Langkah itu terasa berat.Terbayang wajah rayyan yang masih kecil belepotan tanah,berlari kesana-kemari dengan skop mainan di tangan kanannya.Saat menginjak sekolah taman kanak-kanak dengan gembiranya rayyan memamerkan seragam yang sama dengan sang abang,menginjak sekolah dasar rayyan selalu berceloteh saat berangkat sekolah bahkan sejak sekolah menengah pertama awal dirinya mengenalkan sepeda motor.Cerewetnya dia bahkan melebihi istrinya sendiri.
"Pa,istirahat aja.Biar adik yang kerja." Rayyan kecil berusia sembilan tahun dengan polosnya berbicara seperti itu.
"Kenapa memangnya,dik?" Dimas bertanya dengan selimut membungkus dirinya.
"Papa capek,banyak kerja,terus sakit kaya gini.Adik ga mau mama khawatir.Semalam ga jagaain adik malah jagain papa." Rayyan mengerucutkan bibirnya lucu.
"Ohhh,jadi kamu ga khawatir sama papa yang demam.Takut mama ga tidur sama adik ya?" Rayyan menanggukkan kepalanya.
"Biar aja,mama kan punya papa." Ledeknya.
"Punya adik!bukan papa.Bukan abang.Hanya adik." Kesal rayyan.Dimas yang melihat putranya merajuk langsung memeluknya hangat dan erat.
"Ihhh papa,nanti adik demam." Rayyan berontak dari pelukannya.
"Papa sayang adik." Jawab ga nyambung dimas.Dia bahagia memiliki rayyan yang super menggemaskan.Dan keesokan harinya rayyan sakit karena tertular flu dan demam.
Dimas membuka kantung jenazah itu,hitam seperti arang.Bentuknya benar-benar tak beraturan.Dimas bingung karena tak bisa mengenali sosok gosong itu.Namun air matanya tak henti menggenang sampai mengalir begitu saja.
"Ya allah" Dimas menangis.Batinya berteriak.Dia bingung di hadapannya ini putranya atau bukan.
***
Ruangan ICU ini nampak sepi,hanya suara isak tangis dimas ketika melihat sosok putranya yang masih belum sadarkan diri.Dia menciumi seluruh wajah rayyan yang nampak pucat sekali.Bahkan beberapa luka lecet di wajahnya.Dia bersyukur,putranya telah selamat meskipun belum sadarkan diri.
Awalnya dimas frustasi tak bisa mengenali sosok di kantung jenazah.Dia tak bisa berfikir jernih jika benar yang meninggal itu putranya,apa dirinya akan baik-baik saja.
"Terimakasih,dik.Papa sayang sama kamu,nak.Jangan pernah tinggalin papa dan mama lagi." Dimas tak henti-hentinya menciumi wajah rayyan meskipun tertutupi masker oksigen.
"Bangun,nak.Mama menunggumu di luar." Dimas masih saja terisak lirih.Setelahnya memeluk rayyan dengan menempelkan telinganya di d**a sang putra.Menangis melepaskan rasa rindu yang selama empat hari tak berjumpa.
***
Nadine dengan setia menunggu putranya sadar.Bangun dari tidur panjangnya.Nadine yakin jika putranya lelah.Di tatap wajah pucat putranya.Sedikit tirus mungkin akibat sakitnya dan kurang makan.Nadine berencana jika rayyan sadar akan memasakkan semua makanan yang putranya suka.
"Eughhh.." Nadine tersenyum melihat reaksi rayyan.Bola mata dengan kelopak mata terpejam itu terlihat bergerak pelan hingga membuka perlahan.
"Assalamu'alaikum adik." Nadine yang duduk di sampingnya tengan mengusap lembut rambut rayyan yang sudah lepek.
Rayyan melirik mamanya.Rasa bahagia dan sedih bercampur aduk.Dia tak kuasa menahan air matanya.
"Stttstt..adik ga boleh nangis.Tenang ya.Ada mama." Nadine menghapus air mata rayyan yang menetes di sudut matanya.
"Ma...takut." Lirih rayyan.Sekejap nadine memeluk putranya dengan erat.Menenangkan jika putranya baik-baik saja.
"Sayang,sudah ada ada mama,papa,abang sama athalla.Mereka menunggu di luar."
"Pu..lang.."
"Nanti ya,ji.."
"Se..ka..rang." Nadine bisa melihat raut ketakutan di kedua bola mata rayyan.Air matanya tak henti menetes.Nadine tak kuat melihat putranya menangis seperti ini.
"Iya..mama bicara dulu sama papa,ya."
***
Rayyan termenung sendirian.Saat pulang dari rumah sakit tadi,dirinya tak benar-benar pulang.Tapi di ungsikan sementara di rumah tante ina yang memang fasilitas alat kedokteran ada dan lengkap.Kata dokter,rayyan masih harus di rawat intensif.Maka dari itu,dimas meminta ina serta suaminya pulang.Dimas minta adiknya merawat putranya di rumah.
"sudah malam,kenapa belum tidur?" Suara ina membuyarkan lamunan rayyan.Ina tersenyum menatap keponakannya yang masih berbaring dengan kantung infus dan cairan lainnya yang menggantung di atas sana.
"Belum ngantuk.Adik takut." Ina duduk di samping keponakan manisnya itu.Menggenggam tangan yang terasa dingin dan kurus dari sebelumnya.
"Jangan takut.Buang fikiran jelekmu itu.Hapus semua memori yang mengerikan itu.Kamu masih hidup dan lanjutkan kisahmu."
"Tante,dan semuanya akan ada di samping kamu.Selalu." Rayyan masih terdiam sembari menatap wajah tantenya yang terlihat gemuk.
