Pagi itu, sinar matahari menembus tirai putih di kamar Arabella, menciptakan bias cahaya hangat yang menari di dinding apartemennya. Gadis berusia 21 tahun itu baru saja selesai mandi, rambut panjang bergelombangnya masih sedikit basah, meneteskan air ke bahu jenjangnya. Ia duduk di depan meja rias dengan piyama satin berwarna lembut, menyapukan kuas bedak ke pipinya sambil bersenandung pelan.
Rutinitas pagi seperti ini sudah menjadi kebiasaannya sejak ia tinggal sendiri di Amerika. Orang tuanya dan sang adik masih berada di Indonesia, sementara Arabella, atau yang sering di panggil Bella, begitu teman-temannya memanggilnya, memilih tinggal di apartemen mungil tak jauh dari kampus. Meski jauh dari keluarga, ia sudah cukup mandiri. Dinding apartemennya dipenuhi foto keluarga dan potret dirinya bersama Clarisa, sahabat yang paling dekat dengannya sejak tahun pertama kuliah.
Cermin di hadapannya memantulkan sosok yang memukau, kulitnya bening, bola matanya cokelat terang seperti madu, dan garis wajahnya menunjukkan campuran manis antara darah Indonesia dan Inggris. Setelah selesai merapikan alisnya, ia menatap pantulan dirinya dan tersenyum kecil.
“Lumayan, nggak kelihatan kayak belum tidur semalaman,” gumamnya sambil tertawa kecil.
Baru saja ia hendak mengambil lip gloss, ponselnya yang tergeletak di meja rias bergetar keras. Nada dering khasnya berbunyi, lagu pop Indonesia yang sering ia dengarkan untuk mengobati rindu kampung halaman. Di layar muncul nama Clarisa.
Bella segera menjawab panggilan itu sambil memegang ponsel di pundaknya.
“Halo, Cla…” sapanya lembut sambil terus mengoleskan lip gloss di bibirnya.
“Belle! Jangan bilang lo baru bangun ya!” suara Clarisa terdengar nyaring di seberang, membuat Bella terkekeh.
“Enggak kok, gue udah siap setengah jalan. Lagi dandan, nih,” jawab Bella sambil tersenyum, menatap pantulan dirinya lagi. “Ada apa sih, pagi-pagi udah heboh banget?”
Clarisa terdengar bersemangat. “Lo lupa ya hari ini ada seminar yang diisi sama Pak Gabriel? Denger-denger dia bukan cuma pebisnis, tapi juga super ganteng! Gue pokoknya mau duduk paling depan!”
Bella menghela napas sambil menaruh kuas di meja. “Oh Tuhan, Clarisa... setiap kali ada cowok ganteng datang ke kampus, lo selalu paling semangat. Ini seminar bisnis, bukan kontes cari jodoh.”
“Tetep aja, siapa tahu jodoh gue emang muncul di seminar bisnis, kan?” balas Clarisa cepat, membuat Bella tak bisa menahan tawa.
“Ya udah, gue nyusul. Tapi jangan rebutan kursi depan kayak waktu itu lagi, Cla. Gue masih trauma diliatin satu kelas gara-gara lo dorong-dorongan sama anak jurusan hukum.”
“Please, itu kan dulu!” protes Clarisa sambil tertawa lepas. “Pokoknya cepetan ya, Belle. Gue udah otw. Jangan bikin gue duduk sendirian di depan.”
“Siap, nona pemburu pebisnis tampan,” ucap Bella sambil tertawa kecil sebelum menutup panggilan.
Begitu panggilan berakhir, Bella menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. Ia menatap pantulan dirinya di cermin untuk terakhir kalinya. Bibir mungilnya tampak berkilau lembut oleh lip gloss, rambut panjangnya tergerai rapi di bahu, dan aroma parfum melati yang khas mulai memenuhi ruangan.
“Oke, Bella,” ucapnya pada diri sendiri dengan nada percaya diri. Ia tersenyum miring. “Lo udah cantik. Seperti biasa.”
