Begitu selesai kelas terakhir tadi, Bella dan Clarisa berjalan keluar kampus dengan langkah santai. Langit sore tampak cerah, dihiasi semburat oranye yang mulai mengintip di antara gedung-gedung tinggi.
“Gue sumpah, Belle… perut gue udah kayak balon,” keluh Clarisa sambil mengusap perutnya.
Bella tertawa kecil. “Bagaimana gak kayak balon, selesai kelas lo malah ajak ke kantin lagi. Udah gitu lo nambah es krim dua porsi, Cla. Emang nggak kenyang-kenyang.”
“Ya gimana, gue butuh energi buat belanja!” sahut Clarisa dengan semangat yang seolah tak ada habisnya. “Ayo, mumpung kita nggak ada kelas lagi hari ini, sekalian refreshing.”
Bella hanya menggeleng sambil tersenyum, mengikuti langkah sahabatnya ke arah halte taksi.
“Clar, lo tuh kalau ngomong soal mall semangat banget, ya. Kayak nggak pernah ke sana aja.”
“Eh, belanja itu terapi, tahu! Lo aja yang nggak ngerti seni belanja,” jawab Clarisa dengan nada sok serius, membuat Bella terkikik geli.
Mereka pun naik taksi menuju mall terbesar di pusat kota. Begitu sampai, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut, membuat suasana mall terasa nyaman. Musik lembut mengalun dari speaker, sementara orang-orang berlalu-lalang membawa tas belanja di tangan mereka.
Clarisa langsung menarik tangan Bella. “Ayo, Belle! Gue udah tahu mau ke toko mana dulu.”
“Clarisa… pelan-pelan! Lo tuh kayak dikejar diskon!” seru Bella, hampir kehilangan keseimbangan saat Clarisa menariknya dengan penuh semangat.
Namun Clarisa tidak menggubris. Ia terus menyeret Bella menuju salah satu butik mewah dengan interior elegan—toko perlengkapan pria kelas premium yang biasanya hanya dikunjungi orang berduit.
Begitu masuk, aroma maskulin dari parfum mahal langsung menyergap. Musik jazz mengalun lembut, dan seorang pramuniaga bersetelan hitam langsung menyambut mereka dengan senyum profesional.
“Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan.
Clarisa langsung tersenyum lebar. “Iya, saya mau cari hadiah untuk pacar saya. Ulang tahun besok, dan saya pengen kasih sesuatu yang spesial.”
Bella hanya berdiri di sampingnya sambil memperhatikan, matanya berkeliling menatap rak-rak kaca berisi jam tangan, dompet kulit, parfum, hingga kemeja berpotongan rapi.
“Pacar lo pasti senang banget, Cla. Ini aja tokonya keliatan mahal banget,” gumam Bella pelan.
Clarisa menatapnya dan terkekeh. “Ya harus dong! Derex tuh cowok yang perfeksionis, jadi kalo kasih kadonya asal, bisa-bisa dia diamin gue setahun penuh.”
Pramuniaga itu tersenyum sopan. “Kami baru saja menerima koleksi jam tangan edisi terbatas, Nona. Mungkin bisa jadi pilihan yang menarik.”
Clarisa langsung menoleh antusias. “Jam tangan? Wah, boleh! Belle, lo bantu pilih ya. Gue percayain selera lo.”
Bella mendekat, memperhatikan deretan jam di etalase. Matanya terhenti pada satu jam tangan dengan tali kulit cokelat gelap dan bingkai perak. Desainnya sederhana tapi elegan.
“Kalau menurut gue, yang ini cocok buat Derex,” ujar Bella pelan. “Modelnya nggak terlalu mencolok, tapi kelihatan classy.”
Clarisa menatap jam itu lama, lalu tersenyum lebar. “Setuju! Gue suka banget yang ini. Lo emang nggak pernah salah, Belle.”
Mereka pun menyelesaikan transaksi, dan Clarisa keluar dari toko dengan senyum puas sambil membawa paper bag elegan.
“Mission accomplished!” serunya girang.
Bella tertawa kecil. “Lo kayak abis menang undian aja.”
“Yaa, belanja buat orang tersayang itu bikin happy, tahu!” balas Clarisa sambil menggandeng tangan Bella. “Ayo, kita ngopi bentar di lantai atas sebelum pulang. Gue traktir deh, karena lo udah bantu gue milih kado.”
Bella mengangguk senang. “Deal! Tapi minumannya yang manis, ya. Gue butuh gula biar nggak pingsan gara-gara keliling mall bareng lo.”
Clarisa masih tertawa riang, menceritakan sesuatu yang lucu tentang Derex, pacarnya, ketika keduanya berjalan menuju eskalator. Namun, di tengah langkah ringan itu, Bella tiba-tiba berhenti. Langkahnya terhenti begitu saja di depan sebuah butik mewah di sisi kanan koridor.
