Awalnya Sarah tampak kecewa. Tersembul gurat kekecewaan terhadap penolakan Rahman atas niat baik yang diajukannya. Tapi kekecewaan Sarah berangsur surut seiring Rahman yang berhasil membujuk Sarah untuk pulang segera.
Sarah pergi menuju mobil Mercedes Benz yang dikemudikan sopirnya yang tak lain dan tak bukan adalah Ayah sahabatnya. Mobil berjalan melambat melewati Rahman yang masih berdiri menunggu mobil Sarah berlalu dari hadapannya. Saat melewati dirinya, Sarah membuka kaca jendela dan melambaikan tangan pada Rahman, "Sampai ketemu di rumah ya, Rahman."
Rahman membalas lambaian yang sama dan melempar senyum tulusnya untuk sahabat baiknya itu. Dia pun sempat melihat Abi mencuri pandang pada dirinya melalui kaca spion. Rahman mengerti bahwa Abi pun sesungguhnya tidak tega meninggalkan dia berjalan kaki sementara Abi bersama putri majikannya berlalu dengan mobil. Kesenjangan memang amat terasa antara si miskin dan si kaya. Hebatnya, Rahman tidak banyak berkeluh kesah karena dia telah tertempa untuk berlaku mandiri.
Sesampainya Rahman di rumah, selepas dzuhur dan makan siang dia laksanakan, dia bekerja sesuai titah yang di berikan Arya Laksono kemarin malam. Tubuh kecil Rahman menakar pakan ternak yang siap di kelas untuk di distribusikan ke kota-kota besar sebagai aktivitas bisnis Arya Laksono. Ya, Arya Laksono adalah seorang pebisnis sejati. Harta kekayaannya dia peroleh dari bisnis jual beli pakan ternak, property, dan ritel. Namanya telah tercantum kokok dalam daftar pebisjis-pebisnis sukses di negeri ini. Sungguh seorang pebisnis yang tidak bisa di pandang sebelah mata.
Setelah menakar pakan ternak dalam kemasan-kemasan seukuran satu kilogram, Rahman menutup kemasan dengan mesin perekat otomatis agar pakan-pakan itu tidak tumpah berserakan. Tidak dia hiraukan berapa kali dia harus terbersin-bersin karena debu dari pakan ternak yang terhirup oleh hidungnya.
Sang Umi yang melihat Rahman bersibuk, tak ayal menaruh iba. "Kasihan sekali kau, Rahman. Ingin Umi membantumu tapi pekerjaan Umi di dalam rumah masih belum selesai." kata Umi sedih.
"Tak apa, Umi. Abi mengajarkanku untuk kuat dan mandiri. Aku bisa melakukannya sendiri kok." ujar arahman tegar untuk menenangkan keprihatinan Umi yang melihat tubuh kecilnya sibuk bekerja.
Umi mengacungkan jempolnya dengan sungging senyum manis.
"Iya, Umi yakin kau bisa menyelesaikannya. Bekerjalah kau, Nak! Bila kau lelah, rehat lah sejenak. Tuan Arya takkan tega membiarkan kau bekerja tak ubahnya pekerja rodi, tanpa istirahat sekejap pun."
Rahman mengangguk tanpa menghentikan gerakan tangannya bekerja, "Tentu, Umi. Bila aku lelah, aku akan rehat sejenak."
Umi pun meninggalkan Rahman di ruang pengepakan pakan-pakan itu. Tidak lama berselang sepeninggal Umi, Sarah datang dan mendapati Rahman tengah sibuk dengan tugas barunya. Sepasang mata Sarah terbelalak melihat arahman bekerja mengemas-ngemas pakan ternak. Dia hampiri Rahman dengan wajahnya penuh kekhawatiran.
"Rahman... apa yang kau lakukan? Mengapa kau di sini? Bukankah, Ayahku punya pekerja yang biasa mengerjakan ini semua? Apa pekerja itu tidak datang hari ini? Aku akan lapor pada Ayah." rentet Sarah panik dan buru-buru membalikkan tubuh untuk meninggalkan Rahman.
"Hei gadis cantik." cegah Rahman menjangkau lengan Sarah. "Apa yang mau kamu laporkan pada Ayahmu? Ayahmu yang memintaku bekerja mengemas pakan ini untuk di kirim ke kota. Mungkin Ayahmu tidak menggunakan jasa pekerja yang dulu lagi. Maka aku yang menggantikannya." terang Rahman.
Sarah mengernyitkan dahi, "Lantas kenapa kamu mau mengerjakannya?"
"Ini bukan pekerjaan berat kok. Aku pasti sanggup mengerjakannya." jawab Rahman tanpa menjelaskan sejujurnya asal muasal mengapa dia harus melaksanakan pekerjaan itu. "Tapi pekerjaan ini menghabiskan banyak waktu. Mungkin kita tidak punya banyak waktu untuk bermain dan belajar bersama lagi." lanjut Rahman.
Sarah cemberut dengan pipi menggembung, tidak senang dengan apa yang di dengarnya.
"Jadi, aku belajar dan bermain dengan siapa, Rahman?" tanya Sarah merengek manja.
Rahman menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia mendekat pada Sarah. Bak seorang abang, dia membujuk Sarah yang hatinya tengah gundah gulana kehilangan waktu bersama dirinya.
"Sarah yang cantik, di luar sana banyak orang yang bisa kamu jadikan teman belajar dan bermain. Barbaurlah bersama mereka! Jangan seperti putri malu yang menutup diri saat orang lain mendekatimu!" bujuk Rahman.
