Lift naik dalam diam yang nyaris suci. Angka-angka berkedip di atas pintu — 18, 25, 33 — dan setiap lompatan membawanya lebih dekat ke ruangan yang selama tujuh tahun menjadi pusat gravitasi mimpi buruknya. Lantai empat puluh. Tempat di mana, dulu, ayahnya berdiri memegang map laporan dan memohon agar Reksa menghentikan pencucian itu, tidak tahu bahwa ia sedang menandatangani surat kematian keluarganya sendiri.
Pintu lift terbuka.
Lobi lantai empat puluh kosong. Lampu redup, hanya panel kaca dari lantai ke langit-langit yang membingkai kota Pradipa di bawah, lautan cahaya yang membentang sampai ke pelabuhan gelap di kejauhan. Di sanalah, di salah satu titik gelap itu, Dani sedang menunggu untuk diselamatkan atau dieksekusi. Renjana tidak mengizinkan dirinya memikirkan yang kedua.
Reksa Wijanarko berdiri di ujung ruangan, di depan jendela besar, punggung membelakangi kota. Ia memakai setelan abu-abu sempurna seperti biasa, sepatu kulit mengilap memantulkan cahaya redup — sepatu yang sama yang dulu dilihat Silla berusia tujuh belas tahun dari lantai, saat darah memenuhi mulutnya. Tujuh tahun, dan sepatu itu masih mengilap. Itu hal pertama yang Renjana perhatikan. Hal kedua: Reksa tampak lebih tua. Lelah. Kerajaannya runtuh di sekelilingnya, dan ia tahu.
"Kau datang sendiri," kata Reksa. "Bagus. Aku setengah berharap kau membawa pasukan dan merusak momen ini."
"Di mana Dani?"
"Aman. Untuk sekarang." Reksa berjalan pelan ke meja kerjanya, meja kaca besar tempat ia dulu menandatangani perintah-perintah yang membunuh. "Letakkan tasnya di meja. Pelan-pelan."
Renjana meletakkannya. Reksa tidak menyentuhnya. Tepat seperti yang ia ramalkan — mata pria itu tidak pada tas. Mata itu pada wajahnya, menelaah, mencari sesuatu.
"Aku terus memandangmu selama berbulan-bulan," kata Reksa pelan, "dan tidak pernah melihatnya. Renjana Asmara. Tangan kanan Pak Wira. Akuntan brilian. Aku mempercayaimu dengan angka-angkaku." Ia tersenyum getir. "Tapi sekarang aku melihatnya. Di sini." Ia menunjuk matanya sendiri. "Mata Bramantyo. Dingin yang sama. Dia menatapku dengan mata itu malam terakhir, kau tahu. Tidak takut. Hanya... kecewa. Seolah akulah yang gagal, bukan dia yang sekarat."
"Dia tidak gagal," kata Renjana. Suaranya tidak goyah. "Dia melapor. Dia melakukan hal yang benar. Kau yang membunuhnya untuk menutupinya."
"Aku tidak membunuhnya." Reksa mengangkat dagu. "Aku menjalankan perintah. Sama sepertimu, aku punya tuan."
"Pandu Adiwangsa." Renjana melihat kelopak mata Reksa berkedut saat nama itu diucapkan. "Aku tahu, Reksa. Aku tahu semuanya. Laporan ayahku tidak mengancammu — kau hanya kasir kecil dalam mesin pencucian uangnya. Laporan itu mengancam Pandu. Dan Pandu memerintahkanmu membersihkannya. Kau membantai satu keluarga karena seorang senator menjentikkan jari. Itu yang kau sebut 'punya tuan'?"
"Hati-hati," kata Reksa, tapi ada sesuatu yang retak di suaranya. Ketakutan. Bahkan di sini, bahkan sekarang, nama Pandu membuatnya gemetar. "Kau tidak tahu apa-apa tentang dia."
"Aku tahu cukup untuk menjatuhkannya." Renjana melangkah maju, perlahan, menjaga jarak dari meja. "Tujuh jam, kau bilang. Itu kesalahanmu, Reksa. Kau memberiku waktu. Kau selalu memberi terlalu banyak waktu pada orang yang lebih pintar darimu, karena kau tidak pernah percaya ada orang yang lebih pintar darimu."
Ekspresi Reksa mengeras. Ia meraih sesuatu dari laci meja — sebuah pistol, hitam dan ringkas — dan meletakkannya di atas kaca dengan suara klik yang menggema di ruangan kosong. Bukan diarahkan pada Renjana. Hanya diletakkan di sana, di antara mereka, seperti sebuah pertanyaan.
"Dani ada di gudang Cakra," kata Reksa pelan, dan jantung Renjana berhenti. "Ya. Aku tahu kau sudah melacaknya. Aku tahu anak buahmu — keponakanku yang berkhianat itu — sedang menuju ke sana sekarang." Ia mengangkat ponsel di tangan kirinya. "Satu pesan dariku, dan orang-orangku di sana akan menarik pelatuk sebelum Arsa sampai pintu. Jadi sekarang kita bicara dengan jujur, Silla. Kau dan aku. Untuk pertama dan terakhir kalinya."
Renjana menatap ponsel di tangan kiri Reksa, dan pistol di atas meja, dan kota yang berkilau dingin di belakang punggung pria yang menghancurkan hidupnya. Ia merasakan berat logam di saku jaketnya sendiri.
Tujuh tahun. Semuanya menyempit ke ruangan ini, ke pagi ini, ke jarak tiga meter antara dirinya dan monster yang membunuh ibunya, ayahnya, dan mencuri adiknya.
"Baik," kata Renjana. "Mari bicara jujur."