Bagas datang di tengah hujan, ke tempat yang seharusnya tak diketahui siapa pun.
Renjana mendengar pintu sebelum mengetuk—naluri tujuh tahun—dan saat ia membukanya dengan pistol di tangan (pistol yang Laras berikan dengan enggan, untuk pertahanan, bukan untuk yang lain), ia menemukan komisaris pensiun itu berdiri di ambang, basah kuyup, lebih tua dari segalanya, dengan tatapan orang yang telah berhenti lari.
"Kau," kata Renjana, suaranya rata seperti es. "Kau yang membocorkan namaku ke Pandu."
Bagas tak menyangkal. Itu, lagi, yang membedakan orang-orang ini—yang terburuk dari mereka pun, di akhir, berhenti berbohong.
"Iya," kata Bagas. "Untuk menyelamatkan diriku. Garda memburuku. Pandu tahu aku punya berkas asli kasusmu, aku tahu terlalu banyak. Aku pikir—kalau kuberikan namamu, kalau kutunjukkan aku masih berguna, mereka akan membiarkanku hidup." Air menetes dari rambut kelabunya ke lantai. "Aku salah. Mereka tak pernah membiarkan siapa pun hidup yang tahu sebanyak aku. Sekarang aku diburu sama seperti kau."
Renjana tak menurunkan pistol. Di dalam dirinya, dua suara berperang. Satu menuntut: dia menjual kita. Pak Wira mati karena kebocoran yang dimulai dari orang-orang seperti ini. Tekan pelatuknya. Yang lain, lebih lirih, bertanya: lalu apa bedanya kau dengan Garda?
"Beri aku satu alasan," kata Renjana, "untuk tidak menyerahkanmu ke Garda yang tersisa, atau lebih buruk, ke Laras."
Bagas mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya—pelan, agar Renjana melihat tak ada senjata. Sebuah amplop tebal, kedap air. Dan sebuah alat perekam tua.
"Karena aku memiliki satu hal yang tak dimiliki Damar, tak dimiliki Sigit, tak dimiliki siapa pun yang masih hidup," kata Bagas. "Aku ada di sana, Renjana. Bukan hanya menutup kasus. Aku hadir, malam itu, di rumahmu. Aku yang mengatur mayat tukaran. Aku yang memastikan laporannya 'korsleting listrik'." Suaranya pecah. "Dan aku ada di ruangan, dua hari sebelum itu, ketika perintah diberikan. Ketika Pandu Adiwangsa, dengan suaranya sendiri, memerintahkan Reksa untuk membungkam ayahmu—bukan menakut-nakuti, bukan menyuap. Membungkam. Selamanya. Karena laporan ayahmu tentang pencucian uang akan menyeret Pandu, bukan hanya Reksa. Aku berdiri tiga meter dari mulut yang mengucapkannya. Aku saksi hidup satu-satunya yang tersisa."
Renjana berhenti bernapas. Ia tahu suara itu. Ia sudah mendengarnya—dalam rekaman yang ayahnya kubur di dalam jam tua, suara dingin yang sama yang memerintahkan agar "masalah Bramantyo diselesaikan permanen". Tapi rekaman warisan ayahnya direkam dari satu titik, lewat alat sederhana, dari balik tembok; pengacara Pandu bisa menyebutnya kabur, dipotong, direkayasa.
"Aku juga merekamnya," kata Bagas, mengangkat alat perekam tua itu seolah benda paling rapuh di dunia. "Dari dalam ruangan itu. Diam-diam. Bukan karena nurani—aku tak punya nurani saat itu. Karena asuransi. Polis terhadap orang yang lebih kuat dariku. Aku menyimpannya tujuh tahun. Itu satu-satunya alasan aku masih hidup—Pandu tak tahu ini ada, dia hanya tahu aku punya berkas kasus." Ia meletakkan amplop dan perekam di meja, di antara mereka. "Aku tahu ayahmu juga menyimpan sesuatu; kabarnya kau sudah menggalinya. Bagus. Karena satu rekaman, sendirian, bisa dibantah. Tapi dua rekaman dari dua sumber yang tak pernah saling kenal, berisi kalimat yang sama, di malam yang sama—ditambah saksi hidup yang ada di ruangan untuk bersumpah keduanya benar—itu tak bisa dirobek pengacara mana pun. Punyamu memberi suaranya. Punyaku menguncinya. Dan aku, di kursi saksi, memakukannya."
