Bella dan Clarisa duduk santai di sofa panjang dekat bar area VIP, masing-masing memegang gelas minuman. Musik berdentum keras, tapi obrolan mereka tetap mengalir nyaman.
Clarisa menyeruput mocktailnya sambil melirik sekeliling. “Gue rasa setengah orang di ruangan ini masih belum beranjak dari shock liat lo, Belle.”
Bella mendesah pelan. “Gue udah nggak ngerti ini pujian atau hukuman.”
“Pujian, lah! Kalau hukuman, lo nggak bakal secantik sekarang,” jawab Clarisa ringan.
Sementara itu, Derex berdiri tak jauh dari mereka, sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Sesekali ia menoleh, mengecek keadaan Clarisa dan Bella, memastikan keduanya aman.
Clarisa sempat melambaikan tangan ke arah Derex, memberi kode bahwa semuanya baik-baik saja. Derex hanya mengangguk kecil dan kembali berbicara.
Namun suasana berubah saat perhatian para wanita di sekeliling Bella tiba-tiba teralih ke arah tangga spiral yang menghubungkan lantai atas dan bawah.
Beberapa perempuan bahkan saling menyikut pelan, mata mereka membulat kagum.
“Eh itu kan…” “Serius dia turun ke bawah?” “Gila, aslinya lebih keren dari gosipnya.”
Bella dan Clarisa refleks ikut menoleh.
Gabriel turun perlahan dari lantai atas dengan langkah tenang dan elegan. Kemeja hitam fit body berpadu jas berwarna gelap membuat sosoknya terlihat dominan dan tak tersentuh. Aura wibawa dan bahaya seolah mengikutinya di setiap langkah.
Bella menahan napas tanpa sadar. Clarisa ikut membeku sesaat.
“Dia… turun?” bisik Clarisa, lebih kepada dirinya sendiri.
Bella hanya diam. Matanya mengikuti sosok pria itu sampai Gabriel berhenti menyapa seseorang—pria pemilik acara—dan menjabat tangan sambil mengucapkan selamat.
Jarak mereka cukup jauh, tapi keberadaan Gabriel seperti mendominasi ruangan.
Bella buru-buru berpaling. “Clar, gue ke toilet dulu ya.”
Clarisa langsung menoleh cepat, matanya menyipit curiga. “Sekarang?”
Bella mengangguk sambil pura-pura santai. “Iya. Gue kayaknya salah minum tadi, kebelet banget.”
Clarisa belum yakin. “Mau gue temenin?”
Bella buru-buru menggeleng. “Nggak usah, gue sendiri aja. Toh toiletnya deket.”
Clarisa masih menatapnya lekat-lekat. “Lo yakin? Jangan tiba-tiba kabur pulang terus gue nyari sampe parkiran.”
Bella tertawa pelan lalu berdiri sambil merapikan gaunnya. “Gue cuma ke toilet, bukan ke bandara mau flight ke Indonesia, Clar.”
Clarisa mendecakkan lidah. “Ya udah, tapi jangan lama-lama. Lo tau kan banyak mata liar di sini?”
Bella mengacungkan jempol singkat. “Tenang, gue balik sebelum lo sempet kangen.”
“Please,” sahut Clarisa ketus pura-pura, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. “Gue cuma bakal kangen blazer lo, bukan lo.”
Bella terkekeh dan mulai melangkah pergi. Namun sebelum benar-benar jauh, Clarisa menarik lengannya sebentar.
“Belle.”
Bella menoleh. “Apa?”
Clarisa menatapnya serius. “Kalau lo tiba-tiba ketemu Pak Gabriel lagi… jangan jadi batu kayak waktu di kampus.”
Bella pura-pura tak paham. “Maksud lo apa?”
“Lo tau maksud gue,” jawab Clarisa dengan tatapan penuh makna.
Bella hanya memutar bola mata sebelum berjalan pergi menuju lorong yang mengarah ke toilet.
Tanpa ia sadari, sepasang mata tajam dari lantai atas—yang kini sudah berada di bawah—tak pernah lepas mengikutinya.
***
Bella berdiri di depan cermin besar toilet perempuan yang mewah dan remang-remang. Lampu kuning keemasan dari lampu dinding membuat kulitnya tampak lebih hangat. Ia merapikan lip tint dengan ujung jari, lalu membenarkan eyeliner yang sempat sedikit luntur.
“Udah, ini touch up terakhir. Habis ini balik ke Clarisa,” gumamnya pelan sambil merapikan rambutnya agar jatuh di sisi bahu.
Toilet itu sepi. Tidak ada siapa pun selain dirinya, membuat Bella cukup rileks. Suaranya sendiri terdengar jelas memantul di antara dinding marmer.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Klek.
Pintu toilet terbuka. Bella tidak menaruh curiga—lagipula ini ruang perempuan. Ia hanya sempat melirik sekilas melalui refleksi cermin, berpikir mungkin ada perempuan lain yang ingin masuk.
Tapi detik berikutnya, sebuah suara membuat jantungnya mencelos.
Klikk!
Suara kunci diputar dari dalam.
Alis Bella berkerut. Ia berbalik—dan seketika matanya membesar.
Gabriel berdiri di depan pintu, satu tangannya masih memegang gagang pintu yang baru saja ia kunci. Pandangannya tajam, dalam, dan dingin. Tidak ada niat untuk menjelaskan, apalagi mundur.
Bella refleks mundur satu langkah. “Pa—Pak Gabriel?” Suaranya bergetar. “Kenapa Anda ada di sini? Ini toilet perempuan.”
Gabriel tidak menjawab pertanyaannya. Ia malah mulai berjalan mendekat perlahan, langkah kakinya tenang tapi penuh tekanan. Seolah seluruh ruangan mengecil setiap kali ia melangkah.
Bella terus mundur, punggungnya hampir menyentuh wastafel marmer. “Pak, Anda nggak bisa masuk sembarangan—”
Gabriel berhenti tepat di depannya. Napasnya tenang, wajahnya dingin, tatapannya menusuk.
Dengan suara rendah dan berat, ia berkata pelan, “Berani sekali kamu datang ke tempat seperti ini… pakai baju seperti itu.”
Ucapan itu membuat Bella menegang. Ia membuka mulut untuk membalas, tapi kata-katanya tertahan saat Gabriel mengangkat tangan.
Jari-jari pria itu perlahan menyentuh lengannya—kulitnya yang terbuka tanpa kain—dan mengusapnya pelan seolah menguji, seolah mengklaim.
Bella spontan menepis halus. “Jangan sentuh saya.”
Alih-alih tersinggung, Gabriel justru tersenyum tipis. “Kenapa? Kamu boleh disentuh semua mata di luar sana, tapi nggak boleh saya sentuh?” Nada suaranya tenang, tapi mengandung ancaman halus.
Bella menegakkan punggung, mencoba bersikap tegas meski napasnya tak stabil. “Pak, ini bukan urusan Anda. Cara saya berpakaian bukan—”
“Tentu aja urusan saya.”
Gabriel memotong kalimatnya tanpa ragu. Tatapannya turun perlahan, menilai gaun Bella dari atas ke bawah dengan sorotan kepemilikan yang jelas. “Kamu nggak pantes diperhatiin sama sembarang orang. Apalagi sampai diliatin penuh nafsu.”
Bella menatapnya tidak percaya. “Anda bahkan nggak kenal saya.”
Gabriel mendekat setengah langkah lagi. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Suaranya turun lebih pelan, lebih dalam. “Saya kenal kamu lebih dari cukup.”
Bella mundur lagi, tapi wastafel sudah jadi batasnya. Gabriel menunduk sedikit, menatap tepat ke matanya.
“Dan denger baik-baik…” gumamnya rendah. “Gaun ini… seharusnya cuma saya yang lihat. Bukan mereka semua.”
Bella mencengkeram sisi wastafel dengan kedua tangannya. Jemarinya memutih menahan gugup dan amarah yang bercampur jadi satu. “Pak Gabriel,” suaranya bergetar, tapi tegas, “Anda sudah kelewatan. Tolong buka pintunya sekarang juga.”
Gabriel bersandar pada dinding, kedua tangannya menyilang di depan d**a. Tatapannya tajam, penuh penguasaan. “Saya akan buka pintunya…” ucapnya pelan, mencondongkan tubuh sedikit. “…setelah kamu jawab satu pertanyaan, Bella.”
Bella menggigit bibir bawahnya, menatap ke arah pria itu dengan waspada. “Pertanyaan apa?”
Gabriel melangkah mendekat satu langkah, suaranya rendah dan dalam. “Kamu datang ke acara ini buat apa? Buat nikmatin perhatian orang? Atau buat nguji kesabaran saya?”
Bella mengerutkan kening, tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. “Apa maksud Anda ngomong kayak gitu?”
Gabriel menatapnya tanpa berkedip. “Kamu sadar nggak semua mata laki-laki di ruangan itu ngeliatin kamu dari tadi? Dan kamu cuma diam aja, seolah kamu senang jadi pusat perhatian.”
“Dan kalau iya?” Bella menatap balik dengan nada menantang meski tubuhnya sedikit bergetar. “Apa urusan Bapak kalau saya menikmati perhatian dari semua orang? Saya bukan anak kecil yang harus dikontrol!”
Rahang Gabriel mengeras. Otot di sekitar wajahnya tampak menegang, sementara sorot matanya tidak pernah lepas dari wajah Bella yang berdiri tepat di hadapannya. Ruangan toilet yang sempit itu seolah terasa semakin sesak karena aura dingin yang keluar dari pria tersebut.
"Masalahnya..." ucap Gabriel perlahan sambil menekan setiap katanya, "kamu adalah mahasiswi saya, Bella. Dan kamu..."
"Dosen tamu, Pak," potong Bella dengan cepat sebelum Gabriel menyelesaikan ucapannya. Nada suaranya meninggi, menunjukkan bahwa kesabarannya juga sudah berada di batas. "Anda cuma dosen tamu. Bukan wali saya, bukan keluarga saya, apalagi seseorang yang punya hak mengatur kehidupan pribadi saya."
Bella menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan tatapan yang tak kalah tajam.
"Jadi tolong jangan bersikap seolah-olah Anda berhak menentukan dengan siapa saya berbicara, bagaimana saya berpakaian, atau apa yang saya lakukan."
Untuk beberapa saat, Gabriel hanya diam. Tatapannya semakin dalam, seolah berusaha membaca isi pikiran gadis di depannya.
"Kamu benar-benar nggak sadar, ya?" tanyanya pelan.
Bella mengernyit.
"Sadar apa?"
Gabriel melangkah satu langkah mendekat hingga jarak mereka kembali menipis.
"Kamu nggak tahu bagaimana laki-laki lain melihatmu malam ini."
Bella langsung mengembuskan napas kesal.
"Itu urusan mereka."
"Bukan."
"Ya, itu urusan mereka!" bantah Bella tanpa ragu. "Saya nggak bisa mengendalikan cara orang lain berpikir."
"Kamu bisa mencegahnya."
"Dengan cara apa?" Bella balas bertanya. "Nggak datang ke acara? Nggak boleh pakai gaun? Nggak boleh ketawa? Nggak boleh ngobrol sama orang?"
Nada suaranya semakin tinggi.
"Kalau semua itu harus saya lakukan cuma karena takut orang salah paham, berarti masalahnya bukan ada di saya, Pak. Masalahnya ada di cara mereka berpikir."
Gabriel mengusap rahangnya pelan. Kesabarannya benar-benar sedang diuji.
"Kamu terlalu polos."
Bella langsung tertawa kecil, tetapi tawa itu sama sekali tidak terdengar bahagia.
"Polos?"
"Iya."
Bella menggeleng pelan.
"Kalau saya polos, bukan berarti semua orang boleh memperlakukan saya seenaknya."
Gabriel kembali menatapnya lekat.
"Kamu nggak tahu apa yang kamu lakukan bisa bikin orang salah paham."
Bella mendecak pelan.
"Orang salah paham itu urusan mereka, bukan urusan saya."
Ia menunjuk dadanya sendiri.
"Saya datang ke acara ini buat menikmati malam bersama sahabat saya. Bukan buat cari perhatian siapa pun."
Bella kemudian menatap Gabriel tanpa berkedip.
"Kalau Bapak merasa terganggu melihat saya..." ucapnya perlahan namun penuh penekanan, "ya jangan perhatikan saya."
Kalimat itu menggantung di udara.
Seketika suasana berubah menjadi sangat sunyi.
Tidak ada lagi suara percakapan dari luar yang mampu mengusik keheningan di antara mereka.
Yang terdengar hanyalah embusan napas mereka yang sama-sama mulai tidak beraturan.
Gabriel tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya memandang Bella lama.
Sangat lama.
Tatapan tajam itu membuat Bella berusaha tetap berdiri tegak meski jantungnya berdegup jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Entah kenapa, semakin lama pria itu menatapnya, semakin sulit baginya untuk mengalihkan pandangan.
Akhirnya Gabriel mengembuskan napas pelan.
"Kamu berani juga, ya..."
Bella mengangkat dagunya sedikit.
"Berani bagaimana?"
"Berani bicara seperti itu kepada saya."
Bella menggenggam kedua tangannya agar tidak terlihat gemetar.
"Saya cuma mengatakan apa yang menurut saya benar."
Ia menatap Gabriel tanpa menghindar sedikit pun.
"Kalau saya diam terus, Bapak akan terus merasa bisa mengatur saya."
Gabriel tersenyum tipis.
Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
Justru membuat Bella semakin gugup.
"Menarik."
Bella mengernyit.
"Apa yang menarik?"
"Kamu."
Bella spontan memalingkan wajah sesaat sebelum kembali menatap Gabriel.
"Saya bukan bahan penelitian, Pak."
"Tapi kamu berhasil membuat saya kehilangan kesabaran."
Bella menarik napas panjang.
"Kalau begitu, sekarang tolong buka pintunya."
Ia melirik ke arah pintu yang masih tertutup.
"Saya nggak nyaman berada di sini lebih lama."
Gabriel tidak langsung bergerak.
Ia tetap berdiri di tempatnya beberapa detik, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Barulah setelah itu ia berjalan perlahan menuju pintu.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Namun bukannya langsung membuka, ia justru berhenti.
Punggungnya masih menghadap Bella.
Suaranya terdengar rendah ketika akhirnya kembali berbicara.
"Jangan pernah bicara seperti itu kepada saya lagi, Bella."
Bella mengernyit.
"Kenapa?"
Gabriel menoleh setengah badan.
Tatapan matanya kembali bertemu dengan mata Bella.
"Karena kamu belum tahu..."
Ia berhenti beberapa detik, seolah sengaja membiarkan Bella menunggu kelanjutan ucapannya.
"...apa yang bisa saya lakukan kalau kesabaran saya benar-benar habis."
Bella menelan ludah.
Ada sesuatu dalam nada bicara Gabriel yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Namun ia memaksa dirinya tetap terlihat tenang.
Dengan suara yang lebih pelan, tetapi tetap tegas, Bella menjawab,
"Saya nggak takut, Pak."
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Gabriel berubah sedikit lebih lebar.
Bukan senyum ramah.
Melainkan senyum penuh keyakinan.
Ia memutar tubuhnya menghadap Bella sepenuhnya.
Tatapannya tidak pernah lepas sedikit pun dari wajah gadis itu.
"Kita lihat nanti, Bella."
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . . . .