Pagi itu, Alinea mengenakan pakaian terbaik yang masih tersisa di dalam lemarinya. Sebuah celana kulot hitam longgar dan selembar blus sederhana berwarna cokelat bumi yang pas melekat di tubuh kurusnya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai bebas hingga menyentuh punggung.
Ia hanya memulas bedak tipis dan sedikit liptint kemerahan agar parasnya tidak terlihat terlalu pucat layaknya mayat hidup. Namun, meski dalam kesederhanaan yang kentara, paras ayu Alinea tetap sulit disembunyikan.
Hidungnya mancung, kulitnya cerah, dan bibir tipisnya sejak dulu selalu memikat siapapun yang melihat. Jika bukan karena lingkar hitam keunguan yang menggelayut di bawah matanya, orang mungkin tidak akan pernah menyangka betapa berantakan dan hancurnya hidup wanita itu saat ini.
"Buruan, Alin!" Suara cempreng Puspita menggelegar dari halaman depan rumah. "Dokternya praktik jam sembilan, lho!"
“Iya, Ma..” Alinea melangkah keluar.
Sebelum menaiki taksi, matanya sempat beberapa kali menoleh ke arah pintu gerbang, berharap sosok Adam tiba-tiba muncul di sana. Namun, pria itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Mas Adam nggak berangkat bareng kita, Ma?" tanya Alinea lirih.
Puspita mendecak jengkel sembari sibuk merapikan tasnya. "Kerja."
"Tapi kemarin Mama bilang—"
"Nanti dia menyusul langsung ke rumah sakit!" potong Puspita ketus.
Jawaban singkat itu, anehnya, kembali memercikkan secercah harapan di dalam d**a Alinea yang sempat mati.
Menyusul.
Itu berarti Adam akan benar-benar datang menemuinya hari ini, kan? Mungkinkah ini kesempatan bagi mereka untuk bicara?
Rumah sakit umum daerah pagi itu tampak cukup padat. Puspita berjalan ke bagian administrasi untuk mengurus pendaftaran, sementara Alinea diminta langsung mengantre di depan ruang spesialis kandungan. Tak lama kemudian, namanya dipanggil masuk.
Di dalam ruangan beraroma antiseptik itu, seorang dokter perempuan berusia sekitar awal empat puluh tahunan menyambut mereka dengan senyuman ramah yang menenangkan.
"Sudah berapa lama usia pernikahannya, Bu Alinea?" tanya dokter kandungan itu sembari memeriksa berkas awal.
"Hampir jalan lima tahun, Dok," jawab Alinea, jemarinya bertautan cemas di pangkuan.
Dokter itu mengangguk mengerti.
Ia mulai melayangkan rentetan pertanyaan medis standar, mulai dari siklus haid, fluktuasi berat badan, pola makan harian, hingga riwayat kesehatan keluarga. Setelah itu, Alinea diminta berbaring di atas brankar untuk melakukan pemeriksaan USG transvaginal.
Selama proses pemeriksaan berlangsung, dokter tersebut menatap layar monitor dengan dahi berkerut cukup lama. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah tegang. Jantung Alinea mulai berdegup tak beraturan.
"Ada apa ya, Dok? Apakah rahim saya..." Alinea tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Dokter itu melepas sarung tangan medisnya dengan perlahan, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya. "Rahimnya bersih, hanya saja memang sel telurnya kecil-kecil."
Puspita yang duduk di samping Alinea langsung menyela dengan suara lantang tanpa etika. "Dokter, Jujur juga apa-apa, lho. Menantu saya ini mandul, kan?"
Pertanyaan kasar itu membuat Alinea seketika menundukkan kepala dalam-dalam, menahan air mata yang mendadak mendesak keluar.
Dokter kandungan itu mengernyitkan dahi, menatap Puspita dengan pandangan tidak suka. "Ibu, di dalam dunia medis, kita tidak bisa secara sembarangan menyebut seseorang mandul hanya dari pemeriksaan awal. Sel telur kecil itu juga bukan berarti mandul."
"Tapi berarti juga bisa mandul kan artinya, Dok? mereka sudah lima tahun menikah dan nggak punya anak, Dok! Anak saya normal-normal saja," cecar Puspita lagi, defensif.
"Itu tetap belum cukup untuk menarik kesimpulan medis, Bu," potong dokter itu dengan nada yang mulai menegas. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada dokumen di meja. "Sel telur kecil ini menandakan kemungkinan terjadi gangguan hormonal pada Bu Alinea."
Jantung Alinea berdesir hebat. "A–apa ada pemeriksaan lagi yang harus saya jalani, Dok? Untuk tahu diagnosis lanjutannya."
"Kita perlu melakukan pemeriksaan laboratorium juga," dokter itu mulai menuliskan sebaris resep dan rujukan di atas kertas. "Kita perlu memeriksa kadar AMH, profil hormon lengkap, kadar gula darah, dan beberapa indikator lain."
"Apalagi itu, Dok. Saya rasa itu gak perlu deh, Dok, Udah ketahuan ini." Puspita menyela lagi dengan nada meremehkan.
"Terkadang, kondisi seperti PCOS bisa membuat proses pematangan sel telur terganggu, sehingga s****a sulit membuahi, Bu. Sehingga kita perlu melihat garis besarnya untuk tahu secara lengkapnya dan penanganan yang tepat," jelas dokter sabar.
Puspita langsung mendengus puas, senyum kemenangan terukir di wajah keriputnya. "Intinya kan rahimnya memang bermasalah, Dok. Dia yang gak bisa dibuahi. Berarti mandul kan?"
Dokter itu seketika menghentikan aktivitas menulisnya. Ia menoleh, menatap Puspita dengan sorot mata yang teramat tegas dan dingin. "Ibu. Tolong dengarkan saya, ya. PCOS itu tidak sama dengan mandul. Banyak sekali pasien saya yang mengidap PCOS namun tetap berhasil hamil dan melahirkan anak yang sehat.Ini kan juga baru dugaan awal, Bu."
Puspita seketika terbungkam, wajahnya berubah masam.
Dokter itu kemudian beralih menatap Alinea dengan sorot mata yang jauh lebih lembut, seolah menyalurkan kekuatan. "Dan jika memang nantinya terbukti ada gangguan hormonal, penyebabnya itu ada banyak faktor, Bu. Seperti tingkat stres yang terlampau tinggi dan tekanan psikologis yang konstan juga bisa menjadi pemicu utama hormon Anda tidak stabil. Jadi, Bu. Di buat happy ya menantunya, supaya sel telurnya juga bagus. Jangan terlalu di tekan. Hamil kan hak prerogatif Tuhan."
Kalimat dari dokter itu membuat ruang praktik mendadak disergap keheningan. Alinea menunduk karena entah mengapa ada rasa hangat di hatinya, rasa tenang yang baru menyapanya. Sementara Puspita menunjukkan ketidaksukaannya secara langsung.
Dokter itu menghela napas pendek melihat raut wajah Puspita. "Bagitu kira-kira ya, Ibu-ibu. saya tidak ingin menyalahkan pihak mana pun sebelum seluruh rangkaian pemeriksaan lengkap dilakukan secara menyeluruh." Ia menyerahkan lembar pengantar laboratorium kepada Alinea. "Silakan bawa kertas ini ke lantai dua untuk proses pengambilan sampel darah."
"Terima kasih banyak, Dok," bisik Alinea dengan rasa syukur yang mendalam atas pembelaan tersirat itu.
Mereka keluar dari ruang pemeriksaan. Koridor rumah sakit siang itu tampak semakin ramai dan hiruk-pikuk. Pasien lalu-lalang, perawat mendorong kursi roda dengan tergesa, dan puluhan pasang mata menunggu jenuh di bangku antrean.
"Ayo cepat ke laboratorium, biar tidak makin antre," titah Puspita, berjalan bergegas memimpin di depan tanpa memedulikan langkah Alinea yang lambat.
Alinea mengekor di belakang dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh gema ucapan dokter tadi. Stres. Gangguan hormon. Tekanan psikologis. Semua istilah itu terasa begitu melelahkan untuk dicerna oleh otaknya yang sudah telanjur jenuh.
Sampai pada satu titik di ujung koridor lantai dua, langkah kaki Alinea mendadak berhenti total.
Tubuhnya seketika membeku. Pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis dalam satu hentakan fana.
Tepat di depan ruang tunggu laboratorium, tidak jauh dari bilik pengambilan darah, ia menangkap sosok seorang pria yang sangat ia kenal. Postur tubuh itu, jaket itu…
Adam. Suaminya.
Jantung Alinea berdetak begitu keras hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya. Sudah hampir seminggu penuh Adam menghilang tanpa kabar, mengabaikan seluruh eksistensinya sebagai istri sah. Namun sekarang, pria itu justru berdiri tegak di sini, di rumah sakit yang sama.
Akan tetapi, hal yang membuat seluruh darah di dalam tubuh Alinea seketika mendesir dingin bukanlah fakta keberadaan Adam di sana. Melainkan, sosok wanita yang berdiri begitu dekat di samping suaminya.
Wanita itu terlihat jauh lebih muda dengan wajah polosnya, bajunya ketat memperlihatkan perutnya yang sedikit menonjol. Tentu saja baju pas di badan itu tidak mampu menyembunyikan gundukan perutnya yang tampak membuncit dengan jelas. Seolah-olah, ada sebuah kehidupan yang telah tumbuh di sana selama beberapa bulan.
Alinea merasa bumi yang dipijaknya runtuh seketika.
Di kejauhan sana, wanita hamil itu mendongak, melemparkan senyuman paling manis ke arah Adam sembari membisikkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga Alinea. Dan yang paling menghancurkan hati Alinea adalah respons Adam.
Pria itu melepaskan tawa kecil yang terdengar begitu renyah dan bahagia. Sebuah ekspresi tulus yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah lagi Adam tunjukkan saat berada di dalam rumah bersamanya.
Kemudian, dengan gerakan yang teramat perlahan, tangan kanan Adam terangkat. Telapak tangan pria itu mendarat di atas perut buncit sang wanita, mengusapnya dengan gerakan memutar yang penuh cinta. Seolah-olah, di sanalah tempat tangan Adam seharusnya berada setiap hari. Wajah Adam bahkan memancarkan binar kelembutan dan kebanggaan yang teramat sangat. Binar yang belum pernah Alinea rasakan sepanjang lima tahun pernikahan mereka.
Dunia Alinea kiamat detik itu juga. Seluruh sendi di kakinya mendadak mati rasa.
"Mas..." Suara Alinea lolos dari tenggorokan, namun terlalu parau hingga nyaris menyerupai desis angin.
Adam tentu tidak mendengar. Fokus dan dunianya saat ini sepenuhnya terkunci pada wanita di hadapannya. Terlebih saat wanita hamil itu dengan manja menggelayutkan jemarinya di lengan kokoh Adam, dan Adam membiarkannya dengan senang hati.
Dada Alinea terasa seperti diremas oleh tangan tak kasat mata hingga remuk berantakan.
Beberapa tahun terakhir ia bertahan hidup di bawah bayang-bayang hinaan karena tidak kunjung memberikan keturunan. Selama itu juga ia berpasrah diri dituduh sebagai wanita mandul. Seringnya ia menangis sendirian di keheningan malam, mempertanyakan di mana letak kesalahannya pada Tuhan.
Sementara di luar sana, suaminya justru tengah merajut bahagia, berdiri bersama wanita lain yang tengah mengandung.
Tangan yang biasa memukul dan mendorong Alinea itu, kini mendadak berubah menjadi tangan yang begitu lembut, menjaga perut wanita lain. Seolah itulah hal yang paling berharga di dunia ini.
Aku? Tuhan, aku yang mandul? Betulkah itu?
Air mata seketika merebak, menggenangi pelupuk mata Alinea. Ada yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata atas semua emosi yang ia rasakan saat ini.
"Adam?!"
Suara lengkingan Puspita yang tiba-tiba menggelegar dari arah samping seketika memecah keintiman pasangan di depan laboratorium tersebut.
Pria itu terperanjat, langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. Dan untuk pertama kalinya sejak hari-hari pelariannya, tatapan mata Adam berbenturan langsung dengan sepasang mata Alinea yang telah basah oleh air mata.
Wajah Adam seketika berubah drastis. Warna kulitnya menjadi pucat pasi dalam hitungan detik. Sorot matanya dipenuhi oleh rasa terkejut yang luar biasa, berbaur dengan kepanikan yang luar biasa.
Sedangkan Alinea? Ia hanya tetap berdiri bergeming di tempatnya layaknya patung bernyawa. Pandangannya perlahan turun, mengunci mati telapak tangan Adam yang masih saja bertumpu di atas perut buncit wanita hamil di sampingnya. Lalu, perlahan namun pasti, Alinea kembali mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.
Air matanya jatuh menetes satu per satu, membasahi blus cokelatnya.
“Tega kamu, Mas.”