Ruang dengar pendapat komisi independen itu penuh sesak. Kamera berjajar di belakang. Setiap kursi terisi. Dan di tengahnya, dengan setelan gelap yang mahal dan ketenangan yang dilatih selama puluhan tahun, duduk Senator Pandu Adiwangsa — pria yang selama tujuh tahun adalah hantu tak berwajah di puncak segalanya, kini akhirnya duduk di kursi yang sama dengan semua orang lain.
Ia datang, seperti yang Renjana ramalkan, dengan keyakinan penuh bahwa ia akan keluar lebih kuat. Ia menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan senyum dan penyangkalan halus, membelokkan setiap tuduhan menjadi "fitnah politik", setiap dokumen menjadi "pemalsuan". Untuk sesaat, ia tampak memenangkan ruangan.
Lalu bukti mulai berdatangan, satu demi satu, persis seperti yang dirancang.
Damar bersaksi lewat sambungan video dari lokasi perlindungan, suaranya datar, menceritakan rantai komando malam pembantaian — bagaimana perintah turun bukan dari Reksa, tapi dari "orang di atas Reksa", yang Reksa sebut dengan ketakutan sebagai "Pak Pandu". Sigit Prawira menyusul, memaparkan peta keuangan di layar besar, menelusuri setiap aliran rupiah dari aset keluarga Mahendra sampai ke rekening yang ujung-ujungnya bermuara pada satu nama. Hartono menjelaskan, dengan suara gemetar, siapa yang dulu memerintahkannya memalsukan akta.
Pandu masih bertahan. "Kesaksian para kriminal yang ingin meringankan hukuman mereka sendiri," ia mendengus. "Di mana bukti nyata? Di mana suaraku? Di mana satu pun hal yang benar-benar menautkanku, selain ucapan para penjahat?"
Itulah pertanyaan yang Renjana tunggu.
Laras mengangguk ke arah teknisi. Layar besar di depan ruangan menyala. Dan dari pengeras suara, terdengar sebuah suara — suara Pandu Adiwangsa sendiri, tujuh tahun lebih muda, dingin dan tak sabar, berbicara dalam rekaman yang Bramantyo Mahendra rekam diam-diam di hari-hari terakhir hidupnya, saat ia menyadari bahwa laporannya bukan menyentuh kasir, tapi raja.
"...Bramantyo ini jadi masalah. Dia tidak akan diam. Bereskan keluarganya — semua. Jangan ada yang tersisa untuk bicara. Aku tidak mau nama saya muncul di mana pun. Reksa, ini tanggung jawabmu. Kalau gagal, kau yang menggantikan mereka."
Ruangan itu jatuh sunyi total. Lalu meledak.
Wajah Pandu, untuk pertama kali dalam tujuh tahun, kehilangan topengnya. Hanya untuk sepersekian detik — tapi kamera menangkapnya, dan jutaan orang melihatnya: ketakutan telanjang seorang pria yang menyadari bahwa dinding yang ia bangun selama hidupnya baru saja runtuh sekaligus, di depan publik, di tempat yang ia kira ia kuasai.
Ia mencoba berdiri, memprotes, menuduh rekaman itu palsu. Tapi terlambat. Bukti sudah menyebar ke seluruh negeri sebelum ia selesai bicara. Para sekutu politiknya, yang tadi pagi masih membela, kini berlomba menjauh. Komisaris Wibowo, melihat angin berbalik, tiba-tiba "bekerja sama penuh dengan penyelidikan". Mesin yang dibangun Pandu untuk melindunginya berbalik menggilasnya, persis seperti yang ia lakukan pada bawahan-bawahannya selama puluhan tahun.
Dalam dua hari, Senator Pandu Adiwangsa ditahan. Kekebalannya dicabut. Aset disita. Nama yang selama dua dekade menjadi sinonim dengan kekuasaan yang tak tersentuh kini menjadi sinonim dengan kejatuhan terbesar dalam sejarah negeri itu.
Renjana mengunjungi Reksa sekali, di tahanan, sebelum semuanya berakhir. Bukan untuk gloating. Hanya untuk menutup lingkaran.
Reksa duduk di balik kaca, tampak menyusut, hanya manusia kecil tanpa setelan mahal, tanpa kerajaan, tanpa pelindung. Sepatu kulitnya sudah diganti sandal tahanan.
"Pandu jatuh," kata Renjana pelan. "Kau benar — orang seperti dia jarang jatuh. Tapi dia jatuh. Lewat suaramu, suara Damar, suara ayahku dari kubur. Kebenaran, Reksa. Bukan peluru."
Reksa menatapnya lama, dan akhirnya yang tersisa di wajahnya bukan kebencian, hanya kelelahan seseorang yang seluruh hidupnya dibangun di atas pasir. "Ayahmu," katanya serak, "akan bangga padamu. Itu yang paling kubenci tentang ini. Bahwa di akhir, kau menjadi anaknya. Bukan anakku."
Renjana berdiri. Ia tidak punya apa pun lagi untuk dikatakan pada pria ini. Lingkaran sudah tertutup.
"Selamat tinggal, Reksa," katanya, dan berjalan keluar menuju cahaya.