Setelah berkata seperti itu, Gabriel kembali maju, langkahnya pelan tapi pasti. Tubuh Bella pun terjepit di antara wastafel marmer dan tubuh pria itu. Ruangan terasa mengecil, udara di dalamnya menegang.
Bella menahan napas, matanya membulat menatap pria yang kini berdiri sangat dekat dengannya. “Pak… tolong, menjauh dari saya,” katanya dengan suara serak. Ia berusaha tegas, tapi suaranya bergetar.
Gabriel tidak bergeming. Tatapannya menusuk, dalam, seperti sedang membaca isi pikiran Bella. Ia menundukkan wajah sedikit, membuat jarak mereka hanya sejengkal.
“Bagaimana?” suaranya rendah, hampir seperti desisan. “Masih berani menentang saya, Bella?”
Bella menggenggam erat sisi wastafel di belakangnya. Jemarinya sampai memutih karena tekanan.
“Kalau ini caranya Bapak nunjukin kekuasaan, saya nggak takut,” ucapnya berusaha tegar, meski nada suaranya bergetar. “Saya cuma minta Bapak bersikap sebagaimana dosen tamu seharusnya.”
Senyum tipis muncul di bibir Gabriel—senyum yang entah kenapa justru membuat jantung Bella berdetak lebih cepat. Bukan karena kagum, tapi karena rasa cemas yang perlahan merambat di dadanya.
“Dosen tamu, ya?” ulang Gabriel pelan, nadanya penuh arti. “Menarik. Jadi kamu pikir saya cuma dosen tamu buat kamu?”
Bella menatapnya bingung. “Memang kenyataannya begitu, kan?”
Gabriel menggeleng pelan, lalu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat hingga napasnya terasa di kulit Bella. “Kamu benar-benar nggak peka, ya?” bisiknya rendah, nyaris seperti gumaman di telinganya. “Kamu pikir mudah buat saya ngelupain wajah kamu setelah pelukan yang kamu lakukan di lobi kampus kamu itu?”
Bella sontak menatapnya dengan ekspresi tak percaya. “Bapak tahu itu nggak sengaja! Saya hampir jatuh waktu itu, dan kebetulan saya nabrak Bapak!”
Gabriel mengangkat alis, matanya menatapnya tajam. “Kebetulan?” ulangnya sinis. “Lucu banget kamu nyebutnya begitu.”
Bella menatap balik dengan napas memburu. “Itu fakta! Saya bahkan minta maaf waktu itu. Kalau Bapak masih tersinggung, saya bisa minta maaf lagi sekarang!”
“Masalahnya bukan di maafnya, Bella,” balas Gabriel pelan tapi tajam. “Masalahnya di kamu… yang nggak sadar kalau kamu ninggalin sesuatu waktu itu.”
Bella mengerutkan kening. “Maksud Bapak?”
Gabriel mendekat sedikit lagi, hingga jarak di antara mereka nyaris hilang. “Pandangan kamu,” katanya pelan. “Waktu kamu nabrak saya, kamu lihat saya seolah dunia berhenti berputar. Dan sialnya… sejak saat itu, dunia saya yang malah berhenti.”
Bella membeku. “Bapak… jangan ngomong kayak gitu.”
Gabriel menatapnya lekat. “Kenapa? Kamu takut saya serius?”
“Saya takut Bapak lupa kalau kita masih di acara orang” jawab Bella cepat, suaranya sedikit gemetar. “Dan saya mahasiswi, bukan—”
“Bukan apa?” potong Gabriel pelan, matanya tak lepas dari wajah Bella. “Bukan seseorang yang boleh saya suka?”
Bella menelan ludah, tubuhnya menegang. “Ini salah, Pak…” bisiknya.
Gabriel tersenyum tipis, tapi matanya tetap serius. “Kalau salah, kenapa kamu nggak dorong saya dari tadi?”
Bella terdiam. Tangannya memang menggenggam sisi wastafel erat—tapi tidak bergerak.
“Dan satu lagi, berhenti manggil saya 'Pak',” bisiknya rendah. “Kedengarannya terlalu formal untuk seseorang yang udah bikin saya nggak bisa tidur nyenyak selama seminggu ini.”
Bella terdiam. Helaan napasnya tersangkut di tenggorokan ketika Gabriel menurunkan wajahnya perlahan ke arah lehernya.
“Pak Gabriel, jangan—”
Belum sempat ia menghindar, bibir pria itu sudah menempel di kulit lehernya, tepat di sisi yang rentan. Bukan ciuman penuh, hanya sentuhan dingin—tapi Bella refleks bergidik.
“Gabriel…” suaranya merosot lirih, antara terkejut dan tak berdaya.
Gabriel menahan satu tangannya di pinggul Bella, memastikan ia tak bisa menghindar. Bibirnya bergerak pelan, hanya menyusuri kulit, tapi setiap hembusan napasnya membuat Bella menegang.
“Kamu bahkan nggak tau,” gumamnya dekat telinga Bella, “sekacau apa saya ngeliat kamu malam ini.”
Bella menggenggam sisi wastafel kuat-kuat. “Lepas… orang bisa masuk kapan aja.”
Gabriel terkekeh pendek, nada rendahnya justru membuatnya terdengar lebih mengancam. “Nggak akan ada yang masuk. Kalau ada yang nekat, orang saya di luar yang urus.”
Bella membeku. “Orang… Anda?”
Gabriel tak menjawab. Ia kembali menurunkan wajahnya, dan sebelum Bella sempat mundur, bibirnya menyentuh titik di bawah telinga Bella—lebih lembut, tapi jelas berniat meninggalkan jejak.
“Saya bukan milik—” Bella menahan napas saat kulitnya tersentak oleh sentuhan hangat bibir Gabriel.
“Kamu hanya milik saya, Bella,” ucapnya pelan namun tegas di sela kecupan itu. “Nggak boleh ada yang ngeliat tubuh kamu… kecuali saya.”
Bella hendak membalas, tapi suara lirih yang lolos dari bibirnya mendahului pikirannya.
“Nn… jangan…” bisiknya, entah protes atau reaksi spontan.
Gabriel tidak berhenti. Ia mengecup pelan, memberi sedikit tekanan, seperti menandai wilayah miliknya. Dan saat kulitnya berubah hangat di titik itu, suara lirih Bella tak bisa terbendung.
“Akh…” desahnya mengguncang samar, membuatnya langsung menutup mulut dengan tangan sendiri.
Gabriel tersenyum tipis di kulitnya, puas.
“Bagus,” ucapnya rendah, sebelum menjauh sedikit hanya untuk menatap leher Bella yang kini dihiasi bekas kemerahan. “Sekarang semua orang tahu… kalau kamu bukan untuk mereka sentuh.”
Bella menatapnya dengan mata membulat, wajahnya panas menahan malu dan marah.
“Kalau Anda—kalau KAMU tidak buka pintu sekarang juga, aku —”
Gabriel mendekat lagi, mengurungnya di antara kedua lengannya.
“Kamu… apa?” tanyanya lirih, nada suaranya seperti tantangan.
Bella menelan ludah, napasnya masih tak teratur. “Aku bakal teriak.”
Gabriel tersenyum miring, sorot matanya tajam dan penuh kepemilikan. Dengan ujung jarinya, ia mengangkat dagu Bella perlahan, memaksa tatapan gadis itu bertemu dengan matanya.
“Silakan,” bisiknya pelan namun mengancam. “Kalau kamu mau, teriak saja. Saya malah penasaran—siapa yang cukup berani masuk waktu saya lagi sama kamu di ruangan ini?”
Nada suaranya tenang, tapi tekanan di balik kata-katanya membuat napas Bella tercekat. Ia ingin mundur, tapi punggungnya sudah menyentuh dinginnya dinding marmer.
“Pak Gabriel, tolong—jangan seperti ini,” ucapnya dengan suara bergetar, kedua tangannya mencoba menahan d**a lelaki itu agar tidak semakin mendekat.
Namun Gabriel tak memberi ruang. Dalam hitungan detik, ia menunduk dan menangkap bibir Bella dengan ciuman cepat yang agresif. Bella terlonjak kaget, matanya membesar. Ia refleks memukul pelan bahu pria itu dan mencoba memalingkan wajah, tapi Gabriel justru menahan sisi wajahnya dengan satu tangan.
“Berhenti…” keluh Bella di sela helaan napas yang kacau. Ia mencoba bicara, tapi Gabriel kembali mencium bibirnya, lebih dalam dari sebelumnya.
Bella meronta kecil. “Gabriel, kamu sudah punya pasangan! Kamu nggak pantas ngelakuin hal kayak gini!”
Gabriel berhenti sejenak, menatapnya dari jarak sangat dekat—napasnya membentur pipi Bella, panas dan berat. Rahangnya mengeras.
“Saya tidak peduli,” ucapnya pelan tapi tegas, seolah setiap katanya adalah keputusan mutlak. “Yang saya inginkan saat ini cuma kamu, Bella.”
Bella menggeleng frustasi. “Kamu gila kalau mikir ini bisa dibenarkan—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Gabriel kembali mencium Bella, kali ini lebih buas dan tak memberi kesempatan bicara. Satu tangan mencengkeram pinggangnya, menarik tubuh Bella agar menempel padanya, sementara tangan satunya tetap menahan wajah gadis itu agar tak bisa menghindar.
Bella bisa merasakan jantungnya berdetak kencang—antara takut, marah, dan kebingungan yang bercampur jadi satu. Ia ingin menolak, ingin teriak, tapi tubuhnya seolah membeku oleh tekanan yang Gabriel buat.
Tatapan mata lelaki itu jelas: ia tidak berniat berhenti.
Bella mencoba menepis d**a Gabriel, tetapi genggaman pria itu di pinggangnya justru menguat. Bibirnya bergerak liar, seolah melampiaskan rindu dan obsesi yang tertahan. Bella mendorong lagi, tapi Gabriel menahan kedua pergelangan tangannya dan menekannya ke dinding di sisi kepalanya.
“Gabriel… lepaskan,” ucapnya lirih, napasnya kacau. Ada getaran takut, tapi juga rasa tak percaya dengan keberanian pria itu.
Gabriel menatap mata Bella dari jarak yang nyaris meniadakan ruang bernapas. Tatapannya gelap, menguasai, dan berbahaya. “Seminggu kamu hilang dari hadapan saya. Kamu kira saya bisa diam saja setelah lihat kamu tampil begini malam ini?”
Ia menunduk lagi, kali ini mengecup bibir, rahang, hingga sudut leher Bella dengan penuh tuntutan. Nafasnya membakar kulit gadis itu, membuat Bella menggigit bibir menahan reaksi spontan.
“Gabriel… kamu nggak—” kalimat Bella terputus saat pria itu mencium titik tanda yang tadi ia buat di leher gadis itu. Bella menegang, cengkeraman jemarinya di bahu Gabriel semakin kuat, entah untuk menahan atau mendorong.
“Saya nggak suka ada mata lain yang lihat kamu pakai ini.” Jemarinya menyusuri sisi gaun Bella, menyentuh kulit di balik belahan lengan. Suaranya turun, berat, nyaris seperti gumaman. “Tubuh kamu, suara kamu, bahkan nafas kamu… semuanya milik saya.”
Bella memalingkan wajah, tak berani menatap. “Kamu cuma ngerasa punya hak karena obsesi, bukan karena saya milik kamu.”
Gabriel mencengkeram dagu Bella, memaksanya kembali menatap. “Sejak pertama kali kamu sentuh saya, kamu udah jadi urusan saya. Jangan coba bantah.”
Tanpa aba-aba, ia kembali mencium bibir Bella, lebih brutal, seolah ingin menegaskan kekuasaan. Ciumannya tidak memberi kesempatan bernapas—ia mendesak, menekan, menuntut. Gabriel pun membawa tubuh gadis di kukuhannya itu ke dalam salah satu bilik toilet. Bella sempat mencoba berteriak, tapi suara itu tenggelam bersama desahan yang lolos tanpa kendali.
Tangannya yang semula menahan kini mencengkeram sisi kemeja Gabriel, tubuhnya terdorong rapat ke d**a pria itu.
Gabriel menjauh sedikit dari bibir Bella, hanya satu napas jaraknya, matanya menelusuri wajah gadis itu dengan d******i penuh. “Saya nggak akan toleransi kamu menjauh lagi. Kamu ngerti?”
Bella menatapnya, napas memburu, wajah merah oleh adrenalin dan ciuman yang tak memberinya ruang. “Kamu… keterlaluan.”
Gabriel tersenyum miring. Jempolnya mengusap bekas lipstik yang memudar di bibir Bella, lalu mengecupnya sekali lagi—lebih lambat, tapi tetap mendesak. “Kalau saya keterlaluan… kenapa kamu masih di sini?”
Bella tak sempat menjawab. Gabriel menggiring tubuhnya mundur sampai punggungnya menyentuh wastafel marmer. Tangannya menahan pinggul Bella agar tak lari. Tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah gadis itu.
“Mulai hari ini,” ucapnya pelan namun penuh ancaman, “jangan pernah bikin saya marah lagi dengan cara tampilin diri kamu ke orang lain kayak tadi. Kamu mau atau enggak… kamu milik saya.”
Tanpa menunggu persetujuan, bibirnya kembali mendarat di leher Bella, menciptakan tanda baru di sisi yang lain, lebih dalam, lebih jelas—seolah menandai wilayah kekuasaannya.
Setelah itu baru lah Gabriel menghentikan apa yang ia lakukan, untuk terakhir kalinya ia mencium bibir Bella dan setelah itu pergi dari sana.
Bella yang melihat kepergian Gabriel pun lemas seketika, ia terduduk di lantai toilet.
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . . . . . . . .