"Siapa wanita ini, Mas?" Suara Alinea bergetar hebat, tertahan di ujung tenggorokan.
Ada kemarahan yang luar biasa besar di dalam dadanya. Ia ingin berteriak, ingin mengamuk, ingin mencakar wajah kedua orang di hadapannya dan menghancurkan apa saja.
Namun, sisa-sisa harga diri di tengah keramaian koridor rumah sakit membuat suaranya hanya keluar sebagai pekikan lirih yang sarat akan kepedihan. "Kenapa kamu di sini bersama dia?! Dia siapa, Mas?"
Adam tampak membeku. Sorot matanya bergerak gelisah, mendadak kehilangan lidah untuk bersuara.
Namun, sebelum pria itu sempat merangkai katanya, Puspita justru melangkah tegap melaluinya.
Wajah wanita tua itu seketika berubah cerah benderang, seolah-olah ia baru saja melihat malaikat penolong yang paling dicintainya di dunia.
"Sayang!" Puspita tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Menantu Mama yang cantik!"
Tanpa memedulikan keberadaan Alinea yang berdiri bak mayat hidup, Puspita langsung meraih kedua belah tangan wanita muda itu dengan kelembutan yang tidak pernah sekalipun ia tunjukkan pada Alinea selama lima tahun ini.
"Tasya, Nak," panggil Puspita, suaranya mendadak berubah begitu penuh kasih sayang. "Gimana kandunganmu? Cucunya Mama di dalam sini sehat, kan?"
Telapak tangan Puspita bergerak maju, mengusap pelan perut buncit di balik dress krem itu dengan binar mata mendamba.
Wanita bernama Tasya itu tersipu malu, menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang tampak begitu polos dan tak berdosa. "Alhamdulillah sehat, Tante... eh, Mama."
Seluruh tulang-tulang Alinea seolah melunak hingga ia tak bisa bertumpu.
Tasya. Jadi, wanita ini bernama Tasya.
Dadanya terasa seperti dihimpit ribuan ton plat besi. lalu ditekan kuat hingga hancur berantakan.
Anehnya, ia tidak langsung mengamuk. Atau mungkin belum. Rongga dadanya saat ini penuh sesak dengan rasa kecewa dan kehampaan yang begitu hebat hingga membuatnya sesak napas.
Lima tahun pernikahan. Lima tahun pengorbanan di dalam neraka yang mereka ciptakan. Dan semuanya ternyata berakhir dengan pemandangan sekeji ini.
"Apa maksudnya semua ini, Mas?" Air mata Alinea mulai mengalir semakin deras, menyusuri pipinya yang pucat. "Jelasin sama aku sekarang juga! Jangan diam saja!"
Alinea kemudian mengalihkan tatapan matanya yang memerah pada sang ibu mertua. "Dan apa maksud Mama manggil dia menantu?"
Puspita menoleh malas. Tidak ada sedikit pun gurat rasa bersalah atau ketakutan di wajah keriput itu. Ia justru memamerkan senyuman sinis yang teramat lebar.
"Ya memang dia menantuku," jawab Puspita santai, seolah sedang membicarakan cuaca siang ini. "Dia sudah dinikahi secara sah oleh Adam."
Kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir kejam Puspita benar-benar meruntuhkan sisa dunia Alinea hingga tak berbekas. "Tiga bulan yang lalu."
Alinea seperti kehilangan kemampuan memompa oksigen ke paru-parunya. "Tiga... bulan lalu?" Matanya membelalak sempurna. "Mas?!"
Ia menatap Adam dengan pandangan mengemis sebuah penjelasan. Namun, Adam hanya memalingkan wajah, bungkam seribu bahasa.
"Bagaimana caranya?!" Suara Alinea meninggi, mulai memburu berkejaran dengan napasnya yang sesak. "Bagaimana caranya kamu bisa menikahinya secara sah di mata hukum kalau aku sebagai istri pertamamu nggak pernah menandatangani surat izin poligami apa pun?! Kamu... kamu memalsukan tanda tanganku, Mas?!"
"Heh! Apa?!" Puspita langsung memotong dengan bentakan keras, melangkah maju membusungkan d**a. "Kamu mau melaporkan anakku atas tuduhan memalsukan dokumen? Mau lapor polisi, hah?" Wanita tua itu tertawa mengejek, meremehkan. "Punya duit kamu buat bayar pengacara dan ngurus perkara di pengadilan? Silakan saja kalau bisa!"
Betul, tidak bisa. Uang lima puluh juta raib. Harga dirinya juga ikut raib.
Apa Tuhan? Apa yang tersisa dari diriku? Tanya Alinea dalam hatinya. Alinea mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya kembali terarah pada sang suami.
"Mas... kamu tega sekali," bisik Alinea parau di antara isak tangisnya yang mulai pecah. "Aku nggak ikhlas, Mas. Sampai kapan pun aku nggak akan pernah ikhlas—"
Belum sempat Alinea menyelesaikan kalimatnya, cengkeraman kasar mendarat di pergelangan tangannya. Adam merenggut lengannya dengan paksa.
"Cukup! Jangan bikin malu di sini!" desis Adam tajam.
"Lepas! Lepas, Mas!"
Tanpa memedulikan rontaan Alinea, Adam menyeret tubuh kurus istrinya menjauh dari depan laboratorium, membawa wanita itu ke area koridor belakang yang lebih sepi karena beberapa pengunjung rumah sakit dan perawat sudah mulai menoleh memperhatikan drama mereka.
"Lepas, Mas!" Alinea menyentak tangannya dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga cengkeraman Adam terlepas. "Jangan pernah sentuh aku lagi dengan tangan kotormu itu!"
Adam mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat, lalu memijat pangkal hidungnya. Ekspresinya tampak begitu jengah dan lelah, seolah-olah Alinea adalah bocah keras kepala yang sedang merengek meminta hal yang tidak penting.
"Sekarang jawab aku!" Alinea menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan pandangan menghunus. "Apa alasan yang kamu berikan ke pengadilan sampai kamu bisa mengesahkan pernikahan kedua ini?!"
Adam menatap Alinea datar. Dingin. Tanpa ada sedikit pun kehangatan yang tersisa untuk wanita yang telah menemaninya dari nol itu.
"Karena kamu tidak bisa melahirkan keturunan untukku, itu syarat yang sudah terpenuhi untuk bisa aku menikah lagi," jawab Adam dingin.
Kalimat itu menghantam tepat di ulu hati Alinea, membuatnya terhuyung selangkah ke belakang.
"Mas—"
"Itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan logis," potong Adam cepat, suaranya sedingin es. "Tasya sedang mengandung anak kandungku saat ini. Darah dagingku sendiri. Jadi, aku harus bertanggung jawab penuh atas masa depannya."
Alinea menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya kian meluncur deras. "Nggak Mas... Aku bukannya gak bisa, Mas. AKu cuma belum melahirkan keturunanmu,” ucap Alinea terisak hebat.
"Tasya hamil, Alin!" Adam mengulang kalimatnya dengan penekanan yang kejam. "Dan kamu hanya perlu menerima kenyataan itu. Jangan egois."
" Mas, aku cuma belum dikasih kesempatan untuk punya anak dari kamu! Dan dokter tadi bilang—"
Puspita, yang rupanya menyusul bersama Tasya dari belakang koridor, langsung mendengus seolah mendengar lelucon paling konyol. "Belum dikasih?" Wanita tua itu tertawa sinis. "Memang rahimmu yang mandul, nggak usah banyak alasan!"
"Mama!" jerit Alinea, menatap mertuanya dengan kemarahan yang membubung. "Mama nggak dengar kata dokter di dalam tadi?! Dokter bilang aku cuma gangguan hormon!"
Puspita melangkah maju, telunjuknya yang dihiasi cincin emas besar menunjuk tepat di depan hidung Alinea. "Kelainan hormon! Sel telur kecil-kecil! Itu kan kata dokternya, itu sebanrnya mandul, Lin. Gak normal begitu gimana mau bisa menghasilkan anak? Hah?!"
"Mama!!"
"Dokter perempuan tadi itu cuma sengaja bicara manis untuk menjaga perasaanmu yang lemah itu, Alin!" cecar Puspita tak mau kalah.
"Aku nggak mandul!!" ucap Alinea dengan suara melengking tinggi.
"Sudah! Cukup!" Adam membentak. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. "Jangan bikin malu aku di tempat umum seperti ini, Al. Kita selesaikan dan bahas semuanya di rumah nanti."
Perhatian Adam kemudian beralih sepenuhnya pada Tasya yang berdiri beberapa langkah di belakang Puspita. Wanita muda itu tampak menundukkan kepala, meremas ujung dress-nya dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah dia adalah korban yang terintimidasi.
Begitu Adam melangkah mendekat, Tasya dengan sigap langsung menghambur, memeluk lengan kokoh suaminya dengan erat.
"Mas..." bisik Tasya pelan, suaranya bergetar manja. "Aku takut... aku takut bayinya kenapa-kenapa karena stres."
