Kemenangan, Renjana belajar, tidak terasa seperti yang ia bayangkan tujuh tahun lalu. Ia membayangkan euforia, kelegaan, perasaan utuh kembali. Yang ia rasakan, malam-malam setelah Pandu jatuh, adalah keheningan — dan dalam keheningan itu, ia akhirnya bisa menghitung apa yang telah hilang.
Pak Wira, yang menemukannya sebagai anak muda dingin dan menjadikannya tangan kanannya, yang memilih berdiri di sisinya meski tahu harganya, dan yang membayar dengan nyawanya ketika Damar melacak kebocoran hingga ke pintunya. Bagas — sekutu abu-abu yang mengkhianatinya, lalu menebus pengkhianatan itu dengan kesaksian terakhir yang menautkan Pandu pada perintah pembantaian, dan dibunuh sebelum sempat berlindung. Karyo, yang tujuh tahun lalu menariknya dari sungai dan memberinya alasan untuk hidup, yang batuk darah di gubuk reyot tapi tetap berbisik tentang jalan pulang.
Dan tahun-tahun itu sendiri. Tujuh tahun yang ia habiskan menjadi orang lain, mengasah dirinya menjadi senjata, sampai ia hampir lupa bagaimana rasanya menjadi manusia. Luka-luka yang tidak akan pernah sembuh utuh — di tubuhnya, dari malam konfrontasi dengan Garda; dan di tempat yang lebih dalam, yang tidak bisa dijahit.
Inspektur Larasati datang ke apartemennya tiga minggu setelah persidangan dimulai. Ia membawa map. Renjana sudah tahu isinya sebelum ia membukanya.
"Aku tidak bisa mengabaikannya," kata Laras, dan ada penyesalan nyata di suaranya. "Apa yang kau lakukan menjatuhkan mereka — itu pantas, dan separuh negeri menganggapmu pahlawan. Tapi caranya. Identitas palsu, manipulasi transaksi, penjebakan, penyusupan. Kalau aku membiarkanmu lolos hanya karena targetmu lebih jahat, maka aku tidak lebih baik dari sistem yang baru saja kita robohkan. Hukum harus berlaku untuk semua. Termasuk untukmu. Termasuk untukku, kalau aku yang melakukannya."
Renjana menatap map itu lama. Sebagian dari dirinya — bagian yang masih monster, yang masih berpikir dalam strategi dan jalan keluar — sudah menghitung tiga cara untuk menghilang, untuk meninggalkan negeri ini dengan identitas baru dan uang yang cukup, dan tidak pernah menghadapi konsekuensi apa pun.
Lalu ia memikirkan ayahnya. Bramantyo Mahendra, yang melaporkan kejahatan meski tahu harganya, karena ia percaya hukum harus berarti sesuatu atau tidak berarti apa-apa. Ia memikirkan Karyo: kalau kau jadi monster, ingat jalan pulang.
Inilah jalan pulang. Bukan kabur dari keadilan. Berdiri di dalamnya.
"Aku terima," kata Renjana pelan.
Laras mengangkat alis, terkejut. "Kau tidak akan melawan? Dengan sumber dayamu, kau bisa—"
"Aku bisa lari, ya. Aku bisa membeli pengacara terbaik, mengulur bertahun-tahun, mungkin menang." Renjana menutup map itu dengan tenang. "Tapi kalau aku melakukan itu, maka aku hanya menjadi versi lain dari mereka — orang yang berpikir hukum berlaku untuk semua orang kecuali dirinya. Aku menghabiskan tujuh tahun membenci orang-orang seperti itu. Aku tidak akan menjadi salah satu dari mereka di hari terakhir."
Karena ia bekerja sama, karena targetnya adalah kejahatan terbesar dalam sejarah negeri, karena ia menyerahkan diri dan setiap buktinya, kesepakatan dibuat. Hukuman yang ringan, sebagian besar ditangguhkan, dengan syarat kerja sama penuh dan layanan. Bukan kebebasan tanpa noda. Tapi sesuatu yang bisa ia jalani dengan kepala tegak. Sesuatu yang jujur.
Saat Laras berdiri untuk pergi, ia berhenti di pintu. "Untuk apa nilainya," katanya, "kau melakukan hal yang ayahmu coba lakukan. Dan kali ini, berhasil." Ia ragu sejenak. "Dia akan bangga."
"Semua orang terus mengatakan itu," kata Renjana, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya percaya sedikit.
Setelah Laras pergi, ia duduk sendiri di apartemen yang sepi, dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang lusuh dari laci. Buku empat nama. Damar. Hartono. Bagas. Reksa. Dan, ia tambahkan kemudian, Pandu. Semuanya tercoret sekarang. Semuanya lunas.
Tapi tidak ada perayaan dalam mencoret nama terakhir. Hanya keheningan, dan berat dari segala yang dibayar untuk sampai ke sini. Ia menutup buku itu, dan untuk waktu yang lama, ia hanya menatap dinding dan mengizinkan dirinya, akhirnya, untuk merasa lelah.