Pukul tujuh lewat dua menit, saat matahari belum sepenuhnya melepaskan diri dari garis pelabuhan, tiga hal terjadi serempak di Kota Pradipa, dan ketiganya telah dijadwalkan sampai ke detik.
Yang pertama terjadi di sebuah studio kecil milik media independen tempat Maya bekerja. Ia menekan tombol unggah, dan dalam hitungan detik, sebuah berkas video tiga puluh tujuh menit menyebar ke setiap kanal yang telah ia siapkan selama berminggu-minggu. Bukan tuduhan kosong. Bukan rumor. Dokumen — akta palsu pengalihan aset keluarga Mahendra, dengan tanda tangan Hartono dan stempel yang bisa diverifikasi. Aliran dana dari pembantaian tujuh tahun lalu ke perusahaan cangkang ke Wijanarko Group, dipetakan oleh Kelana lapis demi lapis. Rekaman pengakuan Damar tentang rantai komando malam itu. Suara Sigit Prawira menjelaskan labirin pencucian lintas negara. Dan, di akhir, satu nama yang membuat seluruh negeri menahan napas: rekening berkode "PA", ditelusuri sampai ke Senator Pandu Adiwangsa.
Dalam dua puluh menit, judul itu menjadi yang teratas di seluruh negeri. Dalam satu jam, tidak ada satu pun ruang redaksi yang bisa mengabaikannya.
Yang kedua terjadi di pasar finansial. Renjana telah menghabiskan tiga hari terakhir menempatkan setiap potong dengan presisi seorang ahli bedah. Pukul tujuh, saat pasar dibuka, perintah-perintah yang telah ia jadwalkan dieksekusi otomatis: penarikan likuiditas dari setiap entitas yang terhubung Wijanarko, pemicuan klausul gagal bayar pada utang-utang yang diam-diam ia kuasai lewat warisan Pak Wira, dan pembekuan aset lewat celah hukum yang ia siapkan bersama tim Laras. Kerajaan yang dibangun di atas uang kotor selama dua dekade mulai runtuh dalam hitungan jam. Saham anjlok. Bank menarik diri. Rekanan yang tadi malam masih menjabat tangan Reksa kini berlomba menyangkal pernah mengenalnya.
Yang ketiga terjadi di lantai empat puluh.
Pintu lift terbuka, dan Inspektur Larasati melangkah keluar bersama enam petugas — timnya sendiri, bersih, tak tersentuh tangan Pandu. Reksa Wijanarko masih berdiri di depan jendelanya, menatap kota yang menyala-nyala di bawah, menonton kerajaannya terbakar dalam waktu nyata di layar ponsel yang gemetar di tangannya.
"Reksa Wijanarko," kata Laras, suaranya datar dan tegas, "Anda ditahan atas dugaan pembunuhan berencana, pencucian uang, penculikan, dan penyekapan." Ia membacakan daftar yang panjang, dan setiap kata adalah satu paku.
Reksa tidak melawan. Ia bahkan tidak berbalik pada awalnya. Ia hanya menatap Renjana, yang berdiri diam di samping, dan berkata pelan, "Pandu tidak akan jatuh. Kau tidak mengerti. Orang seperti dia tidak pernah jatuh. Dia akan menyerahkanku sebagai tumbal, dan pagi nanti dia akan sarapan seolah tidak terjadi apa-apa."
"Mungkin," sahut Renjana. "Tapi tidak hari ini. Dan tidak tanpa perlawanan."
Borgol mengatup di pergelangan Reksa dengan klik yang lembut. Saat ia digiring melewati Renjana menuju lift, ia berhenti sejenak.
"Kau seharusnya menembakku," bisiknya. "Itu akan lebih bersih. Lebih jujur."
"Tidak," kata Renjana. "Itu akan lebih mudah. Tidak sama dengan jujur." Ia menatap mata pria yang telah membentuk seluruh hidupnya dari penderitaan. "Kau ingin mati sebagai monster yang menang, karena melahirkan monster lain. Aku menolak memberimu itu. Kau akan hidup, Reksa. Hidup cukup lama untuk melihat semua yang kau bangun dari darah keluargaku dibongkar di ruang sidang, di depan kamera, di hadapan negeri yang akhirnya tahu siapa kau sebenarnya. Itu hukumanku untukmu. Bukan peluru. Kebenaran."
Pintu lift menutup di antara mereka.
Renjana berdiri sendiri di lantai empat puluh, di ruangan tempat ayahnya pernah memohon, dan untuk waktu yang lama ia hanya menatap kota. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Arsa: Dani aman. Dia menanyakanmu. Datanglah.
Tiga kata terakhir itu — datanglah — terasa seperti seluruh tujuh tahun melonggarkan cengkeramannya pada dadanya. Ia menutup mata sebentar, membiarkan cahaya pagi menghangatkan wajahnya melalui kaca, lalu berbalik dan berjalan ke lift, meninggalkan lantai empat puluh untuk terakhir kalinya.