“Belle? Kenapa lo—” suara Clarisa terpotong ketika menyadari ke arah mana pandangan sahabatnya tertuju.
Di balik dinding kaca butik itu, berdiri seseorang yang tidak asing bagi Bella.
Gabriel.
Pria itu tampak menawan seperti biasa—mengenakan kemeja putih dengan jas abu muda yang membingkai bahunya dengan sempurna. Namun bukan itu yang membuat d**a Bella terasa sesak. Di samping Gabriel, berdiri seorang wanita muda berambut pirang dengan gaun pendek warna krem, memeluk lengannya dengan manja sambil tersenyum genit.
Bella terpaku. Ia tahu siapa pria itu, meski baru dua kali melihatnya secara langsung. Tapi entah mengapa, pemandangan di depan matanya menimbulkan sensasi aneh di d**a.
“Belle…” Clarisa memanggilnya pelan, mendekat. “Itu… bukan Pak Gabriel, kan?”
Suara Clarisa terdengar ragu, tapi Bella tak menjawab. Ia hanya berdiri diam, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya tanpa sadar.
Dari balik kaca butik yang bening dan tinggi itu, Bella masih bisa melihat dengan jelas sosok Gabriel yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
Pria itu tampak berbicara dengan tenang, sikapnya tetap elegan dan berwibawa seperti biasa. Setelan jas hitam yang dikenakannya membuatnya terlihat mencolok di antara orang-orang di sekitarnya.
Namun yang membuat Bella sulit mengalihkan pandangan bukanlah Gabriel.
Melainkan wanita yang berdiri di sampingnya.
Wanita muda itu tertawa pelan sambil menatap Gabriel dengan penuh kekaguman. Sesekali ia menyentuh d**a pria itu dengan sikap yang terlalu akrab untuk disebut formal. Bahkan beberapa kali ia terlihat memeluk lengan Gabriel sambil mengatakan sesuatu yang membuatnya tersenyum tipis.
Bella tidak tahu siapa wanita itu.
Ia juga tidak tahu hubungan mereka.
Namun entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa aneh.
Bukan marah.
Bukan juga kesal.
Melainkan perasaan tidak nyaman yang perlahan memenuhi dadanya hingga membuatnya sulit bernapas dengan normal.
Ia menelan ludah pelan.
Tangannya yang sedari tadi menggenggam tas tanpa sadar mengencang.
Di sampingnya, Clarisa yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Bella langsung menyadari perubahan itu.
"Belle..."
Bella tidak menjawab.
Tatapannya masih tertuju ke arah luar.
"Belle," panggil Clarisa sekali lagi dengan nada lebih lembut.
"Hm?" sahut Bella tanpa mengalihkan pandangan.
Clarisa mengikuti arah tatapan sahabatnya.
"Oh..."
Kini ia mengerti.
Matanya langsung kembali menatap Bella.
"Eh, mungkin itu kliennya kali."
Bella terdiam.
Clarisa buru-buru melanjutkan.
"Maksud gue, dia kan pebisnis besar. Wajar kalau ketemu banyak orang. Apalagi perempuan yang punya hubungan kerja sama atau apa gitu."
Bella memaksakan senyum kecil.
Senyum yang bahkan tidak berhasil mencapai matanya.
"Iya."
Clarisa menghela napas.
"Serius, Belle. Jangan langsung mikir yang aneh-aneh."
Bella tertawa pelan.
Namun tawanya terdengar hambar.
"Gue nggak mikir aneh-aneh kok."
"Bohong."
Bella akhirnya menoleh.
"Hah?"
Clarisa menyilangkan tangan di d**a.
"Gue kenal lo udah lama."
Bella hanya diam.
"Kalau lo bilang nggak mikir apa-apa sambil natap orang hampir lima menit, itu namanya bohong."
Bella langsung memalingkan wajah.
Pipinya sedikit memanas.
"Gue cuma lihat."
"Ya."
"Cuma lihat."
"Iya."
"Nggak ada yang lain."
Clarisa mengangkat alis.
"Terus kenapa suara lo sedih?"
Bella langsung kehilangan jawaban.
Dadanya terasa sesak.
Ia menundukkan kepala sebentar sebelum akhirnya berbisik pelan.
"Iya juga ya..."
Clarisa menatapnya iba.
Bella tersenyum kecil, kali ini lebih mirip senyum pasrah.
"Gue juga nggak ngerti kenapa jadi begini."
"Belle..."
Bella menggeleng pelan.
"Mungkin gue yang terlalu terbawa suasana."
Clarisa tidak langsung membantah.
Karena jauh di dalam hati, ia tahu itu memang mungkin terjadi.
Bagaimanapun juga, pria seperti Gabriel sulit untuk diabaikan.
Pria itu tampan.
Berpengaruh.
Berkarisma.
Dan yang paling berbahaya...
Cara dia menatap Bella.
Clarisa masih ingat dengan jelas bagaimana Gabriel menatap sahabatnya saat seminar pagi tadi.
Tatapan yang terlalu fokus.
Terlalu intens.
Terlalu berbeda dibanding tatapan yang biasa diberikan seseorang kepada orang asing.
Kalau ia berada di posisi Bella, mungkin ia juga akan salah paham.
Atau mungkin...
Tidak sepenuhnya salah paham.
"Ini bukan salah lo kok," ucap Clarisa pelan.
Bella menoleh.
"Hm?"
Clarisa mengangkat bahu.
"Ya gimana ya. Coba deh lo pikir."
"Apa?"
"Siapa yang nggak bakal terbawa perasaan kalau ditatap kayak tadi?"
Bella langsung terdiam.
Ingatan tentang seminar pagi itu kembali muncul.
Tentang bagaimana Gabriel beberapa kali menatapnya.
Tentang bagaimana pria itu terlihat seolah hanya melihat dirinya di tengah ratusan orang lain.
Dan itu membuat hatinya semakin kacau.
Bella menghela napas panjang.
"Gue bodoh ya?"
Clarisa langsung menggeleng.
"Nggak."
"Sedikit mungkin."
"Nggak juga."
"Terus?"
Clarisa tersenyum kecil.
"Lo cuma manusia biasa."
Bella tertawa lirih.
Sayangnya, tawa itu masih terasa pahit.
"Udah yuk," ajak Clarisa sambil menarik pelan pergelangan tangan Bella. "Jangan diliatin terus."
Bella tidak bergerak.
"Belle."
"Hm."
"Lo malah nyakitin diri sendiri kalau terus lihat."
Bella menunduk.
Ia tahu Clarisa benar.
Sangat benar.
Namun entah kenapa matanya tetap ingin melihat sekali lagi.
Hanya sekali.
Maka Bella pun menoleh ke arah luar butik untuk terakhir kalinya.
Dan tepat pada saat itu...
Gabriel yang sedang berbicara dengan wanita tersebut tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Seolah merasakan ada seseorang yang memperhatikannya.
Tatapan mereka bertemu.
Bella langsung membeku.
Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik.
Mata Gabriel menatap lurus ke arahnya.
Tajam.
Dalam.
Sulit ditebak.
Bella bahkan lupa bernapas.
Namun sesuatu terasa berbeda.
Tatapan itu tidak sama seperti yang ia lihat di seminar pagi tadi.
Tidak ada kehangatan.
Tidak ada kelembutan.
Tidak ada senyum samar yang membuat jantungnya berdebar.
Yang ada hanyalah tatapan tenang dan sulit dibaca.
Seolah Bella hanyalah salah satu orang di antara begitu banyak orang yang berlalu-lalang di pusat perbelanjaan itu.
Tatapan mereka memang hanya bertemu selama beberapa detik, sangat singkat bahkan mungkin tidak sampai satu menit. Namun bagi Bella, momen itu terasa jauh lebih lama dari yang seharusnya. Jantungnya sempat berdebar ketika mata mereka saling bertemu.
Ada sesuatu dalam dirinya yang tanpa sadar berharap, meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia harapkan. Mungkin sebuah senyuman kecil, mungkin sebuah sapaan sederhana, atau setidaknya sebuah reaksi yang menunjukkan bahwa Gabriel menyadari keberadaannya.
Namun harapan itu langsung runtuh.
Gabriel hanya menatapnya sesaat sebelum mengalihkan pandangannya begitu saja. Tidak ada perubahan ekspresi di wajah pria itu. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, bahkan tidak ada tanda bahwa ia mengenali Bella. Setelah itu, Gabriel kembali memusatkan perhatiannya pada wanita yang berdiri di sampingnya.
Ia mendengarkan wanita itu berbicara, lalu beberapa saat kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Senyum sederhana yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain, tetapi entah mengapa terasa begitu menyakitkan bagi Bella. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu, seolah ada sesuatu yang perlahan meremas hatinya.
Bella segera memalingkan wajah. Ia tidak ingin terus melihat ke arah butik itu karena semakin lama ia memperhatikan, semakin tidak nyaman perasaannya sendiri.
Di sampingnya, Clarisa yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi sahabatnya hanya bisa menghela napas panjang. Ia mengenal Bella dengan baik.
Meskipun Bella berusaha terlihat biasa saja, Clarisa tahu ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Clarisa pun menarik pergelangan tangan Bella dengan lembut.
"Ayo, Belle. Kita pergi dari sini."
Bella menoleh pelan dan berusaha tersenyum.
"Hm?"
"Nggak usah diliatin terus. Nanti malah bikin diri sendiri kepikiran."
Bella menurunkan pandangannya sesaat sebelum mengangguk pelan.
"Iya."
Clarisa mengerutkan kening.
"Iya apanya?"
"Iya, aku nggak bakal lihat lagi."
Mendengar jawaban itu, Clarisa hanya bisa menghela napas kecil. Ia kemudian merangkul lengan Bella dan berkata dengan nada yang lebih lembut.
"Mungkin dia memang bukan orang yang kita kira, Belle. Bisa jadi semua yang kita lihat tadi cuma salah paham."
Bella tersenyum tipis meskipun senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Mungkin."
Ia tidak ingin membahasnya lebih jauh. Bahkan Bella sendiri tidak mengerti kenapa perasaannya menjadi seperti ini. Ia dan Gabriel bukan siapa-siapa.
Mereka bahkan tidak benar-benar saling mengenal. Namun entah kenapa, setiap kali pria itu muncul di hadapannya, pikirannya selalu dibuat kacau. Dan kenyataan itu membuat Bella kesal pada dirinya sendiri.
Akhirnya mereka kembali berjalan meninggalkan area butik. Clarisa sengaja mengajak Bella mengobrol tentang berbagai hal untuk mengalihkan perhatiannya.
Ia membahas tugas kuliah yang menumpuk, dosen yang suka memberi kuis mendadak, sampai rencana mereka untuk akhir pekan nanti. Bella sesekali menjawab dan bahkan tertawa kecil, tetapi pikirannya masih tertinggal di tempat yang sama.
Bayangan Gabriel terus muncul di kepalanya.
Tatapan pria itu.
Cara pria itu berbicara saat seminar pagi tadi.
Dan senyum tipis yang baru saja ia berikan kepada wanita lain.
Semua itu terus berputar di pikirannya tanpa bisa dihentikan.
Sementara itu, di dalam butik mewah tersebut, Gabriel masih berdiri di tempatnya. Wanita yang sejak tadi menemaninya masih berbicara mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan, tetapi perhatian Gabriel sudah tidak lagi berada di sana.
Melalui pantulan kaca besar di depan butik, ia masih bisa melihat sosok Bella dan Clarisa yang berjalan menjauh di antara keramaian pusat perbelanjaan.
Tatapannya mengikuti langkah Bella cukup lama.
Hingga akhirnya sosok gadis itu semakin jauh dan perlahan menghilang dari pandangannya.
Ekspresi Gabriel yang sebelumnya tampak santai berubah datar. Tidak ada lagi senyum di wajahnya. Tatapannya menjadi lebih dingin dan sulit ditebak, seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.
Ia menyentuh dagunya pelan sambil terus menatap ke arah koridor tempat Bella menghilang beberapa saat lalu.
"Kevin."
Suara Gabriel yang tenang membuat Kevin segera melangkah mendekat.
"Ya, Tuan?"
Gabriel tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara.
"Cari tahu siapa gadis itu."
Kevin sedikit terkejut, tetapi ekspresinya tetap profesional.
"Yang tadi berada di luar butik, Tuan?"
Gabriel mengangguk pelan.
"Saya ingin tahu semuanya. Siapa namanya, kuliah di mana, apa yang dia lakukan di sini, dan dengan siapa dia datang."
Kevin mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.
"Baik, Tuan."
Namun sebelum Kevin melangkah pergi, Gabriel kembali berbicara.
"Dan satu hal lagi."
Kevin berhenti.
"Ya, Tuan?"
Tatapan Gabriel kembali mengarah ke keramaian di luar butik.
"Cari tahu kenapa setiap kali saya melihatnya, saya selalu merasa ingin mengetahui lebih banyak tentang dirinya."
Untuk pertama kalinya, Kevin benar-benar terdiam. Ia sudah bekerja dengan Gabriel selama bertahun-tahun dan sangat jarang mendengar atasannya mengatakan sesuatu seperti itu tentang seorang wanita.
Meski begitu, ia tetap menundukkan kepala dengan hormat.
"Saya mengerti, Tuan."
Setelah Kevin pergi menjalankan perintahnya, Gabriel masih berdiri di depan kaca besar itu selama beberapa saat. Keramaian di luar terus bergerak seperti biasa, tetapi pikirannya masih tertuju pada satu sosok yang baru saja menghilang dari pandangannya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berhasil membangkitkan rasa penasaran Gabriel Knight lebih dari urusan bisnis, kekuasaan, atau keuntungan apa pun.
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . .