Pagi ini dimas dan nadine bangun tidur kalang kabut karena putranya sudah tak ada di tempat tidur.Mereka berdua berlari keluar kamar untuk mencari putra manisnya itu.Meski usianya sudah dua puluh tiga tahun tapi anak itu masih bocah kecilnya yang manis.Apalagi kejadian kemarin membuat cemas seluruh anggota keluarga bahkan sahabat-sahabatnya rela menempuh amerika indonesia untuk bertemu sahabat manis mereka.
"Dim,kemana adik?" Nadine sudah cemas saja.Rayyan belum dalam keadaan benar-benar pulih.
"Kita cari saja,yang." Ucap dimas dengan kedua matanya tak fokus pada nadine.
Keduanya berjalan cepat keluar dari lift yang mengantarkan mereka ke lantai dasar.Suasana rumah sakit yang masih lengang bisa memudahkan kedua orangtua itu mencari putranya.
"Mama,papa." Suara athar yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.Kedua orangtuanya menghampiri athar dengan wajah cemas.
"Bang?" Dimas menghentikan ucapannya di saat mendengar suara tawa khas putranya.Putranya yang manis tentunya.
"Itu suara adik,kan?" Tanya athar.Nadine menganggukan kepalanya dan mulai mencari sumber suara putranya itu.Mereka melewati jajaran kursi besi yang berjajar di lobi lalu melewati pintu kaca rumah sakit yang bisa terbuka dan menutup sendiri.Kini mereka ada di luar,tepatnya di daerah parkiran.
Ketiganya menengokan kepala mereka ke kanan dan kiri.Di sana di pos keamanan yang berdekatan dengan pintu tiket masuk rayyan yang memakai hoddie hitam dengan celana kebesaran berwarna coklat muda tengah tertawa bersama pak satpam yang sudah tua dan seorang ibu berpakaian compang camping seperti pemulung karena di dekatnya ada karung besar beserta alat kaitnya.
"Dik?" Sapa mama yang langsung memeluk putranya tanpa rasa malu.Rayyan yang di peluk secara tiba-tiba tentunya kaget dan hampir terjungkal ke belakang dari bangku plastik yang di dudukinya.
"Oh,mama.." Rayyan membalas pelukannya Bisa di lihat pak satpam dan si ibu terlihat tersenyum tipis.
"Adik lagi ngapain sih?pagi-pagi udah nongkrong aja." Kini mama bertanya yang sebelumnya melepaskan pelukannya pada rayyan.
"Jogging,ma.Bosen di kamar terus." Jawab rayyan dengan tersenyum.
"Oia ma,pa dan abang.Ini pak rudi satpam di sini sama bu ima" Rayyan mengenalkan kedua orang yang sedang duduk berdekatan.Bisa di lihat kedua orang itu nampak malu-malu.
"Pak,saya papanya.Ini mamanya dan ini abangnya." Kenal dimas sembari menunjuk satu persatu anggota keluarganya.
"Ihhh papa,malu-maluin.Tanpa di jelasin juga pak rudi dan bu ima tahu kalau papa ini papanya adik." Rayyan mendelik tak suka.
"Ckckck,anak jaman now.Papanya lagi ngenalin kok ngeselin." Dimas menimpali.
"Papa juga ngeselin."
"Maaf pak rudi dan bu ima,jangan perdulikan kedua orang ini ya." Nadine tersenyum kepada kedua orang itu.
"Kita sarapan bersama ya,pak rudi dan ibu ima.Ini kan masih pagi,pasti tugas bapak dan ibu akan berat jika tak sarapan dulu." Tawar nadine yang kini duduk di tempat rayyan karena sang punya kursi di tarik oleh sang abang.
"Bang,beliin bubur" Perintah nadine.
"Tidak usah repot-repot bu." Jelas saja pak rudi tak enak hati.
"Udah pak rudi jangan sungkan,mama mah baik,pak rudi minta segerobak bubur aja di beliin" Canda rayyan yang mendapatkan cubitan kecil dari athar.
"Shhh,sakit tau.Kemarin aja pada nangis.Sekarang aja adik di aniaya.Ya allah ampuni dosa abang." Kata rayyan yang langsung di tertawai oleh semuanya kecuali athar yang malu.
***
Setelah sarapan bersama di luar rumah sakit,kini rayyan kembali merasa bosan di dalam kamarnya.Memang dirinya tak sendiri.Kini ada ketiga sahabatnya yang sudah dari siang menemaninya.
Rio,ali dan faiz.Trio yang mewakili keberagaman di indonesia itu tengah bercanda sembari mengemil kacang asin beserta kopi yang di belinya tadi.
"Kapan lo berdua balik?Seri akan segera di mulai kan?" Tanya rayyan dengan merapatkan selimutnya.Dia mulai menggigil lagi.Padahal tadi pagi sudah enakkan bahkan bisa jogging.
"Jangan mikirin seri deh,Gue sama ali udah mutusin,kalau kita ga akan ikut seri di brazil.Kita mau nemenin lo di sini."
"Lo gila!" Rayyan yang mendengar ucapan rio.Kini rayyan duduk di ranjangnya sembari menatap tajam rio dan ali.
"Lo yang gila" ali melempar cangkang kacang asin yang baru saja di kupasnya ke arah rayyan.
"Mana ada crosser dunia yang mutusin pensiun dini." Celetuk ali.
"ADA,ITU GUE!!!" Suara rayyan terdengar meninggi.Faiz yang melihat reaksi sahabatnya itu pun kaget.
"Udah.Jangan bahas seri-seri lah.Kondisi lo kan belum stabil adik" Ucap faiz yang sedikit meledek di saat mengucapkan adik.
"Lo diem,ndut.Gue ke sini emang buat tanya sesuatu sama sahabat b**o lo ini." Sahut ali.Jelas sekali,rayyan bisa tahu dari wajah sahabatnya itu jika ali tahu sesuatu?.Apa mungkin?.
"Li,sudah.Kita biarkan rayyan istirahat.Lo lupa penjelasan om dimas." Tegur rio.Sebenarnya ali ingin bertanya soal itu.Di hadapan rio dan faiz tapi mengingat penjelasan om dimas kemarin dan melihat kondisi rayyan kemarin,ali memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatannya dengan rayyan.
"Gue ke toilet dulu." Ali beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ketiga sahabatnya yang masih diam.
"Ali kelihatan marah banget sejak seminggu yang lalu.Dia ngotot mau ketemu lo." Rio berkata ketika ali menutup pintunya.
"Lo berdua tahu kan ali orangnya kaya gimana.Dia paling diem di antara kita,tapi paling maju kalau di antara kita bermasalah."
"Lagi pms kali." Canda faiz.Rayyan tak memperdulikan kedua sahabatnya yang tengah melempar kulit kacang.Otak dan fikirannya fokus pada ali.Rayyan yakin ali sudah tahu.Ali,dia tidak akan diam saja.Rayyan yakin beberapa jam kemudian ali akan bertanya lagi.
"Gue harus jawab apa,li.Gue bingung kalau jujur ada orang yang akan terluka.Jika ga jujur takut dosa.Malaikat di sebelah kiri gue siap mencatat" Batin rayyan merana.
***
Rayyan kembali tertawa bahkan berlinang air mata.Di sana rio tengah memperlihatkan video taylor yang selama ini di rindukan sahabatnya itu.
"Sumpah...ini kejutan.Makasih,yo." Ucap rayyan dengan senangnya.Wajahnya berseri-seri,rona bahagia terpancar di wajahnya yang sedikit pucat.Bahkan air matanya tak kunjung berhenti menetes.
"Anjirrr,segini bahagianya lo bisa lihat taylor.Gimana kalau ketemu langsung lo." Canda rio yang kini mengambil tisue dan membersihkan air mata taylor.
"Sahabat lo ini ga normal.Masa si taylor ini di bilang sexy,bahkan lihat tuh.Mana ada yang sexy suka kotor-kotoran." Kini faiz menimpali.
"Lo aja yang ga tahu arti kata sexy." Rayyan merenggut.Dia masih memegang layar handphone rio.
"Sebenarnya taylor mau pindah.Dia akan ikut ktx gudang" Rayyan menatap rio dengan tatapan kosong.Dia tahu,ktx gudang tempatnya lebih jauh dari gedung teamnya.Itu sama saja taylor di asingkan.
"Kenapa?" Tanya lirih rayyan.
"Ali yang tahu pasti." Rio tak tega melihat raut kecewa sahabatnya itu.Dia tahu,seberapa dekat taylor dengan rayyan.Bahkan pertama kali sahabatnya masuk team ktx,taylor langsung menemaninya.Si putih tinggi yang sudah ada di hati seorang rayyan samir.
"Tapi lo ga usah khawatir,kan ada madam alice yang selalu ada di dekat taylor." Hibur rio.
"Hahh,setidaknya itu lebih baik." Kata rayyan nelangsa.Dia jadi semakin menggigil mendapat kabar soal taylor.
"Ngomong-ngomong,menurut gue madam alice lebih sexy daribpada taylor." Celetuk faiz yang langsung di hadiahi teloyoran dari ali yang tiba-tiba masuk.
"Jangan bandingin.Dosa.Mudarat semua itu." Ucap ali yang melihat kondisi rayyan yang nampak sedih.
"mudarat,tapi lo betah di sana.Muna lo" cibir faiz yang kembali mengupas kacang asinnya.Ucapan faiz di anggap angin lalu oleh kedua sahabatnya.Rio dan ali menatap prihatin melihat kondisi sahabatnya itu.
"Gue harap lo baik-baik aja disana." Batin rayyan yang kini meringkuk membelakangi ketiga sahabatnya.