Ali dan faiz,menuju tempat yang rio kirimkan.Bahkan athalla dan athar sudah ikut bersama mereka.Awalnya dimas dan nadine ingin ikut namun athar menyarankan jika kedua orangtuanya tak perlu ikut.
Di depan sana sudah ada mobil milik papanya rio,ali yakin mereka sudah ada di dalam rumah megah dan mewah milik keluarga rio itu.
"Kita langsung masuk,untuk jaga-jaga biarkan gue sama athalla duluan." Ucap athar.
Rumah itu nampak sepi,mereka berjalan menuju lantai dua.Di sana audah terjadi keributan antara papa rio dan seseorang yang tak di kenal oleh mereka.
"Rio!" Teriak ali saat melihat rio juga ikut aksi baku hantam.
"Gawat,li.Rayyan di bawa kabur!" Di sela-sela tendangannya.
Brugh..
Orang berbaju hitam yang tak lain suruhan papanya pun terkapar tak sadarkan diri.Papanya rio nampak bersalah,dia tak menyangka jika orang suruhannya itu berani menikungnya dari belakang.
"Di bawa kemana?" Tanya athar tak sabar.
"Ga tahu,mobil pick up warna silver yang bawanya tadi." Seru papa rio.
Silver.Athalla mengingat sesuatu jika itu benar.Dia yakin mobil itu tak begitu jauh karena berpas-pasan dengan mereka.
"Kita kejar.Gue yakin ga akan sejauh itu."
***
Nadine masih menanti kabar putra manisnya.Bahkan sejak hari pertama di culik tak henti-hentinya air matanya terus saja keluar.
"Dim,anakku..hiks..hiks. " selalu seperti itu.Nadine terus memeluk dimas tak ingin rasanya di tinggalkan.
"Sabar ya,yang.Anak-anak kita pasti berkumpul lagi."
"Adik lagi sakit,dim."
"Bagaimana kalau dia..hiks..hiks.." Dimas menghela nafas panjang.Di eratkan pelukannya pada sang iatri tercinta.Sungguh hal ini yang paling dimas benci.Kenapa putranya kembali tersiksa begini?.
***
Rayyan membuka matanya lemah.Sungguh dirinya tak kuat lagi.Sakit di sekujur tubuh akibat aliran darahnya terganggu.Rekatan lakban terasa erat sekali.Tiga hari tak bisa bergerak bebas membuat tubuhnya kaku.
"Sudah malam lebih baik lo tidur aja." Rayyan menatap seseorang yang kini berbaring bersamanya di atas kasur.
"Si...siapa?" Rayyan memejamkan matanya.Sungguh pandangannya berputar jika membuka mata.
"Ini gue" rayyan merasakan tubuhnya di peluk erat.
"Gue kangen sama lo.Gue ga mau lo pergi lagi,ray."
***
Hari ke empat,rayyan masih tak ada kabar.Rio sungguh marah kepada papanya yang tega-teganya menculik rayyan dari rumah sakit.Dia ingin papanya di masukan penjara saja,namun dimas dengan lapang d**a memaafkan perbuatan papanya rio.
"Kata orang suruhan papa,rayyan di bawa sama anak laki-laki yang seusia kita." Ucap rio.
"Hahh gue yakin,orang itu punya masalah sama adik." Kini athar bersuara.
Faiz datang dengan membawa makanan.Sungguh mereka lelah namun mereka tak boleh sakit.Ali dan rio sempat adu mulut mengingat permasalah yang menimpa rayyan.Kini semuanya tahu,jika rayyan di ancan oleh papanya rio.Karena rio memang selalu menjadi bayang-bayang rayyan.
"Makan dulu,bro.Kita harus sehat selalu." Faiz bisa melihat ali yang masih marah dengan rio.
"Kita harus kompak dong,jangan selisih faham begini.Kasihan rayyan,dia pasti ga tenang." Faiz menyuapkan satu sendok nasi putih ke dalam mulutnya.
Plakkk...
"Kalau ngomong tuh di jaga,ndut." Athalla sang pelaku pemukulan menatap garang.
"Ya,habisnya kalian ini.Rayyan masih ada tapi kenapa sedih segitunya.Ayolah masih ada hari esok.Kita lebih optimal lagi." Ucapan faiz memanfmg ada benarnya tapi,bagaimana jika adiknya kenapa-napa?
***
Rayyan bisa bernafas lega saat lakban yang melekat di tubuhnya selama empat hari ini di lepas oleh seseorang yang semalaman menjaganya.Bahkan tidur bersama.
"Gue yakin tubuh lo masih lemas.Biar gue gendong ya,kita mandi dulu.Setelah itu sarapan." Rayyan tak bisa memaksa.Tubuhnya benar-benar lemas.
"Lo milik gue" Bisik laki-laki itu.
Rayyan ingin memberontak saat dirinya di raba-raba seperti itu.Ini namanya sudah pelecehan.
"Le..pas." Lirih rayyan saat laki-laki itu menggenggam tangannya.
"Hei..kita harus mandi." Rayyan menggelebgkan kepalanya lemah.
"Gue ga mau penolakan." Rayyan memejamkan matanya.Laki-laki di hadapannya gila.Dia bener-bener gila.Dia masih waras dan normal.
"Rayyan,adiknya abang athar?Semakin dewasa lo makin manis aja ya." Laki-laki itu mengecup lembut kening rayyan.
"Ya allah..." Rayyan ingin menangis saja.Jika tidak biarkan dia pergi.Dia tak mau di lecehkan seperti ini.Dunia memang kejam.Banyak orang-orang tak waras.Pembunuhan di mana-mana,bahkan pelecehan pun meraja lela.Rayyan tidak ingin jika dirinya muncul di telivisi dengan kabar korban penculikan yang terlebih dulu di lecehkan.
"Please gas,ini salah." Meski lemah,bagas bisa mendengar hal itu.Ya,bagas teman masa kecilnya di panti kini tengah bersamanya di ruangan kecil ini.
"Apa lo bilang?Salah apanya?" Bagas membenturkan kepala rayyan ke dinding di belakangnya.
"Ugh.." Rayyan memejamkan matanya saat rasa sakit mendera.
"Guu..gue,ga rela lo sentuh." Bagas menatap tajam rayyan.Dia menyeret tubuh lemas raytan menuju tempat tidur kecilnya.Mengikatnya kedua tangan rayyan ke kepala tempat tidur.
"Harusnya lo berterimakasih sama gue.Kalau bukan si tua bangka bodoh itu,gue ga mungkin bisa nyelematin lo.!"
"Ga.Lebih baik,gue mati gas.Daripada di lecehkan."
"Mati?oke kalau itu mau lo.Kita mati sama-sama.Kita wujudkan janji-janji lo ke gue dulu.Sebelum si athar b******k itu bawa lo dari sisi gue."
Rayyan tersenyum lemah.Setidaknya dia mati dengan keperjakaannya.Di bandingkan mati dengan di lecehkan lebih dulu.
Di depannya,bagas menuangkan cairan berbau menyengat.Rayyan tahu jika itu bensin.Bagas menyiramkan bensin ke badanya lalu ke arah tempat tidur yang di tempati rayyan.
"Kata lo,kita akan sama-sama sampai mati." Bagas menyalakan korek api yang sedari tadi ada di saku celananya.
"Iya,gas." Rayyan tersenyum.Lalu pandangannya melihat ke arah langit-langit kamar.Menitikan air matanya mengingat mama,papa,abang dan athalla.Inilah akhir hidupnya setelah lolos dari beberapa kecelakaan yang menimpa diri.
"Adik cinta kalian." Kata rayyan bersamaan dengan api yang lebih dulu membakar area di dekat bagas.Merambat dengan cepat,bagas yang sudah terbakar pun menjerit-jerit kesakitan bahkan bergerak kesana kemari.Rayyan takut,jujur dia amat takut.Melihat bagas terbakar dengan api besar berkobar-kobar seakan melahapnya habis.
"Astaghfirullah..laaillahaaillallah..." Yang bisa rayyan lakukan adalah beristighfar,bersyahadat,berdoa dan bershalawat.Asap mulai menghitam akibat barang-barang terbakar.Rayyan mulai sesak terlebih kobaran api mulai merambat ke arahnya.
***
Dimas mendapat kabar dari kantor polisi.Dengan cepat dimas,athar dan athalla bergegas ke tempat.Rumah sakit terdekat.Nadine yang gembira mendengar kabar jika rayyan di temukan pun merasa senang.Mereka tiba di rumah sakit.
"Pak dimas?" Seorang polisi menghampiri dimas.
"Ya,dimana putra saya,pak?" Tanya dimas tak sabar.
"Begini pak,kami menemukan putra anda di daerah kontrakan kecil.Dan saat kami sampai,rumah kontrakan itu sudah terbakar.Dua orang dengan luka bakar langsung kami evakuasi.Silahkan anda masuk untjk memastikan jika korban meninggal adalah putra anda."
Deggh...
Pernyataan polisi bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.Nadine yang awalnya gembira kini meraung-raung tak terkendali.Athar berusaha kuat namun pertahananya runtuh juga.Sama halnya dengan athalla,dia menangis bahkan memukul-mukul dinding di depannya.Ali dan faiz menangis.Rio menyalahkan dirinya,jika saja dia menuruti kemauan orangtuanya pasti rayyan masih bersama mereka.
***