Part 1
"Bang, kalau adik sudah ga terkenal, apa abang akan ninggalin Adik?"
Pertanyaan bodoh dari Rayyan saat siang tadi menemui abangnya di kantor. Athar masih bekerja namun pikirannya memikirkan nasib adiknya yang memutuskan untuk hengkang dari dunia atlet.
"Zia, apakah ada jadwal lain setelah rapat?" Tanya Athar lewat telepon khusus untuk sekertarisnya.
"Tidak ada Pak, setelah itu bapak free," Jawabnya tenang. Senyuman merekah dari Athar terlihat jelas. Dia akan mengajak adiknya itu jalan-jalan sore.
"Baik. Terimakasih."
****
Athalla mendengus kasar saat kakaknya ini malah ikut di tempat kerjanya. Dia memang tak suka bekerja di kantoran seperti itu. Dia senang bekerja dengan laptop dan alat menggambar lainnya. Kini dia seorang arsitek yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan pembangunan ini itu. Namun, kakaknya ini malah mengacau.
"Lo balik aja deh, Gue ga bisa konsen kalo lo berisik terus." Menyerah, Athalla melempar pensil yang sedang di pegangnya tadi.
"Balik? yaelah tega banget lo sama kakak sendiri." Rayyan berbaring menyamping di atas sofa ke arah Athalla.
"Lagian lo kan tadi udah ke tempat abang, lo pergi liburan kek. Gue lagi ga bisa di ganggu." Rayyan bisa melihat jika wajah adiknya itu terlihat kesal.
"Oke. Jangan lupa di makan ya makanannya. Lo jangan kerja terus, pikirin perut tuh."
Tanpa mengucapkan kata, Athalla kembali fokus merombak kertas di mejanya ini. Tanpa melirik paper bag berisi nasi, sayur dan lauknya yang di berikan oleh Rayyan.
***
Rayyan hanya bisa menghela napas. Di saat kedua saudaranya bekerja dirinya sendiri menganggur. Tak bekerja, hanya luntang lantung kesana kemari. Bermain mottocross atau ketempat Bang Jay. Bahkan Raka, Jodie, Denis dan Samid sibuk sendiri setelah berkeluarga masing-masing. Nasib-nasib Rayyan membatin.
Lebih baik dirinya pulang dan beristirahat dirumah. Menemani Mama dan Omanya. Lagi pula badannya terasa lemas seharian jalan-jalan tak jelas. Dengan mengendarai si pepa yang sudah di modifikasi dengan warna lebih mengkilap. Dan si blacky helmet favoritenya selalu menemani. Pelipur lara di saat hatinya gunah gelana.
Jalan-jalan sore setelah ashar nyatanya tak memeberikan ketenangan berarti. Rumah megah milik Dimas kini berubah dengan cat yang lebih segar. Dengan perlahan Rayyan membuka pintu gerbangnya dan melajukan si pepa ke garasi motor.
Sejenak Rayyan membuka si blacky yang masih di kenakan di kepalanya. Terdiam menatap barisan motor yang ada di garasi ini. Mulai dari si tomo, beqi, rexy, mordy sampai si pepa. Begitu banyak motor di dekatnya ini namun tak ada satupun dari jerih payahnya sendiri. Uangna masih aman di dalam rekening. Cukup untuk membeli saudara si tomo namun entahlah, Rayyan tak memiliki niat untuk menambah koleksinya.
Dengan lemas, dia duduk di ubin garasi yang dingin. Duduk bersolonjor dengan blacky di dekat tangan kanannya. Ucapan-ucapan Rio beserta teamnya dulu kini terngiang kembali. Apakah dia menyesal telah memutuskan kontrak dengan KTX? Jika tidak maka jangan membuatnya menyesal.
Untuk sekian kalinya Rayyan menghela napas panjang.Di saat semua ada kenapa dirinya merasa tak tenang. Harta melimpah meskipun milik orantuanya. Makan dan minum terpenuhi. Pakaian dan sepatu baru selalu ada. Apalagi? Kenapa hatinya tak tenang begini? Apakah karena dia penangguran?
