Alinea masih berdiri di depan meja teller dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Mbak, Coba di cek lagi yang bener, Mbak" suaranya terdengar lirih, nyaris seperti bisikan putus asa. "Nggak mungkin uangnya habis begitu saja."
Petugas teller itu tampak iba menatapnya, namun ia harus tetap menjaga profesionalitasnya. "Maaf, Ibu. Berdasarkan data transaksi di sistem kami, dana tersebut memang sudah dipindahkan seluruhnya."
Petugas itu terdiam sesaat, menatap Alinea dengan saksama. "Apakah rekening ini digunakan bersama dengan suami, Ibu?"
Jantung Alinea berdegup semakin kencang, menghantam rongga dadanya. "Y– ya..."
"Kalau begitu, kemungkinan besar aksesnya ada pada pihak lain yang mengetahui data rekening, Ibu. Ibu mungkin bisa konfirmasi kepada suami Ibu.”
Bibir Alinea bergetar hebat. Ia rasanya ingin menangis saat itu juga."Sebenrnya ke mana uangnya ditransfer, Mbak?!"
“Saya bantu cek kembali, Bu.” Petugas teller itu kembali menatap layar komputer di depannya sebelum mengalihkan pandangan ke arah Alinea dengan sorot mata sungkan.
"Ditransfer ke sesama Bank CA dengan pemilik rekening atas nama Adam Atma Dinya, Bu."
Jantung Alinea seolah berhenti berdetak detik itu juga.
Adam. Nama itu mencuat begitu saja di hadapannya. Laki-laki yang selama ini selalu meyakinkannya bahwa semua yang ia lakukan adalah demi masa depan mereka. Laki-laki yang selama lima tahun ini menjadi satu-satunya tempat ia bergantung setelah kehilangan kedua orang tuanya.
Tangan Alinea mulai gemetar hebat di atas meja konter. "Jadi... uang itu ditransfer ke rekening suami saya sendiri?"
Petugas itu mengangguk pelan, wajahnya diliputi rasa iba. "Iya, Bu. Berdasarkan data riwayat kami, seluruhnya masuk ke rekening tersebut."
Alinea langsung menunduk. Pandangannya mendadak kabur oleh lapisan air mata yang mendesak keluar. Dadanya terasa begitu sesak. Bagaimana bisa suaminya itu begitu tega?
Petugas teller itu kemudian mencetak selembar kertas mutasi dan merapikan dokumen tersebut, sebelum menyerahkan buku tabungan milik Alinea kembali dengan gerakan pelan.
"Ini bukti rekening korannya, Bu. Maaf sekali, Bu," ujar petugas itu hati-hati.
Alinea mengangkat kepalanya perlahan, menatap petugas bank dengan sisa-sisa harapan yang rapuh. “Jadi.. ini benar nggak ada yang bisa saya lakuin, Mbak?”
"Karena transaksi terakhir terjadi sekitar satu tahun yang lalu, kami dari pihak bank tidak bisa membantu pengajuan keberatan ataupun pembatalan transaksi. Transaksinya sah dan sudah melewati batas waktu pelaporan, Bu."
Buku tabungan tipis di tangan Alinea mendadak terasa begitu berat, seolah beratnya mampu meremukkan jemarinya. Padahal, isinya sudah tidak ada lagi. Kosong melompong. Sama persis seperti harapan yang baru saja runtuh dan hancur berantakan di dalam dadanya.
"Apa ada yang bisa kami bantu lagi, Bu?" tanya petugas tersebut.
Alinea sudah tidak memiliki sisa energi untuk sekadar menjawab. Ia hanya menggeleng pasrah.
Perlahan, ia berjalan menjauh dari meja teller. Langkah kakinya kosong, pandangannya kabur tertutup lapisan air mata. Hingga akhirnya, ia terduduk di salah satu kursi tunggu. Sendirian dan terdiam, sambil menggenggam erat buku tabungan yang kini tidak memiliki arti apa-apa lagi.
“Kenapa kamu jahat sekali, Mas? Kenapa kamu tega?” gumamanya pelan.
Lima puluh juta rupiah adalah nominal yang fantastis bagi Alinea. Uang itu adalah seluruh dunia miliknya. Air matanya kembali jatuh, satu demi satu, mengalir tanpa suara. Ia tak peduli banyak mata memperhatikannya.
Bahkan petugas bank yang tadi melayani Alinea memberikan kode pada satpam yang akan mendekat, agar membiarkan Alinea sampai tenang.
Di waktu yang sama, pintu ruang manajer cabang yang terletak di area VIP terbuka. Seorang pria keluar dari sana.
Posturnya tinggi tegap dengan wajah simetris berahang tegas. Namun, tatapan dingin dari sepasang mata hazel-nya yang langka, dibingkai rambut curtain bangs yang elegan. Pesonanya membuat orang yang melihatnya tidak akan memalingkan pandangannya.
Saat melangkah melintasi ruang tunggu, mata indra pria itu secara tidak sengaja menangkap sosok seorang wanita yang sedang menangis tergugu di sudut ruangan. Hanya sekilas, namun pemandangan itu cukup untuk membuat ritme langkah kakinya melambat.
Wanita itu tampak sangat berantakan. Wajahnya sembab, pakaiannya kusut, dan bahkan dari kejauhan, rasa sedihnya seolah bisa terasa. Pria itu memperhatikannya selama beberapa detik, lalu menghela napas pendek dan dingin.
"Terima kasih banyak atas waktunya, Pak Gavra," suara dari arah belakang membuyarkan perhatiannya.
Manajer cabang bank tampak berlari kecil menyusul langkahnya dengan senyum lebar yang terkesan menjilat. "Kami sangat terhormat atas kesempatan kerja sama dengan Rahardjo Inti Grupi. Semoga investasi ini bisa berjalan sesuai dengan ekspektasi Bapak."
Gavra hanya mengangguk singkat sebagai respons. Pria itu tidak banyak bicara, memang begitulah pembawaannya yang sedingin es.
Di belakang sang manajer, seorang pegawai bank tampak membawa tas cendera mata eksklusif. "Oh iya, Pak Gavra. Ini ada sedikit cendera mata dari pihak kami."
Gavra menerima tas tersebut tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Terima kasih."
Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya. Ia kemudian melanjutkan langkah keluar menuju mobil sedan hitam mewah yang sudah terparkir rapi di pelataran bank. Pintu belakang segera dibukakan dengan cekatan oleh asisten pribadinya.
Namun, sebelum menapakkan kaki ke dalam kabin mobil, Gavra berhenti sebentar. Ia menoleh, lalu berkata dengan nada datar, "Zain."
"Ya, Tuan Gavra?"
"Cari tahu soal Alinea Vania Sutomo. Aku akan mengirimkan fotonya padamu."
Asisten pribadi pria yang bernama Gavra Rahardjo itu awalnya diam, namun tak lama kemudian ia segera menjawab, "baik, Tuan. Segera saya laksanakan.”
Gavra pun masuk ke dalam mobil, disusul suara pintu yang tertutup rapat. Sedan mewah itu pun perlahan bergerak membelah jalanan, meninggalkan area bank.
***
Suka tak suka, pelarian yang Alinea rencanakan sejak kemarin ternyata harus berakhir secepat ini, kandas karena berlembar-lembar rupiah yang hilang tidak bersisa. Ia tak mau pergi dengan tangan kosong. Ia ingin menuntut haknya.
Alinea menatap pintu rumahnya dengan senyum getir. Rumah yang beberapa jam lalu ingin ia tinggalkan selamanya, kini menyambutnya kembali dengan pintu terbuka, seolah mengejek ketidakberdayaannya.
Dengan kepala tertunduk dan langkah yang terasa berat, ia berjalan masuk, menyerahkan dirinya pada ketidakpastian nasib selanjutnya.
"Ini biang keroknya! Kurang ajar ya kamu!" Wanita tua itu sudah berdiri tegak di tengah ruang tamu dengan wajah merah padam menahan amarah. "Bisa-bisanya keluar rumah nggak pamit! Mau ngapain kamu diluar sana, hah?! Kapan kamu keluar, hah?! Ngapain ngelayap pagi buta!"
"Maaf, Ma. Alin cuma mau keluar sebentar.. A– ada yang perlu Alin beli."
Puspita yang sejak tadi berdiri berkacak pinggang di tengah ruang tamu langsung mendengus kasar. "Nggak usah alasan kamu!" Tatapannya yang tajam menyapu tubuh Alinea dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menghina. "Beli apa memangnya? Beli dimana pakai bawa tas segala? Mana barangnya?!” ucap Puspita menginterogasi.
Alinea refleks menggigit bibir bawahnya yang bengkak. Ia memang tidak membawa apa pun. Jangankan barang belanjaan, untuk sekadar membeli segelas air pelepas dahaga di pinggir jalan saja tidak sempat terpikirkan karena ingin segera mendapatkan uang miliknya. Apalagi membeli barang untuk sebuah alasan.
"Senang ya kamu bikin orang tua jantungan?" Puspita melangkah mendekat, kilat amarah di matanya semakin menjadi. "Lihat saja nanti. Mama akan telepon Adam, supaya cepat pulang."
Tanpa menunggu jawaban atau pembelaan dari menantunya, wanita tua itu merogoh saku dan mengambil ponselnya. Jemarinya yang dihiasi beberapa cincin emas dengan cepat menekan deretan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.
Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum panggilan itu diangkat di seberang sana.
"Udah ketemu nih, istri kamu yang nggak berguna itu," ketus Puspita langsung, matanya melirik sinis ke arah Alinea yang berdiri mematung. "Cepat kamu pulang sekarang. Didik dia yang bener! Bisa-bisanya punya Istri gak punya adab!"
Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak.
Alinea menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sepasang tangannya yang gemetar mengepal begitu erat di sisi bajunya yang kusut. Namun kali ini dia tidak ingin hanya diam menerima.
"Ma..." Suara Alinea bergetar hebat, sarat akan tekanan emosi yang masif.
Puspita menoleh dengan gerakan malas, wajahnya menunjukkan kejengkelan yang kentara. "Apa lagi? Mau kasih pembelaan apa kamu?!"
Air mata Alinea yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pucat. "Alin habis dari bank, Ma."
Kening Puspita berkerut halus. "Lalu? Apa urusannya sama aku?"
"Anak Mama..." Tenggorokannya mendadak tercekat, lidahnya kelu untuk melanjutkan kalimat.
“Apa? Kenapa Adam?!”
"Anak Mama sudah mengambil semua uang Alin, Ma. ma.. Itu uang Alin, Ma. Tolong minta Mas Adam kembalikan, Ma."
Puspita terdiam sesaat. Namun, ekspresi wajah wanita tua itu sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan atau rasa bersalah sedikit pun. Sorot matanya malah datar dan dingin. “Membual apa kamu?! Uang apa? Memangnya kamu punya uang?”
"Ma... Tolong bilangin Mas Adam. Uang lima puluh juta di rekening Alin itu, tolong suruh dia mengembalikan uang itu, Ma. Alin mohon..." Tangisnya kini tidak lagi bisa dibendung. Bahunya terguncang hebat. "Itu satu-satunya harta yang Alin punya. Alin nggak punya apa-apa lagi di dunia ini selain uang itu. Alin kerja keras siang dan malam buat uang itu, Ma."
"Jadi, kamu kelayapan keluar rumah dan bikin repot orang satu rumah cuma gara-gara uang?" Nada suara Puspita kini dipenuhi ejekan yang telak. "Astaga..." Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah meremehkan. "Mama kira ada masalah besar apa."
Mendengar jawaban ibu mertuanya, Alinea sudah pupus harapan. Tulang-tulangnya sudah kehilangan kekuatan. Ia tahu, itu tidak akan mudah.
Puspita melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ketika ia kembali bersuara, nadanya tiba-tiba melembut.
"Alin... dengar Mama," ucap Puspita, tangannya terangkat seolah ingin menenangkan, namun sorot matanya sedingin es. "Kalau Adam memang memakai uang itu, ya berarti memang ada kebutuhan mendesak yang harus ia penuhi. Dia itu suamimu. Uang itu bukannya uang bersama ya? Berarti bisa dipakai kalau salah satu membutuhkan. Memangnya untuk kamu ini, uangnya mau dipakai apa? Makanmu sudah disediakan oleh Adam, kebutuhanmu sudah di belikan oleh Adam. Mau apalagi? Uang segitu terlalu banyak untuk kamu yang cuma di rumah seharian."
"Ma… gimanapun itu uang Alin. Itu hak Alin, Ma.. uang itu murni uang Alin sendiri. Alin gak peduli berapapun yang Mas Adam taruh di sana. Alin bahkan gak menyentuh uang yang ditaruh Mas Adam. Terserah kalau Mas Adam mau pakai uang dia transfer, tapi uang yang lima puluh juta, itu uang Alin, Ma."
"Suami istri kok masih hitung-hitungan harta," potong Puspita cepat, nadanya beralih menjadi ketus dan tidak mau dibantah. "Uang kamu ya uang Adam. Dan uang Adam ya uang keluarga ini. Kamu tidak boleh egois."
Kalimat itu membekukan seluruh aliran darah Alinea. "Ma..."
"Sudahlah," Puspita mendecak jengah, mengibaskan tangannya di udara seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu. "Jangan bikin masalah baru dan memancing keributan di rumah ini cuma gara-gara meributkan uang segitu. Ikhlasin aja lah, Lin."