Tidak lama kemudian, deru suara mesin mobil terdengar berhenti di halaman depan. Adam pulang.
Mendengar suara itu, Puspita langsung menyunggingkan senyum penuh kemenangan ke arah Alinea. "Nah, itu Adam datang! Coba mengadulah sama Adam."
Pintu depan terbuka kasar. Adam melangkah masuk dengan terburu-buru, dasinya sudah mengendur dan wajahnya dipenuhi kabut emosi.
"Dari mana kamu?!" bentak Adam langsung begitu matanya menangkap sosok Alinea. "Kenapa pergi dari rumah gak bilang mau kemana?!"
Alinea menatap lurus ke arah wajah suaminya dengan wajah yang sudah bercucuran air mata.
"Mas..." suara Alinea bergetar seolah tak mampu ia ucapkan. "Aku pergi ke bank."
Gerakan tubuh Adam langsung terkunci. Pria itu mendadak diam.
"Aku mengecek tabungan kita, Mas. Tapi uangnya habis. Bersih. Mas.. Kemana uangku, Mas. Mas tau kan, pegawai Bank bilang, semuanya di transfer ke rekening, Mas,” jelas Alinea panjang lebar.
Rahang Adam tampak mengeras, urat di pelipisnya menegang.
Alinea mengeluarkan selembar kertas mutasi rekening yang sudah kusut dari balik tas kainnya. "Mas..." suaranya semakin parau. "Uangku yang lima puluh juta itu ke mana? Ke mana uang hasil kerjaku sebelum menikah, Mas?"
Adam mendecak keras, membuang muka dengan jengah. "Kamu masih meributkan soal uang itu? Kamu serius?"
"Buat aku uang itu sangat penting, Mas!" suara Alinea sangat memelas. "Buat kamu uang segitu mungkin tidak berarti, tapi buat aku itu adalah seluruh hidupku, Mas. Kamu kemanakan uangku, Mas?"
Ia mengangkat kertas mutasi itu tepat di depan wajah Adam dengan tangan yang gemetar hebat. "Aku sudah mencetak mutasinya secara sah dari bank. Di sini tertulis jelas.. ada yang mentransfer seluruh uang itu ke rekening pribadimu, Mas."
Ruangan ruang tamu itu mendadak sunyi mencekam.
"Kembalikan uangku, Mas. Tolong... aku butuh uang itu," pinta Alinea di sela isaknya.
Adam menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Alinea seolah istrinya adalah makhluk paling konyol di dunia. "Uang segitu saja diributkan, buat apa sih? Sudah habis!"
Jawaban itu meluncur begitu santai dari mulut Adam. Tanpa beban, seolah ia baru saja menghilangkan uang recehan di pinggir jalan.
"Habis?!" Alinea tidak memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Kenapa bisa habis, Mas? Kamu buat apa uang itu, Mas!"
Adam memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berlagak angkuh. "Iya, pokoknya habis. Dan asal kamu tahu, uang lima puluh juta itu bahkan tidak akan pernah cukup untuk membayar biaya hidup kamu di rumah ini selama hampir lima tahun Alinea Sutomo!"
Alinea membeku di tempatnya berdiri. "Apa maksudmu, Mas...?"
"Bayangin aja, makan kamu sehari tiga kali," Adam mulai mengangkat jarinya, menghitung dengan nada merendahkan. "Biaya listrik, air bersih, fasilitas rumah mewah ini, dan semua kebutuhan sehari-hari kamu. Lima puluh juta itu tidak ada apa-apanya dibanding apa yang sudah kukeluarkan! Jadi, sudahlah. Ikhlaskan saja. Anggap itu biaya hidup kamu."
"Ikhlas...?" Air mata Alinea mengalir semakin deras, menyengat pipinya. "Kenapa kamu nggak pernah tanya sama aku dulu sebelum memakainya, Mas?! Kenapa kamu mencurinya begitu saja dari rekeningku?! Itu uangku!"
Mendengar kata 'mencuri', Puspita tidak tinggal diam. Ia langsung merangsek maju dan berteriak, "Kurang ajar kamu, Alin! Kok bisa kamu bilang suamimu pencuri! Itu kan uang bersama! Jangan berani-berani kamu sama suamimu ya! Gak tau aturan kamu! Lagipula wajar dia pakai uang itu, kan kamu gak kerja. Itu kan uang bisa membantu kamu juga. Lagi pula betul kata Adam apa artinya lima puluh juta, kami udah ngeluarin uang lebih banyak selama menampung kamu di sini, tau?!"
"Kenapa Mama selalu menyudutkan aku karena aku tidak bekerja?!" Alinea akhirnya kehilangan seluruh kendali atas emosi dan kesabarannya yang ia pendam selama lima tahun. Ia berteriak, meluapkan seluruh isi dadanya. "Dulu Mama dan Mas Adam yang meminta dan menyetujui aku untuk berhenti bekerja! Aku mengorbankan karierku demi fokus melayani Mas Adam di rumah ini! Lalu kenapa sekarang aku yang selalu disalahkan?!"
"Alin!" Adam membentak dengan suara menggelegar. "Nggak sopan kamu melawan orang tua!"
Alinea tertawa pahit, tawa yang terdengar begitu hancur. "Aku yang tidak sopan? Setelah apa yang kalian lakukan sama aku?!"
"Iya, kamu yang tidak tahu diri!" Puspita maju selangkah, wajahnya berjarak hanya beberapa senti dari Alinea. "Mana Mama tahu kalau kamu itu ternyata wanita mandul! Mau kamu kerja atau tidak kerja, rahim kamu itu tetap gak berguna, tetap tidak bisa memberikan anak untuk keluarga ini!"
"Ma, cukup—" Adam mencoba menahan, namun Puspita sudah telanjur dikuasai emosi.
"Percuma dipertahankan! Kamu udahlah, gak usah belain dia terus. Dia ini mandul! Wanita kok cuma jadi beban!"
"Memangnya aku mau hidup menderita begini, Ma?!" Teriak Alinea histeris.
PLAK!
Tamparan keras itu menggema begitu nyaring di dalam ruangan. Kekuatan hantaman tangan Adam membuat tubuh ringkih Alinea langsung terlempar ke samping dan jatuh tersungkur di atas lantai keramik. Lima bekas jari yang memerah keunguan langsung tercetak jelas di pipinya yang mulus.
Ruangan mendadak hening seketika. Hanya ada suara napas Adam yang memburu.
"Mas..." suara Alinea nyaris tidak keluar dari tenggorokannya. Matanya membelalak lebar, menatap pria yang berdiri di atasnya dengan pandangan tidak percaya. "Kenapa kamu... jadi ringan tangan begini, Mas...?"
"Kamu itu makin dibiarkan makin ngelunjak, ya!" Adam melangkah mendekat, mengikis jarak. Wajahnya diselimuti kabut amarah yang gelap. "Buat apa sebenarnya uang lima puluh juta itu, hah?! Mau kamu pakai untuk apa?!"
"Aku—"
"Jawab! Buat apa?!"
Brak!
Satu tendangan keras dari ujung sepatu Adam menghantam telak rusuk Alinea. Wanita itu langsung meringkuk, memeluk perutnya sendiri sambil meringis kesakitan yang teramat sangat.
"Mas... ampun... Sakit, Mas..." rintih Alinea dengan suara parau, air matanya bercampur dengan peluh di lantai.
"Adam, sudah!" Puspita buru-buru menarik lengan putranya yang tampak hendak melayangkan serangan lagi. "Mama nggak mau kamu mengotori tanganmu dan berurusan dengan polisi hanya gara-gara wanita tidak berguna ini!"
Napas Adam masih terengah-engah, matanya merah padam dikuasai emosi. Namun, ia akhirnya memilih mundur setapak demi setapak setelah ditarik oleh ibunya.
"Sekali lagi kamu berani melawan atau bertingkah aneh-aneh di rumah ini..." Adam menunjuk wajah Alinea dengan pandangan tajam yang menusuk. "Silakan angkat kaki dan jadi gelandangan di jalanan sana. Jangan bawa selembar pakaian pun dari rumahku. Mengerti kamu?!"
Pria itu kemudian berbalik dengan kasar. "Ah, sialan!"
BRAK!
Pintu depan rumah dibanting dengan kekuatan penuh hingga engselnya bergetar.
Keheningan yang mencekam kembali menguasai ruangan tamu. Alinea masih tergeletak tersungkur di atas lantai dingin, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit fisik yang luar biasa di rusuk dan pipinya. Ia menangis dalam kesunyian, menyadari bahwa dirinya kini benar-benar sebatang kara dan sendirian di dunia ini.
Sementara itu, Puspita yang masih berdiri di dekatnya hanya memutar bola matanya malas, menatap tubuh menantunya dengan pandangan jijik.
"Makanya, kalau nggak mau Adam marah..." wanita tua itu mendengus sinis sambil merapikan pakaiannya sendiri. "...jangan pernah memancing keributan di rumah ini. Sadar diri sedikit."
Setelah melontarkan kalimat racun itu, Puspita melangkah pergi begitu saja menuju kamarnya, meninggalkan Alinea yang masih terkapar di lantai.
***
Dua hari setelah pertemuan singkat yang menjungkirbalikkan dunianya itu.
Di lantai paling atas sebuah gedung perkantoran mewah yang menjulang tinggi di pusat metropolitan, Gavra Rahardjo berdiri diam di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Kedua tangannya terbenam tenang di dalam saku celana.
Setelan jas tiga potong berwarna biru gelap yang dikenakannya melekat sempurna pada tubuh tegapnya, tanpa satu kerutan pun.
Di bawah sana, jalanan ibu kota tampak seperti labirin raksasa yang dipenuhi kepungan kendaraan yang bergerak lambat. Suara klakson bersahutan samar, menembus kaca kedap suara. Matahari siang menyengat tanpa ampun, memantulkan gelombang panas dari aspal padat dan deretan gedung pencakar langit lainnya.
Namun, perhatian Gavra sama sekali tidak berada pada hiruk-pikuk di luar sana. Tatapan mata hazelnya kosong dan lurus menembus kaca. Pikirannya melayang jauh, terseret pada sosok seseorang yang seharusnya sudah lama ia kubur dalam ingatan.
Alinea Vania Sutomo.
Lima tahun. Sudah lima tahun genap sejak wanita itu menghilang dari radar hidupnya. Lima tahun sejak sebaris pesan singkat yang mengakhiri hubungan mereka tiba tiba-tiba di ponselnya, memutus segalanya tanpa penjelasan yang masuk akal.
Lima tahun sejak ia dicampakkan secara sepihak, Gavra sering membayangkan berbagai kemungkinan jika takdir mempertemukan mereka kembali.
Ia membayangkan dirinya akan berdiri di hadapan Alinea dan menyombangkan dirinya. Bahwa kini, namanya telah masuk dalam daftar CEO muda paling berpengaruh versi majalah bisnis dunia. Bahwa kini, raksasa perusahaan yang dipimpinnya memiliki valuasi fantastis yang bahkan sulit dibayangkan akal sehat lima tahun lalu.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia sangat berhasil. Ia ingin melihat kilat penyesalan di kedua mata Alinea. Setidaknya, fantasi balas dendam manis itulah yang selama ini merawat kewarasannya.
Namun, kenyataan dua hari lalu ternyata menghantam egonya tanpa ampun. Saat matanya menangkap sosok Alinea di sudut ruang tunggu bank, Gavra hanya memandangi wanita yang sedang menangis tergugu sendirian, meringkuk seolah dunianya baru saja kiamat.
Tok. Tok.
Ketukan pelan di pintu kayu jati ruang kerjanya seketika menarik Gavra kembali ke realitas.
"Masuk," titah Gavra, nadanya kembali dingin dan datar.
Pintu terbuka perlahan. Zain, asisten kepercayaannya, melangkah masuk sembari membawa sebuah map kulit hitam yang tebal. Pria itu langsung berjalan lurus menuju meja kerja milik Gavra.
"Tuan Gavra," panggil Zain seraya membungkuk hormat.
Gavra membalikkan tubuhnya. "Bagaimana?"
"Saya sudah mendapatkan seluruh data valid terkait Nona Alinea."
Tatapan mata hazel Gavra langsung berubah tajam berkilat. Ia menerima map tersebut tanpa banyak mengeluarkan suara, lalu membukanya di atas meja.
Gavra membuka lembar pertama. Lalu lembar kedua. Kemudian lembar ketiga.
Semakin jauh matanya menyapu baris-baris kalimat di atas kertas putih itu, rahang tegasnya semakin mengepal erat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.
“Sejak kapan Alinea menjadi wanita paling tidak logis dan menggantungkan dirinya pada pria macam ini?!” ujar Gavra dengan senyum sinis menggantung di bibirnya.
Gavra menghentikan gerakan tangannya. Matanya tertahan lama pada satu baris kalimat terakhir. Sangat lama, seolah sedang mencerna sebuah anomali besar. Sampai akhirnya, ia mengangkat kepalanya, menatap Zain dengan sorot mata yang menuntut.
"Dia... belum punya anak?"
Zain mengangguk takzim. "Belum, Tuan Gavra. Dari seluruh data sipil dan dokumen keluarga yang kami verifikasi, mereka belum memiliki keturunan."
Tatapan Gavra perlahan berubah menjadi sangat dalam dan menuntut.
"Apa dia... memiliki masalah kesuburan?"