Dengan tarikan nafas cukup panjang, Rahman membaca satu persatu ayat dari surat tersebut dengan cengkok ala Qori ternama. Suara nyaring, tinggi melengking khas seorang Rahman saat membaca Al-qur'an, membuat siapa saja yang mendengarnya tersentuh hingga ke dasar sanubari. Tartilnya begitu tepat dan terdengar indah.
Rahman terus saja membaca Ayat demi ayatnya sambil kemudian meminta Sarah mengulangi ayat yang sama seperti yang dibacanya.
"In ahsantum, ahsantum li anfusikum, wa in asa'tum falaha... fa iza ja'a wa'dul akhirati liyas'uu wujuhakum wa liyadkhulul masjida..."
Terbata-bata Sarah melafadzkan satu persatu bagian dari isi surat Al-Isra' yang mereka baca berdua. Dengan kesabaran Rahman tidak bosan-bosannya menunggu Sarah menyelesaikan satu persatu kalimat dalam bahasa Arab tersebut dengan lafal yang tepat.
Butuh waktu lebih dari setengah jam bagi mereka membaca surat Al-Isra' tersebut hingga berakhir pada ayat terakhir. Seusainya, terucap rasa Terima kasih dari mulut Sarah kepada sahabatnya.
"Terima kasih Rahman. Kamu telah membantuku untuk bisa membaca Al-qur'an. Kamu sungguh sahabat terbaik yang kupunya." ungkap Sarah dengan wajah ceria dan mata berbinar-binar.
"Tak apalah, Sarah. Aku pun senang bersahabat dan mengajari membaca Al-qur'an."
"Tapi, aku benar-benar senang bersahabat denganmu, Rahman. Bila orang tuamu tidak bekerja di rumahku, aku tidak akan pernah mengenalmu. Dan... mungkin hingga sekarang aku belum bisa shalat dan mengaji. Kamu tahu kan, bagaimana sibuknya ayah dan bundaku dengan pekerjaan mereka? Sampai-sampai shalat dan mengaji pun jarang mereka laksanakan. Bagaimana aku bisa belajar dengan mereka, jika mereka saja tidak terlalu peduli dengan shalat dan mengaji. Tapi... dengan mengenalmu, aku mengenal Tuhanku, Rahman." ucap Sarah berterus terang.
Rahman mengangguk mengerti namun dia tidak sudi terlalu banyak dipuji.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak memuji. Bila-bila kepalaku membesar nanti." seloroh Rahman menghibur Sarah. "Umi dan Abiku mengajarkanku shalat dan mengaji sedari kecil. Mereka juga mengatakan bahwa ilmu apapun yang kita miliki, harus bersedia dibagi dengan orang lain. Semakin banyak dibagi, akan semakin ahli kita. Itu sebabnya aku senang mengajarimu Sarah."
"Ya, kamu anak yang beruntung, Rahman. Abi dan Umimu mengajarimu dekat dengan Tuhan." kagum Sarah.
Puji-pujian itu baru berakhir ketika Rahman mengajak Sarah kembali pulang ke rumah. Pekat malam sudah terasa dan sudah saatnya mereka meninggalka mesjid jami saat itu juga.
***
Meski bintang gemintang elok bertaburan di langit malam, namun malam tetaplah malam. Ia tetap gulita bila tidak ada satupun lentera meneranginya. Laki-laki kedua bocah itu berayun silih berganti antara kanan-kiri-kanan-kiri menyusuri jalan pulang. Dan, begitu seterusnya. Dalam tapak-tapak yang mereka tinggalkan, beragam kata mengalir melalui bahasa yang sedang mereka utarakan.
"Rahman, apakah Tuhan selalu mengabulkan doa semua orang yang meminta padaNya?" tanya Sarah dengan intonasi keingintahuan nya.
Rahman memalingkan wajahnya pada Sarah.
"Menurutku sih, tentu saja Tuhan mengabulkan tiap-tiap doa manusia. Tapi kata Umi, pengabulannya melalui tiga cara yaitu doa bisa segera di kabulkan, ditunda pada waktu yang lebih tepat, atau di tukar dengan yang lebih baik lagi." Rahman menjelaskan sesuai apa yang pernah didengarnya dari Umi.
"Jika aku berdoa untuk berganti orang tua, apakah Tuhan akan mengabulkannya?" tanya Sarah masih dalam keluguannya.
Mendengar itu Rahman tergelak sambil memegangi perutnya yang bergoncang, "hahaha... kamu mau orang tua seperti apa, Sarah?"
Sarah tertunduk dan memperlambat langkahnya.
"Seperti orang tuamu. Ya, seperti Abi dan Umimu." jawab Sarah tanpa malu-malu.
Tawa Rahman terhenti dan memandang heran atas jawaban yang dilontarkan Sarah.
"Mengapa seperti Abi dan Umi? Abi dan Umiku hanya seorang pembantu di rumahmu. Mereka miskin. Tidak seperti Ayah dan Bundamu yang bisa membelikan apa saja yang kamu inginkan."
"Tapi, Ayah dan Bunda tidak menyayangiku, Rahman. Mereka sibuk saja bekerja sehingga melupakan aku yang kesepian. Bila kamu dan keluargamu tidak tinggal di rumahku, aku pasti lebih kesepian lagi." sesal Sarah murung dan suara terdengar hampir menangis.
Rahman memperhatikan dan mencoba menasehati Sarah, "Bersyukurlah, Sarah. Bersyukurlah kamu masih memiliki orang tua. Seperti apapun mereka, mereka adalah harta kita di dunia. Bila mereka tiada, tidak ada lagi orang yang menaruh cinta setulus mereka sampai kepada kita."
Sarah terntunduk, diam seribu bahasa sambil memperhatikan langkahnya yang terayun pelan. Tak ada kata lagi yang mampu menangkis kebenara ucapan Rahman pada dirinya.
Bimbingan rumah bertingkat tiga nan megah telah hadir di pelupuk mata. Segera keduanya akan tiba di rumah Sarah. Mereka mempercepat langkahnya seolah rumah itu akan beranjak dari posisinya. Hingga akhirnya, keduanya pun tiba dengan selamat.
Kedua orang tua Sarah-Arya Laksono dan Yasmin telah lebih dulu berdiri di depan daun pintu yang terbuka untuk menyambut kedatangan Sarah dan Rahman. Tak ada senyum, tak ada rupa gembira ria dengan kedatangan dua bocah polos tersebut. Arya Laksono berdiri berdecam pinggang dengan alis yang mengerut. Ia titahkan Sarah untuk menjawab beberapa pertanyaannya sebelum mempersilahkan putri semata wayangnya masuk ke dalam rumah.
"Dari mana kau, Sarah?"
Sarah tertunduk seolah ia seorang terhukum yang tengah disidang oleh seorang hakim agung di ruang persidangan. Tubuh yang kecil itu terlihat sesak dan bergetar menahan rasa takut kepada Ayah dan Bundanya yang tampak berselubung aura kebencian. Mau tidak mau, Sarah tetap harus menjawab semampu lidah dan sejujur hatinya yang tidak berdosa.
"Dari mesjid, Ayah." jawab Sarah halus dan pelan.
Arya Laksono tampak tidak begitu senang dengan jawaban putrinya. Dia mengajukan tanya lebih mendetail lagi, "Untuk apa kamu kesana? Bermain-main?"
"Tidak Ayah, Sarah dan Rahman shalat maghrib berjama'ah dan mengaji bersama di mesji." bantah Sarah tanpa berdusta.
Mendengar bantahan Sarah, mata Arya Laksono yang melotot tajam bergulir pada bocah laki-laki yang berdiri bersihkan dengan Sarah.
"Pasti kau yang mengajak anakku ke mesjid kan, Rahman?" tuduh Arya Laksono de gan acungan telunjuk yang hanya berjarak sejengkal dari ujung hidung Rahman. "Kau ingat, betapa aku tida suka kau bawa Sarah ke mesjid hingga malam begini."
Rahman yang ikut terlibat pun menundukkan kepalanya sambil menyilangka kedua lengannya di depan tubuhnya. Dengan kepala tertunduk ia mengangguk pelan.
Sarah tak tinggal diam, ia tidak ingin Rahman dipersalahkan untuk hal ini. "Tapi... Sarah yang minta shalat maghrib di mesjid, Ayah. Sarah juga yang minta Rahman untuk mengaji bersama." bela Sarah berani.
"Shar dan mengaji bisa kau lakukan di mana saja, Sarah! Ayah tidak suka kau berpergian tanpa Ayah dan Bunda yang menemanimu. Orang di sekitar sini tahu kau adalah anak orang kaya. Bila-bila kau diculik dan kemudian penculik itu meminta tebusan kepada Ayah." bentak Arya Laksono yang mulai terpancing emosi, "sekarang, kau masuk kamar. Belajar lalu tidur!" titah Arya Laksono seolah tidak ingin ada bantahan lagi.
Sarah tidak berbuat banyak bila Ayahnya telah terpancing emosi seperti itu. Selama ini, dia tahu bahwa Ayahnya adalah laki-laki arogan yang tempramental. Bila emosi kemarahannya meledak, Ayahnya tidak segan-segan menhukumnya. Dengan sangat terpaksa Sarah melaksanakan titah sangat Ayah. Sedangkan Rahman masih berdiri menunggu titah apa yang akan dia dapatkan dari Arya Laksono, selalu majikan orang tuanya.
Beberapa saat setelah Sarah berlalu dari pandangannya, barulah Ayah Sarah kembali berujar kasar. "Kau Rahman, jangan pernah bawa putriku ke mana-mana lagi! Kau anak pembantu. Kau harus tahu diri!"
Hati kecil Rahman serasa berontak mendengar maksud kesenjangan sosial yang tersirat dari ucapan laki-laki yang di panggilnya dengan sebutan 'Tuan' tersebut. Namun tubuhnya belum mampu berbuat apa-apa untuk menganggap itu kalimat merendahkan itu. Kembali hanya tertunduk tanpa membalas sepatah kata pun juga.
Melihat tidak ada perlawanan, Arya Laksono semakin merasa dirinya berkuasa untuk melakukan apa saja pada diri Rahman. "Kau harus membantu Ayah dan Ibumu biar kau tidak punya waktu untuk mengajak putriku berpergian. Mulai besok, kuberi kau tugas menimbang makanan-makanan ternak untuk di kirim ke Jakarta setiap hari. Pastikan takarannya pas tiap-tiap kemasan. Jangan sampai berlebihan karena aku tidak ingin merugi!"