Renjana menatap benda di meja itu seolah benda itu bisa meledak.
"Kenapa sekarang," tanyanya, suaranya nyaris bisikan. "Setelah tujuh tahun. Setelah mengkhianatiku. Kenapa menyerahkannya sekarang?"
Bagas tertawa pelan, getir, tawa orang yang sudah menghitung sisa harinya. "Karena aku akan mati, Renjana. Garda yang lama tertangkap, tapi Pandu punya orang lain. Mereka akan menemukanku dalam beberapa hari, mungkin jam. Aku menghabiskan tujuh tahun menjaga rekaman ini untuk menyelamatkan nyawaku sendiri. Dan ternyata—" ia menatap Renjana, dan untuk pertama kali sejak Renjana mengenalnya, mata komisaris itu jujur, "—nyawaku tak cukup berharga untuk diselamatkan dengan kebenaran ini. Tapi nama putraku—jaksa muda yang Reksa bunuh karena terlalu dekat dengan kasus ini—nama itu berharga. Dan keluargamu. Mereka berhak."
Ia mendorong amplop dan perekam menyeberangi meja.
"Aku mengkhianatimu untuk hidup beberapa minggu lagi," kata Bagas. "Sekarang aku ingin menebusnya dengan kematian yang berarti sesuatu. Ambil ini. Satukan dengan rekaman ayahmu. Jatuhkan Pandu dengan suaranya sendiri, dari dua arah sekaligus. Dan saat aku bersaksi di depan publik untuk menguatkan keduanya—karena rekaman saja, betapapun banyak, akan disebut palsu oleh pengacara Pandu kalau tak ada saksi hidup yang ada di ruangan—saat aku bersaksi, aku tahu aku tak akan selamat."
Renjana akhirnya menurunkan pistol. Tangannya gemetar.
Di dalam dirinya, dendam berperang dengan sesuatu yang lebih tua dan lebih sulit. Bagas mengkhianatinya. Bagas mengatur mayat tukaran, menutup pembunuhan keluarganya, berbohong selama tujuh tahun. Setiap serat dalam diri Renjana yang dibentuk oleh sungai dan kebencian menuntut agar ia membiarkan Bagas mati sendirian, tanpa penebusan, sebagaimana Bagas membiarkan keluarganya mati.
Lalu ia mendengar Karyo. Kalau jadi monster, ingat jalan pulang.
Dan ia mengerti bahwa pengampunan bukanlah memaafkan apa yang dilakukan Bagas. Pengampunan adalah menolak membiarkan kebencian memilih untuknya.
"Kau tak harus mati," kata Renjana pelan, suaranya berbeda sekarang. "Aku bisa melindungimu. Laras—"
"Tidak ada yang bisa melindungiku dari Pandu," kata Bagas, dan ia tersenyum, lelah dan hampir damai. "Tapi kau bisa memastikan kematianku bukan sia-sia. Itu lebih dari yang pernah kuberikan pada keluargamu." Ia menarik napas. "Biarkan aku menebus, Silla. Panggil aku dengan nama itu sekali, dan biarkan seorang tua menjadi berguna untuk yang terakhir kali."
Renjana menatapnya lama, hujan menggedor jendela, dua orang yang dipertemukan oleh dosa yang sama.
"Baik," katanya akhirnya. "Tapi tidak sendirian. Kau bersaksi, dan kita melindungimu sebisa kita. Dan kalau yang terburuk datang—" suaranya mengeras, "—Pandu akan jatuh bersamamu. Aku berjanji."
Bagas mengangguk, dan untuk pertama kali dalam tujuh tahun, sang pengkhianat tampak seperti seseorang yang akhirnya menemukan jalannya sendiri pulang.