Seketika itu juga, Alinea menyaksikan pemandangan yang paling menjijikkan di dalam hidupnya.
Ekspresi wajah Adam yang semula mengeras penuh amarah saat menatap dirinya, mendadak lumer berubah menjadi teramat lembut. Sebuah kelembutan yang sudah bertahun-tahun lamanya absen dari hidup Alinea.
"Nggak apa-apa, Sayang," ujar Adam sembari mengusap punggung tangan Tasya dengan penuh kasih. "Mbakmu cuma sedang sedih sebentar karena kaget. Jangan dipikirkan, ya? Kasihan anak kita di dalam."
Mbakmu! Konyol!
Kata itu bergaung di telinga Alinea, merobek-robek jantungnya hingga tak berbentuk lagi. Adam bahkan sudah memosisikannya sebagai ‘istri tua' yang harus mengalah dan menampung wanita simpanannya.
Alinea yang sudah gelap mata hendak melangkah maju untuk mengejar Adam, namun sebuah dorongan kasar dan tak terduga menghantam bahunya dengan begitu keras.
Tubuh kurus Alinea kehilangan keseimbangan, membuatnya jatuh terduduk di atas lantai koridor rumah sakit yang dingin dan berdebu. Rasa nyeri menjalar di tulang ekornya.
Puspita berdiri tegak di hadapannya laksana monster penindas, menatap Alinea dari atas dengan sorot mata penuh ancaman yang mematikan.
"Mau ke mana kamu? Mau menyerang menantuku?!" desis Puspita kasar. Ia mengacungkan telunjuknya bergantian ke arah Alinea dan ke arah perut Tasya. "Dengar ya, wanita sial. Di dalam perut Tasya itu ada cucu kandungku! Jauh lebih berharga dari nyawamu! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan Tasya karena kelakuan gilamu ini, aku sendiri yang akan menjebloskanmu ke dalam penjara!"
Alinea terdiam di atas lantai. Namun perlahan, seulas tawa kecil lolos dari bibirnya yang pucat.
"Penjara? Polisi?" Air matanya terus mengalir tak terbendung, namun sorot mata Alinea mendadak berubah total.
Ia mencengkeram dinding koridor, lalu perlahan-lahan bangkit berdiri.
"Ma..." Alinea menatap Puspita lurus-lurus, tajam dan menusuk hingga membuat wanita tua itu sempat tersentak mundur sekejap. "Anak yang dikandung perempuan gundik itu... mungkin hari ini bisa lahir dengan selamat dan sehat."
Puspita langsung membelalakkan matanya, meradang mendengar kata 'gundik'. "Kurang ajar kamu—"
"Tapi ingat satu hal!" potong Alinea. "Hari ini, aku mungkin tidak punya kekuatan atau uang untuk membalas perbuatan keji Mama. Aku juga tidak punya kemampuan untuk membalas kelakuan b******n Mas Adam. Tapi Tuhan tidak pernah tidur. Aku bersumpah, demi apapun kalian bertiga tidak akan pernah menemukan setitik pun kebahagiaan dari hasil pengkhianatan j*****m ini. Hidup kalian akan hancur sepuluh kali lipat dari apa yang aku rasakan hari ini!"
Satu tamparan yang teramat keras dan bertenaga mendarat telak di pipi kiri Alinea. Sentakan itu begitu kuat hingga membuat wajah Alinea tertoreh ke samping, dan sudut bibirnya pecah mengeluarkan setitik darah segar.
Tamparan itu mendarat di tempat yang sama, tepat di bekas luka di mana Adam menamparnya beberapa hari yang lalu.
Kali ini Alinea tidak menangis lagi. Air matanya berhenti jatuh. Ia justru perlahan memutar kembali kepalanya, menatap Puspita dengan seringai dingin yang mengerikan.
"Berani-beraninya wanita sialan, mandul, dan kurang ajar seperti kamu mengucapkan sumpah serapah di depan mukaku?!" Puspita mendesis murka.
Puspita mengibaskan tangannya dengan jijik. "Aku sudah nggak sudi lagi punya menantu cacat seperti kamu! Mulai hari ini, ceraikan saja Adam! Pergi kamu dari rumah kami! Pergi yang jauh ke lubang sampah tempat asalmu!"
"Aku bahkan yang akan memberikanmu uang tunai secara cuma-cuma, khusus untuk ongkos kamu mengurus surat perceraian itu ke pengadilan agama secepatnya! Biar kamu cepat angkat kaki!" Puspita mendengus kasar. "Karena kupingku sudah nggak sanggup lagi mendengar suara dari mulut kotormu itu!"