"Ishh.." Rayyan memejamkan matanya ketika rasa sakit itu kembali.Perih,panas dan nyeri.Ina yang melihat raut kesakitan keponakannya hanya bisa tersenyum pedih.
"Tahan,rasa sakitnya.Tante ga akan memberikannmu obat lagi.Harus ada jedanya." Ina memegang erat tangan rayyan yang meremas tangannya.
"Ssshh...astaghfirullahala'zim." Rayyan terus beristighfar dan meminta pertolongan allah.
"Ingat dik,allah menguji seseorang hambanya sesuai dengan kemampuannya.Tante yakin,allah sedang mengujimu.Kamu bisa melewati semuanya." Ina sedih,ingin menangis.Namun dia harus kuat untuk keponakannya.
***
Athar bergantian menjaga adiknya itu.Menatap adiknya yang tengah tertidur adalah hal favoritnya.Kini dirinya satu tempat tidur dengan rayyan bahkan si kodok athalla sudah ngorok di samping adiknya.
"Gue seneng.Semangat terus ya."
"Berisik lo,bang." Ketus rayyan sembari memukul mulut abangnya pelan.
"Gue kira tidur lo." Rayyan melirik abangnya yang tengah menatapnya dengan posisi meminggir.
"Pegel,p****t gue panas,bang." Adu rayyan.Sejak pulang dari rumah sakit rayyan hanya berbaring bahkan untuk buang air saja di bantu dimas.
"Tahan.Kalau badan lo udah enakan juga bisa gerak sendiri."
"Ngomong mah gampang,coba lo yang ngerasain." Rayyan meringis.Seluruh badannya masih sakit dan ngilu.Apalagi area bawahnya.
"Bang,papanya rio?" Athar mengerti.Dengan lembut dia mengusap pipi tirus adiknya.
"Semua sudah beres.Lo,hanya fokus sama kesehatan lo.Papanya rio udah menyerahkan diri ke polisi.Rio pun udah balik ke amerika,dia nitip salam sama lo saat lo masih belum sadar."
"Ali udah berhenti,dia lagi sibuk-sibuknya ngurusin usaha karpet arab babanya.Mungkin besok dia kemari sama faiz." Rayyan tersenyum sendu.Dia mengerti sahabatnya itu.Terlebih rio,dia kembali ke amerika bukan karena egois,namun dia akan mewujudkan impian rayyan yang tak terselesaikan.Bukan karena ambisi papanya.
"Ngantuk,jangan tinggalin adik." Athar meniup-niup rambut rayyan yang sudah wangi strawberry.Tadi sore,rambutnya di cuci.Namun karena shampo dewasa habis maka di pakailah shampo tsabit,bocah kecil anaknya tante ina.Reaksi rayyan tentu marah-marah,dia tak mau di samakan dengan bocah.Namun apa daya,pada akhirnya dia pasrah saja dengan kelakuan abang dan athalla.
***
Lagi,sudah seminggu ini nadine bisa melihat putranya akan melamun sendirian jika tak ada siapa-siapa yang menemani.Maka dari itu,mereka seluruh keluarga membuat jadwal untuk menemani rayyan supaya tak sendirian.Sejak kemarin infus dan cairan lainnya sudah di lepas.Kondisi fisiknya membaik,namun mentalnya masih terguncang.Jika malam datang, saat tidur rayyan akan bermimpi buruk dengan teriak-teriak berkata api dan minta tolong.Kadang hanya terisak menyedihkan walaupun dengan mata tertutup.
Dengan perlahan nadine memeluk putranya yang tengah duduk menghadap ke taman di rumah ina ini.Rayyan tersentak namun menggenggam tangan hangat mamanya yang melingkar di pundaknya.
Cupp...
Nadine mencium lembut pipi kanan putranya.Wajah rayyan kini tak sepucat kemarin-kemarin.
"Hey..jangan bengong.Mau makan buah?" Tawar nadine.Rayyan menanggukkan kepalanya.
"Ini oma sudah siapakan." Tanpa di duga oma sudah membawa buah-buahan yang sudah di potong dadu.Ada melon,semangka,mangga,strawberry dan buah-buah lainnya.
"Oma ga salah?itu banyak." Keluh rayyan saat omanya duduk di depannya.
"Ga,ingat kata tante ina.Banyak makan buah supaya cepet sehat."
"Tante ina mah,bohong oma.Adik bukan anak kecil lagi.Rayuannya ga mempan." Nadine terkekeh.Dia mengambil garpu dan menusukkan ke buah melon.Dengan menurut rayyan membuka mulutnya dan mengunyah.
Mereka menikmati kebersamaan di sore itu.Dengan cuaca cerah dan memakan buah-buahan yang segar sembari menanti para laki-laki yang sibuk bekerja.
Rayyan terdiam dengan lamunannya sendiri dengan mulut penuh buah.Dia menatap ke ujung sofa panjang yang di dudukinya.Selimut tebal berwarna coklat tengah menutupi area bawahnya yang masih di bebat perban yang tebal.Dia tersenyum miris,saat tak bisa lagi merasakan pergerakan jari jemarinya.Bahkan haruskah mulai sekarang mengucapkan selamat tinggal pada motor-motor kesayangannya??Haruskah dia mengucapkan innalillahi pada kedua kakinya yang sudah di kebumikan terlebih dahulu?
Usapan lembut di pipinya membuyarkan semuanya.Rayyan bisa melihat mamanya tersenyum lembut dengan air mata berkaca-kaca.
"Papa,mama,abang dan athalla akan selalu menjadi kedua kakimu,nak."
***