Satu hari,rayyan menghilang.Semuanya kacau.Papa,mama,athalla dan athar semua orang yang menyayangi rayyan tak bisa tidur tenang.Wajah lelah terlihat jelas.Bahkan wajah nadine terlihat sembab karena menangis setiap saat.
"Kira-kira,apa ada hubungannya sama orang yang waktu itu menyabotase si pepa?" Tanya athar pada athalla yang kini tengah meneguk kopi hitamnya.
"Bisa jadi,toh selama ini kakak gue ga punya musuh kan"
"Hmm...tapi siapa?Bahkan polisi aja masih mencarinya."
"Bang,daripada nunggu kabar polisi yang entah kapan.Kita tetap cari sampai ketemu."
"Tapi kita cari kemana?Ga ada petunjuk sama sekali."
Keduanya termenung,kemana lagi mereka mencari orang terkasih mereka.Tak terbayang wajah kesakitan rayyan.Apalagi kondisi terakhirnya suhu badannya meninggi.Apakah rayyan baik-baik saja sekarang??
***
Di saat semua orang mencarinya,rayyan masih di tempat yang sama.Di dalam kamar mandi mewah.Dengan tubuh seluruhnya di rekat lakban.Terbaring di bahtup yang dingin.
"Waktunya makan." Laki laki yang kemarin membawa nasi dan tempe bacem.Rayyan jadi teringat mamanya kemarin.Tempe bacem favoritnya pasti sudah di belikan oleh sang mama.
Sretttt...
"Ish.."
Dengan satu tarikan,laki laki itu melepas perekat di area mulutnya dengan sekali tarikan.Sakit dan panas terasa.
"Buka mulutnya." Dengan menurut rayyan menuruti perintah laki laki itu.
Air matanya menetes.Bukan karena sakit yang di rasa namun melihat tempe bacem yang di nasi kotak di depannya.Membayangkan wajah mamanya yang sedang menyuapi dirinya.
"Cengeng banget sih." Bentak laki-laki itu dengan nada keras.
"Uhukk...uhukk" rayyan terbatuk ketika mendengar bentakan laki laki itu.Tanpa berperasaan rayyan meneguk air yang di bawa laki-laki itu.
Srettt...
Laki-laki itu kembali menutup mulut rayyan dengan lakban.Padahal rayyan masih lapar,baru satu suapan dan itu pun tersendak.
"Sebenarnya tangan gue gatal pengen ngehajar lo.Tapi bos minta gue ga apa-apain lo."
Rayyan berfikir sejenak siapa yang menyuruh oarang ini untuk menculiknya?Padahal tak ada oarnag yang di curigai.
Dengan sedikit usaha,rayyan menggerakan kakinya dan merubah posisinya meskipun sia-sia.Di bathup berukuran besar itu tak bisa membantu.
"Harus bergerak" Rayyan membatin.Dengan sekeras usaha dan kuatnya tekad rayyan menggerakkan badannya.
"Hahhhh...anggap aja kalau gue ikutan challenge." Di balik lakban yang menutupi mulutnya rayyan tersenyum.Sedikit demi sedikit rayyan bisa merubah posisinya.Yang awalnya berbarik kini bisa setengah duduk bersandar pada sandaran bathup.
***
Di lain tempat ali,faiz dan rio semakin bingung.Harus kemana lagi mencari sahabatnya itu.Ketiganya kini memang berada di rumah rio.Karena letaknya strategis.
"Gue bingung mau cari kemana lagi." Keluh rio.
"Kasihan nasib sahabat gue.Kenapa drama hidupnya serumit ini." Faiz meraung raung menangis karena kehilangan satu hari terasa berat.
Berbeda dengan ali,dia nampak berfikir.Wajahnya nampak serius bahkan kelewat serius.
"Minggu ini seri ke tiga kan?" Tanya ali yang membahas seri mottocross.
"Apa hubungannya sih?" Kesal rio.
"Jika benar ini bersangkutan dengan seri,gue yakin pelaku penculik rayyan adalah seseorang yang kita kenal." Ali menatap serius wajah rio.
"Maksud lo?"
"Menurut lo?Kenapa gue balik bahkan mengundurkan diri dari team?" Rio nampak menatap ali serius.Ini bukan masalah sepele.
"Desas desus rayyan pensiun?Team bukan membuang rayyan,tapi rayyan mengundurkan diri secara sepihak.Memang kontrak dengan team sudah habis,tapi melihat mibat dan cita-cita rayyan gue yakin dia akan mengambil memperpanjang kontraknya bukan pensiun."
Ali nampak emosi sekali.Bahkan terlihat wajahnya memerah karena emosi.
"Jadi?apa yang gue ga tahu?" Tanya rio.
