Hanya saja, Athar ingin menanyakan prihal kondisi tangannya yang terkilir.
"Adik mau mandi, Bang." Jawabnya sambil masuk ke dalam rumahnya tanpa melihat raut wajah athar yang kecewa.
"Sibuk. Ga Papa, ga Abang, ga si Kodok. Sok sibuk." Kesal Rayyan dengan langkah di hentak-hentakkan. Kesal luar biasa. Di saat dirinya membutuhkan dukungan dari keluarganya, tapi seluruh keluarganya sibuk masing-masing. Nadine yang melihat putra manisnya mencak-mencak merasa aneh. Pasalnya pulang dari Amerika kondisi putranya itu sangat sensitif. Bentar-bentar marah. Apa terjadi sesuatu di sana?.
Nadine mengetuk kamar putranya, Rayyan masih diam tanpa menyahut. Bahkan hanya menelisik jersey yang bergelantungan di lemari. Mottocros adalah dunianya. Napasnya. Tapi tidak! Itu dulu. Kini tak ada lagi harapan. Dia tak mau kembali ke sana.
"Dik?" Suara Nadine terdengar, Rayyan yang masih memandangi kumpulan jersey pun dengan cepat menutup pintu lemarinya.
"Eh, Ma." Rayyan menghampiri Nadine yang kini duduk di tapian kasur. Semua barang-barang di rubah posisi semuanya. Membuat suasana baru.
"Tangan adik masih sakit?" tanya Nadine sambil mengusap-usap lengan kanan putranya yang memang sedikit bengkak.
"Gak, Ma. Sudah baik-baik aja." Rayyan tersenyum melihat wajah Mamanya khawatir seperti itu. Bagaimanapun wajah Nadine yang selalu di rindukannya setiap hari.
"Bengkak begini, kok bilang gak apa-apa?" Nadine memanggil Mbak Tami menyuruhnya mengambil minyak tawon. Tak berapa lama, minyak tawon pun sudah ada di tangan Nadine. Dengan telaten, Nadine membakur tangan kanan putranya dengan minyak tawon. Rayyan hanya meneliti wajah Nadine yang sesekali berdecak kesal. Entah kenapa Nadine yang marah seperti ini membuatnya merindukan sosok Bunda. Bunda Ayana yang telah melahirkannya. Tak terasa air mata Rayyan menetes.
"Kok nangis? Sakit ya?" Nadine khawatir melihat putranya meneteskan air matanya. Rayyan hanya menggeleng dengan air mata yang tak bisa berhenti. Nadine yang tak tega melihat Rayyan menangis langsung meniup-niup tangan kanan Rayyan.
"Fuhhhh... tangan adik sudah sembuh." Nadine tersenyum sambil meniup-niup tangan kanan Rayyan.
"Terima kasih, Ma." Rayyan langsung memeluk Nadine begitu erat sampai Nadine terkejut. Bahkan di pelukkannya, Rayyan masih menangis membuat Nadine penuh tanda tanya.