Sebenarnya, kamu ingin membawaku kemana, Satria? Sepertinya perjalanan kita cukup jauh." Sarah mempertanyakan arah tujuan Satria yang membawanya pergi dari kota Jakarta. Sepasang matanya yang bening dan teduh sibuk menatap gedung-gedung pencakar langit berlalu seiring gerak mobil yang melakukan kencang dikemudikan Satria.
"Ke sebuah tempat di kaki pegunungan." jawab Satria sembari mengerlingkan mata pada Sarah yang duduk di jok sebelah kemudinya.
"Tempatnya indah. Sangat indah! Apalagi lembahnya di tumbuhi bunga-bunga hutan yang cantik. Kamu pasti akan menyukainya. Selain bisa merasakan sejuknya hawa pegunungan, di sana kamu juga bisa menenangkan hati dan pikiranmu. Alam menyajikan apa yang tidak pernah kamu lihat selama ini." papar Satria dengan senyum sumringah.
Sarah hanya diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Selama ini yang dia tahu hanyalah Kota Bengkulu, Bengkulu, dan Bengkulu. Tidak ada tempat lain yang pernah dia kunjungi dan dia temukan keindahannya. Apalagi, saat ini dia hanya tercatat sebagai pendatang baru di ibukota dan bergantung hidup pada laki-laki yang menyelamatkan dirinya dari bibir jurang yang hampir membuatnya memutuskan mengakhiri hidup lebih dini.
Saat lampu lalu lintas menyala merah, mobil harus berhenti sejenak. Saat itulah Satria mencuri waktu memandang wajah Sarah antara mengagumi kecantikan paras Sarah dan membayangkan betapa menyenangkan bermain-main dengan dendam yang akan di tujukan pada perempuan bernasib malang itu.
"Jangan pandangi aku seperti itu, Satria! Aku risih." keluh Sarah membuang wajah dan memilih menatap kota dari sisi kiri kaca mobil.
"Ops, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa terganggu. Aku hanya mencari cela di wajahmu. Ternyata... aku tidak menemukannya walau setitikpun." Satria berucap gombal yang selama ini selalu di andalkannya untuk menaklukkan banyak wanita.
Mobil melakukan seiring lampu lalu lintas menyala hijau. Bentangan jalan harus di tempuh dalam radius berkilo-kilometer lagi. Perjalanan menuju tempat tujuan masih membutuhkan kesabaran menghitung tiap detik, menit, dan jam yang berganti. Untuk membunuh waktu, Satria mengepulkan asap rokok sebagai teman penghilang jenuh bagi lidahnya yang mulai terasa kering dan pahit. Sementara Sarah terlelap bersandar pada sandaran jok yang di dudukinya.
Ciiitttttt!!! Rem berdecit dan mobil terhenti setelah melewati 4 jam 35 menit perjalanan.
Sarah tersentak dan terbangun dari tidurnya. "Kenapa berhenti, Satria? Apa mobil kita mogok?" tanya Sarah celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Satria melempar senyum, "Kita sudah sampai. Ayo turun!"
Bergegas Satria turun dari dalam mobil, sedangkan Sarah masih belum bisa menguasai dirinya yang tersentak dari tidurnya. Untuk sesaat Sarah tetap berada di dalam mobil, mengembalikan semangatnya terlebih dahulu sebelum memutuskan turun dan mengikuti langkah Satria.
Sarah bersiap, mengumpulkan perlengkapan bawaannya untuk di bawa turun dari mobil. Disadarinya, bahwa sebuah tas jinjing yang membuat pakaiannya di letakkan Satria pada jok belakang. Sarah membalikkan badannya untuk menjangkau tas miliknya. Namun, tanpa sengaja matanya justru tertuju pada satu benda yang tegeletak tepat di bawah jok belakang. Tampak sepertinya benda tersebut tidak sengaja terjatuh dari pemiliknya yang entah siapa. Dari letaknya yang agak terselip dan berdebu, bisa disimpulkan bahwa benda tersebut sudah cukup lama berada di sana. Entah apa sebabnya Sarah tertarik untuk meraih benda yang dilihatnya itu. Dicondongkannya tubuh agar tangannya bisa meraih beda kecil yang letaknya agak terselip tersebut.
"Hap... dapat!" Sarah bersorak kecil, sekadar mengekspresikan keberhasilannya meraih benda yang menarik perhatiannya. Benda yang di temukannya itu kini benar-benar berada di dalam genggamannya. Ternyata haya sebuah gantungan kunci kupu-kupu yang telah udang dengan karat yang menutupi beberapa bagian sisi bentuknya. Corak desain pada dua kepaknya pun sudah banyak yang mengelupas dan mengaburkan keindahan warnanya. Pantas saja bila benda yang terlihat tidak berharga itu di biarkan memuaskan begitu saja di dalam jok mobil.
"Kupu-kupu? Gantungan kunci kupu-kupu..." gumam Sarah seorang diri sembari melihat secara seksama beda yang di genggamnya. Mata Sarah tidak terlepas menatap gantungan kunci yang membuat keningnya berkerut memikirkan sesuatu. "Rasanya... aku pernah mengenal benda ini." Sarah menerka-nerka. "Tapi... ah... tidak mungkin! Pasti hanya perasaanku saja." tepis Sarah kemudian.
"Saraaahhhh! Ayo turun! Terdengar teriakan dan lambaian tangan Satria yang sudah menunggunya di luar mobil.
Sejurus kemudian, buyarlah lamunan kebimbangan Sarah. Dia bersikap turun seraya meraih tas jinjingnya dan menyimpan gantungan kunci yang bertulis lafal"ARA" pada saku bajunya.
***
Sabtu senja di langit Bengkulu. Awan berarak pulang entah kemana di temani para burung yang berterbangan rendah dan riuh. Terdengar sudah kumandangan adzan maghrib menyeru para pecinta Tuhan untuk datang menghadap. "Hayya 'alasan shalaah... Hayya 'alasan shalaah..." gema isi adzan membahana di seluruh penjuru kota Raflesia Arnoldi ini.
Sepasang bocah bergandengan tangan beriringan menapaki bibir gerbang mesjid jami. Mesjid bersejarah yang konon telah berdiri sejak abad ke-18 Masehi itu, mulai ramai di singgahi orang-orang yang ingin menjalankan kewajiban shalat lima waktunya. Tak terkecuali sepasang bocah yang usianya sepantaran sepuluh tahunan, berniat juga akan bersujud menghadap Tuhan kala waktu maghrib telah menjemput.
"Kita pisah di sini ya, Sarah. Saat shalat maghrib usai, kita pulang sama-sama dan aku akan menunggumu di tempat ini lagi." pesan bocah laki-laki sambil melepaskan tangan bocah perempuan yang di gantengnya.
Namun mereka berdua tak pantas berpisah. Sarah, sang bocah perempuan masih ingin menyampaikan seutas kalimat sebelum akhirnya mereka benar-benar berpisah untuk beberapa saat saja.
"Jangan seusai shalat maghrib selesai, Rahman! Kamu berjanji seusai maghrib, sebelum masuk isya, kamu ingin menemani dan mengajariku mengaji agar bacaanku lebih bagus lagi." ucap Sarah menagih janji bocah laki-laki yang bernama Rahman itu.
Rahman tersenyum. Plak... Plak... sebelah telapak tangannya menepuk-nepuk sebagian jidat yang tidak tertutup habis oleh peci hitam yang dia kenakan. Mulutnya menganga membentuk lingkaran huruf "O".
" oooohhhh iya Sarah... aku lupa. Aku sudah janji untuk menemani dan mengajarkanmu mengaji. Hari ini janjiku mengajarimu mengaji sudah Al-Isra' ya? tanya Rahman seolah ingin memastikan ingatannya.
Sarah mengangguk cepat, menguatkan ingatan Rahman.
"Hmm... baiklah. Selepas shalat maghrib kita usai, aku akan menemuimu di perbatasan shaf untuk mengaji bersama." Janji Rahman.
Senyum Sarah merekah dari bibir mungil merah jambu miliknya. Sejurus kemudian, mengangguk pula kepalanya menyetujui ucapan Rahman. Sesaat setelah kesepakatan terpenuhi, melangkahlah Sarah menuju arah yang berbeda dari langkah Rahman yang juga berlalu dari sisinya. Mereka menuju bilik wudhu untuk membasuh anggota tubuh dari sia hadas-hadas kecil yang mungkin terbawa tanpa mereka sadari.
Selepas wudhu telah di lakukan, wajah-wajah sejuk para jamaah mesjid mulai merapat dalam shaf yang berjajar rapi. Hati nan tenang itu siap menghadap Tuhan dalam tiga rakaat yang telah diperintahkan dalam agama islam.
"Allahu Akbar... " Imam membaca takbir sambil mengangkat dua belajar telapak tangannya sejajar pada kedua telinga sebagai tanda di mulainya rakaat pertama shalat maghrib. Para jamaah pun mengikuti bacaan dan gerak-gerik Imam dengan kulit yang basah melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an.
Beberapa saat kemudian, Imam mengucap salam sebagai tanda berakhirnya rakaat terakhir shalat maghrib, "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Ucapan salam pada rakaat terakhir itu kemudian dijawab serempak oleh jamaah dengan salam yang sama sambil memalingkan wajah ke kiri dan ke kanan. Maka selesailah satu kewajiban yang harus di penuhi para pemeluk agama islam.
Satu persatu barisan shaf mulai merenggang. Tirai pembatas shaf pun mulai disibak. Jamaah yang sudah puas "berkomunikasi" dengan Tuhan melalui kidung doa yang mereka rapalkan memilih meninggalkan mesjid untuk kembali pulang ke rumah. Saat pandangan mata mulai lengang, tampak oleh Rahman dari kejauhan Sarah tengah melepaskan mukena putih yang menyelubungi tubuh bagian atasnya. Di balik mukena itu telah terpasang rapih jilbab merah muda pada kepala Sarah. Dia lihat wajah sahabatnya itu begitu syahdu dalam balutan jilbab yang membingkai pipi gembul kemerah-merahan milik Sarah. Sebintik tahu lalat di pipinya menambah kesempurnaan rupanya. Cantik sekali.
Merasa sepasang mata tengah mengawasinya dari kejauhan, Sarah terjaga dalam lakunya. Ia mengangkat wajahnya dan menemukan tatapan yang sedang memandanginya sedari tadi. Ada Rahman yang menyambut tatapan sepasang bola mata bening Sarah dengan senyuman. Rahman memberi kode dengan jemari kecilnya agar Sarah mendekat ke pembatas shaf. Tujuannya sudah tentu agar mereka bisa berkomunikasi dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Ya, mesjid memberi batasan tempat antara pria dan wanita yang bukan muhrim. Meski Rahman dan Sarah masih tergolong bocah, mereka tetap harus mematuhi peraturan baku tersebut.
Sarah menuruti instruksi Rahman yang diisyaratkan Rahman melalui kode jemarinya. Sambil menenteng Al-qur'an berukuran sedang bersampul hijau, Sarah mendekat pada pembatas shaf antara shaf wanita dan shaf laki-laki. Tak ubahnya Rahman, langkah kecilnya pun mendekat pada bagian yang dituju oleh Sarah juga. Mereka berdua duduk bersila dan saling berhadapan.
"Kita mulai mengajinya ya." ajak Rahman sambil membuka lembaran Al-qur'an yang turut di bawanya.
Sarah mengangguk menunggu perintah Rahman untuk membuka surat apa yang akan mereka baca hari ini.
"Silahkan kamu buka juz 15, surat Al-Isra Sarah!" instruksi Rahman lembut.
Sarah membuka-buka halaman demi halaman Al-qur'an yang berada di hadapannya. Ia menemukan surat yang dimaksud oleh Rahman, Al-Isra'. Berdua mereka membuka bacaan dengan senandung amat syahdu "A'udzubillahiminasyaithannirrazim... Bismillahirrahmannirrahim."