"Ah, sial!" Adam mengacak rambutnya frustrasi. "Pulang ke rumah malah begini!"
Alinea yang masih terduduk di lantai kamar mengangkat wajahnya perlahan. Pipinya masih berdenyut nyeri akibat tamparan tadi. Namun, alih-alih merasa bersalah, Adam justru terlihat seperti korban. Pria itu bertingkah seolah dirinya adalah pihak yang paling menderita di dunia.
"Kamu pikirin itu masalah kamu sendiri!" Adam menyambar jaketnya kasar dari atas kursi. "Minta maaf sama Mama! Ngerti?!"
"Mas..."
"Aku tidur di kantor hari ini."
Jantung Alinea langsung mencelos. "Mas, jangan..."
"Malas aku lihat muka kamu!" Adam berbalik, melangkah lebar menuju pintu.
Refleks, Alinea bangkit berdiri. Meski kakinya masih gemetar lemas, ia tetap nekat mengejar. Jemarinya mencengkeram erat siku lengan suaminya.
"Jangan, Mas..." suaranya pecah, parau oleh tangis. "Jangan pergi dulu."
Dulu, mendiang ibunya selalu berpesan satu hal, kalau suami istri bertengkar, jangan ada yang keluar rumah. Jangan tidur dalam keadaan marah. Selesaikan dulu. Karena masalah yang didiamkan terlalu lama akan tumbuh menjadi jurang.
"Aku minta maaf, Mas," air mata Alinea kembali luruh. "Kita selesaikan dulu."
Adam menoleh dengan wajah yang sarat akan kejengkelan. "Apalagi yang kamu mau, sih?"
"Mas..."
"Kan sudah selesai masalahnya!" bentak Adam kasar. "Sekarang masalahnya, aku nggak mau lihat wajah kamu! Muak sekali aku lihatnya." Pria itu menatap Alinea dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Nangis terus!"
Dengan satu sentakan kasar, Adam mengempas tangan Alinea. Tubuh Alinea yang ringkih langsung kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Pinggangnya menghantam sudut dipan tempat tidur dengan keras. Rasa nyeri yang tajam langsung menjalar ke punggungnya. Namun, Adam bahkan tidak menoleh sedikit pun. Tidak ada secuil pun rasa bersalah atau niat untuk membantu istrinya bangkit. Pria itu melangkah pergi begitu saja
Rumah kembali sunyi. Sangat sunyi hingga detak jam dinding terasa mencekam.
Alinea terduduk lunglai di lantai, tangannya meremas d**a yang terasa berdegup terlalu cepat. Sesak. Ia seperti kehabisan oksigen untuk bernapas. Air matanya terus mengalir deras tanpa bisa dihentikan.
Muak? Tentu saja. Ia juga muak.
Ia muak pada hinaan Puspita. Ia muak pada bentakan Adam. Ia muak pada rasa ketakutan dan kecemasan yang harus ia telan bulat-bulat setiap hari. Dan yang paling membuatnya muak... adalah dirinya sendiri yang terus-menerus memilih untuk bertahan.
Lima tahun. Lima tahun ia memangkas egonya demi menjadi istri yang berbakti. Lima tahun ia mencoba mengerti. Lima tahun ia memupuk sabar. Dan hasilnya? Sebuah tamparan keras di pipi kiri.
Alinea perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah, napasnya memburu tidak beraturan. Di tengah kekosongan batinnya, ia tiba-tiba teringat sebuah janji yang pernah ia buat diam-diam pada dirinya sendiri di awal pernikahan dulu: Jika Adam memukulnya sekali saja, ia akan pergi. Tidak peduli bagaimana caranya, tidak peduli ke mana tujuannya, ia harus pergi.
Perlahan, Alinea bangkit. Langkah kakinya terseret menuju lemari kecil tempat Adam menyimpan dokumen-dokumen penting. Tangannya bergetar hebat saat membuka laci paling bawah.
Paspor, map berisi surat kendaraan, berkas-berkas kerja dan sebuah buku tabungan.
Mata Alinea langsung membelalak. Ini adalah satu-satunya tabungan yang tersisa atas namanya. Dulu, rekening ini dibuat bersama Adam sebagai tabungan masa depan. Tabungan untuk membeli rumah impian mereka sendiri, sekaligus tabungan untuk menyambut anak yang mereka harapkan. Tabungan yang selama ini sengaja tidak pernah ia sentuh sepeser pun.
Alinea memasukkan buku tabungan itu ke dalam tas kain, satu-satunya tas yang ia miliki di kamar ini, lalu menggenggamnya erat-erat.
"Besok aku pergi, Mas," suaranya lirih, namun untuk pertama kalinya dalam lima tahun, nada itu terdengar begitu tegas. "Lihat saja. Aku sudah tidak kuat lagi."
***
Pagi datang membawa hawa dingin. Alinea sudah selesai mandi sejak subuh.
Ia mengenakan pakaian paling sederhana dan menyampirkan tas kainnya yang kini telah berisi beberapa benda krusial, buku tabungan dan KTP
Alinea berjalan cepat menuju pintu depan. Namun, langkahnya mendadak membeku begitu tangannya memutar gagang pintu.
Pintu utama itu terkunci dan Alinea tidak memiliki cadangannya.
Jantung Alinea langsung berdegup dua kali lebih cepat. "Terkunci?" cicitnya panik. Ia mencoba menggoncang pintu sekali lagi, tetapi tetap nihil.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Alinea segera berlari menuju jendela ruang tamu, lalu ke jendela kamar. Semuanya dipasang teralis besi yang kokoh. Seolah rumah dua lantai ini memang sengaja dirancang agar tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa kabur dari dalamnya.
Napasnya mulai memburu panik. Tepat ketika ia hampir putus asa, sebuah memori terlintas di kepalanya, pintu dapur belakang. Kuncinya selalu menggantung di dekat rak bumbu.
Alinea langsung berlari kecil menuju area belakang rumah. Tangannya gemetar hebat saat memasukkan anak kunci ke lubangnya.
Klik.
Pintu terbuka. Alinea hampir saja menangis lega. Pelan-pelan ia melangkah keluar, melewati halaman belakang yang sepi, lalu menuju pagar samping.
Keberuntungan tampaknya sedang berpihak padanya pagi ini; pagar luar tidak digembok. Mungkin karena Adam pulang terlalu larut semalam, atau mungkin karena Puspita mengira Adam akan langsung kembali subuh tadi.
Apa pun alasannya, Alinea tidak peduli. Yang penting, ia berhasil keluar. Benar-benar keluar untuk pertama kalinya dari penjaranya selama bertahun-tahun.
Saat kakinya menapak di jalanan kompleks, udara pagi terasa berbeda. Terasa lebih ringan, bersih, dan membebaskan, meski hanya sedikit.
"Eh? Alin?"
Suara familier itu membuat Alinea tersentak dan menoleh. Kiara, tetangga yang rumahnya hanya berjarak dua bangunan dari rumah Adam, sedang berdiri di depan pagar sambil memegangi sepeda roda tiga anaknya.
Alinea langsung memaksakan sebuah senyuman. "Lho, Mbak Kiara."
"Mau ke mana, Al? Tumben keluar pagi-pagi banget," Kiara tersenyum ramah. "Mau belanja ke depan? Mau barengan?"
"Nggak, Mbak," Alinea menggeleng cepat, gestur tubuhnya tampak buru-buru. "Aku ada perlu sebentar ke arah kota."
"Oh, begitu..."
"Mari duluan ya, Mbak." Tanpa menunggu respons lebih lanjut, Alinea mempercepat langkah kakinya.
Ia tidak ingin mengobrol lebih lama. Ia takut Puspita tiba-tiba membuka pintu depan dan meneriakinya. Ia tidak ingin mendengar pertanyaan basa-basi tentang anak, dan ia menolak menjadi bahan tontonan.
Sebab selama ini, setiap kali mengobrol dengan tetangga, Puspita selalu berhasil menyelipkan sindiran tentang rahimnya. Seolah-olah ‘kegagalan’ Alinea untuk hamil adalah berita daerah yang wajib diketahui oleh seluruh warga kompleks.
Beberapa menit kemudian, Alinea sudah duduk di dalam angkutan umum yang melaju membelah jalan raya. Tangannya menggenggam erat tali tas kain di pangkuannya, sementara pandangannya kosong menatap keluar jendela.
Di sekelilingnya, ada pemandangan yang kontras. Beberapa ibu muda duduk berdampingan. Seorang wanita tampak mendekap bayinya dengan penuh kasih, sementara yang lain sedang menggandeng anak balitanya yang berseragam TK. Ada yang sibuk menyuapi biskuit, ada pula yang mengusap lembut rambut anaknya.
Pemandangan yang begitu hangat dan sederhana, namun entah kenapa membuat d**a Alinea terasa seperti menahan berton-ton beban. Terasa menyesakkan.
Memangnya kenapa aku tidak bisa punya anak, Tuhan? Apa salahku? Kenapa orang lain bisa dengan mudah mendapatkannya, sedangkan aku tidak? Jika memang aku ditakdirkan tidak akan pernah memiliki keturunan... lalu untuk apa aku bertahan dicaci maki selama lima tahun ini?
Air mata Alinea kembali lolos ke pipinya, mengalir diam-diam tanpa suara.
"Bunda..." sebuah suara cempreng khas anak kecil terdengar dari kursi tepat di depannya. Seorang anak laki-laki berseragam TK menunjuk ke arahnya dengan polos. "Kenapa tantenya nangis?"
Sang ibu langsung menoleh dan tampak panik melihat Alinea yang basah oleh air mata. "Maaf ya, Mbak," bisik wanita itu dengan senyum canggung sembari menarik tangan anaknya.
Alinea buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan. "Nggak apa-apa, Bu," jawabnya seraya memaksakan sebuah senyuman tipis.
Ia menatap wajah anak kecil itu. Sangat menggemaskan. Pipi yang tembam, mata bulat yang jernih, dan rambut yang dipotong rapi. Tanpa sadar, sudut bibir Alinea melunak.
Kalau aku punya anak nanti... kira-kira dia akan mirip siapa, ya? Mirip aku... atau mirip Adam?
"Bank CA! Bank CA!" Teriakan lantang sopir angkot seketika membuyarkan lamunan getirnya.
Alinea tersentak. "Kiri, Pak!"
Alinea segera turun dari angkot. Gedung Bank CA megah berdiri tepat di seberang jalan. Syukurlah, karena ia datang sangat pagi, antrean di dalam ruang tunggu belum terlalu padat. Nomor antreannya berada di urutan kelima.
Saat nomornya akhirnya dipanggil, Alinea melangkah maju dan duduk di kursi depan meja teller. Tangannya masih menyisakan sedikit getaran cemas saat menyodorkan buku tabungan lama itu ke atas meja.
"Saya mau minta cetak mutasi rekening, Mbak," ujar Alinea. "Sekalian mau penarikan tunai seluruh saldonya."
Petugas teller perempuan itu tersenyum profesional. "Baik, Ibu. Mohon ditunggu sebentar, ya."
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Jemari petugas bank itu menari lincah di atas papan ketik, menatap layar monitor di hadapannya. Namun, perlahan-lahan, kening petugas itu berkerut dalam. Ia memeriksa layar beberapa kali dengan dahi berlapis kebingungan.
Perubahan ekspresi itu membuat perasaan Alinea mendadak tidak enak. "Ada apa ya, Mbak? Ada masalah?"
Petugas teller itu menoleh, menatap Alinea dengan pandangan ragu sekaligus sungkan. "Maaf sekali, Ibu..."
"Ya?"
"Untuk rekening atas nama Ibu Alinea Vania Sutomo ini... saldonya nol rupiah."
Alinea spontan melepaskan tawa kecil, mengira indra pendengarannya sedang kacau akibat kelelahan. "Nol? Maksudnya?"
"Iya, Ibu," petugas itu mengangguk pasti. "Bahkan catatan di sistem kami menunjukkan bahwa saldo rekening ini sudah menyentuh angka nol sejak satu tahun yang lalu."
Dunia di sekitar Alinea seolah berhenti berputar seketika. Seluruh pasokan udara di paru-parunya menguap.
"Nol rupiah?!" Suara Alinea meninggi tanpa bisa ia kontrol, membuat beberapa nasabah di barisan belakang menoleh ke arahnya.
Petugas bank itu berusaha tetap tenang dan menjaga privasi. "Jika berdasarkan catatan riwayat transaksi di layar saya, Ibu..." Jarinya menunjuk ke arah monitor yang tidak bisa dilihat Alinea. "Seluruh dana di dalam rekening ini telah dipindahkan secara bertahap... melalui fasilitas mobile banking."
Alinea langsung berdiri tegak dari kursinya, wajahnya mendadak seputih kertas. "Mobile banking?!"
"Benar, Ibu."
"Mustahil!" Suara Alinea bergetar hebat, nyaris berteriak. "Saya bahkan nggak pernah mengaktifkan atau menginstal aplikasi mobile banking di ponsel saya, Mbak?! Hanphone saya ini butut mbak!"
Petugas teller itu langsung terbungkam, membeku melihat kepanikan luar biasa dari nasabah di depannya.
Sementara itu, Alinea merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak dingin dan berhenti mengalir. Karena di detik itu juga, sebuah kesadaran yang jauh lebih kejam, lebih mengerikan, dan lebih menjijikkan daripada semua makian mandul yang pernah ia terima, menghantam otaknya secara telak.
Seseorang telah merampok dan menguras habis seluruh harta dan masa depannya di bank ini. Dan di dunia ini, hanya ada satu orang yang memegang, mengetahui sandi, dan memiliki akses terhadap keberadaan buku tabungan itu selain dirinya.
Adam Atma Dinya.