Rayyan tak berani menunjukkan dirinya di hadapan keluarganya.Sejak insiden latte,rayyan lebih suka menyendiri di dalam kamarnya.Melakukan aktifitas yang itu-itu saja.Bahkan jika ali dan faiz datang,mereka akan mengobrol di kamarnya.
"Lo yakin?" Tanya faiz saat sahabatnya itu mengutarakan keinginannya.
"Hmm,gue ga bisa gini teruskan?" Rayyan menatap kedua sahabatnya tajam.
"Kalau itu sih gampang,tapi buat usaha baru itu yang sulit.Lagipula,lo udah join usaha sama raka kan?" Ali berkomentar.
"Iya,tapi itu beda.Li,lo yang paling alim dari kita.Gue percayakan sama lo.Dan lo,ndut.Lo bisa ajak temen-temen lo buat ngisi kegiatannya."
"Ya,gue mah hanya duduk manis di balik layar." Rayyan tersenyum.
"Bissmillah aja.Lagian ini buat amal jariyah lo juga kan."
"Iya,setidaknya kalau gue mati ada amal yang gue bawa." Lirih rayyan.
Faiz dan ali sibuk berdua karena akan memulai usaha baru yang tentunya mendapat pasokan dari rayyan.Dalam diamnya rayyan melihat bayangan bagas.
"Sorry,gas.Gue masih punya cita-cita dan semangat.Gue harap lo tenang di sana." Batin rayyan dengan perlahan bayangan itu hilang.
"Gue tidur dulu ya.Kalian urus aja, masalah biaya tinggal ngomong." Rayyan menggerakakn kedua tangannya untuk menyeret badannya di atas kasur.Faiz dan ali hanya tersenyum miris.Mereka tak menyangka jika sahabatnya akan mengalami hal seperti ini.
***
Dimas melihat nadine yang sedang memasak.Dia merasa bersyukur jika dirinya berada di samping nadine.
"Yang,udahan kali masaknya.Kita jalan yuk?" Dimas duduk di kursi kayu pantry.
"Ihh,udah tua.Jangan sok-sok romantis." Kembali nadine memotong-motong sayuran.
"Biarin aja dong,toh anak-anak sudah dewasa.Lagian ya,kita bersyukur bisa pacaran.Lihat noh si abang,nyampe sekarang belum pernah tuh bawa calon mantu ke rumah."
"Udah ga sabar ya gendong cucu." Nadine melihat ke arah dimas.
"Ya iyalah.." dimas melahap buah apel di genggamannya.
"Makanya jodohin aja si abang sama anaknya teman kerja kamu,biar cepet nikahnya." Dimas mengedikkan bahunya.
"Ga jaman main jodoh-jodohin.Belum tentu abang mau.Berabe nanti." Dimas menggigit apelnya lagi.
"Sudah jam segini,adik ga nongol-nongol juga." Nadine melihat jam di dapur menunjukkan jam satu siang.Biasanya anak itu akan teriak-teriak minta makan siang namun kali ini sepi.
"Dim,lihat gih.Sudah dua hari ini adik ga keluar kamar.Aku khawatir mentalnya masih rapuh,dim." Ucap serius nadine.Dimas mengiyakan saja.
***

Kamar bernuansa abu putih itu nampak berantakan.Terlihat majalah-majalah otomotif berserakan di lantai dan laptop bermerk apple itu nampak menyala.Kamar ini berubah.Dulu tak seluas ini.Pasti ada tempat tidur dan lemari-lemari besar yang berjajar rapi di sana.Namun kini tak ada lagi.
"Ohh papa." Dimas menengokkan ke arah kamar mandi.Rayyan samir putranya tengah berusaha menyeret badannya yang terlihat basah.
"Kamu habis ngapain sih,dik?" Tanya dimas yang beranjak dari tempat duduknya.
"Tadinya mau pipis,eh malah basah semua." Jawab rayyan dengan senyuman kotaknya.Dimas akan membantu rayyan untuk melepas celananya yang basah namun di tepis lembut oleh sang punya celana.
"Adik bisa kok,pa.Jangan ngintip.Ntar bintitan lho." Rayyan memicingkan kedua mata sipitnya.
"Ihhh pede banget." Dimas berbalik badan.Dalam hati,menangis melihat putranya berjalan menyeret-nyeret badannya dengan menggunakan kedua tangannya.Padahal dimas sudah membelikan kursi roda khusus,namun rayyan jarang menggunakannya.
"Sudah,pa." Rayyan kembali menyeret badannya menuju kasur empuk yang kini hanya di lantai tak memakai tempat tidur.Dimas tersenyum,bangga pada putranya itu.
"Dik,yakin ga mau pindah kamar?" Tawar dimas.
"Iya pa,ini kamar adik.Di sini adik nyaman." Dimas mengusak-ngusak rambut pendek rayyan.Lalu menatap foto-foto yang berjajar rapi.Kebanyakan memakai helm dan motornya.
"Pa,besok adik izin pergi keluar ya." Kembali pusat dimas menatap wajah putranya yang kini nampak lebih putih karena jarang sekali berkegiatan di luar rumah.
"Mau kemana?" Rayyan nampak ragu.Namun jika jujur mungkin bukan kejutan lagi namanya.
"Ehmm mau pergi jalan sama ali dan faiz.Biasa makan-makan aja,pa." Dimas tersenyum.
"Oke.Papa izinkan.Tapi jangan terlalu lelah ya." Rayyan terlihat senang sekali.Itu yang di harapkan oleh dimas.Putranya kembali beraktifitas seperti remaja normal lainnya.
***
Malam ini rayyan menghabiskan makan malamnya dengan cepat.Rasanya dia ingin cepat-cepat esok.Saat akan terpejam,suara mobil yang di yakini milik abangnya terdengar.
Rayyan masih bertahan di posisinya.Dia diam menajamkan pendengarannya di saat suara mesin mobil itu mati.Tumben sekali abangnya pulang jam segini,biasanya dia akan pulang larut malam sekali.
Pintu kamarnya terbuka,sosok nadine tersenyum dengan lebar.Ada yang aneh,malam ini mamanya terlihat rapi dengan make up tipis di wajahnya.
"Dik,malam ini mama dan abang ada acara.Adik ikut yuk?" Ajak nadine.
"Acara apa?Tumben malam-malam." Nadine mengusap lembut rambut pendeknya.
"Abang mau ngajak mama ke acara kantornya.Kebetulan proyek abang sukses dan malam ini mau ngerayaan bareng karyawan-karyawan abang." Senyuman rayyan sedikit sendu.Dia teringat pak yudha,rafqa dan dito.
"Hmm,kayanya adik ga ikut,ma.Pengen tidur.Besok kan adik mau pergi sama ali faiz."
"Yakin,ga ikut?" Rayyan menangguk pasti.
"Oke.Di rumah ada athalla.Soalnya oma ikut.Mbak tami kayanya udah tidur."
"Iya ma,ga apa-apa.Happy ya ma." Perbincangan itu di akhiri dengan kecipan manis nadine di kening putranya.
Rayuan tak ingin mengganggu acara abangnya.Dia tak ingin membuat abang malu.Dia tak ingin bertemu abangnya karena masih takut jika abangnya akan marah.
"Kita berubah ya,bang.Adik sendirian sekarang.Padahal abang sudah janji buat ada di samping adik." Lirih rayyan seraya menarikkan selimutnya.Rayyan menatap sendu foto abangnya yang tengah tersenyum.
"Adik rindu."
***
Athalla menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat itu.Tadi oma dan mama sempat mengirim chat jika akan pergi ke acara perayaan abangnya.Dan kakaknya di rumah tidak ingin ikut karena alasan ingin tidur cepat.Namun athalla rasa kakaknya itu berbohong.Pasti dia minder.
Lama berdiam diri di depan pintu kamar rayyan,athalla kembali turun ke lantai dua untuk pergi ke kamarnya.Ingin mengistirahatkan badannya yang lelah.
"Maaf."
***