Pukul nol lewat sepuluh menit dini hari, di penghujung malam persiapan mereka, ponsel Renjana bergetar di atas meja apartemen persembunyian yang menjadi markas terakhir mereka. Bukan getaran biasa. Nada itu khusus — nomor yang seharusnya tidak ada lagi di dunia ini, nomor lama Reksa Wijanarko yang sudah ia hapus dari memori sejak topengnya retak. Tapi Reksa selalu punya cara menemukan celah.
Beberapa jam yang lalu, sebelum tengah malam, Dani masih ada di kamar ujung lorong — adiknya, yang tiga minggu ini perlahan belajar lagi cara menjadi manusia, yang malam ini seharusnya tidur di balik lapisan pengawasan paling rapat yang pernah ia susun. Esok lusa, menurut rencana yang ia bentangkan semalam, baru tiga front dinyalakan serempak. Malam ini hanya untuk berjaga, untuk mengunci pertahanan di sekitar adiknya serapat mungkin. Tapi badai tidak menunggu jadwal. Dan kini, di tengah jam jaga itu, Reksa menelepon.
Renjana menatap layar selama dua detik penuh sebelum mengangkat. Di seberang ruangan, Arsa menegakkan punggung dari sofa tempat ia ketiduran, Kelana mengangkat kepala dengan lengan yang masih dibebat perban dari luka lama. Maya terjaga di kamar belakang. Dan di sudut matanya, Renjana sudah merasakan sesuatu yang salah — pintu kamar Dani yang menganga, selimut yang tersibak, jendela kamar mandi yang terbuka ke tangga servis yang seharusnya terkunci.
"Selamat pagi, Silla," suara Reksa terdengar tenang, hampir lembut, dan justru itu yang membuat tengkuk Renjana dingin. "Atau aku masih harus memanggilmu Renjana? Kau pintar sekali memilih nama. Asmara. Penuh cinta. Ironis, mengingat kau dilahirkan dari dendam."
"Kau menelepon tengah malam untuk berfilsafat?"
"Aku menelepon untuk memberitahumu bahwa kamar adikmu sudah kosong."
Renjana berdiri begitu cepat sampai kursi terjungkal ke belakang. Ia sudah melihatnya — pintu yang menganga, selimut yang dingin — tapi mendengarnya dari mulut Reksa membuat lantai seakan miring di bawah kakinya. Dani. Diculik ulang. Dari dalam persembunyian yang ia kira tak tersentuh, di malam ketika ia bersumpah berdiri di antara adiknya dan dunia. Jantungnya merosot ke perut.
"Bagaimana—" suaranya nyaris tercekik. Ia menelan amarah, memaksanya kembali ke dalam kotak dingin tempat ia menyimpannya selama tujuh tahun.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu mengeksekusi rencana kecilmu yang manis tanpa perlawanan?" Reksa terkekeh. "Kau menghancurkan Sigit. Damar membelot. Yayasan Ratri hancur di koran pagi ini. Aku memang gagal merebut adikmu malam itu di koridor — orang-orangku pulang dengan peretas, bukan dengan dia. Tapi aku belajar dari kesalahan, Silla. Aku menempatkan satu pasang mata di setiap plat nomor yang Wibowo bisa lacak, dan akhirnya jejakmu retak. Malam ini orang-orangku tidak salah ambil. Aku sudah katakan padamu di video itu: aku akan mengambil Dani kembali kapan pun aku mau. Aku baru saja melakukannya — mengambil satu-satunya tombol yang kau tak akan berani tekan, sebelum kau sempat menyalakan tiga frontmu yang manis itu."
Renjana memejamkan mata. Tujuh tahun. Tujuh tahun ia membangun mesin penghancur ini batu demi batu, tiga minggu ia menjaga adiknya kembali belajar bernapas tanpa takut, dan Reksa baru saja menyeret satu tubuh remaja tujuh belas tahun itu kembali ke tengah roda gigi — beberapa jam sebelum ia menyalakan badai.
"Aku punya buktinya, Reksa," katanya, suaranya kembali rata, dingin. "Rekening Pandu. Berkas ayahku. Kesaksian Damar, Sigit, Bagas. Semuanya sudah terkunci, terjadwal, dan dicadangkan di tempat yang tidak akan kau temukan. Kalau Dani kurang satu helai rambut, semua itu meledak pagi ini. Kau dan Pandu masuk penjara. Kau tahu itu."
