Mereka punya tujuh jam, dan Renjana membaginya seperti seorang ahli bedah membagi jaringan: setiap menit punya tujuan, setiap tujuan punya cadangan.
Pukul empat pagi, Kelana sudah menemukan jejaknya. CCTV sebuah minimarket dua blok dari persembunyian menangkap sebuah van hitam tanpa plat belakang melintas tak lama setelah tengah malam — di jam ketika Dani diseret keluar lewat tangga servis — lalu membelok ke selatan, menuju kawasan industri tua di tepi pelabuhan, bukan ke kantor pusat. Reksa menyembunyikan adiknya jauh dari tempat ia sendiri menunggu. Sandera dan eksekusi tidak pernah disimpan di ruangan yang sama.
"Gudang ekspedisi lama, di selatan," kata Kelana, jemarinya menari di atas keyboard meski lengannya yang terluka membuatnya meringis. "Terdaftar atas nama cangkang yang kita bongkar bulan lalu — Cakra Logistik. Reksa pikir kita belum tahu cangkang itu masih dia kuasai. Tapi aku punya skema jaringan listriknya. Ada lonjakan daya di gudang nomor tiga sejak jam satu lewat sedikit — tepat saat van itu seharusnya tiba. Lampu, AC, mungkin pemanas air. Ada orang di sana sekarang."
Renjana menatap denah yang terbentang di meja. Dua titik. Gudang di selatan, tempat Dani. Menara Wijanarko di pusat kota, lantai empat puluh, tempat Reksa menunggu jiwanya.
"Dia membagi dirinya," kata Renjana pelan, hampir kagum pada kebodohan ego musuhnya. "Reksa selalu begitu. Dia harus jadi yang terpintar di ruangan, harus melihat wajahku saat aku menyerah. Dia tidak mau mendelegasikan momen kemenangannya. Itu kelemahannya sejak hari pertama."
Ia mengangkat kepala. "Maka kita pisahkan juga diri kita. Tapi lebih cerdas dari dia."
Rencananya terbentang seperti papan catur yang sudah ia mainkan ribuan kali di kepalanya.
Front pertama — umpan. Renjana akan datang sendiri ke lantai empat puluh, tepat waktu, membawa sebuah tas berisi laptop, hard drive, dan ponsel yang tampak persis seperti yang Reksa minta. Tapi isinya umpan: salinan bukti yang sudah dimanipulasi Kelana, berkas yang tampak otentik di permukaan namun, begitu disalin atau dipindahkan, akan memicu enkripsi yang menghancurkan dirinya sendiri dan mengirim sinyal waktu. Reksa akan mengira ia memegang kunci kerajaannya. Yang ia pegang hanyalah jam pasir.
Front kedua — penyelamatan. Sementara Renjana menahan Reksa dengan kata-kata di lantai empat puluh, Arsa dan tim kecil akan masuk ke gudang nomor tiga dari arah yang tidak dijaga: bukan menyerbu, tapi menyusup. Arsa masih punya kartu akses Wijanarko yang belum dicabut — sistem internal Reksa terlalu kacau dalam tiga hari terakhir untuk menonaktifkan semuanya. Ia akan masuk sebagai "orang Reksa" yang datang memindahkan sandera, perintah palsu yang dibuat Kelana dengan kop dan tanda tangan digital yang sempurna.
Front ketiga — jaring hukum. Inspektur Larasati, yang sudah menghabiskan dua tahun memburu monster yang sama, akan menempatkan timnya — timnya sendiri, bukan unit yang sudah disusupi orang Pandu — di sekeliling gudang. Mereka tidak akan bergerak sampai Dani aman. Lalu mereka akan menutup setiap pintu keluar.
"Ini gila," kata Maya, yang kini sudah bangun, matanya merah tapi awas, perekam di tangannya. "Kalau Reksa menyadari buktinya palsu sebelum Dani keluar—"
"Maka aku sudah mati di lantai empat puluh, dan kalian harus menekan setiap tombol tanpa aku." Renjana menatapnya, lalu menatap mereka satu per satu. "Tapi dia tidak akan menyadarinya tepat waktu. Karena dia tidak akan memeriksa bukti dulu. Dia akan memeriksa wajahku dulu. Dia ingin melihat aku hancur. Egonya akan membeli kita lima menit. Dan lima menit cukup."
Arsa menatapnya lama. Ada sesuatu yang tak terucap di antara mereka — pengakuan bahwa salah satu dari mereka mungkin tidak akan kembali dari pagi ini. Lalu Arsa hanya mengangguk dan berkata, "Aku keluarkan Dani. Apa pun yang terjadi padaku, aku keluarkan dia."
"Aku tahu," kata Renjana. Dan untuk sekejap, di balik dinding es yang ia bangun selama tujuh tahun, ada sesuatu yang nyaris pecah. Ia menelannya. "Jangan mati. Itu perintah."
Sudut bibir Arsa terangkat sedikit. "Kau juga."
Pukul lima lewat empat puluh, mereka bergerak. Dua mobil meluncur ke arah berlawanan di bawah langit yang mulai memucat di tepi timur. Renjana duduk di kursi belakang taksi yang ia pesan agar tidak terlacak, tas umpan di pangkuannya, dan di saku jaketnya — sesuatu yang berat, dingin, dan terlarang. Pistol. Ia tidak berencana memakainya. Tapi tujuh tahun mengajarinya untuk tidak pernah masuk ke ruangan tanpa jalan keluar.
Di kaca jendela, kota lewat seperti aliran sungai. Sungai yang dulu menelannya sebagai mayat. Pagi ini, untuk terakhir kalinya, ia kembali ke hulu.