Begitu sampai di depan aula besar tempat seminar akan berlangsung, Bella dan Clarisa langsung disambut pemandangan mahasiswa yang sudah memenuhi hampir seluruh ruangan. Suara riuh percakapan terdengar di mana-mana, sebagian sibuk mencari tempat duduk, sebagian lagi sibuk berfoto di depan panggung yang dihiasi tulisan besar bertuliskan “Business Leadership and Innovation by Gabriel Knight.”
“Cepetan, Belle!” seru Clarisa sambil menunduk, menembus kerumunan mahasiswa yang berdesakan. “Kalau kita lambat dikit aja, kursi depan pasti udah diambil sama anak jurusan ekonomi!”
Bella berusaha mengikuti langkah cepat sahabatnya, meski masih agak kikuk setelah insiden di koridor tadi. “Cla, lo nggak capek apa? Dari tadi lari mulu. Gue udah ngos-ngosan, sumpah,” keluhnya sambil tertawa kecil.
Clarisa menoleh cepat, wajahnya penuh tekad. “Nggak ada kata capek demi view terbaik, sayang. Lo pikir gue mau duduk di belakang cuma bisa liat punggung orang?”
Mereka berdua akhirnya berhasil menemukan dua kursi kosong di deretan paling depan—tepat di tengah, dengan jarak hanya beberapa meter dari panggung. Clarisa langsung meluncur duduk seolah baru memenangkan lotre, sementara Bella hanya bisa menggeleng tak percaya.
“YES!” seru Clarisa pelan tapi penuh kemenangan, menepuk kursi di sebelahnya. “Akhirnya kita duduk di depan juga! Lo liat, Belle, ini tempat strategis banget! Kalau Pak Gabriel ngomong, lo bisa ngitung berapa helai bulu matanya!”
Bella terkekeh kecil, meletakkan tasnya di pangkuan. “Tolong banget deh, Cla, jangan lebay. Kita ke sini buat belajar, bukan buat observasi bulu mata orang.”
Clarisa menoleh dengan wajah sok serius. “Gue serius! Orang kayak dia tuh langka, Belle. Pebisnis muda, sukses, ganteng, dan misterius. Semua paket lengkap. Lo tahu nggak, katanya dia baru tiga puluh dua tapi udah punya perusahaan internasional. Tiga puluh dua!”
Bella menatap ke arah panggung yang masih kosong. “Iya, iya, gue tahu. Tapi tetap aja… dia dosen tamu. Lo tuh harusnya fokus ke materinya.”
Clarisa menatapnya tajam. “Lo ngomong gitu karena lo malu, kan? Setelah kejadian di koridor tadi?” godanya dengan nada nakal.
“Clarisa!” desis Bella cepat, menunduk malu. “Udah deh, jangan diomongin lagi, please. Gue pengin pura-pura itu nggak pernah terjadi.”
Clarisa terkekeh pelan, menutup mulutnya supaya tidak terlalu mencolok. “Terserah lo, tapi gue yakin banget dia masih inget muka lo. Tatapan dia tadi tuh beda, Belle. Lo bikin dia penasaran.”
Bella hanya mendengus pelan, berpura-pura sibuk membuka catatan. Tapi jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak tahu kenapa ucapan Clarisa tadi seperti membangkitkan rasa aneh di dadanya, antara malu, deg-degan, dan sedikit… penasaran.
Tak lama kemudian, suasana aula mulai tenang. Lampu-lampu perlahan diredupkan, dan seorang MC naik ke atas panggung. Suaranya menggema melalui mikrofon.
“Selamat pagi, semuanya. Terima kasih sudah hadir dalam seminar Business Leadership and Innovation. Sebentar lagi, kita akan kedatangan pembicara tamu spesial kita... Mr. Gabriel Knight.”
Tepuk tangan riuh langsung memenuhi aula. Clarisa bahkan ikut bersorak kecil sambil menepuk tangan Bella. “Tuh kan! Gue udah nggak sabar liat langsung!”
Bella tersenyum kecil, tapi matanya justru terarah ke pintu samping panggung yang baru saja terbuka. Dari sana, muncul sosok pria berjas hitam yang berjalan dengan tenang, langkahnya mantap dan penuh wibawa.
Gabriel Knight.
Dan saat mata mereka bertemu, meski hanya sepersekian detik, Bella bisa merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah waktu berhenti di antara riuhnya tepuk tangan dan sorak sorai penonton.
Clarisa menepuk bahunya pelan, berbisik dengan nada menggoda, “Gue nggak salah, kan? Tatapan itu balik lagi ke lo, Belle.”
Bella terdiam di tempatnya. Jemarinya yang memegang pulpen bergetar halus di atas buku catatan, seolah tak mampu menulis satu kata pun. Ia berusaha menenangkan diri, memaksa pandangannya tetap ke arah layar proyektor yang menampilkan slide presentasi, bukan pada sosok pria yang kini berdiri dengan penuh kharisma di atas panggung.
Namun, jantungnya tak mau diajak kompromi. Setiap kali suara berat dan tenang itu terdengar dari mikrofon, detak jantungnya seolah menyesuaikan irama suaranya, dalam, mantap, dan bergetar di d**a.
Gabriel berdiri dengan postur sempurna, mengenakan setelan jas hitam pekat dan kemeja putih bersih. Gerak tangannya saat menjelaskan begitu berwibawa, dan tatapan matanya yang tajam seolah mampu menembus siapa pun yang ia lihat.
“Bisnis bukan hanya tentang angka,” ucapnya tenang, suaranya mengisi seluruh ruangan. “Tapi tentang keputusan yang diambil di antara tekanan dan waktu. Kalau kau tak bisa mengendalikan dirimu, jangan harap bisa mengendalikan sebuah perusahaan.”
Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju padanya. Tapi entah kenapa, setiap beberapa menit, pandangan Gabriel kembali mengarah ke satu titik di barisan depan, tepat di mana Bella duduk.
Awalnya, Bella mencoba berpikir positif. Mungkin ia hanya kebetulan melihat ke arahnya. Tapi semakin lama, semakin jelas. Tatapan itu terlalu sering, terlalu intens.
Bahkan beberapa mahasiswa di sekitar Bella mulai saling berbisik.
“Eh, lo sadar nggak, Pak Gabriel dari tadi sering banget liat ke arah sini?” bisik seorang mahasiswi di belakang mereka.
“Iya, gue juga liat. Kayaknya ngeliatin Bella deh,” timpal yang lain dengan nada menggoda.
Clarisa yang duduk di sebelah Bella menahan senyum, mencondongkan tubuhnya sambil berbisik pelan.
“Belle, jangan pura-pura nggak tahu. Dia tuh ngeliatin lo lagi.”
Bella langsung melotot kecil tanpa menoleh. “Ssst, Cla! Fokus, jangan bikin malu,” bisiknya cepat. Tapi wajahnya sudah memerah sampai telinganya.
Clarisa malah terkekeh kecil. “Gue fokus kok. Fokus liatin gimana Pak Gabriel fokusnya ke lo.”
Bella hanya bisa menunduk, berpura-pura sibuk menulis catatan yang entah apa isinya.
Waktu berjalan cepat, dan setelah sekitar satu jam materi berakhir, Gabriel akhirnya meletakkan mikrofon di atas podium. “Baik, mungkin sampai di sini materi dari saya. Sekarang saya ingin dengar pandangan kalian. Silakan, siapa yang mau bertanya?”
Belum juga kalimatnya selesai, lusinan tangan langsung terangkat tinggi-tinggi, terutama dari mahasiswi perempuan yang terlihat sangat antusias.
Clarisa langsung mengangkat tangannya setinggi mungkin sambil berseru kecil, “Saya, Pak! Saya mau bertanya!”
Bella menepuk dahinya pelan. “Cla, bisa nggak lo sedikit elegan dikit?” gumamnya pelan.
Gabriel tersenyum kecil, menunjuk ke arah Clarisa. “Silakan, yang di depan sana.”
Clarisa berdiri dengan penuh percaya diri. “Terima kasih, Pak. Nama saya Clarisa, jurusan bisnis internasional. Saya ingin bertanya.. dari semua keputusan besar yang pernah Bapak ambil, apa ada yang Bapak sesali?”
Gabriel menatap Clarisa dengan ekspresi tenang, tapi matanya sekilas melirik ke arah Bella sebelum menjawab.
“Dalam bisnis, semua keputusan berisiko. Tapi saya percaya… menyesal itu hanya datang kalau kita berhenti belajar dari kesalahan.”
Ruangan hening beberapa detik sebelum terdengar tepuk tangan kagum dari mahasiswa lain. Clarisa pun duduk dengan wajah puas.
“Gue nanya keren banget, kan?” bisiknya ke Bella sambil menyikut pelan.
“Hmm, keren sih, tapi kenapa dia jawab sambil liat gue?” bisik Bella tak sadar, membuat Clarisa langsung nyengir lebar.
Tak berhenti sampai di situ, suasana aula yang awalnya formal perlahan berubah menjadi jauh lebih santai. Kesempatan langka untuk berbicara langsung dengan Gabriel Knight membuat banyak mahasiswa mulai melupakan topik seminar dan beralih pada rasa penasaran mereka terhadap sosok pria muda yang selama ini hanya mereka lihat di berita, majalah bisnis, atau media sosial.
Seorang mahasiswi di barisan tengah mengangkat tangan dengan semangat.
“Pak Gabriel, boleh tahu rahasianya bisa tetap fokus membangun perusahaan sebesar itu di usia yang masih muda?”
Beberapa mahasiswa langsung mengangguk setuju. Mereka juga penasaran dengan hal yang sama.
Gabriel mengambil mikrofon, lalu menjawab dengan tenang.
“Tidak ada rahasia khusus. Saya hanya memahami apa yang menjadi prioritas saya dan berusaha tidak membuang waktu untuk hal yang tidak penting.”
Jawabannya sederhana, tetapi justru membuat banyak orang mencatatnya.
Tak lama kemudian, mahasiswi lain ikut berdiri.
“Kalau begitu, Pak, bagaimana caranya tetap terlihat segar dan tenang meskipun jadwal kerja Bapak pasti sangat padat?”
Pertanyaan itu membuat beberapa orang tertawa kecil.
Gabriel tersenyum tipis.
“Saya tidak yakin terlihat segar,” jawabnya santai.
Sontak seluruh aula tertawa.
“Tapi saya berusaha menjaga kesehatan, tidur cukup jika memungkinkan, dan menghindari stres yang tidak perlu.”
“Kalau stres karena pekerjaan?” tanya seseorang dari belakang.
Gabriel mengangkat bahu ringan.
“Kalau itu tidak bisa dihindari.”
Tawa kembali memenuhi aula.
Bella yang duduk di kursinya hanya bisa memperhatikan dari jauh. Ia tidak menyangka pria yang biasanya terlihat dingin dan sulit didekati itu ternyata mampu membuat satu ruangan penuh orang merasa nyaman hanya dengan beberapa kalimat.
Di sampingnya, Clarisa terlihat semakin antusias.
“Astaga,” bisiknya sambil memegangi lengan Bella. “Dia bahkan keren saat menjawab pertanyaan biasa.”
Bella hanya menggeleng pelan.
“Lebay.”
“Aku serius!”
Namun sebelum mereka sempat melanjutkan perdebatan kecil itu, seorang mahasiswi yang sejak tadi tampak ragu-ragu akhirnya berdiri.
Wajahnya memerah saat memegang mikrofon.
“Pak... maaf kalau pertanyaannya agak pribadi.”
Seluruh aula langsung hening.
Gabriel mengangguk sopan.
“Silakan.”
Mahasiswi itu menarik napas dalam.
“Kalau boleh tahu... Bapak sudah punya pasangan belum?”
Seketika aula meledak.
Beberapa mahasiswa laki-laki langsung bersiul.
Sebagian mahasiswi menutup wajah mereka sambil tertawa malu.
Bahkan dosen yang duduk di barisan depan terlihat tersenyum geli melihat keberanian pertanyaan itu.
Bella yang mendengar pertanyaan tersebut langsung membeku.
Sementara Clarisa tampak hampir melompat dari kursinya.
“Akhirnya ada yang nanya juga!” bisiknya bersemangat.
Di atas panggung, Gabriel tidak langsung menjawab.
Ia hanya memegang mikrofon sambil menatap ke arah hadirin.
Keheningan perlahan memenuhi ruangan.
Semua orang menunggu.
Benar-benar menunggu.
Gabriel kemudian tersenyum tipis. Senyum kecil yang membuat banyak mahasiswi langsung menahan napas.
“Pasangan?” ulangnya pelan.
Beberapa orang langsung mengangguk penuh harap.
Gabriel tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.
“Sepertinya...” katanya perlahan.
Suasana aula semakin sunyi.
“Belum menemukan orang yang tepat.”
Begitu jawaban itu keluar, aula langsung kembali riuh.
“AWWW!”
“Masih single berarti!”
“Kesempatan masih ada!”
“Gila, gue jadi semangat hidup lagi!”
Tawa dan sorakan terdengar dari berbagai arah.
Clarisa sampai memegangi kepala sendiri karena terlalu bersemangat.
Namun di tengah keramaian itu, Gabriel tampak tidak memperhatikan siapa pun.
Tatapannya bergerak perlahan menyusuri aula.
Dan entah kebetulan atau tidak...
Pandangan itu berhenti tepat pada Bella.
Bella yang sejak tadi berusaha tidak menatap ke arah panggung langsung menundukkan kepalanya.
Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya gugup.
Yang ia tahu, tatapan itu terasa terlalu lama.
Terlalu jelas.
Dan terlalu sulit untuk diabaikan.
Di sampingnya, Clarisa langsung menatap Bella dengan mata membulat.
“Belle...” bisiknya pelan namun penuh tekanan.
Bella tidak menjawab.
“Belle, jangan bilang aku halusinasi.”
Bella masih diam.
Clarisa mencubit pelan lengannya.
“Dia lihat ke arah lo!”
“Clarisa...” Bella mengerang malu.
“Aku serius!”
“Jangan aneh-aneh.”
“Bukan aku yang aneh! Dia yang aneh!”
Bella langsung memejamkan mata sejenak.
Pipinya terasa panas.
Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya kebetulan.
Hanya kebetulan.
Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Dan perasaan itulah yang justru membuatnya semakin gugup sepanjang acara berlangsung.
.
.
Bersambung . . . . . . . . .