Mereka melangkah keluar dari lift dan berjalan melewati lobby apartemen yang lampunya temaram namun elegan. Begitu tiba di area parkiran gedung, sebuah mobil hitam mewah dengan bodi mengilap sudah terparkir tak jauh dari pintu keluar. Mesin mobil masih menyala, lampu depannya memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi.
Derex turun dari sisi kemudi begitu melihat keduanya. Ia tampil elegan dengan jam tangan yang di belikan kekasihnya itu.
Cowok tinggi dengan rambut tersisir rapi itu bersandar santai di pintu mobil, mengenakan setelan kasual elegan—kemeja hitam dan celana bahan. Senyumnya lepas saat Clarisa dan Bella semakin dekat.
“Hai, Belle,” sapanya ramah sambil melirik penampilan sahabat pacarnya dan dirinya itu dari atas sampai bawah—tanpa komentar, tapi jelas terkejut.
Bella membalas sopan sambil mengangkat tangan kecil. “Hai, Derex.”
Clarisa langsung memutar mata melihat ekspresi pacarnya. “Jangan liat Bella kayak lo baru nemu berlian, Rex. Tatapan lo bikin dia pengen sembunyi di bagasi.”
Clarisa tidak marah dengan kekasihnya itu, mengingat mereka bertiga berteman ia tidak masalah jika sikap Derex seperti itu pada Bella, asalkan masih di batas wajar. Clarisa dan Bella bertemu dengan Derex saat mereka baru datang ke negara ini. Awal datang Derex langsung jatuh cinta pada Clarisa dan Bella yang merasa Derex orang yang baik tentu saja tidak menentangnya.
Derex tertawa kecil. "Aku cuma kaget, Sayang. Aku kira kamu bakal suruh Bella pakai dress yang aman—bukan versi runway.”
Bella mendengus sambil menarik blazer lebih rapat menutupi tubuhnya. “Gue sendiri baru setuju make ini lima menit yang lalu…”
Clarisa mendengus santai. “Dan lima menit itu mengubah hidup lo, sayang. Udah, masuk dulu. Kita telat setengah jam.”
Derex membuka pintu penumpang belakang, memberi isyarat agar Bella naik dulu.
“Silakan, Lady Bella.”
Bella menghela napas dan masuk ke dalam mobil, duduk di sisi kiri. Clarisa ikut masuk dan langsung duduk di tengah agar bisa tetap dekat dengan Bella.
Derex menutup pintu lalu masuk ke kursi kemudi. Begitu mobil melaju keluar area parkir, Clarisa kembali membuka pembicaraan dengan nada mengancam pura-pura.
“Belle, pokoknya nanti pas kita udah masuk tempat acara, lo WAJIB buka blazer lo.” ucapnya yang mengingatkan kembali sahabatnya itu.
Bella refleks menatap sahabatnya tajam. “Clarisa Evelyn, lo mau gue masuk angin atau disuruh pulang sama security?”
Clarisa menyeringai santai sambil menyandarkan punggung. “Tenang aja, tempatnya indoor. Ada penghangat ruangan, AC canggih, bahkan kalau lo mau diselimutin gaun lain pun bisa. Tapi lo gak boleh ngumpet kayak lagi kabur dari undangan keluarga.”
Derex hanya mengemudi sambil sesekali melirik Bella dari kaca spion tengah.
Bella mendesah. “Kalo gue dilecehin gara-gara gaun ini, lo yang gue telpon duluan, Clar.”
“Silakan, gue siap turun tangan sebelum lo semprot pake heels,” balas Clarisa santai.
Perjalanan memakan waktu sekitar 25 menit. Sepanjang jalan, Clarisa berkicau ringan soal acara, makeup tamu-tamu, dan gosip ringan tentang teman kuliah, sementara Bella lebih banyak diam sambil melihat jalanan malam dari balik jendela.
Lalu mobil mulai memasuki kompleks gedung hiburan yang terlihat sangat eksklusif. Lampu neon mewah, papan nama elegan, dan deretan mobil sport serta sedan impor terparkir rapih di depan pintu masuk.
Bella mengerutkan kening. “Clar… ini… klub?”
Clarisa tersenyum lebar, jelas menikmati keterkejutan sahabatnya. “Iya dong. Namanya klub, tapi tempatnya private, gak sembarang orang bisa masuk. Tamu undangan doang.”
Bella refleks menatap Derex. “Serius? Gue kira acaranya di lounge hotel atau restoran fine dining.”
