------------
Pesta pun selesai Philip kembali bekerja seperti biasanya. Ia hanya memikirkan Alexa. Sebegitu buruknnya ia dimata Alexa. Ia benar-benar tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Yang mulia, ini ada surat dari kementrian agama," ucap Niell.
Philip membuka surat itu dan ia langsung meremas kertas itu.
"Panggil Alexa," ucap Philip.
"Baik yang mulia," ucap Niell lalu membungkuk kepada Philip.
----------
Niell berjalan menuju kamar Alexa. Sebenarnya ia juga tak mengerti ada apa dengan surat itu hingga Philip sebegitunya.
Niell sudah sampai di depan kamar Alexa dan ia pun membuka pintu itu terlihat Alexa sedang mengobrol dengan Jane, Lily, dan Mina.
"Yang mulia, anda dipanggil oleh raja," ucap Niell.
"Ada apa?" Tanya Alexa bingung.
"Saya juga tidak tau yang mulia," ucap Philip.
Alexa hanya menghela nafas dan berlenggang menuju ruang kerja Philip.
Belum sampai ia masuk ke dalam ruangan Philip ia sudah melihat Philip berdiri di depan Alexa.
"Alexa, kau tidak boleh keluar istana atau kemanapun," ucap Philip.
Sontak Alexa kaget. Benar-benar tak seperti biasanya.
"Ada apa?" Tanya Alexa.
Philip hanya diam membuat Alexa semakin bingung.
"Philip sebenarnya apa yang terjadi pada mu?" Tanya Alexa.
"Kita akan bertunangan minggu depan," ucap Philip yang akhirnya membuka suaranya.
"Apa? Mengapa buru-buru?" Tanya Alexa.
"Kau tak bisa menolak Alexa," ucap Philip.
"Tapi-" ucap Alexa terpotong.
"Aku sudah bilang kau tak bisa menolak," ucap Philip.
"Ada apa denganmu?" Ucap Alexa.
Philip tetap diam.
"Aku tak bisa melakukannya jika aku tak mengetahui alasannya Philip," ucap Alexa.
Philip tetap diam.
"Baiklah aku tak mau bertunangan denganmu," ucap Alexa sembari melangkah pergi dari ruang kerja Philip.
Alexa tak bisa seperti ini. Selalu diatur dan ia tak bebas semenjak di istana ini.
Philip yang melihat reaksi Alexa kaget bukan main. Baru kali ini ada seorang wanita menolaknya mentah-mentah. Benar-benar jatuh harga dirinya. Namun, dibalik itu sebenarnya Philip benar-benar khawatir pada keadaan Alexa.
Pasalnya sepertinya surat tadi bukan dari kementrian agama. Philip bahkan tak bisa melihat ada stempel kementrian di situ. Sepertinya Niell tak meneliti suratnya.
Philip hanya menghela nafas dan memijat pelipisnya menghadapi sikap Alexa.
Philip menenggelamkan kepalanya di atas meja kerjanya.
***
Di sebuah lapangan luas yang disebut sebagai tempat eksekusi. Philip tak mau meningalkan ibunya.
"Philip kau harus menajadi raja yang baik saat ibu sudah tiada nanti," ucap Silvia sembari menangis.
"Ibu, jangan pergi," ucap Philip.
"CEPAT! WAKTU BICARA MU SUDAH HABIS!" bentak seorang pria dengan mengenakan pakaian serba hitam.
"Cepat lari Philip," ucap Silvia.
"Tidak ibu," ucap Philip.
Dan tiba-tiba Philip merasakan ia terkena muncratan sesuatu. Ia mencoba meraba-raba apa yang memuncratinya. Dan ternyata itu adalah darah.
Philip melihat langsung ibunya yang di tusuk menggunakan pedang hingga tembus. Sontak Philip kecil menangis kencang. Ketika pedang itu di tarik dari tubuh silvia, ia melihat ibunya yang langsung tumbang karena pedang itu.
"Saatnya kau bocah kecil," ucap pria berpakaian hitam itu.
Philip langsung berlari dari situ. Ia berlari sekuat tenaga dari tempat itu.
Ia bersembunyi di balik pepohonan yang berada di sekitar lapangan eksekusi itu.
"Aku berjanji padamu ibu, aku akan membalas semua perbuatan mereka pada kita saat aku sudah menjadi raja nanti," ucap Philip penuh tekad.
