"Kau tahu apa yang lucu?" Reksa mulai berjalan pelan ke samping, menjaga meja — dan pistol di atasnya — tetap di antara mereka. "Selama tujuh tahun kau membangun semua ini. Belajar keuangan. Menjelma jadi orang lain. Merangkak ke dalam hidupku seperti racun yang lambat. Dan untuk apa? Untuk berdiri di sini, di ujung, dan menyadari bahwa kau dan aku sama persis."
"Kita tidak sama."
"Tidak?" Reksa tertawa pendek. "Aku menghancurkan keluarga Mahendra untuk melindungi tuanku. Kau menghancurkan keluargaku — istriku Ratri di penjara, Sigit hancur, Damar membelot, namaku jadi sampah di setiap koran — untuk membalas dendam. Kita berdua membakar dunia untuk sesuatu yang kita yakini benar. Satu-satunya perbedaan di antara kita, Silla, adalah kau belum membunuh dengan tanganmu sendiri." Matanya berkilat ke arah pistol di meja. "Belum."
Pesan masuk berdenting di ponsel Reksa. Pria itu meliriknya, dan sudut bibirnya terangkat. "Anak buahku melaporkan Arsa baru saja masuk pelataran gudang. Tepat seperti yang kuduga. Jadi sekarang kita punya pilihan yang sangat sederhana, kau dan aku."
Ia meletakkan ibu jari di atas layar ponsel.
"Satu ketukan, dan adikmu mati. Atau—" ia menggeser pistol di atas meja, perlahan, sampai gagangnya menghadap Renjana, ujung laras menghadap dirinya sendiri, "—kau ambil ini, dan kau lakukan apa yang kau datang ke sini untuk lakukan tujuh tahun lalu. Kau bunuh aku. Lalu kau kirim sendiri pesan dari ponselku ke orang-orangku, memerintahkan mereka mundur, dan adikmu hidup. Bukti ada di kepalaku — kode untuk menarik mereka. Kau bunuh aku, kau dapat kodenya dari ponsel ini, kau selamatkan Dani, dan dendammu tuntas dengan tanganmu sendiri."
Hening yang panjang dan mengerikan.
Renjana menatap pistol itu. Ia tidak butuh diberi izin. Ia bisa mencabut pistolnya sendiri dari saku kapan saja dalam sepuluh menit terakhir. Tapi Reksa tidak tahu itu — dan inilah yang Reksa inginkan: bukan sekadar mati, tapi membuat Silla menjadi pembunuh. Membuktikan teorinya. Mengubah anak Bramantyo menjadi cerminan dirinya, supaya bahkan dalam kekalahan, Reksa menang. Supaya monster melahirkan monster.
Tangan Renjana bergerak. Ia mengangkat pistol dari meja. Logamnya dingin, lebih berat dari yang ia bayangkan, dan terasa benar di telapaknya — seolah seluruh hidupnya, sejak malam di sungai itu, telah membentuk tangannya khusus untuk memegang benda ini.
Ia mengangkatnya. Mengarahkannya ke dahi Reksa.
Reksa tidak mundur. Ia tersenyum. "Itu dia," bisiknya. "Itu wajah yang kucari. Tarik pelatuknya, Silla, dan kau jadi aku. Ayo. Akhiri ini."
Jari Renjana menemukan pelatuk. Tujuh tahun tekanan mengalir ke titik itu. Ia melihat ibunya. Ia melihat ayahnya jatuh. Ia melihat dirinya sendiri yang berusia tujuh belas tahun, terapung di air dingin, kira-kira sudah mati. Ia melihat semua nama dalam buku catatannya. Satu tarikan. Satu ons tekanan. Dan tujuh tahun akan lunas dalam suara yang lebih keras dari guntur.
Lalu ia melihat sesuatu yang lain.
Ia melihat Karyo — pemulung tua yang menampungnya dari sungai, yang batuk darah di gubuknya, yang memegang tangannya di malam terakhir dan berbisik: kalau kau jadi monster, ingat jalan pulang. Ia melihat Dani — bukan Dani yang dingin dan terbalik, tapi anak laki-laki sepuluh tahun yang dulu tidur memeluk lengannya saat ada petir. Anak laki-laki yang, sekarang, di sebuah gudang gelap di tepi kota, sedang menunggu kakaknya datang membawanya pulang — bukan membawanya warisan baru berupa kakak yang menjadi pembunuh.
Tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, tangan Renjana Asmara gemetar.
"Kau benar," katanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Kita hampir sama. Kau membuat dirimu jadi tanganku tujuh tahun lalu, dan aku hampir membiarkanmu menyelesaikan pekerjaanmu sekarang — mengubahku jadi kau." Ia menarik napas, dan napas itu serasa udara pertama setelah tenggelam. "Tapi ayahku tidak melapor ke polisi supaya anaknya jadi pembunuh. Dia melapor karena dia percaya pada sesuatu yang lebih besar dari dendam. Aku lupa itu selama tujuh tahun. Aku tidak akan melupakannya sekarang."
Ia menurunkan pistol.
"Apa—" wajah Reksa retak, kebingungan dan, di bawahnya, ketakutan yang sesungguhnya. "Kau pikir kau menang dengan tidak menembakku? Aku masih punya kodenya. Adikmu—"
"Lihat ke bawah, Reksa."
Reksa menunduk. Di sudut bawah layar ponselnya, sebuah notifikasi baru muncul — bukan dari anak buahnya. Dari nomor tak dikenal. Sebuah foto. Arsa, di dalam gudang, satu lengan melingkari bahu seorang remaja kurus berwajah pucat. Dani. Hidup. Aman. Di belakang mereka, dua sosok tergeletak di lantai, dilumpuhkan tanpa satu tembakan, dan di pintu, bayangan seragam — tim Inspektur Larasati.
"Sementara kau sibuk menawariku jiwaku," kata Renjana, dan untuk pertama kalinya di ruangan itu, ada sesuatu yang nyaris seperti belas kasihan di matanya — bukan untuk Reksa, tapi untuk dirinya sendiri yang dulu, "Arsa sudah masuk dari sisi timur lima menit lalu. Orang-orangmu di gudang itu sudah ditangkap. Aku tidak butuh kodemu, Reksa. Aku tidak pernah datang ke sini untuk membunuhmu. Aku datang untuk menahanmu di sini cukup lama."
Reksa meraih meja, mencari pistolnya, tapi pistol itu ada di tangan Renjana.
"Selesai," kata Renjana. Ia mengeluarkan magasin, melepas peluru di kamar, dan meletakkan logam mati itu kembali di atas kaca. "Bukan dengan darah. Dengan kebenaran. Cara yang seharusnya. Cara ayahku."
Di luar, fajar pecah di atas Kota Pradipa, dan cahaya pertama menyentuh jendela lantai empat puluh.