Belum rezekinya Batin Rayyan.
***
Athar pulang kerja sesuai jadwal. Dia ingin mengajak adiknya jalan-jalan sore.
"Assalamu'alaikum, Ma" ucap Athar. Di ruang keluarga memang ada Mamanya yang sedang berdzikir dengan tasbih di tangan kanannya.
"Wa'alaikumsalam. Loh, tumben Bang jam segini udah pulang? biasanya malam." Athar yang masih mengenakan pakaian kantornya pun duduk di sofa dekat Mamanya.
"Sengaja Ma, mau ajak adik jalan."
"Wah pasti adik seneng banget tuh. Tapi abang ganti baju dulu, mandi dan istirahat dulu lah."
"Iya Ma, abang ke kamar dulu ya."
***
Di dalam mobil, Rayyan hanya memejamkan matanya dengan tudung hodie di ikat di bawah dagunya. Bukan karena dingin tapi rasa nyaman ketika tak seorangpun menyadari jika Rayyan sang mantan pembalap.
Athar sesekali melirik adiknya itu. Merasa aneh karena adiknya yang cerewet tiba-tiba diam saja. Menyalakan music adalah salah satu cara membunub keheningan di dalam mobil. Lagu bahasa inggris terdengar namun adiknya itu tak bergeming.
"Lo tidur, Dik?" Tanya athar.
"Ga, males buka mata aja. Kalau udah sampe panggil gue aja, Bang," Lirih Rayyan sembari menaikan kedua kakinya dan bersila.
"Kalau malas kenapa di iyain aja ajakan abang?" Tanya Athar kembali.
"Ga apa-apa Bang, cuma males buka mata," Jawab rayyan.
Hahhh ... sama aja kalau gini mah Batin Athar.
Sesampainya di tempat angkringan. Athar membangunkan Rayyan yang kali ini beneran ketiduran di dalam mobil. Dengan wajah mengantuknya, Rayyan mengikuti athar dari belakang. Jalannya sempoyongan entah karena pusing bangun tidur atau pusing lainnya.
"Ya allah Dik, kalau jalan tuh buka mata dulu.Kalau nabrak orang lain gimana?" Athar merapikan penampilan adiknya yang sedikit berantakan. Kedua mata sipitnya terpejam lemah.
"Masih ngantuk, hmm?" Tanya Athar yang di balas anggukan.
Athar tak ingin mengambil resiko. Dia menarik tangan adiknya sampai di hamparan karpet di pinggir jalan itu. Menu makanan malam itu nasi kucing dan lauk apuknya yang menggugah selera. Sebelum menyantap nasi kucing yang di pesannya, Athar lagi-lagi menghela nafas panjang saat adik kembali menutup matanya dengan kedua tangan menjadi tunpuan bantalnya.
"Dik,makan dulu. Biar ga masuk angin."
"Suapin." Athar dengan sabar menyuapi adiknya itu. Bahkan beberapa kali kepala adiknya terpantuk meja panjang di depannya. Sebegitu mengantuknya.
Athar tak menyangka jika adiknya kini sudah hampir menyamai tingginya. Padahal dulu Athar yang lebih tinggi. Setelah menyantap nasi kucing, Athar mengajak adiknya pergi jalan-jalan lagi. Dalam artian jalan betulan. Mereka menyusuri sisi jalan yang memang ramai oleh para pejalan kaki.
"Bang, mau itu." Rayyan menunjuk ke arah gerobak penjual yang sepi pembeli. Jalanan ini memang di khususkan bagi penjual jajanan. Tak salah banyak jajanan ringan sampai berat ada di sini.
Mereka berdua sampai di tempat gerobak bajigur yang di jual seorang kakek berusia lima puluh tahun. Rayyan yang memang mudah lemas akhir-akhir ini langsung duduk di bangku kayu yang di sediakan.
"Pak, dua ya." Athar mengikuti Rayyan duduk di sampingnya. Kakak beradik tak sedarah itu nampak menikmati suasana malam ini.
"Lo gak apa-apa?" Tanya Athar. Pasalnya sejak tadi hanya diam saja.
"Baik, kok." Rayyan tak berani menatap wajah abangnya ini. Entahlah, ada rasa tak nyaman jika mengingat kembali dia bukan siapa-siapa. Hanya pengangguran yang beruntung di asuh oleh keluarga kaya raya.
Dua gelas besar bajigur sudah habis. Athar yang mengobrol dengan sang penjual ternyata tak pernah ramai jualannya itu langsung memberikan uang lebih. Jelas itu memukul telak hati Rayyan, bukan karena dia iri. Tapi kembali di ingatkan jika dia tak mempunyai uang sendiri. Hanya uang jajan yang di berikan Nadine. Apa sebegitu tak berguna dirinya ini? Sampai uang jajan saja masih di beri oleh orang tuanya?
BRUK
Tanpa sadar, Rayyan terjatuh kesandung kakinya sendiri. Athar yang berada di belakang langsung berlari membantu adiknya berdiri.
"Hati-hati, ada yang luka?" Athar menelisik satu persatu bagian tubuh Rayyan di mulai dari kaki sampai tangan.
"Jangan khawatir, adik udah gede." Rayyan yang masih kesal pun tak menggubris ucapan kakaknya. Bukan kesal kepada Athar, tapi kesal terhadap dirinya sendiri.
"Lo tuh kenapa sih? Uring-uringan terus. Kalau ada masalah tuh di obrolin jangan melampiaskan ke semua orang." Entah kenapa ucapan Athar terasa memojokkannya.
"Udah marah-marahnya? Adik mau pulang." Rayyan kembali berjalan lebih dulu menjauhi abangnya.
"Dik! Siapa juga yang marah! Hei tunggu!" Rayyan tak peduli teriakan abangnya, dia terus berjalan cepat sampai abangnya tak bisa mengejar. Allah memang mengujinya hari ini, perasaannya masih kesal kini di tambah suara Athar yang sedang berteriak di belakangnya.
Bukan. Bukan meneriaki nama Rayyan atau sekedar memintanya kembali. Rayyan melihat jika abangnya di hadang dua pria berbadan besar. Preman jalanan atau pelaku begal. Mendadak rasa khawatir melingkupi dadanya. Bagaimanapun abangnya adalah sosok yang paling dia sayangi. Dia tak mau jika abangnya kenapa-napa.
"Abang!" Rayyan berteriak ketika salah satu preman memukul pipi Athar. Dengan sigap Rayyan mengambil ancang-ancang untuk melakukan hal yang sama. Entah pergerakannya yang mudah di baca, si preman satu lagi dengan mudahnya menangkap tangkisan Rayyan.
"Akhhh!" Rayyan memekik sakit. Tangannya di pelintir tanpa perasaan.
"Hei, jangan sakiti adik gue!" Athar yanh tersulut emosi memukul si preman yang memegangi tangan adiknya. Perkelahian ke emptanya tak di elakkan. Rayyan yang merasa tangannya terkilir memaksakan untuk membantu abangnya. Tak mungkin dia membiarkan abangnya berjuang sendirian.
"Woi!" Teriakan warga langsung menghentikan aksi ke empatnya. Rayyan yamg terengah-engah tersenyum lebar. Akhirnya bala bantuan datang juga. Namum tak sesuai prediksi, tiba-tiba tubuhnya merasa terangkat dan di hempaskan begitu saja dengan sangat kuat membentur tembok jalanan.
Kepalanya yang terasa sakit, pandangannya memburam namun masih mendengar suara teriakan abangnya yang terus memanggil namanya. Rayyan menoleh perlahan ketika rasanya lehernya bermasalah. Athar berlari le arahnya dan mengusap lembut wajahnya.
"Hei! Bisa denger gue?" tanya Athar dengan suara begetar. Kelopak mata Rayyan turun naik secara perlahan.
"Ma ... af." Suara Rayyan terasa tercekik. Tak banyak yang di lakukan sampai kegelapan menghampirinya.