"Gue juga ga tahu pasti,yo.Tapi gue tahu jika rayyan di ancam.Gue denger dari big boss,rayyan berhenti karena tante nadine.Tapi itu ga masuk akal"
"Apa mungkin?" Rio dan ali menatap satu sama lain seolah berbicara lewat interaksi kedua matanya.Faiz yang tak mengerti apapun hanya menatapnya bengong.
"Kita harus gerak cepat.Gue ga mau sahabat gue celaka gara-gara dia."
***
"Pa,ali hubungi abang.Dia tahu dimana adik." Athalla melirik abangnya yang tengah sibuk menghubungi papanya.
"Iya pa,kita lagi menuju tempat yang di berikan ali.Baik,pa.Wa'alaikumsalam." Athar menanggukan kepalanya jika tindakannya di setujui oleh sang papa.
"Ya allah,lindungi adik." Batin athar.
***
Hari mulai sore,rayyan tak bisa bergerak lagi karena tak ada tenaga.Satu hari ini baru di beri makan tadi pagi saja itu pun hanya satu suap.Perutnya melilit perih,dia yakin maagnya kambuh.
"Lemes banget ya." Rayyan mendengar suara yang di kenalnya.Orang itu memang tak menyukainya terlebih saat dirinya menjadi juara untuk pertama kalinya.
"Saya kira,dengan ancaman saja kamu akan pergi sejauh itu.Tapi nyatanya kamu hidup pun rio tak bisa berpaling dari persahabtan kalian yang bodoh.
"Saya yakin rio akan marah jika tahu saya di balik penculikan ini.Rio rela meninggalkan seri hanya demi kamu yang sakit."
"Bagaimana jika pengaruh kamu terhadap rio tak ada lagi?Rio pasti menjalani kehidupannya dengan nyaman di sana.Harusnya kamu tahu perasaan saya?Kenapa rio lebih mementingkan dirimu di banding saya?"
"Istirahatlah" perintahnya.Lalu pergi dari kamar mandi itu,meninggalkan rayyan sendirian.
***
Genap dua hari rayyan belum di temukan.Rio yakin jika orang itu tak akan membawa rayyan kemana-mana.Dia pulang sejenak karena lelah bahkan di perintahkan langsung oleh dimas yang seharian kemarin mencari ke tempat yang di ketahui.
"Belum ketemu juga rayyannya?" Tanya perempuan cantik berwajah sama dengannya.
"Iya ma,rio bingung kemana lagi mencari rayyan ma?" Rio memeluk perempuan yang telah melahirkannya.
"Sabar,insyaallah akan ketemu.Jika waktunya.Mama yakin,allah akan menjaganya." Rio menganggukan kepalanya.
Malam hari yang dingin akibat hujan mengguyur,rio dan mamanya tengah makan bersama meski hatinya dalam suasana buruk.
"Ma,papa kemana?"
"Lagi sibuk di garasi."
"Mama panggilkan dulu ya.Kita makan malam bersama-sama."
"Biar rio saja,ma." Sebenarnya rio mencurigai papanya yang menculik rayyan.Namun dirinya tak ada bukti,dia kira papanya akn menyekap rayyan di villa yang mereka miliki tapi nihil tak ada hasilnya.
"Pa" laki-laki itu nampak terkejut di balik motor gedenya.
"Ka..kamu.Bikin kaget aja."
"Papa kok kaget gitu.Ngapain juga mogenya di dorong ke situ pa?" Rio menatap curiga papanya.
"Lagi di bersihin.Kamu mau ngapain kesini?" Tanya papa dengan mengelap tangannya.
"Kita makan bersama pa." Kedua laki-laki itu pergi dari garasi untuk kembali kedalam rumah mewahnya.
***
Tiga hari rayyan di culik,rio mulai mencurigai papanya.Dia mengendap-endap memasuki garasi rumahnya.Dan membuka pintu gudang yang di depan moge milik papanya.
Clekk..
Gudang yang sudah lama ga di tempati ini nampak kotor dan tersusun rapi.Gudang ini tak terlihat jika di tempati.Dengan perasaan hampa dia keluar dari gudang.
"Cari apa?" Tanya suara papa dingin.
"Papa yang bawa rayyan kan?" Tanya rio langsung.
"Hahhahaha...apa buktinya rio?Apa gunanya papa menculim teman kecilmu itu."
"Papa jangan bohong!!!Rio sudah tahu semuanya pa.Rayyan berhenti itu gara-gara papa kan.Papa yang ancam dia!!" Teriak rio.
"Hanya karena rayyan kamu berani membentak papa?"
"Please pa,dimana rayyan.Kasihan om dimas dan tante nadine.Mereka mencari rayyan pa,rayyan sedang sakit."
"Papa ga tahu." Papa rio beranjak dari tempatnya.
"Oke,rio akan balik ke amerika sekarang juga tapi beri tahu dimana rayyan?" Laki-laki menyeringai dan tersenyum bahagia pada putra tunggalnya itu.
***