Rahman mengangguk tanpa protes apapun atas perintah majikan orang tuanya tersebut. Tidak ada pilihan yang bisa dia pilih selain menyetujui perintah tersebut untuk dilaksanakan. Baru setelah itu Rahman dipersilahkan masuk melewati pintu belakang tempat dia, Umi, dan Abinya bisa keluar masuk. Memang, sebagai anak seorang pembantu-dimana Uminya bekerja menyelesaikan segala pekerjaan di dalam rumah Arya Laksono dan Abinya bekerja sebagai tukang kebun dan sopir, mereka hanya diperkenankan keluar masuk dari pintu belakang. Laki-laki mereka seolah-olah terlalu kotor untuk bisa masuk melalui pintu depan yang di anggap hanya pantas untuk orang kalangan atas saja. Tapi bagaimanapun, Rahman terbiasa dan terlatih dengan keadaan ekonomi keluarganya yang begitu timpang dengan keluarga Sarah. Bisa makan dan menumpang tinggal di dalam rumah bak istana sudah kesyukuran yang tidak terperi baginya.
***
Kelam perlahan-lahan menggerayangi malam hingga kawanan bintang tak lagi terlihat. Semakin larut, semakin terasa angin menyusup keji ke dalam pori-pori dari sela-sela ventilasi. Tiga kepala yang tengah merasakan dinginnya malam masih sama-sama terjaga. Kamar yang tidak begitu luas itu tetap terasa nyaman dalam baluta cinta dan kasih sayang mereka bertiga. Ada Umi yang masih saja sibuk menjahit baju Abi yang robek karena lainnya mulai menipis dan seratnya mulai merenggang. Ada Abi yang masih mengunyah-nguyah sepotong kue buatan Umi. Dan, ada Rahman yang masih asyik membuka buku bacaannya tentang Risalah para Nabi.
Umi membuka percakapan, "Tadi tuan Arya marah kepada kau, Rahman?" tanya Umi membunuh kesunyian sekaligus membiyarka konsentrasi Rahman membaca.
"Sepertinya begitu, Umi." jawab Rahman singkat.
"Seharusnya tuan Arya tidak perlu murka kepada anak kita. Rahman tidak menyakiti Sarah. Rahman justru telah mengajarkan Sarah sesuatu yang baik yaitu shalat berjamaah dan mengaji. Huh... ada-da saja tingkah orang kaya sombong itu!" gerutu Abi kesal.
Umi, perempuan berhati sejuk bak salju itu tak banyak angkat bicara. Ia tidak membela perkataan Abi tapi tidak pula membenarkan ti dalam majikannya kepada Rahman. Umi hanya bergumam pela untun menenangkan hati Abi dan mengembalikan semangat Rahman seperti semula.
"Sudahlah, Tuan Arya punya kuasa terhadap putri semata wayang kesayangannya. Kita jangan terlalu membantah." nasehat Umi menetralkan suasana yang sempat menegang karena gerutuan suaminya.
"Tapi Umi... bukan Rahman yang..." kalimat Rahman terpaksa terputus karena Umi keburu menyelanya.
"Iya, Umi mengerti. Bukan kamu yang mengajak Sarah. Tapi kenyataannya, Tuan Arya melihatmu bersama Sarah. Dan, beliau tidak akan peduli siapa yang mengajak dan siapa yang diajak."
Rahman melenguh menahan kecewa dengan kenyataan bahwa Umi sedang tidak berpihak kepadanya. Tapi Umi bertindak cepat meredam kekecewaan putra semata wayangnya. Ia pelim Rahman dan ia elus d**a Rahman dengan penuh cinta kasih. "Bersabarlah, Nak! Bersyukurlah bahwa tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi selain kemarahan Tuan Arya kepadamu tadi. Untung saja ia tidak murka dengan mengusir kita semua dari rumah megahnya ini." nasehat Umi meredam kecewa di hati putra tunggalnya. KalimatUmi seumpama es yang meredakan panasnya bara api yang tengah bergejolak dalam ruang hati. Bukan Rahman saja yang luluh terkulai dalam kalimat kesabaran Umi, tapi Abi juga. Kekesalan Abi terhadap tindakan sang majikan pun ikut mereda.
Sambil membelai-belai janggutnya sendiri, Abi ikut menimpali perkataan Umi, "Umimu ada benarnya, Rahman. Ambil saja hikmahnya. Masih ada untung yang bisa kita petik dari peristiwa tadi. Kau tidak merugikan hanya karena Tuan Arya kepada kau. Akan lebih buruk bila Tuan Arya mengusir kita. Kita tidak punya tempat berteduh lagi. Dari mana kita bisa makan bila Abi dan Umi tidak bekerja di sini? Kau bisa bersekolah pun karena Tuan Arya bersedia membagi rezekinya untuk menyekolahkan kau, Rahman."
Rahman menunduk, masih ada sisa guratan kekecewaan di balik wajahnya. Lisannya masih sangat ingin membantag bahwa dia tidak bersalah. Tapi apalah daya, kedua orang tuanya telah menanamkan teori patuh terhadap nasehat orang tua. Dia telan sendiri pil pahit kekecewaan dan berharap Tuhan melapangkan hatinya.
Perlahan rasa ka tuk mulai menyergap tiga manusia dalam ikatan keluarga itu. Terlihat sepasang bola mata Rahman mulai meredup. Semakin lama semakin redup hingga dia tidak mampu lagi membuka kelopak matanya. Rahman tertidur dengan buku Risalah para Nabi yang masih berada di tangannya.
Sementara itu, kantuk Umi dan Abi yang belum terlalu merajalela. Umi masih sempat membenahi posisi tidur Rahman. Wanita penyabar itu meluruska kaki Rahman, memperbaiki letak kepala Rahman pada bantal kapuk yang mulai menipis, dan menyelimuti tubuh Rahman dengan selembar selimut yang bulunya sudah mulai bergumpal usang.
Abi duduk di tepi tempat tidur Rahman. Ia usap kepala Rahman dengan lembut agar Rahman tidak terbangun. Laki-laki sepertiga abadi yang patasnya terlihat lebih tua dari usia sesungguhnya itu mendaratkan kecup di kening Rahman, "Abi menyayangimu, Nak. Kau akan tumbuh menjadi laki-laki terhebat yang dirindukan Jannah nantinya."
Umi yang mendengar sayup-sayp perkataan Abi merasa sangat tersentuh. Dua laki-laki berbeda usia yang sama-sama dia sayangi itu membuat dia merasa sangat beruntung berada di anatara mereka berdua. Dia tarik pela tubuh Abi dan menyarankan Abi untuk segera merebah diri. Tak lupa, dia bentangkan lebih dulu sehelai tikar pandan pada lantas yang dingin sambil mempersilahkan Abi untuk menempati tikar itu, "Tidurlah, Abi! Malam telah larut."
Tidak menjawab, tapi Abi menuruti perintah Umi. Dia rebahkan tubuhnya dan dia tarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Sebelum Abi benar-brnar terlelap, auli menundukkan kepalanya ke sisi telinga sebelah kanan Abi dan berbisik, "Abi adalah laki-laki terhebat yang Umi miliki. Kelak, Rahman akan sepertimu. Dia akan tangguh menghadapi segala ujian yang di limpahkan Tuhan kepadanya. Yakinlah!"
Abi tersenyum tenang. Matanya berbinar menahan harus. Sambil menarik Umi dalam dekapannya, mereka semua pun terlelap dalam kesenyapan malam yang syahdu.
***
Ting...Ting... Ting...
B sekolah telah berbunyi, pertanda jam pelajaran kelas 5 A hari ini telah berakhir. Rahman dengan sigap membereskan buku-bukunya dan mengejarnya ke dalam ransel biru yang lisuh. Beberapa teman-temannya masih terlihat asyik bercanda tawa bersama yang lainnya.
"Hei...Rahman." panggil salah seorang teman sekelasnya. "Terburu-buru sekali, kau? Apa kau tidak ingin bermain dan bernyanyi bersama dulu sebelum pulang?" tanya bocah laki-laki yang bertubuh gempal dan berambut keriting halus.
Rahman yang menyempatkan diri menoleh langsung menggeleng mantap, "Maaf, aku harus pulang cepat. Ada banyak pekerjaa yang harus ku kerjakan di rumah." jawab Rahman.
Tanpa menunggu tawaran berikutnya, Rahman segera mengangkat meninggalkan kelas. Dia pacu langkahnya lebih cepat dari biasanya. Tapi tiba-tiba kemudian langkahnya terhenti saat Sarah sudah lebih dulu menunggunya di depan gerbang sekolah. Sarah menyapa Rahman dengan senyuman manis khas seorang Sarah.
"Rahman, terburu-buru sekali?" tanya Sarah dengan tatapan mata heran.
"Eh, Sarah... iya aku memang terburu-buru agar bisa segera tiba di rumah lebih cepat dari biasanya. Kamu sudah di jemput?" Rahman balik bertanya.
Sarah mengangguk, "Sudah. Itu ada Abimu sudah menjemputku." tunjuk Sarah pada Abi Rahman yang berdiri hanya berjarak beberapa meter saja dari mereka berdua. "Kita pulang sama-sama saja yuk!" tawar Sarah murah hati.
Rahman menolej pada Abinya. Dia tergoda akan tawaran Sarah untuk pulang bersama menggunakan mobil yang di sopiri Abinya sendiri. Hanya dengan tatapan mata, Rahman seolah mencoba meminta persetujuan Abi apakah Abi setuju bila dia menerima tawaran Sarah untuk pulang beratap mobil yang sama. Jelas bahwa tatapan Rahman tersirat harap agar sang Abi mengizinkannya untuk pulang bersama Sarah. "Toh yang menjadi supirnya kan Abiku sendiri." batin Rahman.
Tapi reaksi Abi tak seindah jawaban yang diharapkan Rahman. Dia lihat ayahnya menggeleng pelan tanda ketidaksetujuannya Rahman ikut pulang bersama Sarah. Tak tersembunyi raut sedih bercampur kecewa pada wajahnya Rahman. Tapi dia tidak bisa berlaku banyak. Apa yang menjadi keputusan Abinya. Tentu untuk kebaikan dirinya dan keluarganya juga. Dia tolak tawaran Sarah dengan lembut agar Sarah tak kecewa.
"Sarah, kamu pulang saja duluan. Aku jalan kaki saja. Kebetulan Abi menyuruhku banyak belari agar tubuhku kuat." Rahman beralasan agar Sarah tidak memaksa pulang bersama lagi.