setelah pulang dari acara keluarga besarnya aza dan ana, zeira memilih memutar motornya menuju suatu tempat sekedar untuk melepas penat., Lagian kalau langsung pulang ibu pasti masih sibuk d butik ataupun ke toko kue karena ada pesanan mendadak
10 menit berlalu menempuh perjalanan dan kini ia sudah berada di sebuah tempat bertuliskan cafera , ia lalu melangkah masuk dan memilih duduk di lantai paling atas dengan dekorasi tidak tertutup menampilkan alam bebas dan perkebunan teh serta pancaran langsung sinar matahari
cafera adalah salah satu kedai kopi lenggenananya yang tentunya tanpa sepengetahuan aza dan ana,
bagian paling atas kedai emang sengaja di buat terkena langsung pacaran sinar matahari
membuat kebanyakan pengunjung lebih memilih di bawah tapi lain halnya dengan zei justru hal ini membuatnya nyaman berada di sini dan hal ini sudah menjadi suatu kebiasan zei yang sudah di ketahui semua barista
Setelah memesan ia kembali duduk dan memejamkan matanya dengan senyum menikmati semilir angin yang menghembush ke wajahnya,
namun perlahan senyum manis itu pudar serta buliran air yang perlahan jatuh membasahi pipi tembemnya
"Udah gue bilang Dib lo gak bakal bisa jauh dari gue sebaliknya gue juga gak bisa jauh dari lo" ucap cowok tinggi di hadapanya
"Kenapa cuman diem? Lo tuh emang gak bisa di percaya tau ga dib,lo bilang lo putus sama gue karena niat hijrah tapi apa malah gantel sama cowo lain" Ujar cowok di depanya dengan tatapan penuh amarah
"Lo emang perempuan munafik tau ga Dib lu tuh cewe mura_"
Matanya yang semula terpejam di hiasi buliran air mata kini terbuka karena di kagetkan dengan sesuatu yang hangat pipi kirinya
"astaghfirullahalazim " latahnya memegangi pipinya dan melihat sang pelaku yang sudah menyodorkan secangkir kopi pesannya
"huft kak asya"
"kenapa? " tanya cewe berhijab yang sudah duduk di sampingnya, dia kak asya pemilik kedai kopi yang sudah menganggap zei seperti adiknya
"kenapa apanya kak? "
"kenapa nangis zei"
zei sedikit tertawa lalu menggeleng" gak gak nangis kok"
"terus tadi apa namanya kalau bukan nangis? jangan bilang cuman kelilipan" zeira terkekh mendengar ucapan kak asya
"sendirian lagi? "
"hehe iyaa kak"
"emang kunaon? "
"hehe ya Gak pp pengen sendiri aja"
"Kamu teh bukan baru sekali dua kali atuh ke sini ze bahkan kaka sendiri tahu semua gerak gerik kamu, kaka tau kamu punya problem tapi kaka cuman mau kasi tahu jangan pernah lelah untuk terus berdoa sama yang di atas karena segala sesuatu yang terjadi pada setiap kita semua adalah atas ijin dan kehendak dari-NYA"
zei mengangguk samar "Iya teh makasih ya"
"iya Kalau ada yang mau kamu ceritakan ke kaka cerita aja atuh ya jangan sungkan" di jawab senyum hangat oleh zei
"ya udah atuh kaka ke bawah dulu ya banyak kerjaan"
"iya kak hatur nuhun kak"
setelah kepergian kak esya zei melirik arloji di tangannya masih ada 30 menit untuknua di sini,
ia kemudian kembali memejamkan matanya
di sisi lain seorang cowok yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai paling atas dengan kaos putih polos yang di balut jaket kain memicingkan pengelihatannya melihat seseorang yang sedang memebelakanginya
ia perlahan berjalan mendekatinya untuk memastikan dugaan yang benar atau salah
"zeira?! " Uajarnya membuat sang pemilik nama sontak membuka matanya dan melihat ke samping
"ASTAGHFIRULLAHALAZIM"
"nah tuh kan dugaan gue gak salah" Ujarnya penuh semangat namun zei sudah lebih dulu memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan yang memperlihatkan hamparan hijau perkebunan teh serta pancaran sinar matahari yang mulai tanggal dengan warna jingganya serta menggeser posisi duduknya agar sedikit jaga jarak
"lo pasti masih ingat kan sama gue? " dan di jawab anggukan dari zei
" lo ngapain di sini? yah jelas ngopi lah kan ini kedai kopi gimana sih"
"pertanyaan yang tidak butuh jawaban" ucapannya dalam hati dan menyerupai kopinya yang tersisa sedikit
"eum maaf ze" ucapnya menjeda kalimat selanjutnya sambil menggaruk tengkuknya yang tida gatal
"lo sering ke sini juga ya? "
"kadang"
"owh ya? kalau gue sih sering banget karena ini salah satu kedai favorit gue"
"gak nanya" singkat padat dan jelas itulah satu kata yang terbesit di otak genta sekarang
ya! yang menghampirinya tadi adalah Genta yang ia temui tadi sore di acara keluarga besar ana dan aza
mungkin kebanyakan orang-orang akan berkomentar di saat kita perempuan bersikap judes cuek dingin bahkan sombong padahal kan cuman berteman
"iya memang Tapi ustadzah oki setiana dewi pernah berkata dalam sebuah ceramahnya bahwa Ya laki-laki dan perempuan boleh berteman,laki-laki yang bukan mahram atau laki-laki ajnabi laki-laki asing boleh saja berteman tetapi tetap harus ada batasan dan harus ada jarak, Maka kita sebagai perempuan di anjurkan menjadi perempuan yang ketika berbicara lugas singkat padat dan jelas tidak boleh menye-menye atau mendayu-dayu saat berbicara karena kata Allah Khawatir ada orang yang mempunyai penyakit hati berkeinginan terhadap kita, Dan juga jaga adab-adab pergaulan yaitu jangan khalwat /jangan berdua-duaan jangan ikhtilat yang kemudian dalam pergaulan atur tutur kata kita agar saat berbicara Singkat padat dan jelas"
"eum ma-maksud gue gu-gue cuman cuman ngasih tahu aja" keduanya pun kembali diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing
Tiba-tiba zeira berdiri berniat pamit" gue duluan Assalamu'alaikum "
"eh zei- wa'alaiqumussalam" balasnya dengan nada pelan
"huft menarik beda dari yang lain" ujarnya di iringi senyuman
sedetik kemudian terdengar suara adzan dari masjid yang tak jauh dari kedai Cafera, Genta lalu mengambil kunci motornya lalu berjalan menuruni tangga satu persatu dan keluar dari cafe menuju masjid tuk menunaikan shalat maghrib
"dih bocah mau kemana rapi pisan" Ujar ana dari dari dapur sambil mengunyah
"ih KEPO" balas genta
iya setelah sholat magrib ia tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan nangkring dulu di rumahnya tante mira
"hayo mau pacaran nih pasti" genta langsung melempar bantal sofa ke arahnya
"Sembarangan sok tahu huuuu"
"auwh sakit bocil"
"gue udah bukan bocil udah jadi anak kuliah sekarang"
"tetap aja bocil wlee" ucap ana terus mengejek sepupunya itu
"Huft stres bunda lama-lama ngadangu anjeun gelut" kemudian berlalu meninggalkan putri sulungnya dan keponakannya
" ana" panggilnya
"hmm"
"tadi gue ketemu zeira" sontak ana yang tadinya sibuk dengan ponselnya langsung berbalik melihat sepupunya dan ya cowo dengan panggilan genta itu sedang tersenyum
"gak usah bercanda genta"
"siapa yang bercanda orang tadi beneran"
"halah palingan juga gak di respon" lalu kembali dengan kegiatan awal bersama ponselnya
"gak tuh malahan baik banget" ana kembali menataonya dengan mata memicing
"jangan macem-macem lo sama sahabat gue" ucapnya tegas
"ck gak bakalan"
"gini ya na lo tahu gak dia itu beda sama cewe-cewe yang pernah gue dekati"
"huft percuma kan sudah pernah gue kasi tau dia mah anti b***k apalagi kaya lo"
"emang kunaon? "
"Ck lo mah gak perlu tahu kenapa intinya teh jangan" Setelah mengatakan itu ana berdiri lalu melangkah masuk ke kamarnya
sedangkan genta di buat bingung kenapa dengan zeira?
apa alasanya?
ia pasti punya alasan tertentu tapi apa?