Dani tidak pulih dalam semalam. Renjana tidak mengharapkannya.
Tujuh tahun manipulasi tidak terhapus karena gembok terbuka. Di minggu-minggu pertama, Dani hampir tidak bicara. Ia menatap Renjana dengan mata yang setengah curiga, setengah lapar — seorang anak yang diajari membenci kakaknya, yang sekarang harus belajar dari awal bahwa kakak itu nyata, dan tidak meninggalkannya, dan tidak akan pernah meninggalkannya lagi.
Renjana belajar kesabaran yang tidak pernah ia tahu ia miliki. Ia tidak memaksa. Ia tidak menuntut Dani langsung mempercayainya. Ia hanya hadir — setiap pagi, setiap malam, di sana. Ia memasak makanan yang dulu ibu mereka buat, meski tidak sempurna. Ia menceritakan kenangan kecil, bukan yang besar — bukan tentang malam pembantaian, tapi tentang bagaimana Dani kecil takut petir dan tidur memeluk lengannya, tentang permainan yang mereka mainkan, tentang nama panggilan konyol yang dulu mereka berikan satu sama lain.
Dan perlahan, retakan-retakan kecil terbentuk di dinding yang dibangun penyekapnya. Suatu malam, di tengah hujan deras dengan petir yang menggelegar, Renjana mendengar pintu kamarnya terbuka. Dani berdiri di sana, tujuh belas tahun dan terlalu tinggi untuk usianya tapi dengan mata yang tiba-tiba kembali menjadi mata anak sepuluh tahun.
"Aku tidak bisa tidur," bisiknya, malu. "Petirnya."
Renjana tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menggeser, membuka ruang. Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, adiknya tidur di sampingnya, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, tidak ada mimpi buruk yang datang pada keduanya.
Arsa menjadi bagian dari sesuatu yang perlahan menyerupai keluarga. Ia yang sabar dengan Dani saat Renjana terlalu keras pada diri sendiri. Ia yang ada saat malam-malam buruk datang, saat beban tujuh tahun terasa terlalu berat. Apa yang tumbuh di antara mereka — yang dulu dimulai sebagai kecurigaan di sarang serigala, yang matang di tengah bahaya — kini menemukan bentuknya yang tenang. Bukan gairah dramatis. Sesuatu yang lebih dalam: dua orang yang telah melihat satu sama lain di titik terburuk, dan memilih untuk tetap tinggal.
"Kau tahu," kata Arsa suatu sore, saat mereka duduk di balkon kecil apartemen baru yang mereka sewa — tempat dengan jendela menghadap timur, agar matahari pagi masuk — "untuk seseorang yang menghabiskan tujuh tahun merencanakan kematian orang lain, kau ternyata cukup pandai membangun hidup."
Renjana tersenyum tipis. "Aku masih belajar."
Suatu hari di akhir musim, mereka bertiga pergi ke makam.
Makam keluarga Mahendra — ayahnya, ibunya, nisan-nisan yang tujuh tahun tidak berani ia kunjungi karena setiap kali ia membayangkannya, ia hanya melihat dendam, bukan duka. Sekarang ia berdiri di sana, dengan Dani di satu sisi dan Arsa di sisi lain, dan untuk pertama kalinya ia mengizinkan dirinya berduka, bukan membalas.
"Ayah," katanya pelan, suaranya pecah dengan cara yang tidak pernah ia izinkan selama tujuh tahun. "Ibu. Sudah selesai. Bukan dengan cara yang kupikir. Lebih lambat. Lebih sulit. Tapi... dengan cara kalian. Lewat kebenaran. Aku membawanya kembali. Aku membawa Dani pulang."
Air mata yang selama tujuh tahun beku akhirnya cair. Ia tidak menahannya. Di sampingnya, Dani menggenggam tangannya, dan ia menggenggam balik.
Mereka juga mengunjungi makam yang lebih sederhana, di pemakaman umum di pinggiran kota. Karyo. Pemulung tua tanpa marga yang menariknya dari sungai dan memberinya jalan pulang sebelum ia tahu ia membutuhkannya.
"Aku ingat," kata Renjana pada nisan sederhana itu, suaranya tenang sekarang. "Aku hampir jadi monster, Pak. Sangat dekat. Tapi aku ingat jalan pulang. Seperti yang Bapak bilang." Ia meletakkan setangkai bunga. "Terima kasih sudah menampung tangan yang tenggelam."
Saat mereka berjalan keluar dari pemakaman, matahari sore menggantung rendah dan keemasan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Renjana merasakan sesuatu yang asing dan hangat di dadanya. Bukan kemenangan. Bukan kelegaan. Sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sulit dimenangkan daripada keduanya.
Damai.