Bella masih terduduk lemas di lantai toilet, memeluk kedua lututnya erat hingga tubuhnya meringkuk kecil di sudut ruangan. Bahunya naik turun mengikuti isakan yang sejak tadi tak mampu ia tahan. Air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi kedua pipinya yang sudah memerah. Bibirnya bergetar hebat, sementara napasnya terdengar tersengal karena terlalu lama menangis.
Seluruh tubuhnya terasa lemas.
Pikirannya kacau.
Dadanya sesak, seolah ada beban besar yang menekan hingga ia sulit bernapas dengan normal.
Ia bahkan tidak lagi tahu sudah berapa lama dirinya terduduk di sana. Yang ia rasakan hanyalah dinginnya lantai keramik dan sunyinya ruangan yang kini terasa begitu menakutkan.
Di tengah keheningan itu...
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari dalam tasnya.
Nada dering yang cukup nyaring itu membuat tubuh Bella sedikit tersentak. Bukan karena terkejut, melainkan karena suara itu seolah menariknya kembali pada kenyataan bahwa di luar sana masih ada seseorang yang mungkin sedang mencarinya.
Bella mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang masih bergetar.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia meraih tas yang tergeletak di sampingnya. Gerakannya sangat lambat. Jemarinya bahkan beberapa kali gagal menarik resleting tas karena gemetar hebat.
"Ayo..." gumamnya lirih kepada dirinya sendiri sambil mencoba mengendalikan napas.
Akhirnya resleting itu terbuka.
Ponselnya masih terus berdering.
Layar yang menyala memperlihatkan satu nama yang begitu dikenalnya.
Clarisa.
Melihat nama sahabatnya itu, mata Bella kembali dipenuhi air mata. Bibirnya bergetar semakin hebat.
Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sebelum akhirnya menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
Panggilan itu pun tersambung.
"H-Halo..." suaranya nyaris tak terdengar.
Beberapa detik kemudian isakannya kembali pecah.
"C-Clar..."
Suara Bella yang parau, pecah, dan dipenuhi tangisan itu langsung membuat Clarisa yang berada di ujung telepon membeku.
Awalnya Clarisa hanya ingin memastikan Bella baik-baik saja karena sahabatnya itu terlalu lama berada di toilet.
Namun begitu mendengar suara tersebut...
Seluruh tubuhnya langsung menegang.
Musik yang sejak tadi memenuhi ruangan pesta seolah menghilang dari pendengarannya.
Fokusnya kini hanya tertuju pada suara Bella.
"Belle?"
Nada suara Clarisa berubah drastis.
Penuh kepanikan.
Penuh kecemasan.
"Belle... kenapa? Lo nangis?"
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanyalah suara tangisan Bella yang semakin menjadi-jadi.
"Belle!"
Clarisa langsung berdiri dari tempat duduknya hingga kursinya bergeser cukup keras.
"Jawab gue!"
Bella berusaha membuka mulut.
Namun yang keluar hanyalah isakan yang patah-patah.
"G-gue..."
Napasnya kembali tersengal.
"Gue... nggak..."
Clarisa semakin panik.
"Belle! Lo kenapa? Lo jatuh? Lo sakit? Ada yang nyakitin lo? Jawab gue!"
Bella menggeleng pelan meski ia tahu Clarisa tidak mungkin melihatnya.
Air matanya kembali jatuh tanpa bisa dihentikan.
"C-Clar..."
"Iya, gue di sini."
"G-gue..."
Bella menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba meredam suara tangisnya sendiri.
Namun usahanya sia-sia.
Suara sesenggukannya tetap terdengar jelas.
"Gue... nggak bisa..."
Clarisa langsung berjalan cepat menjauh dari keramaian sambil terus menggenggam ponselnya erat.
"Hei... hei... Belle, dengerin gue."
Nada suaranya berubah jauh lebih lembut.
"Tarik napas dulu."
Bella mencoba menurut.
Namun setiap kali menarik napas, dadanya justru terasa semakin sesak.
"Gue... takut..."