Philip benar-benar trauma akan hal itu. Ia tak bisa menghapus memori itu di pikirannya.
"Philip," panggil Alexa.
"Hei, Philip kau tak apa?" Tanya Alexa pada Philip yang masih mengeluarkan keringat dingin.
"Philip," panggil Alexa sekali lagi.
Philip langsung membuka matanya dan ternyata tadi ia tertidur di sini dan memimpikan ibunya. Philip melihat Alexa di hadapannya. Alexa menatapnya khawatir.
Philip langsung memeluk Alexa.
"Kau mimpi buruk?" Tanya Alexa.
Philip mengangguk di tengah pelukannya dengan Alexa.
"Ini sudah hampir tengah malam Philip, lebih baik kau tidur di kamar, kau sepertinya terlihat lelah," ucap Alexa.
"Biarkan seperti ini sebentar saja Alexa," ucap Philip.
Alexa menghela nafas pasrah. Dan sepertinya memang Philip sedang membutuhkan dirinya.
"Apakah mimpi itu sangat buruk?" Tanya Alexa dengan nada lembut.
"Benar-benar buruk," ucap Philip.
"Kau ingat mimpi itu? Bisa kau ceritakan padaku?" Tanya Alexa.
"Aku berharap tak pernah mengingatnya," ucap Philip.
"Tenanglah, aku ada di sini Philip," ucap Alexa.
"Kau harus berjanji kalau kau tidak akan pernah pergi dari ku," ucap Philip.
"Aku tak bisa menjanjikan itu," ucap Alexa.
Philip langsung kecewa. Ia melepaskan pelukannya pada Alexa namun tangannya tetap menggenggam tangan Alexa.
"Mengapa?" Tanya Philip.
"Karena jika aku tak pergi dari mu tapi malah kau yang pergi dari ku aku harus bagaimana?" Tanya Alexa.
"Mengapa kau berpikir bahwa aku yang akan pergi?" Tanya Philip.
"Karena aku yakin kau hanya tertarik padaku sesaat saja lalu kau pasti akan meninggalkanku," ucap Alexa.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah tertarik pada wanita manapun lagi setelah kau datang Alexa," ucap Philip.
"Apakah aku tidak salah dengar?" Tanya Alexa.
"Aku serius Alexa," ucap Philip.
"Sebaiknya aku harus tidur karena aku pasti bermimpi kau mengatakan itu padaku," ucap Alexa.
"Kau tidak bermimpi," ucap Philip.
"Tapi ini rasanya seperti mimpi," ucap Alexa.
"Apakah barusan kau mengatakan bahwa kau memimpikan aku?" Tanya Philip.
"Iya, dan aku benar-benar bingung mengapa kau bisa muncul dalam mimpiku," ucap Alexa.
"Apa karena ketampananku ini?" Tanya Philip.
"Tidak, sepertinya bukan," ucap Alexa.
"Lalu?" Tanya Philip.
"Aku tak tau," ucap Alexa.
Sedangkan Philip tersenyum dan bangkit sembari menggandeng Alexa. Alexa tak menolak dan hanya mengikuti Philip.
Philip membawa Alexa menuju kamarnya. Alexa bingung untuk apa membawanya ke kamar.
"Kau akan menemaniku malam ini," ucap Philip.
"Heh?!" ucap Alexa.
Philip mengangguk dan ia tiduran di kasur besarnya yang empuk.
"Ayo Alexa," ucap Philip sembari menepuk-nepuk kasurnya.
Alexa menurut dan tidur di samping Philip. Lalu Philip tiba-tiba langsung memeluknya. Sedangkan Alexa sedang takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya ia memilih untuk memejamkan matanya.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tak terjadi apapun.
Alexa membuka matanya dan mendongak melihat Philip yang sedang memejamkan matanya. Alexa bisa merasakan hembusan nafas Philip yang begitu hangat di puncak kepalanya.
"Ditemani ya," ucap Alexa lega.
"hmm?" Tanya Philip.
"Aku pikir kau akan melakukan yang macam-macam," ucap Alexa.
"Jika aku meminta itu apakah kau akan memberikannya?" Tanya Philip yang masih memejamkan matanya.
Philip merasa nyaman dan tenang memeluk Alexa. Ia tak ingin malam ini berlalu dengan cepat. Jika saja ia memiliki kekuatan menghentikan waktu pasti sudah ia hentikan sejak tadi.
"APA?! jelas aku tak akan pernah memberikannya," ucap Alexa.
Philip tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Alexa.
Jauh dalam hati Alexa, ia juga sangat merasa nyaman di posisi itu. Alexa merasa benar-benar menjadi ratu di istana itu. Alexa merasa ia adalah wanita yang paling spesial di hati Philip. Alexa bersyukur kepada tuhan bahwa setidaknya ia bisa menghabiskan malamnya dengan dipeluk oleh Philip.
'Sangat nyaman' batin Alexa.
'Aku ingin berbagi keindahan bersamanya' batin Alexa.
'Sejak awal aku sudah dibutakan oleh keegoisan dan juga kerapuhannya' batin Alexa.
Kini Alexa harus menerima kenyataan bahwa Alexa mencintai Philip.
Dan Alexa tak yakin apakah Philip akan mencintainya juga. Atau ia harus menanggung sakit karena Philip tak mencintainya.
Malam yang begitu indah bagi Alexa. Ia bahkan tak ingin bangun dari tidurnya karena ia takut ketika ia bangun semuaa itu benar-benar hanyalah mimpi. Alexa mengahabiskan malamnya bersama Philip.
***
Ke esokan harinya. Alexa akan melakukan jamuan kerajaan bersama Philip. Alexa akan melakukan jamuan bersama Kerajaan German.
Alexa sedang didandani oleh fashion stylist sebenarnya Alexa merasa ini benar-benar berlebihan harus mengundang fashion stylist karena sudah ada Jane, Lily, dan Mina yang akan mendandaninya. Namun Philip tetap keras kepala dan bilang bahwa ia harus tampil layaknya seorang ratu di jamuan tersebut.
Alexa mengenakan gaun berwarna putih dengan sedikit jahitan kuning keemasan di sekitar pinggirnya.
"Sudah selesai yang mulia," ucap fashion stylist itu.
Alexa mengangguk dan ia berjalan keluar menuju meja makan kerajaan.
Ketika sampai di depan meja makan, lagi-lagi Alexa menjadi pusat perhatian. Sudah banyak laki-laki dan satu perempuan di situ. Hanya satu orang yang Alexa kenal di situ yaitu Philip.
"Alexa," Panggil Philip dan ia menepuk-nepuk kursi sampingnya untuk mengisyaratkan Alexa agar duduk di sampingnya.
Alexa berjalan perlahan dan sedikit membuat sepatu yang ia kenakan mengeluarkan bunyi.
Philip benar-benar puas pada penampilan Alexa. Alexa terlihat sangat cantik.
"Sudah ku duga kau cantik menggunakan apapun," bisik Philip tepat di samping telinga Alexa.
"Berhenti menggodaku, kita menjadi pusat perhatian," ucap Alexa.
Benar saja karena Philip mendekatkan wajahnya menuju Alexa jelas mereka jadi pusat perhatian.
Sedangkan Philip hanya tersenyum miring sembari wajahnya semakin mendekati Alexa.
Semakin dekat dan semakin dekat berujung pada Philip mencium pipi Alexa singkat.
Philip mencium pipinya di tengah para bagsawan.
Alexa membulatkan matanya dan langsung menangkup kedua pipinya yang memerah karena malu. Ia langsung menatap Philip tajam.
Philip hanya tertawa kecil dan memakan hidangan di depannya.
Alexa mengedarkan pandangannya dan ternyata para bangsawan itu pun sedang menatapnya semua. Seketika pandangan Alexa tertuju pada satu bangsawan wanita yang melihatnya dengan tatapan merendahkan. Alexa bingung padanya, apakah penampilannya buruk? Dan seketika pandangan bangsawan wanita itu berpaling ke Philip yang sedang asik memakan makanan di hadapannya. Bangsawan itu menatap Philip dengan tatapan memuja.
Sekarang Alexa mengerti bangsawan itu menyukai Philip.
"Philip, kau masih ingat denganku?" Tanya bangsawa itu.
"Tentu, kau adalah Putri Kerajaan German bagaimana aku tak mengingat itu," ucap Philip sopan.
"Bukan itu maksudku, kau benar-benar tak mengingatku? Kau tak mengingat kebersamaan kita dulu?" Tanya bangsawan itu membuat Alexa kaget.
"Tentu aku ingat Victoria," ucap Philip.
Entah mengapa jawaban itu membuat Alexa merasa seperti hatinya di tusuk sebuah jarum yang sangat tajam.
***