"Apa kamu tidak ingin bersahabat denganku lagi, Rahman?" Sarah bertanya sedih.
Rahman tertawa dengan kekhawatiran Sarah, "Hahaha... mana mungkin aku tidak ingin bersahabat denganmu. Kita sudah bersahabat sejak kecil. Kamu sudah ku anggap adik yang sangat ku sayangi. Aku hanya tidak punya banyak waktu untuk bermain dan belajar bersama lagi. Tapi aku dan keluargaku tetap menumpang di rumahmu."
"Tapi... kamu janji benar-benar masih ingin bersahabat denganku, kan?" tanya Sarah seolah tidak yakin dengan jawaban yang di berikan Rahman untuknya.
Untuk kesekian kalinya Rahman meyakinkan Sarah, "Aku janji Sarah. Tak ada sahabat sebaik dirimu. Meski kamu manja dan pemalu, kamu adalah anak perempuan yang baik hati."
Sarah melebarkan senyumannya. Dia tundukkan pandangan matanya kepada Rahman sebagai tanda hormat kepatuhan terhadap perkataan Rahman.
Memandang Sarah, hati Rahman terasa sejuk dan damai. Bocah perempuan berkulit putih dengan kerudung selalu membingkai wajahnya, membuat Rahman terpesona. Meski rasa terpesona itu hanyalah rasa persahabatan, tidak lebih, tapi berhasil membuat Rahman semakin menyayangi Sarah dari waktu ke waktu.
***
Latar malam telah menyelimuti seluruh bagian kota Bengkulu. Tidak satu gwmintang bersedia menyembuhkan diri. Mu gkin karena itulah rembulan pun tak turut hadir menghias malam. Terlalu sepi memandang hamparan angkasa tanpa satu pun benda langit yang tertangkap oleh penglihatan mata.
Rahman mempersiapkan dirinya untuk segera beristirahat. Lelahnya sudah terasa menusuk-nusuk di tiap-tiap persendian. Pekerjaan yang di perintahkan oleh Arya Laksono lama kelamaan menguras energinya juga. Meski terlihat sekedar menimbang dan mengemas pakan-pakan ternak saja, namun butuh kesabaran dan ketelitian ekstra untuk melakukannya. Bila di kerjakan hampir sepanjang hari tentu akan mengundang letih dan jenuh.
Abi melihat Rahman bersiap naik ke peraduan tuanya. Batin seorang Ayah mengatakan bahwa Rahman lupa mengerjakan shalat isya. "Hmm... mungkin karena Rahman terlalu lelah, makanya dia menjadi lupa kewajibannya menghadap Tuhan di waktu isya." Abi membatin. Laki-laki berjambang tebal itu pun mencobaertanya sekaligus mengingatkan Rahman bila mungkin bocah laki-lakinya lupa mengerjakan shalat isya.
"Rahman, kau sudah isya?"
Rahman tersentak kaget dengan pertanyaan Abi. Dia yang tadinya hampir membaringkan tubuh, Tiba-tiba tertunduk membentuk sudut siku-siku kembali.
"Astaghfirullah... Rahman lupa Abi."
"Segeralah laksanakan sebelum kau tidur!" perintah Abi.
Rahman menurutinya. Ia berwudhu dan mengenakan percil hitam yang sudah biasa dia kenakan tiap akan menghadapi Tuhan dalam shalat atau mengaji.
Saat Rahman bersiap memulai rakaat pertamanya, Abi kembali berujar, "Nanti bila kau belum terlalu mengantuk, mengaji lah beberapa ayat saja. Jagad raya merindukan senandung mulai setiap waktu." anjur Abi.
Rahman mengangguk tak keberatan atas anjuran Abi dan segera memulai rakaat pertamanya.
"Allahu Akbar." takbir Rahman, mengangkat kedua belah tangannya sejajar telinga.
Di akhir rakaat ke empatnya, Rahman mengucap salam. Tak lupa dia menadahkan tangan berdoa pada Sang Maha Esa atas permohonan-permohonan yang dia panjatkan. Bibirnya berkomat-kamit meminta apa saja yang terlintas dalam benak dan kalbi selayak bocah pada umumnya. Sesekali terlihat dia memejamkan kedua bola matanya dalam waktu yang cukup lama seolah-olah dia tengah mengiba teramat sangat kepada Tuhan agar doa yang dia haturkan segera di kabulkan. Barulah setelah dia mengaamiinkan doanya, dia mengambil Al-qur'an dan meletakkan persis di hadapannya.
Dibukakan lembaran ke 1228 pada surat ke 55 dalam kitabnya "Ar-Rahman" surat yang sama dengan namanya itu dia pilih untuk di senandungkan malam ini.
"Ar rahman. Allamal qur'an. Khalaqal insan. Allamahul bayan..."
Bait demi Bait surat Ar-Rahman di senandungkan dengan teramat syahdunya oleh Rahman. Bak seorang biduan yang tengah mendendangkan lagu, Rahman pun tak kalah merduanya melafadzkan qalam Allah. Jagad seisinya dipastikan bergembira melihat arahman si bocah cilik itu memuji aturan melalui ayat-ayat suci Al-qur'an. Para malaikat sudah pasti tersenyum gembira dan meminta pada Tuhan agar hendaknya di persiapkan jannah yang indah untuk Rahman di hari akhir nanti.