Dua kata itu keluar begitu pelan.
Namun cukup membuat langkah Clarisa terhenti.
Wajahnya langsung berubah serius.
"Takut kenapa?"
Bella tidak menjawab.
"Belle?"
Clarisa kembali memanggilnya.
"Ada orang di sana?"
Bella tetap diam.
"Belle, jawab gue."
Beberapa detik berlalu.
Barulah Bella membuka mulutnya lagi dengan suara yang sangat lirih.
"D-dia..."
Clarisa langsung mengernyit.
"Dia siapa?"
Bella memejamkan matanya rapat-rapat.
Tangannya semakin erat menggenggam ponsel.
"...Dia tadi ada di sini."
Clarisa semakin bingung.
"Siapa, Belle?"
Bella menarik napas panjang yang diakhiri dengan isakan pelan.
Suara berikutnya hampir tak terdengar.
"...Gabriel."
Deg.
Tubuh Clarisa langsung membeku.
Matanya membelalak lebar.
"Apa?"
Bella kembali menangis.
Tangisannya kali ini jauh lebih keras dibanding sebelumnya.
"Gue... gue nggak tahu harus gimana lagi, Clar..."
Clarisa meremas ponselnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Berbagai kemungkinan buruk langsung memenuhi kepalanya.
Namun ia memaksa dirinya tetap tenang.
"Belle."
Suaranya terdengar tegas.
"Dengerin gue baik-baik."
Bella masih menangis.
"Jangan tutup teleponnya."
Bella mengangguk pelan.
"Gue ke sana sekarang."
"C-Clar..."
"Iya."
"Jangan..."
Bella terisak lagi.
"...Jangan biarin siapa pun masuk."
Clarisa langsung menjawab tanpa ragu sedikit pun.
"Gue janji."
Ia mulai berjalan lebih cepat.
"Bilang sama gue sekarang."
"Lo ada di toilet mana?"
Bella menarik napas tersengal sebelum menjawab terbata-bata.
"T-Toilet wanita..."
"Iya."
"...Lantai dua..."
"Oke."
"...Pintu paling ujung..."
Clarisa terus mengingat setiap petunjuk yang diberikan Bella.
"Terus?"
"...Yang deket wastafel besar..."
"Oke."
"Gue tahu tempatnya."
Clarisa mempercepat langkahnya.
"Belle."
"Iya..."
"Jangan matiin telepon."
Bella mengangguk lagi meski Clarisa tidak dapat melihatnya.
"Nanti kalau gue udah sampai depan pintu..."
Clarisa menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"...gue bakal panggil nama lo."
Bella kembali menangis pelan.
"Kalau lo dengar suara gue..."
Clarisa berbicara setenang mungkin.
"...baru buka pintunya pelan-pelan."
"Paham?"
Bella tidak mampu menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil memeluk lututnya lebih erat.
Meskipun ia sadar...
Clarisa tidak mungkin melihat anggukan itu.
Namun untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, Bella merasa kalau Ia tidak sendirian lagi.
Clarisa menutup telepon tanpa benar-benar memutus panggilan. Detik itu juga ia berlari keluar dari area lounge, hampir menabrak dua orang yang berdiri di depannya. Tumit tingginya mengetuk lantai dengan cepat, napasnya memburu, wajahnya pucat dan penuh kegelisahan.
Derex yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku Clarisa langsung berdiri dan menyusul. Ia tak pernah melihat kekasihnya setegang itu.
“Clarisa!” panggilnya pelan sambil mengejar langkahnya. “Hei! Kamu kenapa? Ada apa?”
Clarisa tidak menjawab. Ia terus berjalan cepat, nyaris berlari menuruni tangga menuju lantai dua. Pikirannya hanya satu—Bella.
Derex makin curiga dan mempercepat langkah. “Clar, tunggu dulu! Kamu jangan ngilang gitu aja!”
Begitu sampai di lorong dekat toilet wanita, Clarisa berhenti mendadak di depan pintu putih dengan papan bertuliskan Ladies Room. Ia menoleh ke kanan-kiri, jantungnya berdegup kencang. Tidak terlihat ada siapa pun di sekitar sana.
Baru saja Clarisa hendak mendorong pintu masuk ke toilet wanita, tiba-tiba sebuah tangan kuat menarik lengannya dari belakang. Tarikannya cukup keras sampai tubuhnya sedikit terhuyung.
“Clarisa!” suara itu terdengar cemas, dalam, dan tegang.
Clarisa menoleh cepat, jantungnya hampir meloncat karena terkejut. Di hadapannya berdiri Derex, dengan napas yang sedikit terengah dan dahi berkerut tajam.
“Sayang, aku tanya baik-baik—ada apa sebenarnya?” suaranya berat tapi terkendali. “Kamu tadi kabur kayak dikejar setan. Aku takut kamu jatuh, atau kenapa-kenapa.”
Clarisa memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal. “Dex… tolong, jangan tanya apa-apa dulu,” ucapnya cepat sambil menepis lembut tangannya dari genggaman Derex. Tatapannya kini penuh urgensi, tidak ada waktu untuk menjelaskan.
Derex menatapnya bingung, tapi masih menahan diri. “Clarisa, kamu pucat banget. Ada apa sih? Kamu bikin aku—”
“Bella!” potong Clarisa cepat, nada suaranya meninggi karena panik. “Bella ada di dalam. Dia… dia lagi nggak baik-baik aja.”
Wajah Derex yang semula terlihat santai langsung berubah drastis begitu mendengar nada panik dalam suara Clarisa. Raut mukanya seketika memucat, sementara alisnya bertaut erat. Berbagai kemungkinan buruk langsung memenuhi kepalanya.
"Nggak baik-baik aja gimana?" tanyanya cepat dengan nada cemas. "Maksud kamu apa, Clar? Bella sakit? Dia pingsan? Ada yang ganggu dia? Atau... jangan bilang ada orang yang berbuat macam-macam sama dia?"
Derex melontarkan pertanyaan demi pertanyaan tanpa memberi jeda. Ia bahkan sudah bersiap melangkah menuju toilet wanita sebelum Clarisa buru-buru mengangkat tangannya, menghentikan langkah suaminya.
"Dex!" serunya dengan napas yang masih memburu. "Nanti aku jelasin semuanya. Aku janji. Tapi sekarang aku butuh bantuan kamu."
Derex mengernyit bingung.
"Bantuan apa?"
Clarisa menoleh sekilas ke arah pintu toilet wanita, lalu kembali menatap Derex. Wajahnya terlihat begitu tegang hingga membuat pria itu semakin yakin ada sesuatu yang serius sedang terjadi.
"Tolong jagain pintu ini."
Derex berkedip beberapa kali.
"Jagain pintu?"
"Iya."
"Clarisa, aku nggak ngerti."
"Tolong, jangan tanya dulu."
Derex menggeleng pelan, masih berusaha memahami maksud istrinya.
"Clar, kamu minta aku jagain pintu toilet wanita tanpa penjelasan? Memangnya ada apa di dalam?"
Clarisa menggigit bibir bawahnya pelan. Ia benar-benar ingin menjelaskan semuanya, tetapi bukan sekarang. Waktu mereka terlalu sempit.
"Dex..." suaranya melemah sesaat, sebelum kembali terdengar tegas. "Aku nggak bisa jelasin sekarang."
"Tapi..."
"Tolong!"
Suara Clarisa kali ini jauh lebih keras daripada sebelumnya hingga membuat beberapa orang yang berada tidak jauh dari sana menoleh ke arah mereka.
Menyadari beberapa pasang mata mulai memperhatikan, Clarisa langsung merendahkan suaranya.
"Dex, aku serius. Berdiri di depan pintu ini. Jangan biarkan siapa pun masuk sebelum aku keluar."
Derex masih terlihat ragu.
"Siapa pun?"
"Iya."
"Termasuk petugas hotel?"
Clarisa mengangguk mantap.
"Termasuk siapa pun."
Derex menatap pintu toilet itu beberapa saat. Kemudian pandangannya kembali beralih kepada Clarisa yang tampak benar-benar gelisah.
"Clarisa..." katanya pelan sambil memegang kedua bahu istrinya. "Lihat aku."
Clarisa mengangkat wajahnya.
"Kamu sendiri nggak apa-apa?"
"Aku baik."
"Kamu bohong."
Clarisa menghela napas panjang.
"Aku memang panik."
"Terus kenapa nggak biar aku yang masuk?"
Clarisa langsung menggeleng keras.
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Karena itu toilet wanita."
Derex mengusap wajahnya pelan.
"Ya, masuk akal."
"Tapi bukan cuma itu."
"Lalu?"
Clarisa terdiam beberapa detik. Tatapannya mulai berkaca-kaca.
"Kalau kamu masuk sekarang, semuanya justru bakal makin rumit."
Derex semakin tidak mengerti.
"Maksudnya?"
Clarisa menggeleng lagi.
"Nanti. Setelah semuanya selesai."
Ia menggenggam tangan Derex erat.
"Yang bisa bantu aku sekarang cuma kamu."
Nada suaranya bergetar.
"Aku mohon."
Derex menatap kekasihnya lama. Selama mereka bersama, ia sangat jarang melihat Clarisa memohon seperti ini.
Biasanya wanita itu selalu ceria, banyak bicara, bahkan sering bercanda di situasi apa pun.
Namun kali ini berbeda.
Tatapan Clarisa dipenuhi kecemasan yang nyata.
Dan itu cukup membuat Derex berhenti bertanya.
Akhirnya ia mengembuskan napas panjang.
"Oke."
Clarisa menatapnya penuh harap.
"Aku jagain pintunya."
Raut wajah Clarisa langsung sedikit mengendur. Beban di dadanya terasa berkurang meski hanya sedikit.
"Terima kasih."
Namun sebelum Clarisa sempat berbalik, Derex kembali memanggilnya.
"Clar."
Wanita itu menoleh.
"Aku percaya sama kamu."
Suara Derex terdengar sangat tenang.
"Tapi habis ini kamu harus cerita semuanya."
Ia menatap Clarisa dengan sorot mata serius.
"Sekecil apa pun masalahnya, aku mau tahu."
Clarisa mengangguk pelan.
"Iya."
"Bukan nanti malam."
"Iya."
"Bukan besok."
"Iya."
"Begitu semuanya selesai."
Clarisa tersenyum tipis meski wajahnya masih dipenuhi kecemasan.
"Aku janji."
Derex akhirnya melangkah maju hingga berdiri tepat di depan pintu toilet wanita. Kedua tangannya disilangkan di depan d**a, sementara tatapannya berubah tajam, penuh kewaspadaan. Sikap santainya menghilang berganti dengan aura dingin yang membuat beberapa tamu yang hendak mendekat memilih mengurungkan niat mereka.
Ia berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun, seperti tembok yang siap menghalangi siapa saja yang mencoba melewati pintu itu.
Clarisa memandangi suaminya beberapa saat. Melihat Derex sudah benar-benar mengambil posisi berjaga membuatnya sedikit lebih tenang.
Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Tangannya perlahan menyentuh gagang pintu toilet.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Entah mengapa, firasat buruk terus menghantui pikirannya sejak beberapa menit yang lalu.
Dengan satu embusan napas panjang, Clarisa mendorong pintu itu perlahan dan melangkah masuk ke dalam.
Begitu pintu terbuka, udara dingin dari dalam ruangan langsung menyambutnya.
Suasana di balik pintu itu terasa begitu sunyi.
Terlalu sunyi.
Keheningan yang justru membuat bulu kuduknya berdiri.
Clarisa menelan ludah pelan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Bell..." panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban.
Jantungnya kembali berdegup semakin kencang.
Untuk pertama kalinya malam itu, Clarisa benar-benar merasa takut.
Dan firasatnya mengatakan kalau sesuatu yang buruk baru saja terjadi.
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . . . . . .