Air hujan mulai berjatuhan.Suara bising air mulai terdengar ramai akibat derasnya hujan yang tiba-tiba datang.Jarak pandang pun semakin memendek akibat langit menggelap dan air hujan.
Athalla mengendarai mobilnya pelan dan hati-hati.Dia tak mau jika dirinya berakhir di rumah sakit.Di liriknya sebentar,kakaknya nampak tertidur kembali.Posisinya sungguh imut sekali.Kedua tangannya memeluk kakinya yang di tekuk.Pikir athalla pasti kakaknya itu kedinginan.
"Alhamdulillah." Ucap athalla setelah menempuh perjalanan jauh.
"Mau gue gendong?" Tanya athalla saat rayyan terbangun dari tidurnya.
"Ga,makasih." Rayyan tersenyum mengejek.
"Ga usah senyum-senyum lo.Cepetan,gue yakin mama sama papa udah ada di dalam."
"Iya,bawel banget sih lo." Rayyan mencoba bertahan meski seluruh tubuhnya mulai ngilu.Persendiannya terasa lembek.Seluruh badannya terasa lemas.
Keduanya berjalan beriringan,athalla tak mau jika kakaknya tumbang sebelum sampai ke kamarnya.
"Ya allah,di cariin juga." Langkah mereka terhenti di lantai pertama berhadapan dengan lift ketika mendengar suara oma.
Kedua cucunya langsung terdiam melihat oma yang nampak cemas di papah oleh tami.
"Oma,kapan datang?" Athalla mulai mengalihkan pembicaraan.
"Sayang,jangan mengalihkan pembicaraan.Dari mana saja,hmm"
"Maaf,kami tadi pergi sebentar." Athalla ingin menjelaskan namun mama dan papanya berlari ke arah mereka.
"Ckckck,bocah nakal." Papa mendengus.
"Haduhhh pa,kalau mau marah-marah nanti aja ya.Adik pusing." Lìrihnya.Setelah mengucapkan itu tubuhnya meluruh karena saking lemasnya.
"Begini kalau nakal,kenapa ga nurut sih.Mama kan udah bilang,diem dulu.Tubuh kamu tuh belum fit seluruhnya.Hobi banget buat mama khawatir." Cerocos sang mama tak peduli jika rayyan hampir pingsan di pangkuan athalla.
"Ma,tahu situasi dong.Badan adik lemes banget ini." Rayyan menghela nafas panjang.Rasa mual mulai menyiksanya.
"Kita ke kamar." Perintah oma.Dimas dan athalla memapah tubuh rayyan yang sedikit terseret-seret karena lemas.
Nadine menghela nafas,dokter bilang suhu tubuh rayyan meningkat lagi.Bahkan tadi beberapa kali muntah.Kondisi badannya memang mudah sekali lelah jika melakukan aktifitas berat.
"Kalau pergi nanti tolong kasih tahu dulu ya.Supaya papa bisa antar kalian." Tegur papa.
"Iya pa,maaf.Tadi tuh,si bocah manja itu merengek terus pengen ke makam papa dan mama." Dimas melihat rayyan yang kembali tertidur setelah mendapatkan suntikan obat.Bahkan tangan kanannya sudah mendapatkan infusannya kembali.
"Papa ngerti perasaannya.Jagain kakakmu ya.Dia butuh kita semua.Apalagi kondisinya turun naik seperti ini." Athalla menganggukkan kepalanya.
"Abang kemana pa?" Pasalnya hari ini dia belum bertemu kakak sepupunya itu.
"Lembur."
***
Nyatanya athar memang sibuk dengan pekerjaannya di dampingi oleh yudha.Keduanya mengobrol sana sini meski pandangannya menatap layar laptop yang masih menyala.
"Karyawan baru itu,sudah lama ga masuk." Athar tersenyum.
"Iya,izin sakit.Kondisinya turun naik jadi ga bisa kerja dulu." Yudha mengernyit heran.
"Kok lo tahu,sih." Tanya yudha dengan bahasa non formal mengingat ini bukan jam kantor.
"Hmm..gue kan perhatian sama karyawan gue sendiri." Yudah tersenyum sebal.
"Pembohongan publik.Mana ada athar yang pengertian.Buktinya si rafqa,divisi gue sakit dua bulan lalu,lo ga tengokin." Ledek yudha.
"Iyalah,itukan dua bulan yang lalu.Itu masih mode gue yang jutek.Sekarang sejak karyawan baru itu masuk,gue jadi mode perhatian."
"Kenapa gue mencium bau-bau romance nih?"
Srettt..
"s****n lo.Gue masih normal kali." Athar melempar kotak tisue ke arah yudha.
"Hahahaha,canda gue." Keduanya kembali fokus pada tugas masing-masing.Dan diluar sana nampak seseorang yang mendengar hal itu.
"Lagi-lagi si karyawan baru.Gue yang mengabdi beberapa tahun aja ga pernah di fikirin."
***
Pagi ini cuaca di luar sana sangat cerah.Langit biru tanpa awan-awan putih.Rayyan bisa melihat itu dari jendela kamar inapnya.Pagi ini mama masih menemaninya,sedangkan papa sudah berangkat kerja.
"Masih lemas?" Tanya mama sembari mengusap lembut rambut rayyan.
"Hmm.."
"Mau makan?kata dokter,adik boleh makan apa aja."
"Ehmm,adik pengen tempe bacem." Keluhnya.
"Yasudah,mama belikan dulu ya.Kamu ga apa-apa di tinggal sendiri?" Tanya nadine.
"Iya,bentar lagi ali sama rio datang kok,ma." Nadine mencium kening putranya yang masih terbaring lemas di tempat tidurnya.
"Mama pergi dulu."
"Ma." Rayyan menggenggam tangan hangat nadine.Di tatapnya sang mama dengan lembut.
"Maaf ya ngerepotin.Adik sayang mama." Nadine tersenyum.
"Ga ngeropetin kok,mama seneng kamu bisa minta tolong sama mama.Tidur lagi aja ya.Mama nanti bangunkan jika sudah ada tempe bacemnya." Rayyan menganggukan kepalanya lemah.Rasa pusing efek kelelahan kemarin masih ada.
Keheningan melanda,kini dia tengah sendirian di ruangan sebesar ini.Dia tersenyum ketika untu pertama kalinya bertemu dengan papa kandungnya meski sudah berbeda alam.Kenangan masa kecilnya terlintas sepotong demi sepotong.
"Hahh..terimakasih ya allah." ucap rayan sembari menatap langit di atas sana.Rayyan bisa melihat langit cerah di atas sana,namun ada yang aneh.Di jendela besar itu terlihat bayangan seseorang yang berpakaian biasa berjalan ke arahnya.Rayyan menengokkan kepalanya.
"Selamat pagi." Ucapnya.Rayyan tersentak saat hidung dan mulutnya di bekap dengan saputangan berbau aneh.Tentunya rayyan berontak.Dia memukul-mukul tangan kekar yang menekan area pernafasannya.Sungguh,rayyan sulit bernafas dan mulai sesak.Terlebih kepalanya mulai terasa pening.Tangan itu berhenti memberontak,pandangannya mulai menggelap secara pasti.
***
Athar merindukan adiknya.Tentu saja kaeena beberapa hari ini dia tak bisa menjaga adiknya dengan baik.Kini dia berada di kantor,namun perasaannya merasa tak enak.Bayangan adiknya terlintas begitu saja.
"Bang,adik sudah ga jadi bintang buat abang lagi.Sekarang ada athalla." Ucapan rayyan terngiang di fikirannya.
"Lo tetap adik abang,lo tetap bintang buat abang,bukan siapapun bahkan bukan athalla.Jika abang nikah nanti pun lo tetap bintangnya abang samapi kapan pun."
Dering handpbonenya berbunyi.Tertera nama athalla.Tumben dia menghubunginya di jam kantor seperti ini.Athar terdiam ketika athalla menyampaikan sesuatu dengan cepat.
"Bang,adik hilang."
***
Terhitung sudah dua belas jam rayyan menghilang.Semua keluarganya pun kalang kabut mencari.Karena tidak mungkin mereka melapor ke polisi jika belum sampai dua puluh empat jam.Mereka berkumpul di ruang inap rayyan.Bahkan mama menangis sembari memeluk selimut yang di pakai rayyan tadi.
"Kita cari lagi.Kemanapun sampai ketemu.Adik tidak mungkin kabur kan?" Ucap athar.
"Ga.Sayangnya CCTV tak bisa membantu." Ucap athalla.
"Kita cari sekarang." Putus dimas yang sudah frustasi sejak di beri tahu pertama kali oleh istrinya.
Athar dan faiz bersama di mobil,athalla dan ali,papa dan mang asep dan terakhir rio sendiri menggunakan motor.
"Adik,dimana lo?"
***
Rasa pening menyapanya.Perlahan rayyan mencoba membuka kedua matanya.Menyipit lalu memejam kembali karena sinar lampu.Pertama yang di lihatnya adalah pintu.Setelahnya shower dan alat-alat mandi lainnya.Kini rayyan sadari jika dirinya berada di kamar mandi dengan seluruh tubuhnya di lakban.Bahkan mulutnya pun di lakban erat.
Rayyan menghela nafas panjang.Lagi dan lagi kejadian tak di inginkan menimpa dirinya.Tubuhnya terasa kebas akibat rekatan lakban terlalu kencang terlebih dia mulai sulit bernafas jika seerat ini.
Clekk..
Pintu kamar mandi terbuka,menampjlkan sosok yang tak di kenalnya.Bahkan berpakaian biasa bukan tipe penculik.
"Hii,boy.Wahh sudah bangun?Lapar??tapi mohon maaf persediaan makanan hanya untuk saya aja." Ucap si penculik senga.
"Nah..untuk beberapa hari kedepan,kamu akan tinggal di sini.Ga lama sih.Sampai si bos puas aja.Selamat malam,waktunya tidur."
Si penculik itu pergi tanpa memberinya makan atau minum.
Rayyan ingin menangis rasanya,perutnya perih ingin makan.Namun badannya tak bisa di gerakan akibat lilitan lakban yang kuat.
"Ya allah,tolongin rayyan.Rayyan ga mau mati di sini" Bathin rayyan. Seorang anak yatim piatu yang yakin doanya akan di ijabah oleh yang maha pemilik alam semesta ini.
***