Decak kagum yang tak terbilang pun datang dari siapa saja yang mendengar Rahman mengaji. Bahkan reptil kecil yang selalu merayap-rayap pada dinding dan plafon kamar, menjadi saksi atas keindahan lantunan ayat yang di senandungkan Rahman. Meski Abi dan Umintelah terbiasa mendengar Rahman mengaji, namun kedua orang tuanya pun tidak pernah bosan mengagumi bait-bait syahdu nan merdu yang di lafalkan Rahman. Suara Rahman seolah-olah menjadi oase di rumah bak istana milik majikannya yang kering kerontang oleh ilmu agama.
"Tabarakasmu Rabbika zil halalin wal ikram." Rahman menyelesaikan bait terakhir surat Ar-Rahman dan menutupnya dengan ucapan akhir dengan baik, "Sadaqallahul 'adzim"
Abi memukul pundak Rahman lembut seraya memberi pujian, "Hebat kau, Rahman. Tak salah Abi memberi nama seindah bacaan surat yang kau baca itu."
Rahman mengukir senyum di wajahnya. Dia tersipu malu dengan pujian Abi yang berdecak kagum kepadanya. Tinggi tubuhnya yang belum bisa melampaui tinggi tubuh Abinya, membuatnya hanya sanggup memeluk separuh tubuh Abi dari pinggang ke bawah saja. Ia teramat bahagia telah membuat Abinya kagum.
Tiba-tiba, GUBBBBBRAAKK!!!. Terdengar suara seperti benda jatuh dari luar kamar yang dihuni Rahman, Abi dan Umi nya. Spontan mereka bertiga tersentak kaget.
"Hey! Siapa di luar sana?" pekik Abi.
Hening tidak ada jawaban. Jangankan suara, gerak-gerik sesuatupun tidak tertangkap lagi oleh telinga. Abi berinisiatif keluar kamar memastikan apa yang barusan terjadi. Kreek... ia dorong pintu agar tubuhnya bisa keluar. Matanya mencari-cari benda atau apa saja yang menimbulkan bunyi keras tadi. Ternyata... AHA dia menemukan seseorang tengah terduduk di lantai. Sepertinya orang itu baru saja terjerembab.
"Nona Sarah?" tanya Abi mencoba meyakinkan dirinya atas apa yang sedang di lihatnya.
"Iya, pak. Aa...aa... aku Sarah." jawab Sarah kikuk menahan malu dan rasa sakit pada b****g yang menghantam kerasnya ubin.
Mendengar nama Sarah disebut, Rahman yang tadinya sekedar menguping akhirnya ke luar kamar menyusul Abinya. Hasratnya ingin memastikan keadaan apa yang telah terjadi pada sahabatnya. Tergopoh-gopoh Rahman menghampiri Abi dan Sarah di bawah temarammya lampu ruang paviliun.
Setengah membungkuk, dipertanyakan Rahman perihal apa yang membuat Sarah berada di posisi terduduk di lantai seperti ini, "Sarah, apa yang terjadi dengan kamu? Mengapa sam... "
Kalimat Rahman tidak tersambung habis. Sarah buru-buru menitipkan telapak tangannya pada mulut Rahman agar Rahman berhenti bertanya dengan nada keras.
"Ssstttt... jangan keras-keras ngomongnya! Nanti Ayah tahu aku kesini."
Rahman mengangguk dan disusul oleh anggukan yang sama oleh Abi. Setengah berbisik Rahman kembali bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu terduduk di sini?"
"Aku terjerembab. Kakiku tersandung kaki meja itu." tunjuk Sarah pada sebuah meja bundar tempat Rahman sekeluarga biasa makan.
"Oh... pantas aku mendengar bunyi benda terjatuh tadi." Rahman menyimpulkan dengan anggukan kepada tanda mengerti. "Lalu, kenapa kamu ke sini?" tanya Rahman masih dengan nada yang setengah berbisiknya.
Sarah menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah. Wajahnya sedikit memerah menyembunyikan malu. Sepertinya ada sesuatu yang tengah dia coba sembunyikan. Tapi dia tak berhasil. Lidahnya tak sanggup berdusta tentang perihal kedatangannya.
"Sayup-sayup dari lantai dua kamarku, aku mendengar suaramu mengaji. Indaaahh sekali. Seperti nyanyian merdu. Aku datang ke mari ingin mendengarkannya lebih jelas lagi. Hanya itu." terang Sarah tersipu dan menggigit lembut bibir bawahnya.
Rahman melirik Abinya. Dia lalu mencoba menggoda Sarah. "Yakin hanya ingin mendengarku mengaji? Bukan karena kamu rindu bermain bersamaku?" ledek Rahman.
Sarah semakin menanggung malu. Tinglahnya semakin terlihat serba salah. Wajahnya kian merona bak buah tomat yang tengah ranum-ranumnya.
"Sudah... sudah... bantu Sarah berdiri! Biarkan dia menghilangkan rasa sakit di kakinya sebelum dia kembali ke kamarnya lagi." ujar Abi sembari membantu Sarah beranjak dari tempat terjatuhnya.
Tak lama berselang, terdengar derap langkah yang mendekat ke arah paviliun. Dari buniynya, bisa di pastikan langkah seseorang yang tengah ter buru-buru mengejar sesuatu. Tak ayal, derap langkah itu mengundang kecemasan pada raut wajah mereka bertiga. Terlebih raut wajah Sarah yang perlahan-lahan rona merahnya menipis, berganti pucat. Dia terlihat lebih cemas dibandingkan Rahman dan Abi. Kecemasan yang dirasakan Sarah membuat Sarah terpaksa bersembunyi di balik tubuh Abi.
Derap langkah itu semakin mendekat, memburu entah apa yang di buru. Seperti menanti kedatangan malaikat maut yang hendak mencabut nyawa, ketiganya dalam ketegangan yang hampir sama. Sarah berkata kalit di balik punggung Abi, "Iiii... itu pasti Ayahku. Itu pasti Ayahku."
Setali tiga uang dengan Sarah, Rahman pun ikut memucat. Dia tahu bahwa Arya Laksono tidak pernah memperbolehkan Sarah bertandang ke paviliun tempat keluarga Rahman menumpang. Sudah barang tentu ketahuan, terpancing lah murka Ayah Sarah.
Sarah benar. Kini bukan saja derap langkah yang terdengar wajah pemilik langkah itu pun menampakkan sosoknya. Berbalut mimik berjuta kekesalan pada wajahnya, Arya Laksono menyinggahi diri bertandang ke paviliun yang selalu di anggapnya sebagai tempat yang pamatas untuk orang-orang sekelas pembantu. Berbalut piyama sutra berwarna silver, dia berdiri berkacak pinggang. Pangkal alisnya mengerut sehingga saling bersatu. Kumisnya yang tumbuh rapi seakan-akan menegang seirama dengan suasana hatinya. Matanya tak ubah mata singa jantan yang luar menyapu setiap penjuru paviliun.
"Keluarkan Sarah!" katanya tanpa banyak bertanya.
Abi tertunduk tanpa menjawab sepatah kata atau berbuat apapun.
PLAAAKK!! Terdengar pukulan dari telapak tangan kekar Arya Laksono pada meja bundar di sebelahnya. Dia murka. "Jangan biasakan memintaku mengulang permintaan yang sama!!! Sebab itu artinya kalian sedang menguji-nguji kesabaranku!"
Mendengar perkataannya, ciutlah hati Rahman yang berada di sisi kanan Abi. Getaran tubuhnya menahan rasa takut sangat terasa oleh Abi. Begitu pula tubuh adalah yang bersembunyi di belakang tubuh Abi. Getaran ketakutan terasa begitu dahsyatnya dari dua bocah polos tersebut. Sebagai orang tua, dengan bijak Abi mencoba berdiplomasi untuk menetralisir kemarahan majikannya.
"Sabar, Tuan. Kami tidak menyembunyikan putri Tuan Arya. Tak perlu Tuan meminta kami untuk mengeluarkan dia dari dalam ruangan ini." ucap Abi.
"Lantas? Di mana dia, hah? Kalian mengajakku bermain kucing-kucingan?" tanya Arya Laksono membentak.
Abi menggeleng, "Tidak, Tuan. Di belakang punggungku ada Sarah, putri Tuan. Mintalah dia keluar secara baik-baik karena aku tidak pernah ah meminta dia berada di belakang punggungku." jawab Abi tak gentar.
Arya Laksono melangkah menuju ke belakang punggung Abi. Apa yang dikatakan pembantunya itu benar. Sarah tengah terkukung rasa takut di balik punggung Abi. Arya Laksono segera menyeret lengan putrinya sambil melontarkan amarahnya, "sudah berkali-kali Ayah ingatkan, kau tidak boleh menyambangi ruang paviliun ini. Ini hanya untuk pembantu!!".
"Sarah hanya ingin mendengar Rahman mengaji, Ayah." Sarah berdalih. Suaranya setengah tercekar menahan tangis. Hampir saja air matanya tumpah dari bola matanya yang sudah terlihat mengkilat berkaca-kaca.
"Apapun alasannya tetap tidak Ayah izinkan kau berada di sini!" tegas Ayah Sarah tidak bisa di tawar-tawar.
Mendengar itu, hati Rahman tergerak untuk mempertentangkan kemarahan Arya Laksono. Benaknya berputar mempertanyakan apa bedanya ruang tempat dia sekeluarga huni dengan ruang kediaman majikannya sekeluarga. Ruang pembantu dan ruang majikan, namun tak seharusnya ada kehinaan pada salah satunya.
"Tuan... apa bedanya ruangan ini dengan ruangan tuan? Umi ku membersihkannya sama bersihnya dengan ruang tuan sekeluarga." tanya Rahman memberanikan diri.
Arya Laksono merasa tidak senang dengan pertanyaan Rahman. Laki-laki yang terbiasa dengan geli mangan harta dan membeda-bedakan kasta itu seakan di tantang oleh bocah ingusan, anak pembantunya pula. Arya Laksono membentak dengan penuh amarah yang semakin bergejolak.
"DIAM!!! Tau apa kau bocah kecil? Kau yang menghasut putriku untuk mendatangi tempatmu ini kan?" tuduh Arya Laksono sengit.
"Silahkan Tuan tanya dengan putri Tuan sendiri, apa aku pernah menghasut nya untuk datang ke sini." kilah Rahman membela diri.
Sarah mulai menangis. Hatinya tak kuat menanggung kericuhan atas ulahnya bertandang diam-diam ke paviliun Rahman sekeluarga bahunya terguncang-guncang menahan kesedihan yang melandanya.
. "Aa... Ayah... aku yang datang sendiri ke sini. Sudahlah, Ayah, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Hentikan kemarahan Ayah dengan Rahman dan Abinya." pintar Sarah memohon.
Meski hasrat untuk berdebat masih bergelora di hati Arya Laksono. Namun mendengar pintar Sarah, Arya Laksono luluh. Dia menggandeng paksa lengan Sarah meninggalkan tempat tersebut dengan sia-sia kemarahan yang masih menghasut-hasut hatinya.