Sudah lima hari sejak Alinea menuntut pertanggungjawaban atas uangnya yang raib dan lima hari pula, Adam menghilang bak ditelan bumi tanpa meninggalkan sepucuk kabar pun.
Nomor teleponnya berada di luar jangkauan. Pesan-pesan singkat yang dikirimkan Alinea hanya berakhir dengan status centang satu.
Awalnya, d**a Alinea masih dipenuhi oleh kobaran amarah yang membakar. Ia masih ingin menuntut haknya, masih ingin memperjuangkan uang lima puluh juta rupiah yang ia kumpulkan dengan memeras keringat bertahun-tahun sebelum mengenal kata pernikahan.
Namun, hari demi hari berlalu dalam kesunyian yang mencekam, dan api itu perlahan padam. Amarahnya menguap, berganti dengan rasa lelah yang teramat luar biasa hingga merongrong tulangnya.
Haruskah aku menerima nasib ini? Apa aku harus membusuk di tempat ini sampai ajalku datang? Pertanyaan pasrah itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Sementara Alinea berperang dengan batinnya, perubahan sikap Puspita di rumah justru terasa semakin janggal. Wanita tua itu tidak lagi memarahinya.
Tidak ada lagi komentar miring tentang masakan Alinea yang kurang garam, tidak ada lagi perintah kasar untuk menyapu atau mengepel lantai.
Bahkan ketika Alinea sengaja membiarkan ruang tamu berdebu selama dua hari berturut-turut, Puspita hanya melintasinya tanpa sepatah kata pun.
Saat Alinea memasak, makanan itu dibiarkan mendingin di atas meja tanpa disentuh sama sekali. Ibu mertuanya itu lebih memilih memesan makanan dari luar atau entah makan di mana.
Pernah suatu hari Alinea sengaja mogok memasak sama sekali. Biasanya, Puspita pasti akan mengomel panjang lebar hingga urat lehernya keluar. Namun kali ini? Tidak.
Bagi Puspita, keberadaan Alinea saat ini sudah berubah menjadi udara. Tidak terlihat. Tidak dianggap ada. Dan perlakuan diam itu justru terasa jauh lebih mengerikan daripada bentakan kasar yang biasa Alinea terima.
Hari kelima, Alinea akhirnya mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk membuka suara saat melihat ibu mertuanya tengah bersantai di ruang keluarga
"Ma..."
Puspita yang sejak tadi fokus menonton televisi hanya melirik sekilas dari sudut matanya.
"Sebenarnya... Mas Adam ke mana, Ma?"
Puspita langsung mendecak keras, membuang muka jengah. "Mana betah dia diam di dalam rumah yang suasananya kayak neraka begini." Kalimat itu meluncur tajam, menusuk tepat di ulu hati Alinea. "Semua ini gara-gara kamu."
Wanita tua itu meraih remot, mematikan suara televisi sepenuhnya, lalu membalikkan badan menghadap Alinea. "Aku juga sampai merasa terjebak di rumah ini, harus tinggal berdua saja sama kamu." Ia menggelengkan kepala dengan raut wajah kesal. "Bikin darting. Tau darting nggak? Da-rah ting-gi," ucap Puspita menekan.
Alinea menghela napas berat. "Kenapa semua selalu jadi salah Alin, Ma?"
"Lho kan kenyataannya gitu, Lin. Kamu itu salah, kok nggak terima di bilang salah." Puspita bersedekah d**a, menatapnya menantang.
"Jadi ini karena tuntutan Alin atas hak Alin, Ma?" suara Alinea mulai bergetar hebat. "Tapi kan wajar kalau Alin menuntut—"
"Ah, udah, udah!" Puspita melambaikan tangannya di udara, memotong kalimat menantunya dengan kasar. "Tidak usah bicara lagi. Pusing aku dengerin ocehanmu itu. Sana pergi."
"Tapi, Ma..." Alinea masih mencoba bertahan di tempatnya. "Alin butuh bertemu dengan Mas Adam. Alin mau tanya kejelasan semuanya, Ma."
"Stop, Alinea!" Suara Puspita meninggi, menggelegar di ruang makan.
Namun, tepat setelah bentakan itu, ekspresi wajah Puspita mendadak berubah. Sepasang matanya menyipit tipis, menatap Alinea dengan pandangan menyelidik yang tajam. Seolah-olah sebuah ide baru saja melintas di kepalanya.
"Sebenarnya... mau kamu pakai buat apa sih uang lima puluh juta itu?" tanya Puspita, nadanya berubah penuh selidik.
Alinea terdiam seketika. Reaksi diam itu justru membuat kecurigaan Puspita semakin menggelembung.
"Mama heran dari kemarin kamu ribut terus," cecar Puspita lagi.
"Alin... itu..." Jantung Alinea berdegup dua kali lebih cepat.
"Kamu... mau pergi meninggalkan Adam, pakai uang itu ya?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Puspita. Dan hal yang membuat Alinea terkejut setengah mati adalah tidak ada nada kemarahan dalam intonasi ibu mertuanya. Tidak ada rasa terkejut. Sebaliknya, ada binar kegembiraan yang sengaja disembunyikan di balik matanya.
Puspita menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai. "Kamu kalau mau menggugat cerai Adam, kamu tidak akan bisa menuntut harta gono-gini apa pun, lho. Kamu tahu itu, kan? Kamu yang minta cerai. Soal uang lima puluh juta itu juga kalau kamu mau tuntut, buktinya apa? Pasti nggak ada." Wanita tua itu melepaskan tawa kecil yang mengejek.
Alinea langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. Tebakan mertuanya seratus persen benar. Ia ingin pergi. Sangat ingin.
Jika uang lima puluh juta rupiah itu masih utuh di tangannya, setidaknya ia bisa menggunakannya untuk membayar sewa kamar kontrakan kecil, mencari pekerjaan baru, atau memulai usaha apa pun demi menyambung hidup.
Ia rela hidup sederhana, asalkan tidak perlu menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Asalkan tidak perlu menerima hinaan setiap hari.
Namun, melihat ekspresi kegembiraan Puspita yang seolah sangat menantikan skenario perceraian itu ada sesuatu yang terasa sangat janggal di benak Alinea.
"Alin nggak akan pernah meninggalkan Mas Adam, Ma," bohong Alinea. Kalimat itu terasa pahit di lidahnya, namun ia harus mengatakannya demi melindungi diri. "Alin cuma mau uang Alin kembali. Itu hak Alin, Ma."
Puspita kembali berdecak jengkel, memutar bola matanya. "Uang itu kan sudah habis kamu pakai sendiri, Lin."
Alinea langsung menegakkan kepala, menatap mertuanya dengan dahi berkerut dalam. "Kapan Alin memakainya, Ma? Buat apa?"
"Ya buat biaya kamu tinggal di rumah ini," jawab Puspita dengan nada sangat santai. "Biaya makan kamu selama lima tahun, biaya listrik, air, dan semua kebutuhan harianmu. Kemarin Adam juga sudah jelasin semuanya, kan? Kamu saja yang tidak tahu diri."
Alinea menggelengkan kepalanya pelan. "Mama..." suaranya terdengar begitu parau dan putus asa. "Kenapa Mama tega sekali sama Alin? Mama berubah, Ma."
Puspita mengernyitkan dahi. "Berubah bagaimana maksudmu?"
"Kenapa Mama berubah jadi gini, Ma? Apa salah ALin. Apa Mama tidak ingin bagaimana dulu Mama sayang sama Alin?" Pertanyaan yang selama bertahun-tahun ini terkunci di dasar hati Alinea akhirnya lolos juga.
Dulu di awal pernikahan, Puspita pernah memeluknya hangat dan memanggilnya sebagai anak perempuan sendiri. Wanita tua itu pernah membelikannya baju baru, mengajaknya berjalan-jalan ke mal, dan selalu membanggakan kepada para tetangga bahwa ia sangat beruntung memiliki menantu sebaik dan seberbakti Alinea.
Lalu, di detik mana semua kasih sayang itu menguap dan berubah menjadi racun?
Puspita melepaskan tawa hambar yang sarat akan cemoohan. "Berubah, kamu bilang?" Wanita itu menyandarkan punggungnya dalam-dalam ke bantalan sofa, menatap Alinea dari atas ke bawah. "Semakin lama sifatmu itu semakin melunjak, Alin. Sudah mandul, tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini, tapi kelakuanmu masih saja banyak maunya. Menuntut ini-itu. Kayak sekarang, meributkan soal duit."
Alinea menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan rasa perih yang menghantam dadanya.
"Asal kamu tahu ya, usaha suami kamu itu sekarang lagi seret. Bengkelnya lagi sepi dari pelanggan," lanjut Puspita dengan nada ketus. "Ya sudahlah, sebagai istri sholehah, bantu suamimu yang sedang kesusahan. Anggap saja uang lima puluh juta itu sebagai baktimu untuk—"
"Kenapa Mas Adam tidak pernah cerita kalau usahanya sedang sepi?!" potong Alinea cepat, dadanya naik-turun menahan emosi. "Dan kenapa dia harus mengambil uang Alin secara diam-diam tanpa izin? Itu tindakan kriminal, Ma! Itu uang Alin!"
Puspita langsung mendelik tajam, wajahnya memerah karena tidak terima ucapannya dipotong begitu saja. Namun, sebelum amarahnya meledak, sebuah kilatan licik mendadak melintas di dalam sepasang matanya. Ekspresi wajah wanita tua itu berubah drastis dalam hitungan detik.
Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap Alinea dengan senyuman misterius yang dipaksakan.
"Mama punya satu cara," ucap Puspita pelan.
Alinea langsung memasang mode waspada. Ia tidak menjawab, melainkan hanya menatap mertuanya dengan sorot mata penuh selidik. Pengalaman hidup selama lima tahun di rumah ini telah mendidiknya untuk tidak lagi mudah memercayai kata-kata manis dari mulut Puspita.
"Cara supaya Adam mau pulang dan menemui kamu secara langsung," lanjut Puspita, memancing reaksi menantunya.
Alinea tetap bergeming, menunggu kelanjutan kalimat tersebut.
"Coba besok kamu ikut Mama pergi ke dokter spesialis kandungan. Ke dokter obgyn," ujar Puspita dengan nada santai. "Mama sudah mendaftarkan namamu di klinik."
Tubuh Alinea seketika membeku di tempatnya berdiri.
"Kamu selama ini tidak terima, kan, setiap kali dicap sebagai wanita mandul oleh keluarga ini?" Puspita tersenyum tipis, membaca perubahan ekspresi di wajah Alinea. "Besok Mama akan menelepon Adam. Mama akan paksa dia untuk datang ke klinik juga agar dia mendengar langsung penjelasan dari dokter."
Sepasang mata Alinea membulat sempurna. "Mas Adam... mau datang?"
Selama lima tahun usia pernikahan mereka, setiap kali Alinea mengajak untuk melakukan pemeriksaan kesuburan secara mendalam bersama-sama, Adam selalu menolak mentah-mentah.
Pria itu selalu menghindar dengan seribu satu alasan sibuk, atau membentaknya dengan dalih bahwa pernikahan mereka masih terlalu dini untuk diributkan. Lalu, kenapa sekarang pria itu tiba-tiba bersedia hadir?
"Betulan, Ma? Mas Adam mau datang?" tanya Alinea ragu.
"Ya," Puspita mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Bagaimana? Mau tidak? Biaya dokter spesialis itu mahal, lho. Kalau tidak Mama yang mendaftarkan dan membiayai begini, memangnya kamu punya uang untuk periksa sendiri?"
Alinea terdiam untuk beberapa saat. Jauh di lubuk hatinya, insting wanita pribadinya berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak beres di balik kebaikan mendadak ibu mertuanya ini. Ada udang di balik batu.
Namun, rasa rindu dan kebutuhannya untuk bertemu dengan Adam jauh lebih mendominasi logikanya saat ini. Ia butuh jawaban dari suaminya, ia butuh kejelasan nasib, dan ini mungkin menjadi satu-satunya kesempatan yang tersisa.
Akhirnya, dengan perlahan, Alinea menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Alin mau."
"Nah, bagus kalau begitu," Puspita tersenyum puas. "Besok pagi-pagi sekali, bersiap-siaplah."
Alinea yang telanjur dikuasai harapan naif tidak menyadari keanehan dari senyuman ibu mertuanya. Dengan langkah yang sedikit lebih ringan, Alinea berbalik dan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.
Begitu suara pintu kamar Alinea tertutup rapat dan terkunci dari dalam, senyum ramah di wajah Puspita seketika luntur tanpa sisa.
Ia mendencak pelan dengan raut wajah penuh penghinaan.
"Dasar perempuan bodoh," cibir Puspita berbisik pada keheningan ruang tamu.
Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju dispenser dan menuangkan segelas air putih untuk dirinya sendiri. Sembari menatap air di dalam gelas, wanita tua itu bergumam seorang diri.
"Enak saja si Adam mau senang-senang sendirian di luar sana. Sementara aku yang ditinggal di rumah ini, disuruh mengurus dan menghadapi wanita mandul tidak berguna itu setiap hari. Malas sekali rasanya. Disuruh nyeraiin malah ditinggal gini.”
Tiba-tiba, wanita tua itu terkekeh sendiri, sebuah tawa yang terdengar amat licik di tengah keheningan rumah.
"Lagipula, si Adam itu serakah sekali. Sok-sokan mau punya dua istri sekaligus dalam satu waktu, Apalagi kalau madunya nanti tipe perempuan pembangkang mandul macam Alinea? Ih, amit-amit." Puspita menggelengkan kepalanya cepat dengan raut wajah ngeri. "Nggak sudi aku punya menantu begitu Susah banget dibilanginnya.."