"Aku tahu," sahut Reksa, dan ada keletihan ganjil dalam suaranya. "Tapi aku juga tahu satu hal yang tidak kau perhitungkan dalam rumus-rumusmu, akuntan kecil. Kau bukan ayahmu. Bramantyo akan menekan tombol itu tanpa ragu, mengorbankan apa pun demi prinsip. Kau? Kau menghabiskan tujuh tahun untuk satu hal: menemukan adikmu hidup. Sekarang katakan padaku — kau benar-benar akan menukar nyawanya dengan keadilan abstrak untuk lima jenazah yang sudah membusuk?"
Hening. Kelana menatapnya dari seberang ruangan, wajahnya pucat. Arsa berdiri di belakang, rahangnya mengeras.
"Pukul tujuh pagi," lanjut Reksa. "Itu memberimu beberapa jam. Cukup untuk menyadari bahwa rencanamu yang manis — jaga adikmu rapat-rapat malam ini, nyalakan tiga frontmu lusa — sekarang tidak punya hari esok. Aku merebut tombolmu sebelum kau sempat menekan apa pun. Datang sendiri ke kantor. Lantai empat puluh. Bawa semua salinan bukti, semua perangkat, semua kata sandi. Serahkan padaku, dan kau dan adikmu boleh pergi. Aku bahkan akan membiarkanmu hidup, Silla. Pandu mungkin tidak. Tapi aku — aku lelah. Aku hanya ingin ini selesai."
"Dan kalau aku tidak datang?"
"Maka kau akan mendengar tembakan lewat telepon, dan menghabiskan sisa hidupmu dengan keadilan di tangan dan adikmu di tanah." Jeda. "Tujuh jam, Silla. Aku menunggu di tempat semuanya bermula. Ironisnya bagus, bukan? Lantai empat puluh. Tempat ayahmu pernah berdiri memohon padaku."
Sambungan terputus.
Renjana berdiri membeku di tengah ruangan, ponsel masih menempel di telinga, mendengarkan nada putus yang berdengung seperti garis datar monitor jantung. Di luar jendela, langit Kota Pradipa masih hitam, lampu-lampu menara kaca berkedip seperti mata serigala yang tidak pernah tidur.
"Renjana." Arsa mendekat, tangannya menyentuh bahunya, hati-hati, seolah ia bisa pecah. "Kita cari dia. Sekarang. Kelana bisa lacak—"
"Mereka mengambilnya lewat tangga servis, mungkin dua jam lalu, saat kita semua mengira pintu itu terkunci." Renjana berbalik, dan wajahnya sudah berubah. Bukan panik. Bukan amarah. Sesuatu yang lebih menakutkan: perhitungan dingin yang menyala kembali. "Dani sudah jauh dari sini sekarang. Kelana, tarik rekaman CCTV di sekitar blok ini, semua jalur keluar sejak tengah malam, setiap plat nomor. Aku ingin tahu ke mana mereka membawanya, bukan menghadang konvoinya di jalan — itu akan membuat Dani terbunuh."
Kelana sudah berlari ke laptopnya.
"Apa rencananya?" Arsa bertanya pelan.
Renjana menatap denah tiga front yang masih terbentang di meja — finansial, hukum, publik, dirancang untuk dinyalakan lusa — kini terpaksa dipercepat ke pagi ini, lalu menatap jam dinding. Enam jam lima puluh menit.
"Reksa pikir dia memegang satu-satunya kartu yang tidak bisa kupertaruhkan," katanya. "Dia benar. Aku tidak akan menukar Dani dengan apa pun." Ia mengangkat ponselnya kembali. "Tapi dia membuat satu kesalahan. Dia memisahkan dirinya dari Pandu untuk melakukan ini. Dia datang sendiri, ke lantai empat puluh, tanpa pelindung politiknya. Dan dia mengundangku ke ruangan yang aku kenal lebih baik daripada dia." Ia menekan satu nomor. "Inspektur Larasati. Maaf membangunkanmu. Kita kehabisan waktu, dan aku butuh kau mendengarkan setiap kata."
Di luar, fajar masih tujuh jam lagi. Tapi badai sudah datang lebih dulu.