Kesaksian Bagas direkam di tempat aman yang disiapkan Laras, dengan tiga lapis pengamanan dan Maya di balik kamera. Mereka melakukannya cepat, dalam satu malam, karena setiap orang di ruangan itu tahu bahwa kebenaran ini tak akan dibiarkan hidup lama tanpa membayar.
Bagas bicara selama empat jam.
Ia menceritakan ruangan, dua hari sebelum pembantaian, di sebuah vila di pegunungan. Pandu Adiwangsa di kepala meja, tenang, menyesap brendi, sementara Reksa berkeringat di hadapannya. Bramantyo Mahendra telah menyerahkan laporan pencucian uang ke polisi—laporan yang, jika ditelusuri, tak berhenti di Reksa, melainkan naik, terus naik, ke jaringan politik yang Pandu bangun dari uang haram selama dua dekade. Bagas mengutip kalimat Pandu, kata demi kata, dan kedua rekaman itu—miliknya dan warisan Bramantyo dari dalam jam tua—saling menguatkan, dua sudut dari satu kalimat dingin yang sama: "kebocoran harus disumbat di sumbernya, bersama seluruh kemungkinan kebocoran lain di rumah itu."
Seluruh keluarga. Termasuk anak-anak. Karena Pandu tak percaya pada setengah-setengah.
Bagas juga mengonfirmasi—dari sisi Reksa kali ini—mengapa Dani disisakan hidup, sesuatu yang sudah Renjana raba sejak Dani mengingat jam ayah mereka, kini diperjelas dengan rinci. "Bramantyo menyembunyikan salinan bukti pamungkasnya," kata Bagas ke kamera. "Reksa tak menemukannya malam itu. Tapi Reksa menemukan sesuatu yang membuatnya yakin si bungsu, Dani, tahu di mana atau bagaimana mengaksesnya. Maka anak itu disisakan—bukan karena belas kasihan. Sebagai kunci. Sebagai sandera atas senjata yang Reksa kira belum ada yang temukan." Ia menatap Renjana lurus. "Dan dia masih mengira begitu. Itu sebabnya dia begitu putus asa merebut adikmu kembali—dia tak tahu kau sudah lebih dulu menggali jam itu. Selama Reksa percaya Dani satu-satunya jalan ke bukti ayahmu, dia tak akan menyakiti anak itu; dia akan menyimpannya hidup-hidup. Jaga adikmu rapat-rapat, Renjana, karena Reksa tak akan berhenti memburunya—tapi ketidaktahuannya itu kabar baik satu-satunya yang bisa kuberikan padamu. Dani lebih aman selama Reksa salah."
Renjana, menonton dari sudut, merasakan sesuatu mengeras menjadi pasti di dadanya. Ia sudah tahu Dani kunci; kini ia tahu sebabnya, sampai ke akarnya—dan tahu bahwa ketidaktahuan Reksa adalah perisai yang akan menjaga adiknya tetap hidup, asalkan ia menjaga Dani tetap di luar jangkauan Reksa.
Saat kesaksian selesai, fajar menyingsing di luar.
"Kita punya semuanya," kata Maya, suaranya bergetar dengan kegelisahan dan kemenangan. "Dua rekaman suara Pandu—warisan ayahmu dan milik Bagas, saling mengunci. Saksi hidup yang ada di ruangan. Rantai komando dari Damar. Peta keuangan dari Sigit. Ini—Renjana, ini bisa meruntuhkan seorang senator. Ini bisa meruntuhkan negara bayangan."
"Kalau kita bisa menyiarkannya sebelum mereka membungkam kita," kata Laras dingin. "Dan kalau Bagas hidup cukup lama untuk bersaksi resmi di pengadilan. Rekaman, betapapun banyak, akan dibantah keasliannya tanpa saksi yang ada di ruangan. Butuh dia, hidup, di kursi saksi."
Mereka memindahkan Bagas ke rumah aman kedua, jalur yang hanya empat orang tahu. Tapi Pandu telah membangun jaringannya selama dua puluh tahun, dan jaringan seperti itu punya telinga di tempat-tempat yang bahkan Renjana tak duga.
Mereka tak pernah tahu kebocorannya dari mana. Mungkin sebuah plat nomor yang terekam kamera lalu lintas yang dikendalikan Wibowo. Mungkin seorang petugas rumah aman yang anaknya tiba-tiba sakit. Pandu tak pernah perlu satu pengkhianat besar; ia hanya perlu seribu titik lunak.
Mereka datang di malam ketiga.
Renjana berada di sektor lain kota, menyiapkan front lain, ketika ponselnya berbunyi. Laras. Dan dari nada satu kata pertamanya—"Renjana"—ia sudah tahu.
Bagas ditemukan di rumah aman kedua. Disamarkan sebagai perampokan yang gagal. Tapi tak ada yang dicuri, dan luka di dadanya adalah pekerjaan tangan yang terlatih—pekerjaan Garda, atau apa pun yang tersisa dari regu Garda yang masih bebas. Sang komisaris pensiun, sang pengkhianat, mati sendirian di kamar kecil dengan jendela menghadap timur, ke arah fajar yang tak akan ia lihat.
Renjana berdiri di luar rumah aman dalam dingin subuh, menatap tubuh yang ditutup kain putih, dan merasakan sesuatu yang tak ia duga akan ia rasakan untuk Bagas: kehilangan.
"Dia tahu," kata Renjana pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Saat menyerahkan rekaman itu. Dia tahu ini yang akan terjadi. Dan dia tetap melakukannya."
Laras berdiri di sampingnya, wajahnya keras menahan kemarahan. "Mereka membunuhnya untuk membungkam kesaksiannya. Tanpa Bagas di kursi saksi, pengacara Pandu akan menyebut rekaman itu palsu, fabrikasi, hasil rekayasa buronan yang ingin membalas dendam."
Tapi Renjana menggeleng pelan, dan saat ia berbalik, ada sesuatu yang dingin dan pasti di matanya.
"Bagas tak bersaksi untuk satu sidang, Laras," katanya. "Dia bersaksi untuk kamera. Untuk publik. Empat jam, terdokumentasi, dengan rekaman pendukung. Pandu pikir membunuhnya akan membungkam kebenaran. Tapi yang dia bunuh adalah saksi hidup—dan dengan membunuhnya tepat setelah kesaksian itu direkam, di rumah aman yang lokasinya hanya bisa diketahui lewat penyalahgunaan kekuasaan kepolisian—" suaranya mengeras menjadi sesuatu yang menyerupai pisau, "—Pandu baru saja menambahkan satu pembunuhan lagi ke daftar yang akan kami siarkan. Dia membuat kesalahan yang sama dengan tujuh tahun lalu. Dia mengira membungkam saksi akan menyelesaikan masalah. Tapi setiap saksi yang dia bunuh meninggalkan jejak. Dan kali ini, aku punya kameranya."
Ia menutup mata, dan untuk sesaat, hanya untuk sesaat, ia membiarkan dirinya berduka—untuk Bagas, untuk Wira, untuk Karyo, untuk semua yang membayar agar kebenaran ini sampai ke sini.
Lalu ia membuka mata.
"Kita kehabisan waktu," katanya. "Pandu tahu kita punya rekaman itu sekarang—kalau dia tahu lokasi Bagas, dia tahu kita semakin dekat. Dia akan bergerak untuk menutup semua jalan sebelum kita siarkan. Kumpulkan semua orang. Malam ini. Kita susun eksekusi akhir—tiga front, serempak. Karena setelah malam ini, tak ada lagi tempat bersembunyi untuk siapa pun. Untuk mereka, atau untuk kita."