Setahun kemudian, di sebuah pagi yang biasa, ada sebuah formulir di atas meja yang harus ia tandatangani.
Permohonan perubahan nama resmi. Selama tujuh tahun, ia adalah Renjana Asmara — nama yang ia ciptakan dari abu, topeng yang ia kenakan untuk menyelinap ke sarang dan membongkarnya dari dalam. Nama itu telah menyelamatkannya, telah menjadi senjatanya, telah membawanya melewati api. Tapi nama itu juga adalah penjara. Selama menjadi Renjana, ia adalah alat dendam dan tidak lebih.
Ia mengambil pena. Di kolom nama baru, dengan tangan yang tidak gemetar, ia menulis: Silla Mahendra.
Nama yang dulu dibuang ke sungai sebagai mayat. Nama keluarganya. Nama ayahnya, ibunya, adiknya. Nama yang ia kira sudah mati di malam darah tujuh tahun lalu. Ia mengambilnya kembali — bukan sebagai luka, tapi sebagai milik. Ia bukan lagi Renjana, alat dendam tanpa harapan. Ia adalah Silla Mahendra, yang selamat, yang berduka, yang membalas tanpa menjadi monster, yang pulang.
Dunia tidak kembali seperti dulu. Itu kebenaran yang ia terima sepenuhnya sekarang. Orang tuanya tidak hidup kembali. Pak Wira, Bagas, Karyo — tidak ada yang kembali. Tujuh tahun yang hilang tetap hilang. Luka di tubuh dan jiwanya tetap ada, beberapa di antaranya akan selalu ada. Ada hari-hari yang masih gelap, mimpi yang masih datang, momen ketika kebiasaan dingin tujuh tahun masih membisik di telinganya.
Tapi keadilan tegak. Reksa Wijanarko menjalani hukuman seumur hidup. Pandu Adiwangsa, sang dalang yang dulu tak tersentuh, jatuh dan tidak akan pernah bangkit lagi — namanya kini menjadi peringatan, bukan ancaman. Jaringan yang membunuh keluarganya dibongkar sampai ke akar, di ruang sidang, di mata publik, lewat kebenaran dan bukan darah. Dan ia sendiri telah menghadapi konsekuensi atas perbuatannya, telah berdiri di dalam hukum alih-alih di atasnya — dan dengan begitu, telah menjadi sesuatu yang dulu ia ragu bisa ia jadi: manusia.
Dani tumbuh, perlahan, menjadi dirinya sendiri lagi — bukan anak yang sama seperti sebelum tujuh tahun lalu, tapi seseorang yang baru, yang kuat dengan caranya sendiri, yang tertawa lagi, yang punya masa depan. Ia akan masuk universitas tahun depan. Ia ingin belajar hukum. "Supaya orang seperti kita," katanya pada Silla suatu malam, "tidak harus melakukan apa yang kau lakukan untuk mendapat keadilan."
Silla tidak bisa berkata-kata mendengarnya. Ia hanya memeluk adiknya, dan tahu bahwa di kalimat itulah seluruh tujuh tahun menemukan maknanya.
Dan Arsa — Arsa ada di sana, di kehidupan baru yang mereka bangun dari abu. Bukan kerajaan. Bukan kekuasaan. Bukan dendam. Hanya sebuah rumah kecil dengan jendela menghadap timur, dengan tiga orang yang telah memilih satu sama lain di tengah reruntuhan, dengan kopi pagi dan pertengkaran kecil dan tawa yang tumbuh kembali sedikit demi sedikit. Sebuah rumah. Sesuatu yang dulu ia kira tidak akan pernah ia miliki lagi.
Di sore terakhir musim itu, Silla pergi sendiri ke sungai.
Sungai yang sama yang dulu menelannya sebagai mayat tujuh belas tahun, yang membawanya pergi dari segalanya dan, secara aneh, menyelamatkannya. Selama tujuh tahun, sungai itu adalah kuburan dalam ingatannya — tempat hidupnya berakhir dan dendamnya lahir.
Ia berdiri di tepinya sekarang, memegang buku catatan kecil yang lusuh. Buku empat nama, yang kini berisi lima, semuanya tercoret. Semuanya lunas. Ia membuka halaman terakhir, menatap nama-nama itu untuk terakhir kalinya, lalu menutup buku itu dengan lembut.
Ia tidak membakarnya. Tidak membuangnya ke air. Ia hanya menyimpannya — sebagai pengingat, bukan beban. Sebagai bukti bahwa ia pernah hampir menjadi monster, dan memilih untuk tidak.
Air mengalir di hadapannya, keemasan oleh matahari yang turun, tenang dan tak henti. Dulu ia menatapnya dan hanya melihat akhir. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lain.
Sungai itu tidak berakhir. Ia mengalir. Terus mengalir, melewati segala yang hancur, menuju sesuatu yang baru, ke laut yang tidak bisa dilihat dari sini tapi selalu ada di ujung sana. Tujuh tahun lalu, sungai ini membawanya pergi sebagai mayat. Hari ini, ia berdiri di tepinya sebagai Silla Mahendra — hidup, bernama, dan, akhirnya, bebas.
Di belakangnya, suara memanggil. Arsa dan Dani, di kejauhan, menunggunya untuk pulang.
Silla menarik napas panjang — udara sore yang bersih dan dingin dan penuh — lalu berbalik dari sungai, bukan sebagai kuburan, tapi sebagai awal, dan berjalan menuju mereka.
Menuju rumah.
TAMAT.