Derex menimpali dengan tenang. “Ini lebih aman dan eksklusif. Pemilik klubnya juga kenal bokap gue. Jadi santai aja, Belle.”
Mobil berhenti di area drop-off. Dari balik kaca, terlihat beberapa tamu undangan dengan mode glamor turun dari mobil—para pria berdasi dan jas gelap, para wanita dengan gaun mahal dan perhiasan berkilau.
Clarisa menepuk tangan Bella. “Welcome to the night, sweetheart. Malam ini, lo gak cuma jadi tamu… lo bakal jadi pusat perhatian.”
Bella menatap gedung itu lagi, meneguk ludah perlahan. Jantungnya berdebar tanpa ia mengerti sebabnya.
Dan di suatu tempat entah di lantai berapa klub itu, seseorang sudah lebih dulu tahu dia akan datang.
***
Benar saja, begitu Bella melangkah masuk ke dalam klub, hampir semua kepala otomatis menoleh ke arahnya. Dentuman musik elektronik yang menghentak tak mampu menenggelamkan gumaman kagum yang mulai bermunculan dari berbagai penjuru ruangan.
Beberapa pria langsung berhenti berjalan. Ada yang melirik terang-terangan, ada yang berpura-pura melihat ke arah lain tapi matanya kembali ke Bella dalam hitungan detik.
“Siapa tuh?” “Anjir, aktris dari agensi mana dia?” “Atau model?”
Gaun hitam pas badan yang ia kenakan menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Dipadukan dengan heels dan blazer tipis yang kini sudah dilepas Clarisa sebelum masuk, Bella terlihat seperti seseorang yang sudah terbiasa datang ke tempat semewah ini—meski sebenarnya tidak.
Clarisa dan Derex berjalan beberapa langkah di belakang, dan keduanya saling pandang sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Gila… gue kira cuma bakal dilirik beberapa orang, bukan satu ruangan,” bisik Clarisa sambil cekikikan.
Derex melirik Bella lalu melihat sekeliling. “Ini kayak kamungelempar umpan di kolam piranha, Clar.”
Clarisa mengedikkan bahu dengan bangga. “Makanya jangan pernah ragukan insting fashion aku, Sayang.”
Bella sendiri menelan ludah pelan. Ia tetap berjalan, tetapi langkahnya sedikit melambat.
“Clar… sumpah gue nggak nyaman diliatin begini,” ucapnya lirih tanpa menoleh.
Clarisa langsung menyodok pinggang Bella dengan sikutnya. “Diam, nikmatin aja dulu sorotan mereka. Hidup lo terlalu lurus, Belle. Sekali-sekali boleh dong bikin satu klub bengong.”
Derex menyahut santai sambil menyelipkan tangan ke saku celananya. “Tenang, gue ada di belakang lo berdua. Kalau ada yang coba macam-macam, gue yang turun tangan.”
Bella melirik sekilas. “Gue lebih takut Mama gue muncul dari asap dry ice dan narik gue pulang.”
Clarisa ngakak. “Kalau nyokap lo muncul di sini, gue yakin satu klub ikut tobat.”
---
Sementara itu, di lantai atas, di balik kaca VIP lounge yang remang, sepasang mata tajam memperhatikan semuanya dengan intens.
Gabriel berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya. Rahangnya mengeras, matanya tak lepas dari sosok Bella yang baru saja berhenti di dekat bar.
Dari sudut bibirnya, terlihat senyum yang nyaris tidak bisa disebut senyuman—lebih tepatnya ekspresi tidak terima.
“Dia pakai baju itu di tempat kayak gini?” gumamnya pelan, suaranya nyaris seperti geraman.
Pria yang berada di sebelahnya, Kevin, sang sekretaris pribadi, melirik sebentar lalu kembali menunduk sopan.
“Seperti yang Anda lihat sendiri, Tuan. Sejauh ini dia datang bersama dua orang temannya. Tidak ada interaksi lain.”
Gabriel tidak langsung menjawab. Pandangannya naik turun mengikuti gerakan Bella yang menepis rambut dari bahunya.
“Kamu lihat gaun itu?” suaranya rendah, dingin.
Kevin menjawab hati-hati. “Gaun malam yang… cukup mencolok, Tuan.”
“Cukup mencolok?” Gabriel tertawa pendek, tanpa humor. “Itu terlalu mencolok. Dan terlalu terbuka.”
Kevin menimbang sejenak sebelum kembali membuka suara dengan hati-hati, seolah tahu betul setiap kata yang keluar bisa memicu suasana hati atasannya berubah dalam hitungan detik. “Apakah Anda ingin saya menyuruh orang kita untuk mendekat dan memastikan tidak ada yang mengganggu dia di lantai bawah?”
Gabriel tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju ke bawah, ke arah Bella yang sedang berbicara dengan Clarisa, sesekali tersenyum tanpa sadar. Baru setelah beberapa detik, ia menjawab dengan suara datar namun tegas tanpa sedikit pun menoleh, “Tidak perlu. Saya tidak mau ada orang lain yang terlalu dekat dengannya. Cukup awasi saja. Pastikan dia tetap dalam jangkauan kita, jangan sampai dia keluar dari pandangan.”
Kevin mengangguk kecil, meski Gabriel tidak melihatnya. “Orang kita sudah ditempatkan di beberapa titik strategis di area bawah, dekat bar dan pintu samping. Mereka bisa bergerak kapan saja jika ada situasi yang Anda anggap tidak aman.”
Gabriel mendengus pelan, hampir seperti tawa kecil yang tidak benar-benar hangat. “Kalau ada laki-laki yang terlalu percaya diri mendekatinya malam ini,” ucapnya pelan, suaranya mulai terdengar lebih tajam, “saya turun sendiri sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.”
Kevin tidak bereaksi berlebihan, tapi sorot matanya sedikit berubah, memahami bahwa itu bukan sekadar ancaman kosong.
Gabriel kembali mengalihkan pandangannya ke arah bawah, ekspresinya mengeras, namun ada sesuatu yang jauh lebih dalam di balik ketenangan itu. Suaranya merendah, hampir seperti gumaman yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, “Gaun itu seharusnya cukup untuk saya lihat. Bukan untuk semua orang di bawah sana.”
Kevin melirik sekilas ke arah keramaian di bawah, lalu kembali fokus pada atasannya. “Apakah Anda ingin saya mengatur pertemuan langsung dengan Nona Bella malam ini?”
Untuk pertama kalinya Gabriel tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, memperhatikan Bella yang kini tertawa kecil bersama Clarisa, seolah dunia di sekitarnya tidak memiliki beban apa pun. Tatapannya sedikit melunak, tapi hanya sesaat sebelum kembali menjadi dingin seperti biasanya.
Gabriel akhirnya membuka suara lagi setelah beberapa saat terdiam, suaranya rendah, tenang, tapi membawa ketegasan yang tidak bisa dibantah. Matanya masih menatap ke arah bawah, mengikuti sosok Bella yang sesekali tertawa kecil bersama Clarisa, seolah dunia di sekitarnya tidak pernah benar-benar mengganggunya.
“Malam ini atau besok,” ucapnya pelan, setiap kata keluar dengan perhitungan yang dingin, “dia tetap akan saya temui.”
Kevin yang berdiri di sampingnya tidak langsung merespons, hanya menunggu kelanjutan kalimat itu dengan sikap profesional seperti biasa. Sementara Gabriel tetap diam beberapa detik, rahangnya sedikit mengeras, sebelum akhirnya ia melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, lebih dalam, seakan berbicara bukan kepada Kevin, melainkan kepada dirinya sendiri.
“Dan saat itu tiba,” lanjutnya perlahan, “saya tidak akan membiarkan dia lagi berpura-pura seolah jarak di antara kami itu tidak ada.”
Ia menghela napas singkat, lalu sudut matanya sedikit menyipit ketika melihat Bella kembali tersenyum di bawah sana. Suaranya turun semakin rendah, hampir seperti bisikan yang tenggelam di antara keramaian pesta.
“Saya akan ingatkan dia sekali lagi,” ucap Gabriel, kali ini lebih lambat, lebih berat, “bahwa dia tidak pernah benar-benar bebas dari saya.”
Kevin melirik sekilas, tapi tetap diam, memahami bahwa ini bukan sekadar rencana pertemuan, melainkan sesuatu yang jauh lebih personal bagi Gabriel.
Gabriel kemudian menambahkan, suaranya nyaris tak terdengar namun penuh keyakinan mutlak, “Dan ketika saya bertemu dia nanti… saya akan pastikan dia tahu dengan jelas,” ia berhenti sejenak, tatapannya menjadi lebih tajam, “dia itu milik siapa.”
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .