Athalla berlari ke lantai tiga,membuka pintu kamar itu dengan cepat.Deru nafasnya terengah-engah.Saat di ruang santai yang ada di lantai dua athalla mendengar suara seseuatu yang pecah.
"Cih,lo ngapain lagi sih hah?" Entah kenapa athalla menjadi emosi saat melibat kakaknya di lantai dengan pecahan gelas.
"Apa-apaan lo,dok?Datang langsung ngegas." Athalla berjalan cepat dan menepis tangan rayyan yamg sedang memunguti pecahan gelas.
"Lo yang apaan.Kalau butuh sesuatu itu ngomong.Chat atau bell.Apa gunanya hape,bodoh!." Rayyan menatap adiknya dengan sayu.
"Hahhh..oke gue emang bodoh.Sekolah aja ga lulus,beda banget sama lo yang sarjana." Rayyan menyeret badannya menuju kasur.Membaringkan tubuhnya dan menyelimuti seluruh badannya.
Athalla membereskan pecahan kaca dengan emosi.Jujur,dia tak bermaksud untuk mengatai kakaknya itu.Dia hanya khawatir terjadi sesuatu sama kakak manisnya itu.Di tatap gundukan berbalut selimut.Dia yakin kakaknya belum tidur.
"Kak,gue ga.."
"Tutup aja pintunya,gue mau tidur." Athalla hanya bisa menghembuskan nafas panjang.Kini kesalah fahaman terjadi lagi.
"Oke,good night"
***
Pagi ini rayyan bangun lebih pagi.Dia yakin seluruh penghuni rumah masih tidur karena lelah dengan acara semalam.Dengan menyeret badannya lagi,rayyan menuruni tangga dengan hati-hati.Dia tak peduli jika kedua tangannya lecet-lecet namun kali ini dia menggunakan sarung tangan khusus race,setidaknya tidak akan cedera parah.
Penampilannya cukup rapi.jaket biru sedikit warna merah dengan celana sampai lututnya berwarna hitam.Topi warna merah di pakainya secara terbalik.Kini kesan simple namun rapi terlihat.