Sudah satu minggu berlalu sejak seminar dan momen tak terduganya di mall bersama Clarisa. Bella berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa—kuliah, tugas, dan sesekali nongkrong di kafe kampus bersama teman-temannya. Ia bahkan berusaha melupakan tatapan Gabriel waktu itu, meski sesekali bayangan pria itu masih muncul tanpa diundang.
Malam ini, Clarisa sudah mencecarnya sejak pagi, mengingatkan bahwa mereka akan menghadiri pesta ulang tahun temannya Derex. Clarisa bahkan sudah mengirimkan pakaian khusus untuk Bella lewat kurir dua hari lalu.
Karena sibuk, Bella belum sempat membuka kotaknya. Barulah sore ini, setelah mandi dan mengeringkan rambutnya, ia duduk di tepi ranjang dan menarik kotak berisi pakaian itu.
“Ya ampun, Clarisa…” gumamnya begitu melepas tutup kotaknya.
Di dalamnya terlipat sebuah gaun mini berwarna hitam satin dengan potongan punggung terbuka dan belahan paha yang cukup tinggi. Tali bahunya tipis, dan bagian depan gaun itu memiliki potongan V yang cukup dalam.
Bella mematung selama dua detik sebelum akhirnya bersuara—lebih ke mengeluh pada dirinya sendiri.
“Yang bener aja… masa gue harus pakai pakaian kurang bahan kayak gini…” seru Bella tak percaya sambil mengangkat gaunnya tinggi-tinggi. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya penuh ekspresi tak rela.
Ia menghela napas panjang lalu mendekat ke cermin.
“Kalau Mama tahu gue pakai gaun model begini,” gumamnya dengan alis mengernyit, “bisa dipastikan gue diseret pulang dan gak bakal boleh keluar rumah sampai lulus kuliah.” ucapnya yang membayangkan apa yang akan ibunya lakukan padanya.
Bella meletakkan gaunnya di kasur, menatapnya seolah sedang menilai musuh.
Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Nama Clarisa muncul di layar.
Bella mengangkatnya sambil menghela napas.
“Halo, Clar…” ucapnya begitu panggilan itu ia angkat.
Belum sempat bicara lebih jauh, suara Clarisa langsung menyerbu dari seberang.
“Belle! Jangan bilang lo belum ganti baju! Gue jemput setengah jam lagi, oke? Jangan bikin gue dorong lo pakai sepatu sambil lari.” ucap Clarisa cepat, suaranya bahkan bisa Bella perkirakan secepat cahaya.
Bella yang mendengar itu punmemutar bola mata. “Clarisa Evelyn Hartono, lo sadar gak apa yang lo kirim buat gue? Ini bukan gaun, tapi serbet mahal!” ucapnya yang kesal dengan sahabatnya itu.
“HAH! Serbet? Lo liatnya pasti sambil ngedumel. Gue yakin pas pakai lo bakal cantik parah. Lo tuh modal badan bagus, dipakein karung aja cakep.” ucap Clarisa yang tidak terima gaun pilihannya di nistakan oleh sahabatnya sendiri.
“Ini karung yang… bolongnya banyak banget,” balas Bella getir.
Clarisa menghela napas panjang, kesal.
“Belle, please. Malam ini yang ulang tahun itu anaknya kolega bokap Derex. Tempatnya eksklusif banget. Kita harus tampil on point. Lo tenang, cowok-cowok sana gak akan macem-macem kalo gue ada.” ucapnya yang berusaha meyakinkan Bella untuk memakai gaun itu.
Bella diam beberapa saat. Tatapannya kembali pada gaun itu. Waktu terus berjalan.
“Clar,” katanya perlahan, “kalo gue masuk angin karena setengah badan gue kena angin malam, lo siapin selimut ya.” ucap Bella yang masih bisa bercanda.
Clarisa langsung tertawa puas. “YES! Itu tandanya lo mau pake. Gue cinta lo, sahabatku tersayang! Setengah jam lagi gue sampe!”
Telepon ditutup tanpa menunggu protes.
Bella menghela napas panjang ketiga kalinya.
“Kenapa sih gue sayang sama manusia satu itu…”
Akhirnya, dengan pasrah campur penasaran, Bella mulai mengenakan gaun itu. Begitu melihat dirinya di cermin setelahnya, ia tercengang sendiri.
Bahu mulusnya terekspos, punggungnya terlihat anggun alih-alih vulgar, dan potongan gaunnya membingkai lekuk tubuhnya dengan pas.
Bella mendekat, menatap refleksinya lebih lama.
“Oke… ini nggak seburuk yang gue kira,” gumamnya pelan. “Tapi tetep… Mama jangan sampai lihat foto gue malam ini.”
Ia mengambil heels hitam yang senada, merapikan rambutnya, lalu mengambil blazer tipis untuk sedikit menutupi bagian atas.
Dan tepat saat ia selesai mengoles lip balm, bel apartemennya berbunyi nyaring.
Clarisa sudah datang.
Bella membuka pintu dengan satu tangan sambil merapikan blazer tipisnya. Begitu pintu terbuka, Clarisa yang baru saja mengangkat tangan hendak memencet bel lagi langsung membeku di tempat.
Mulutnya terbuka, matanya membesar, dan ekspresinya… seolah melihat selebritas turun dari red carpet.
“Oh. My. God.” Clarisa menutup mulutnya dengan tangan, lalu menunjuk Bella dari atas sampai bawah. “INI BENER-BENER LO? Arabella Anastasya putri dari Mama Dinda yang super ketat itu??”
Bella otomatis melipat tangan di d**a, walau justru membuat belahan gaunnya terlihat lebih jelas. Ia buru-buru menjatuhkan tangannya lagi.
“Jangan teriak, Clar. Tetangga gue bisa kaget,” protes Bella setengah berbisik. Tapi pipinya tampak memerah.
Clarisa tidak mendengar—atau pura-pura tidak mendengar. Ia langsung masuk tanpa izin dan berputar mengelilingi Bella, seperti penata busana profesional sedang menilai model.
“Gila… lo cantik banget! Maksud gue, lo emang cantik dari lahir, tapi sekarang? Ini bukan Bella, ini Bella versi ‘gue siap bikin dunia gempa’!”
Bella memutar bola mata tapi senyumnya susah disembunyikan. “Berisik banget lo, sumpah.”
Clarisa menyipitkan mata, lalu menepuk pundak Bella dramatis.
“Gue nyesel nggak videoin reaksi pertama gue. Lo harus liat muka gue tadi—kayak liat artis Korea keluar dari MV!”
Bella justru menahan ketawa. “Serius, Clar, lo lebay. Gue aja masih gak yakin ini bukan kostum buat drama.”
Clarisa langsung menggamit dagu Bella dan mengangkat wajahnya sedikit.
“Makeup lo natural, rambut lo kece, kaki lo jenjang, kulit lo kinclong… dan tolong banget, itu belahan paha gue liat dikit dari blazer lo.”
Bella spontan menutup area pahanya dengan blazer lebih rapat.
“INI DIA ALASAN KENAPA GUE TADI MAU NANGIS! Lo tau kan gue gak biasa pakai baju kayak gini.”
Clarisa malah terkekeh sambil mengambil ponselnya. “Gue harus foto dulu sebelum lo sadar dan kabur ganti piyama.”
“CLAR! Jangan—!” Bella hendak menghalangi, tapi Clarisa sudah memotret sambil tertawa puas.
Tanpa memberi kesempatan Bella protes lagi, Clarisa menggandeng tangan sahabatnya.
“Ayo sebelum lo sadar dan tiba-tiba bilang mau pakai sweater dan jeans.”
Bella mendecak pelan sambil memutar bola matanya. Meski begitu, ia tetap mengikuti langkah Clarisa yang berjalan lebih dulu menuju pintu apartemen.
"Serius, Clar. Cuacanya dingin banget. Gue masih yakin kalau cardigan tadi lebih cocok daripada harus pakai gaun kayak gini," keluh Bella sambil merapatkan kedua lengannya di depan d**a.
Clarisa langsung menoleh dengan ekspresi tidak percaya.
"Cardigan?" ulangnya dramatis. "Bella sayang, kita mau datang ke acara formal, bukan belanja bulanan ke supermarket."
Bella mengerucutkan bibir.
"Ya kali aja ada yang nggak peduli sama penampilan gue."
"Masalahnya gue peduli!" balas Clarisa cepat. "Dan malam ini lo wajib kelihatan cantik."
Bella hanya bisa menghela napas panjang. Sudah percuma berdebat dengan sahabatnya itu. Kalau Clarisa sudah memutuskan sesuatu, biasanya tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.
Dengan langkah pasrah, Bella akhirnya mengikuti Clarisa keluar apartemen.
"Kalau nanti gue kedinginan, gue peluk lo sepanjang acara," ancam Bella sambil menunjuk Clarisa.
Clarisa justru tertawa keras.
"Gak apa-apa. Asal bukan pacar orang yang lo peluk."
Bella mengernyit.
"Hah?"
Dan sebelum Bella sempat memahami maksudnya, Clarisa kembali menambahkan dengan nada menggoda,
"Dan asal bukan Pak Gabriel."
Bella langsung berhenti melangkah.
"Clarisa!"
"Apa?" jawab Clarisa polos.
"Jangan mulai lagi deh."
Clarisa menyeringai lebar, jelas-jelas menikmati reaksi sahabatnya.
Bella menggeleng tidak percaya.
"Lagian Pak Gabriel itu punya pasangan. Kenapa sih lo selalu menghubung-hubungkan gue sama beliau?"
"Karena menarik."
"Itu bukan jawaban."
"Karena seru."
"Itu juga bukan jawaban."
Clarisa kembali tertawa sampai bahunya berguncang.
"Ya habis gimana? Lo nggak pernah lihat cara dia ngelihat lo?"
Bella langsung memalingkan wajah.
"Lo terlalu banyak halu."
"Halu dari mana? Gue masih punya mata yang berfungsi dengan baik."
Bella tidak menjawab. Ia memilih berjalan lebih cepat menuju lift.
Melihat itu, Clarisa buru-buru menyusul sambil tertawa kecil.
"Oke, oke. Gue berhenti."
"Bagus."
"Tapi gue tetap yakin ada seseorang yang diam-diam memperhatikan lo."
Bella mendesah.
"Dan gue tetap yakin lo kebanyakan nonton drama."
Pintu lift terbuka. Mereka masuk bersamaan.
Sesaat suasana menjadi lebih tenang.
Namun begitu keluar dari gedung apartemen, Clarisa kembali menatap Bella dari atas sampai bawah. Matanya berbinar puas melihat penampilan sahabatnya malam itu.
Tanpa peringatan, ia langsung merangkul lengan Bella.
"Tenang aja, sayang," katanya penuh percaya diri. "Malam ini gue pastiin semua mata bakal ngelihat lo."
Bella tertawa kecil.
"Lo lebay."
"Gue serius."
Clarisa menunjuk Bella seolah sedang menyampaikan fakta penting.
"Dan percaya sama gue. Ada seseorang yang bakal nyesel karena cuma bisa ngeliatin lo dari jauh kayak minggu lalu."
Bella menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Aneh banget cara lo ngomong."
"Karena gue selalu benar."
"Mimpi."
"Yaudah, nanti kita lihat aja."
Bella tidak membalas lagi. Ia hanya mengikuti langkah Clarisa menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
Namun entah kenapa, kata-kata sahabatnya terus terngiang di dalam kepala.
Ada seseorang yang bakal nyesel karena cuma bisa ngeliatin lo dari jauh.
Kalimat itu seharusnya terdengar biasa saja.
Tapi anehnya, jantung Bella justru berdetak sedikit lebih cepat.
Ia tidak tahu alasannya.
Tidak tahu kenapa malam ini terasa berbeda.
Yang Bella tahu, malam mereka baru saja dimulai.
Dan tanpa ia sadari, sebuah pertemuan yang tidak terduga sedang menunggunya.
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . . . .