Setelah seminar selesai dan tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula, Gabriel menundukkan kepala sedikit memberi salam hormat kepada para peserta. Senyumnya sopan namun tetap menyisakan wibawa yang kuat. Para mahasiswa tampak berebut untuk berfoto dan mendekatinya, terutama para mahasiswi yang jelas terpikat oleh pesonanya.
Bella yang sejak tadi duduk diam di kursinya, hanya bisa menunduk sambil membereskan buku catatannya. Ia tak berani menatap ke arah depan, apalagi setelah beberapa kali merasa tatapan pria itu berhenti tepat padanya selama seminar berlangsung.
“Gila, Belle…” bisik Clarisa sambil menyikut pelan lengan sahabatnya. “Tadi lo lihat nggak? Pak Gabriel ngelihat lo terus! Gue yakin banget!”
“Clar, udah deh…” Bella berusaha tertawa tapi suaranya gemetar. “Mungkin lo cuma halu. Kan banyak juga yang duduk di depan.”
Clarisa mendengus, “Ya tapi cuma lo yang dia tatap selama itu, Sayang. Gue sampe salah fokus, sumpah!”
Sementara itu, Gabriel sudah melangkah turun dari panggung. Dengan postur tegap dan langkah tenang, ia tampak berbicara singkat dengan moderator sebelum sekretaris pribadinya, Kevin menghampiri membawa tablet di tangan.
“Jadwal setelah ini apa, Kevin?” tanya Gabriel tanpa menatap, suaranya dalam dan berwibawa.
Kevin langsung menunduk hormat. “Setelah ini ada pertemuan dengan Mr. Ritcher, Tuan. Untuk membahas detail kerja sama proyek di sektor teknologi.”
Gabriel mengangguk singkat. Matanya sempat melirik sekilas ke arah bangku barisan depan—tepat ke tempat Bella duduk. Gadis itu kini tengah berdiri sambil memasukkan buku ke dalam tas, wajahnya masih tampak gugup dan pipinya memerah.
Pandangan itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Gabriel berdeham pelan dan kembali menatap Kevin.
“Cari tahu semua tentang gadis tadi,” ucapnya datar, namun nada suaranya membawa tekanan tegas.
Kevin menatap atasannya dengan raut sedikit bingung. “Gadis… yang mana, Tuan?”
Gabriel menatap lurus ke arah Bella yang mulai berjalan menuju pintu bersama Clarisa. “Yang mengenakan kemeja putih dan rok abu. Duduk di baris depan. Namanya... Bella, kalau aku tidak salah dengar dari temannya.”
Kevin mencatat cepat di tabletnya. “Baik, Tuan. Apakah saya perlu menyelidiki latar belakangnya secara menyeluruh?”
Gabriel mengangguk pelan, suaranya tenang namun dingin. “Tanpa terkecuali.”
Kevin sempat terdiam sejenak, lalu menjawab, “Baik, Tuan Gabriel.”
Sebelum beranjak keluar aula, Gabriel sempat menoleh sekali lagi. Ia melihat Bella dan Clarisa berjalan keluar sambil tertawa kecil, belum menyadari bahwa kini mereka telah menarik perhatian seseorang yang berbahaya dalam diam—pria yang mampu mengubah arah hidup siapapun hanya dengan satu keputusan darinya.
***
Sementara itu, Bella dan Clarisa berjalan pelan meninggalkan aula, menyatu dengan kerumunan mahasiswa lain yang masih ramai membicarakan betapa tampannya pembicara tadi. Beberapa mahasiswa bahkan sibuk membandingkan catatan, sementara sebagian besar mahasiswi sibuk mencari nama Gabriel Knight di media sosial.
Udara siang yang hangat langsung menyambut keduanya begitu keluar dari gedung. Bella menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang entah kenapa masih belum stabil sejak insiden di depan aula tadi.
“Gila, Clar…” gumamnya pelan sambil menatap ke depan. “Kayaknya hari ini gue udah malu tingkat dewa. Nabrak dosen tamu, udah gitu di lihatin terus sama orangnya. Bisa-bisa besok nama gue viral di grup kampus.”
Clarisa malah terkekeh geli. “Yaelah, Belle, santai aja. Kalau viral pun, itu karena lo jadi mahasiswi pertama yang berhasil meluk Gabriel Knight, si pebisnis muda yang katanya susah banget didekati!”
“Clar!” seru Bella setengah berbisik sambil menepuk bahu sahabatnya. “Ssst! Jangan ngomong keras-keras, nanti orang denger.”
Clarisa malah tertawa semakin keras. “Lah emang kenapa? Orang juga udah banyak yang ngomongin dia tadi. Tapi serius deh, Belle, tadi lo keren banget gak pingsan pas peluk dia. Kalau gue yang nabrak dia, mungkin gue langsung pingsan di tempat.”
Bella menunduk, tersenyum malu. “Keren dari mana? Gue malah kayak orang bego…”
“Ya tapi tetep aja, lo beruntung,” sahut Clarisa sambil menggandeng lengan Bella. “Oke, sekarang ayo kita ke kantin dulu. Gue sumpah udah lapar banget, perut gue udah protes dari tadi.”
“Ya ampun, iya juga. Gue juga belum sarapan,” kata Bella sambil berjalan ke arah kantin. “Tadi kan buru-buru banget karena lo yang panik takut telat.”
Clarisa pura-pura manyun. “Heh, kalau bukan karena gue, lo pasti duduk di belakang dan nggak bakal jadi pusat perhatian Pak Gabriel barusan.”
Bella mendengus kecil. “Pusat perhatian apaan, Clar? Gue malah mau ngilang dari muka bumi.”
Begitu sampai di kantin, keduanya langsung mengambil tempat di pojok dekat jendela. Clarisa sibuk membuka menu di layar digital, sementara Bella melamun sebentar menatap ke luar. Bayangan wajah Gabriel sekilas muncul lagi di pikirannya—senyum tenangnya, tatapan matanya yang dalam, dan cara pria itu memanggil namanya dengan suara berat tapi tenang.
“Eh, Belle!” panggil Clarisa tiba-tiba, memotong lamunan Bella. “Habis ini, ikut gue ke mall, ya. Gue mau beli kado buat Derex. Soalnya besok dia ulang tahun, dan lo kan jago banget milih barang. Serela lo aja deh, pasti bagus.”
Bella menoleh cepat, sedikit tersenyum. “Derex? Oh iya, pacar lo itu, kan?”
“Ya siapa lagi, Sayang. Masa pacar orang.” Clarisa terkekeh. “Gue udah cari-cari ide dari kemarin tapi nggak nemu yang cocok. Lo bantuin, ya?”
Bella mengangguk pelan. “Oke, boleh. Tapi abis makan, ya. Gue takut pingsan kalau jalan sambil perut kosong.”
Clarisa mengangkat tangan tinggi-tinggi, ekspresinya dibuat seolah sedang berakting di panggung drama.
“Deal! Tapi satu syarat, jangan ngelamun lagi, ya. Ntar makanan lo keburu dingin, terus lo ngaku-ngaku nggak lapar padahal masih mikirin Pak Gabriel~.”
“Clar!” seru Bella dengan nada tinggi, hampir setengah berteriak karena kaget. Matanya melebar, pipinya langsung bersemu merah.
“Lo ngomong apaan sih! Sembarangan banget!”
Clarisa malah tertawa lepas, nyaris terbahak. “Ya ampun, liat tuh! Mukanya langsung kayak tomat rebus! Ngaku aja deh, lo kepikiran kan?”
Bella buru-buru mengambil tisu dari meja kantin, menutupi wajahnya yang kini benar-benar merah padam. “Bukan mikirin! Gue cuma... cuma...”
Ia terdiam, tak tahu harus melanjutkan apa. Kalimatnya buyar begitu saja.
“Cuma apaaa?” goda Clarisa sambil menyikut lembut lengan Bella. “Cuma kangen?”
“Cuma mau makan dengan tenang tanpa lo ngoceh terus,” balas Bella cepat, mencoba membalik keadaan, tapi senyum malu-malu di bibirnya malah membuat Clarisa semakin heboh.
“Duh, gaya lo itu loh, Bell! Kalo orang nggak kenal, pasti ngira lo lagi jatuh cinta parah!” ujar Clarisa dengan nada menggoda sambil memegang dadanya dramatis.
Bella berdiri cepat-cepatan sambil menghela napas, “Udah ah, gue ke kelas duluan.”
Ia lalu berjalan cepat menuju pintu kantin, berusaha menutupi pipinya yang masih memanas.
Clarisa sontak berdiri dari kursinya begitu melihat Bella berjalan menjauh dengan langkah cepat.
“Bell! Tungguin gue!” serunya keras tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang langsung menoleh ke arahnya.
Suara Clarisa yang lantang menggema cukup jelas di kantin, membuat beberapa mahasiswa menghentikan obrolan mereka. Ada yang menoleh penasaran, ada yang tersenyum geli, bahkan beberapa mahasiswa di meja sebelah terlihat menahan tawa.
Clarisa yang menyadari dirinya sedang menjadi pusat perhatian justru sama sekali tidak merasa malu.
Ia menatap sekeliling dengan santai, lalu mengangkat kedua tangannya.
“Kenapa pada lihat-lihat?” tanyanya polos.
Beberapa mahasiswa langsung tertawa.
“Temen gue kabur tuh,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah Bella yang sudah berjalan cukup jauh. “Masa gue diem aja?”
Salah satu mahasiswa laki-laki sampai menggeleng sambil terkekeh.
“Your friend is running away from you.”
Clarisa langsung menunjuk pria itu.
“Exactly!”
Tawa kembali pecah di sekitar mereka.
Sementara itu, Bella yang mendengar semua keributan di belakangnya hanya bisa memejamkan mata sejenak.
Rasanya ia ingin menghilang.
Dengan langkah yang masih terus berjalan, ia menggeleng pelan sambil bergumam.
“Ya Tuhan...”
Tak lama kemudian Clarisa berhasil menyusulnya.
“Bell, serius deh. Lo jalan apa lari sih?” protesnya sambil sedikit terengah-engah.
Bella akhirnya menoleh.
“Lo aja yang jalannya lelet.”
Clarisa langsung membelalak tidak terima.
“Hah?!”
Bella tersenyum tipis.
“Fakta.”
“Fakta dari mana?”
“Dari mata gue.”
Clarisa menunjuk dirinya sendiri dengan dramatis.
“Lo sadar nggak sih siapa yang lagi lo hina?”
Bella mengangkat alis.
“Siapa?”
“Sahabat tercinta lo.”
“Terus?”
Clarisa langsung menggeleng tidak percaya.
“Jahat banget.”
Bella justru tertawa kecil.
“Kan emang lelet.”
Clarisa memegang dadanya seolah baru saja ditembak.
“Lihat ini!” serunya. “Sahabat gue sendiri nggak menghargai perjuangan seorang wanita yang sudah berusaha berjalan cepat.”
Bella tertawa semakin lepas.
“Berjalan cepat versi lo mungkin sama kayak jalan santai versi orang lain.”
“Fitnah.”
“Fakta.”
“Fitnah.”
“Fakta.”
“Fitnah.”
“Fakta.”
Clarisa akhirnya menyerah dan mendengus kesal.
“Udah tahu sahabat lo ini termasuk golongan jompo,” gerutunya sambil melipat tangan di d**a. “Eh lo malah jalan kayak lagi dikejar deadline.”
Bella langsung tertawa keras mendengar itu.
“Jompo apanya? Umur kita sama.”
“Iya, tapi jiwa gue udah tua.”
“Alasan.”
“Bukan alasan. Ini kenyataan hidup.”
Keduanya akhirnya tertawa bersama.
Untuk sesaat, semua kegugupan dan rasa malu yang sebelumnya memenuhi pikiran Bella menghilang begitu saja.
Inilah Clarisa yang ia kenal.
Berisik.
Drama.
Tidak tahu malu.
Tapi selalu berhasil membuat suasana menjadi lebih ringan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju gedung perkuliahan sambil berjalan berdampingan.
Seperti biasa, percakapan mereka perlahan berubah menggunakan bahasa Indonesia.
“Eh nanti abis kelas kita makan apa?” tanya Clarisa.
Bella berpikir sejenak.
“Gue pengen bakso.”
“Masa sih?”
“Iya.”
“Padahal kemarin juga bakso.”
“Emang kenapa?”
“Ya nggak kenapa-kenapa.”
“Berarti aman.”
“Aman dari mana?”
Bella tertawa.
“Pokoknya aman.”
Clarisa menggeleng pasrah.
“Lo emang nggak bisa diselamatkan.”
“Bilang aja lo juga mau.”
“Ya... sedikit.”
“Nah kan.”
Mereka terus mengobrol tanpa menyadari beberapa mahasiswa yang berjalan di belakang mereka memperhatikan dengan bingung.
“Apa yang mereka omongin?” bisik salah seorang mahasiswa.
“Tidak tahu.”
“Bahasanya lucu.”
“Kayaknya bahasa Indonesia.”
“Serius?”
“Kayaknya.”
Mahasiswa lain mengangguk.
“Mereka kelihatan seru kalau ngobrol.”
“Sayangnya kita nggak ngerti apa yang mereka bilang.”
Di depan, Bella dan Clarisa sama sekali tidak menyadari percakapan itu.
Mereka terus berjalan sambil tertawa, saling mengejek, dan bercanda seperti biasanya.
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . . . .