Ketukan keras kembali menggema dari balik pintu kamar.
Tok!
Tok!
Tok!
Awalnya hanya ketukan biasa, lalu berubah menjadi gedoran kasar yang membuat daun pintu bergetar.
"Nggak usah ngambek-ngambekan ya, Alin!" teriak Puspita dari luar. "Itu piring kenapa belum kamu cuci? Nanti ada lalat! Jorok, Lin! Sampahnya juga belum dibuang!"
Alinea memejamkan mata erat-erat. Tubuhnya masih meringkuk di atas kasur. Ia menarik selimut hingga menutupi kepala, lalu menyumbat kedua telinganya dengan bantal. Seolah dengan begitu, suara-suara di luar akan lenyap. Seolah dengan begitu, hidupnya bisa kembali tenang.
Air mata kembali mengalir tanpa suara.
"Kenapa aku jadi yatim piatu cepat banget sih, Ma..." suaranya lirih, nyaris tak terdengar. "Kalau kayak gini... aku pulang ke mana, Ma? Pa? Aku gak mau di sini terus-terusan, Ma… Nggak mau…"
Dulu, saat kedua orang tuanya masih hidup, rumah selalu menjadi tempat paling aman tempat ia pulang ketika dunia terasa terlalu berat. Sekarang? Bahkan ia tak punya tempat dengan definisi rumah. Baginya, rumah adalah neraka kecil yang kini ia tempati.
Tangisnya masih sesegukan, hingga akhirnya ia terlelap tanpa menghiraukan teriakan mertuanya.
Entah berapa lama waktu berlalu. Mungkin satu jam, mungkin tiga jam. Alinea tidak tahu. Yang ia tahu, tiba-tiba suara gedoran yang jauh lebih keras membuatnya tersentak bangun.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
"Buka, Alin!" Suara Adam terdengar menggelegar dari luar. "Aku dobrak pintu ini dan jangan harap kamu kukasih uang bulanan!"
Puspita ikut bersahut dari belakang, memprovokasi, "Sudah, dobrak aja! Biar dia yang tanggung biaya pintunya!"
Jantung Alinea langsung berdegup kencang. Matanya yang sembab menatap keluar jendela; langit sudah berubah jingga gelap. Ia benar-benar tertidur seharian. Dengan panik, ia turun dari tempat tidur. Baru dua langkah berjalan menuju pintu—
BRAK!
Daun pintu terbuka paksa. Hantaman keras itu membuatnya membentur dinding, hampir mengenai tubuh Alinea. Adam berdiri di sana dengan wajah merah padam.
"Kamu gila, ya?!" Bentakannya membuat tubuh Alinea refleks gemetar. "Bodoh?! Hah?!" Adam melangkah maju, menunjuk tepat di depan wajah Alinea. "Jangan bikin orang panik! Pemalas ya kamu sekarang? Dibilangin yang bener malah nangis!"
Alinea membuka mulut, namun Adam langsung memotong tanpa memberi celah.
"Dibilangin itu didengar! Berbenah! Bukan malah tidur! Memangnya nangis bisa menyelesaikan masalah?!"
Alinea menggigit bibirnya kuat-kuat. Matanya kembali memanas. Bukan karena bentakan itu, tetapi karena tidak satu pun dari mereka yang bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Tidak satu pun. Seolah dirinya bukan manusia. Seolah dirinya hanya robot pembantu yang gagal bekerja.
Puspita ikut melangkah masuk ke kamar dengan tatapan penuh ketidaksukaan. "Kamu nggak terima saya bilang rahim kamu kering?"
Alinea mengepalkan jemarinya di balik daster.
"Kamu itu mandul, Alinea." Wanita tua itu sengaja memberi jeda, menikmati setiap detiknya. "MANDUL!"
Kata itu menghantam telinga Alinea seperti palu gada.
"Dengar!" Puspita menunjuk Adam. "Anak saya itu terbukti sehat—"
"Mama!" Adam langsung memotong kasar.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya hari itu, Adam tampak panik. Wajahnya menegang.
Alinea menoleh, keningnya berkerut menyadari perubahan ekspresi suaminya. "Aku juga sehat, Ma," katanya dengan suara bergetar. "Aku ke dokter dan—"
"Halah!" Puspita memotong sinis disertai tawa meremehkan. "Sehat apanya? Sehat kok nggak punya anak? Dokternya bohong!"
Adam semakin menegang, suaranya meninggi, "Mama, cukup!"
"Kenapa? Mama kan punya bukti kalau anak Mama sehat!" Kali ini suara Puspita terdengar sangat bersemangat dan yakin. Seolah mengejk dan menantang.
Dan entah kenapa, sesuatu dalam diri Alinea langsung menangkap kejanggalan itu. Bukti? Bukti apa? Selama ini, setiap kali membahas soal keturunan, Adam selalu menghindar. Suaminya selalu menolak diajak pemeriksaan bersama dengan dalih mereka hanya perlu berdoa. Lalu, kenapa sekarang Puspita begitu yakin memiliki bukti?
"Mama!" Adam kembali membentak. Wajah pria itu bahkan terlihat lebih pucat daripada Alinea.
"Apa sih?!" kesal Puspita. "Mama memang ada buktinya kalau kamu sehat!"
Adam langsung bungkam. Terlambat, kalimat itu sudah telanjur terucap. Dan di detik itu, Alinea melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di mata suaminya. Kepanikan yang berusaha disembunyikan.
Namun, Puspita yang telanjur emosi tidak menyadari kepanikan putranya. Ia masih terus mengarahkan telunjuknya ke arah Alinea.
"Udahlah! Tinggalin aja wanita ini! Kenapa sih kamu masih mempertahankan wanita mandul kayak dia? Udah kamu kerja capek-capek, sampai rumah malah disambut wanita kayak begini." Puspita menggeleng jijik. "Nggak bergaul. Kumel. Kucel. Cengeng. Cuma habisin duit kamu aja!"
Sesuatu akhirnya pecah dan meledak dalam diri Alinea.
"Duit Mas Adam yang mana yang aku pakai, Ma?!" Suara Alinea keluar begitu lantang, memutus makian ibu mertuanya.
Ruangan mendadak sunyi senyap. Puspita bahkan terbelalak, terkejut dengan perlawanan yang tidak disangkanya.
"Aku—"
"Nggak usah ngelak! Kamu itu—"
"DIAM!"
Kali ini teriakan Adam menggema begitu keras, membuat kedua wanita itu terbungkam. Adam menatap ibunya dengan napas memburu. "Mama keluar dulu."
"Tapi, Adam—"
"Ke kamar Mama aja," potong Adam dengan nada tegas yang tak terbantahkan. "Biarkan aku ngomong sama Alin."
Puspita mendecak kesal, namun akhirnya berbalik arah. Meski begitu, sebelum melangkah keluar, ia masih sempat melemparkan racun terakhirnya. "Iya, bilangin tuh istri kamu. Jangan cuma bisa membantah. Cuma numpang aja songong!"
Brak! Pintu kembali ditutup kasar.
Kini, hanya tersisa Alinea dan Adam. Atmosfer kamar mendadak berubah menjadi sunyi dan mencekam. Alinea menatap suaminya dengan mata yang memerah dan basah.
"Mas..." suaranya bergetar, perih. "Kapan kamu belain aku?"
Adam mendengus, membuang muka. "Apaan sih?"
"Kenapa kamu selalu—"
"Aku nggak belain kamu?" Adam tertawa sinis, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Nyuruh Mama diam tadi itu bukan belain kamu, hah? Aku udah jadi anak durhaka berkali-kali gara-gara kamu! Aku sering bantah Mama gara-gara kamu!"
Bantah? Kapan? Alinea ingin tertawa sekaligus menangis di saat yang bersamaan. Narasi macam apa yang sedang suaminya buat? Selama lima tahun pernikahan mereka, yang nyata-nyata ia lihat adalah Adam yang selalu berdiri di belakang ibunya. Selalu membenarkan Puspita. Tidak pernah sekali pun berpihak padanya.
"Mas..." suara Alinea melemah, energinya terkuras habis. "Aku capek."
Adam memalingkan wajah, jengah. "Apa lagi?"
"Apa kita nggak bisa hidup berdua aja?" Kalimat itu akhirnya lolos dari bibirnya. Kalimat yang sudah bertahun-tahun ia kunci rapat di dasar d**a. "Aku minta tolong, Mas... aku udah nggak sanggup."
Adam menatap Alinea selama beberapa detik, lalu tiba-tiba meledak dalam tawa. Pria itu tertawa seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol sedunia.
"Berdua doang?" Adam melangkah maju, memangkas jarak hingga bayangannya mengurung tubuh Alinea. "Kamu tahu nggak, seberapa bosan dan muaknya aku kalau cuma sama kamu?"
Napas Alinea tertahan. "Hah?"
"Tahu nggak?!" Adam menatapnya dengan tatapan merendahkan. "Kalau nggak ada Mama, kamu nggak bakal bisa milihin makanan yang aku suka. Kamu juga nggak ngerti seleraku soal rumah!"
Alinea refleks menatap sekeliling kamarnya yang sesak, rumah yang penuh dengan barang timbunan, rumah yang mirip gudang itu yang membuatnya sulit bernapas setiap hari. Ternyata, neraka yang ia tinggali ini adalah apa yang suaminya sebut sebagai selera.
"Mas, aku jamin kalau kita pindah, kita nggak akan—"
PLAK!
Kepala Alinea terlempar ke samping. Dunia seolah berhenti berputar seketika. Pipi kirinya langsung terasa panas, disusul rasa perih yang menyengat kulitnya. Selama beberapa detik, otaknya membeku, tidak sanggup mencerna apa yang baru saja terjadi.
Sampai akhirnya rasa sakit itu menjalar ke rahangnya, memaksa sebuah kesadaran pahit menghantam kepalanya: Adam baru saja menamparnya.
"Mas..." Suara Alinea pecah. Isak tangis yang lirih meluncur bersama air mata yang deras membasahi pipinya yang memar.
Adam berdiri tegak di depannya dengan d**a yang naik-turun memburu napas. Tidak ada binar penyesalan di matanya. Tidak ada rasa bersalah. Hanya ada kilat kemarahan yang arogan.
"Jangan banyak omong," ucap Adam, dingin dan kejam. "Kamu itu cuma numpang di sini. Ingat itu." Pria itu menunjuk lantai kamar dengan jarinya. "Numpang!"
Kata itu melesat dan menusuk jauh lebih dalam dibandingkan rasa perih akibat tamparannya.
"Kalau nggak ada aku..." Adam menatapnya dari atas ke bawah, merendahkan. "Kamu itu sudah jadi gembel di jalanan. Sadar diri kamu!"
Air mata Alinea terus jatuh, namun tubuhnya tidak lagi gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka... rasa sedih itu menguap sepenuhnya. Rasa takutnya melebur. Yang tersisa di rongga dadanya kini hanyalah kemarahan. Kemarahan yang begitu pekat, besar, dan membakar habis seluruh sisa-sisa cintanya yang bodoh.