Dengan langkah ringan, ia mengambil tas selempang cokelat muda yang tergantung di kursi, lalu mematikan lampu kamar. Suara pintu apartemennya menutup pelan, diikuti langkahnya yang bergema di koridor menuju lift.
Sesampainya di lantai bawah, Bella sempat melirik jam tangannya.
“Wah, kalau naik bus bisa telat nih…” gumamnya cemas. Tanpa pikir panjang, ia langsung melambaikan tangan memanggil taksi yang kebetulan melintas di depan gedung.
“Ke kampus Harvard Avenue, ya,” katanya sopan begitu duduk di kursi belakang.
Sopir taksi itu mengangguk dan melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Bella menatap keluar jendela, menikmati pemandangan kota yang mulai ramai oleh mahasiswa dan pekerja. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan hari yang akan sibuk dan mungkin sedikit membosankan, seperti biasanya.
Namun, pikirannya buyar begitu mendengar sopir berkata, “Sudah sampai, Miss.”
“Oh, terima kasih, Pak,” ujarnya cepat sambil merogoh dompet dan membayar. Ia turun, membenarkan tali tasnya, lalu menghela napas lega saat melihat gerbang kampus yang megah di hadapannya.
Belum sempat ia melangkah jauh, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pergelangannya.
“Belle! Ayo cepat! Aula tempat seminarnya udah hampir penuh!” suara itu terdengar panik tapi ceria, dan Bella tak perlu menebak siapa pemiliknya.
“Clarisa?!” Bella nyaris kehilangan keseimbangan ketika sahabatnya itu menariknya begitu saja. “Eh—Cla! Pelan-pelan! Gue baru turun, nih!”
Namun Clarisa sama sekali tidak mendengar. Ia terus berlari kecil, menarik tangan Bella melewati halaman kampus yang ramai.
“Lo nggak ngerti! Idola gue udah sampai, dan gue nggak mau ketinggalan kursi barisan pertama!” teriak Clarisa tanpa menoleh.
Bella berusaha mengimbangi langkahnya, tapi tumit sepatunya beberapa kali hampir terpeleset di atas jalanan licin karena embun pagi.
“Clarisa, sumpah… gue bukan atlet!” protesnya di sela napas.
Namun baru saja mereka hendak berbelok menuju koridor aula, tiba-tiba...
brak!
Bella menabrak sesuatu. Atau lebih tepatnya, seseorang.
Tubuhnya membentur d**a bidang yang keras, membuat pegangan Clarisa pada tangannya terlepas. Refleks, Bella spontan memeluk orang itu agar tidak jatuh.
“Oh my God!” desisnya dengan mata terpejam, tangannya mencengkeram erat jas pria itu. Ia bisa merasakan aroma maskulin yang tajam dan hangat menyeruak dari kemeja hitam yang mahal.
Sementara itu, pria yang dipeluknya hanya diam. Matanya menatap gadis di pelukannya dengan tajam, ada kejutan, tapi juga sesuatu yang lain di sana.
Beberapa detik berlalu sebelum Bella sadar akan posisi mereka. Ia perlahan membuka matanya, dan seketika jantungnya berhenti berdetak sesaat. Tatapan itu, mata abu-abu dingin yang menembus seakan bisa membaca isi hatinya.
“Oh, maaf, saya—” ucap Bella gugup, buru-buru menjauh. Tapi suaranya tercekat ketika pria itu menahan lengannya pelan, mencegahnya pergi begitu saja.
Suara berat dan rendah itu kemudian terdengar, begitu dekat hingga membuat Bella menelan ludah.
“Kamu baik-baik saja?”
Bella hanya bisa mengangguk cepat, masih belum berani menatap langsung. Pipinya memanas, detak jantungnya tak karuan.
Dari kejauhan, Clarisa sudah menatap dengan mulut menganga, matanya membulat seolah hendak copot dari tempatnya.
“Astaga, Belle! Lo baru aja nabrak... Pak Gabriel!” serunya dengan nada campuran antara kagum dan panik.
Bella langsung menoleh cepat, wajahnya pucat.
“Ap—apa?!” serunya tak percaya.
Sementara itu, pria di hadapannya, dengan postur tinggi, rahang tegas, dan sorot mata yang dalam hanya menaikkan sebelah alis. Senyum tipis yang entah bermakna muncul di sudut bibirnya.
“Pak Gabriel…?” gumam Bella lirih, wajahnya mulai memanas, pipinya berubah merah seperti kepiting rebus.
Gabriel menatapnya dengan pandangan tajam namun tenang, ekspresinya sulit ditebak.
“Jadi… kamu mahasiswa di sini?” tanyanya pelan, nada suaranya dalam dan berwibawa, tapi ada sedikit nada penasaran di sana.
“I—Iya, Pak,” jawab Bella gugup, tangannya refleks meremas tali tasnya sendiri. Ia tidak berani menatap langsung ke mata pria itu karena rasanya terlalu intens, terlalu… menekan.
Gabriel hanya mengangguk kecil, tapi matanya masih menatapnya lama, seolah ingin mengingat setiap detail dari wajahnya.
“Kalau begitu… sampai bertemu di seminar nanti,” ucapnya tenang, sebelum berbalik dan berjalan pergi bersama sekretaris pribadinya yang sedari tadi berdiri tak jauh di belakang.
Aroma parfum mahal milik Gabriel masih tertinggal di udara, sementara Bella berdiri mematung, jantungnya berdegup kencang tak karuan.
Clarisa yang sedari tadi menahan napas akhirnya bersuara setelah memastikan punggung Gabriel benar-benar menghilang di balik tembok aula.
Ia menatap sahabatnya dengan ekspresi tak percaya, matanya nyaris berkilat.
“Belle…” ujarnya pelan tapi dramatis. “Barusan gue nggak salah lihat, kan? Sahabat gue baru aja meluk Pak Gabriel, pebisnis muda paling berpengaruh yang katanya nggak pernah dekat sama siapa pun?!”
Bella menelan ludah, wajahnya makin panas.
“Itu bukan sengaja, Cla! Gue kepleset! Gue cuma… refleks!” katanya membela diri, tapi suaranya bergetar.
Clarisa langsung mendekat, memegang bahu Bella dengan tatapan berbinar penuh gosip.
“Refleks? Lo tahu nggak, tadi dia balik nanya lo siapa! Dan lo liat nggak gimana dia mandang lo, Belle? Tatapannya tuh bukan tatapan biasa! Itu tatapan pria yang… tertarik!”
“Clarisa!” seru Bella, nyaris menutup mulut sahabatnya. “Jangan ngomong sembarangan, ih. Dia dosen tamu, dan—”
“Dan lo baru aja jadi mahasiswi pertama yang berhasil bikin dia noleh dua kali,” potong Clarisa cepat, terkekeh kecil. “Lo sadar nggak sih, semua mata di sekitar kita tadi ngeliatin kayak habis nonton drama Korea live!”
Bella menunduk, mencoba menenangkan debaran di dadanya. Tapi semakin ia berusaha melupakan kejadian barusan, semakin jelas bayangan wajah Gabriel di pikirannya. Tatapan dingin itu… terasa anehnya justru hangat dan berbahaya di saat bersamaan.
Clarisa menepuk lengannya pelan.
“Ayo deh, sebelum kursi depan diambil orang. Tapi sumpah, Belle, kalau nanti dia nyariin lo pas seminar… gue nggak bakal kaget.”
Bella mendengus, mencoba menahan senyum kecil di bibirnya.
“Lo tuh kebanyakan drama, Cla.”
“Terserah,” jawab Clarisa sambil berjalan lebih dulu. “Tapi ingat kata gue, Belle—ini awal dari sesuatu.”
Bella hanya menggeleng, tapi langkahnya terasa berbeda. Entah kenapa, dadanya berdebar aneh. Ia mencoba menepis pikiran itu, padahal jauh di dalam hati kecilnya… ia tahu Clarisa mungkin saja benar.
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . .