Reksa benar tentang satu hal: Pandu Adiwangsa tidak runtuh seketika.
Sementara berita pencucian uang dan pembantaian membakar setiap layar di negeri itu, kantor Senator Pandu mengeluarkan pernyataan dengan kecepatan dan ketenangan seorang yang telah melatih krisis seumur hidupnya. Ia "terkejut dan ngeri" mengetahui kejahatan "rekan bisnis lama" yang sekarang ia "kecam sekeras-kerasnya". Ia "tidak pernah mengetahui" sumber dana yayasan dan proyek yang ia dukung. Rekening "PA"? Sebuah fitnah, kebetulan inisial, dokumen yang "jelas dipalsukan oleh pihak yang ingin menjatuhkan reputasinya menjelang masa pemilihan".
Dan mesin kekuasaannya mulai bergerak.
"Mereka menarik berkas dari kejaksaan," kata Laras malam itu, wajahnya kelelahan, di markas darurat yang kini dipenuhi tumpukan dokumen dan kopi dingin. "Komisaris Wibowo memerintahkan unitku untuk 'mengevaluasi keabsahan bukti' — bahasa halus untuk menguburnya. Dua jaksa yang berani menyentuh kasus ini tiba-tiba 'dipindahtugaskan'. Pandu sedang melakukan persis yang dia lakukan tujuh tahun lalu: membuat masalah menghilang dengan menjentikkan jari."
"Lalu kita lakukan persis yang ayahku gagal lakukan tujuh tahun lalu," kata Renjana. Ia berdiri di hadapan papan yang penuh foto, garis, dan nama. "Ayahku punya kebenaran, tapi dia hanya menyerahkannya ke satu pintu — kepolisian. Pandu menutup satu pintu itu, dan keluargaku mati. Kita tidak akan mengulangi kesalahan itu. Kita buka setiap pintu sekaligus."
Rencananya berlapis, dan setiap lapis dirancang untuk menutup satu jalan keluar Pandu.
Pertama: bukti tidak bisa lagi dikubur karena sudah publik. Maya telah menyebarkannya ke jaringan jurnalis internasional, ke arsip yang tidak bisa dihapus, ke ribuan salinan di tangan ribuan orang. Pandu bisa menekan satu redaksi, tidak bisa menekan seluruh dunia.
Kedua: para saksi. Damar sudah dalam perlindungan, siap bersaksi tentang rantai komando. Sigit Prawira memegang peta keuangan yang menautkan rekening PA langsung ke instruksi Pandu. Hartono, notaris yang dulu memalsukan akta, kini menjadi saksi yang dilindungi. Tiga suara dari dalam mesin Pandu sendiri.
Ketiga — dan ini yang Pandu tidak tahu — warisan Bramantyo. Berkas yang ayah Renjana sembunyikan tujuh tahun lalu, yang baru bisa diakses lewat sesuatu yang Dani simpan, dan yang berisi bukti yang bahkan tidak bisa disangkal sebagai "pemalsuan": rekaman percakapan langsung Pandu memerintahkan pembersihan, dengan suaranya sendiri, tanggal dan konteks yang bisa diverifikasi.
"Tapi rekaman itu," kata Larasati pelan, "kalau kita lemparkan ke pengadilan yang Pandu kuasai, dia akan mendiskreditkannya, mengulur, sampai opini publik lelah dan dia menang dengan kesabaran. Kita butuh momen di mana dia tidak bisa lari. Di mana semua bukti tiba serempak, di tempat yang tidak bisa dia kendalikan."
Renjana menatap papan itu lama. Lalu sudut bibirnya terangkat sedikit — bukan senyum kemenangan, tapi senyum seorang ahli strategi yang melihat papan catur menyatu.
"Komisi pengawas independen," katanya. "Dengar publik. Disiarkan langsung. Pandu sedang berkampanye untuk pemilihan — dia tidak bisa menolak panggilan komisi tanpa terlihat bersalah, tidak di tengah sorotan ini. Dia akan datang, percaya diri, karena dia selalu percaya dia yang terpintar di ruangan." Ia menatap Laras. "Suara yang sama yang membuat Reksa jatuh. Kita undang Pandu ke ruangannya sendiri yang dia kira dia kuasai. Lalu kita buka setiap pintu sekaligus, di depan kamera, sebelum dia sempat menutup satu pun."
Maya tersenyum tipis, matanya menyala. "Dan aku yang menyiarkannya."
"Dan aku yang menjamin tidak ada satu pun bukti yang bisa diganggu sebelum hari itu," kata Laras. "Tapi kau tahu risikonya, Renjana. Saat kita membuka semua ini, namamu juga ikut keluar. Apa yang kau lakukan tujuh tahun ini — manipulasi, penjebakan, identitas palsu — semuanya akan jadi catatan."
Renjana mengangguk pelan. "Aku tahu."
Ia sudah tahu sejak lama bahwa harga kebenaran adalah dirinya sendiri ikut diterangi cahayanya. Tapi itu, ia sadar sekarang, adalah satu-satunya cara untuk benar-benar berbeda dari Pandu, dari Reksa. Mereka bersembunyi dari kebenaran. Ia akan berdiri di tengahnya.