Damar tidak datang ke pertemuan dengan tangan kosong.
Ia membawa pistol di pinggang dan ketakutan di mata—dua hal yang tak pernah Renjana lihat bersamaan pada kepala keamanan Wijanarko Group. Mereka bertemu di kafe dua puluh empat jam di pinggir kota, tempat sopir truk dan pekerja malam minum kopi pahit, tempat tak seorang pun memandang dua kali. Renjana memilihnya justru karena keramaiannya. Damar tak akan menembak di antara saksi. Dan Renjana butuh Damar bicara, bukan mati.
Pesan untuk pertemuan ini Renjana kirim lewat jalur yang hanya Damar bisa baca—lewat anak buah Sigit yang kini di bawah perlindungan Laras. Sebuah angka rekening. Lalu sebuah nama: putri Damar. Lalu satu kalimat: Mereka akan menjadikanmu kambing hitam. Datang, atau jatuh sendirian.
Damar duduk di seberangnya, dua hari setelah malam gudang lima. Wajahnya lebih tua dari yang Renjana ingat. Garda tertangkap telah menggetarkan seluruh organisasi—dan yang paling getir tahu apa artinya itu adalah orang yang paling lama berada di dalamnya.
"Kau," kata Damar pelan. "Anak Bramantyo. Aku menolak percaya saat Reksa bilang. Aku pikir tidak mungkin ada yang bertahan dari malam itu."
"Tanganmu yang menyerahkan kami ke Garda," kata Renjana.
Damar tak menyangkal. Itu yang Renjana hormati darinya, sedikit—Damar tak pernah berpura-pura bersih. "Aku menjalankan perintah. Aku tahu itu bukan alasan." Ia memutar cangkir kopi. "Kenapa aku di sini, Renjana?"
"Karena kau sudah menghitungnya sendiri." Renjana mencondongkan tubuh. Rusuknya masih dibalut di bawah jaket, setiap napas mengingatkannya pada harga. "Garda tertangkap. Hendra di penjara. Sigit menghilang—kau pikir dia mati, padahal dia bersaksi. Hartono aman di suatu tempat yang tak bisa Reksa jangkau. Notaris, mitra pelabuhan, akuntan, eksekutor. Satu per satu lingkaran dalam runtuh. Dan sekarang, di puncak, ada Reksa dan ada orang di atas Reksa yang bahkan kau takut menyebut namanya."
Damar diam.
"Pandu," kata Renjana, dan melihat kepala keamanan itu berkedut hanya dengan mendengar dua suku kata. "Saat semuanya runtuh, Pandu butuh seseorang untuk menanggung beban. Bukan dirinya—dia senator, dia tak tersentuh. Bukan Reksa—Reksa terlalu tahu rahasianya, mereka akan saling melindungi atau saling menjatuhkan. Lalu siapa? Siapa yang punya tangan kotor di setiap operasi, yang namanya ada di setiap dokumen keamanan, yang bisa disalahkan untuk semua kekerasan tanpa menyeret yang di atas?"
Damar menutup mata sejenak. Ia sudah tahu jawabannya sebelum Renjana mengucapkannya.
"Kau," kata Renjana. "Kau kambing hitamnya. Sudah disiapkan. Mungkin kau sudah merasakannya—telepon yang tak dijawab, rapat yang tak lagi kau hadiri, anak buah yang dipindah tanpa kabar. Mereka mengisolasimu, Damar. Persis seperti yang kau lakukan pada tikus dalam organisasi. Sekarang kau yang jadi tikusnya."
"Kalau itu benar," kata Damar perlahan, suaranya hampir tak terdengar di atas dengung mesin kopi, "kenapa kau memberitahuku? Kau membenci aku. Sepantasnya aku tenggelam bersama mereka."
Dan inilah momen yang Renjana siapkan. Bukan ancaman. Bukan suap. Sesuatu yang lebih tajam dari keduanya.
"Tujuh tahun lalu," kata Renjana, suaranya turun, "saat aku tergeletak di aspal, saat kau memberi perintah pada Garda untuk membuangku, aku masih sadar sebagian. Aku mendengar adikku menjerit. Dani. Sepuluh tahun. Dan kau tahu apa yang tak pernah kuberikan padaku malam itu?" Ia menatap Damar lurus. "Pilihan. Tak ada yang memberiku pilihan untuk hidup atau mati, untuk benar atau salah. Hanya ada perintah, dan tangan, dan sungai."
Ia meletakkan sebuah map tipis di meja. Tak menyentuhnya lagi.
"Sekarang aku memberimu apa yang tak ada yang berikan padaku. Pilihan." Renjana berdiri, menahan ringis di rusuknya. "Di dalam itu ada nama jaksa yang bersih, nama Inspektur yang bisa kau percayai, dan jaminan perlindungan untuk putrimu. Kau bisa bersaksi. Kau bisa menyerahkan rantai komando—siapa memerintah siapa, dari Pandu ke Reksa ke kau ke Garda. Kau bisa keluar dari ini hidup, dengan anakmu aman, dan dengan satu hal yang tak pernah kau punya selama dua puluh tahun melayani Reksa."
"Apa," tanya Damar.
"Jiwa yang tidur tanpa mimpi buruk." Renjana mengenakan jaketnya. "Atau kau bisa tetap setia, dan menjadi nama yang tertulis di vonis sementara Pandu memotong pita di proyek berikutnya. Putrimu akan membaca tentang ayahnya di koran. Pembunuh. Penjahat. Itu yang akan dia warisi."
Damar memandang map itu seperti memandang ular.
"Kenapa kau peduli pada putriku," tanyanya akhirnya, suaranya retak.
"Aku tidak," kata Renjana jujur. "Tapi dia tidak bersalah. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bertahun-tahun lalu, bahwa aku tidak akan menyakiti yang tidak bersalah untuk membalas yang bersalah. Itu satu-satunya hal yang membedakan aku dari Reksa." Ia berbalik ke pintu, lalu berhenti. "Aku tidak memintamu untuk percaya bahwa aku baik, Damar. Aku memintamu untuk cukup pintar melihat kapal yang tenggelam. Kau selalu pintar. Itu sebabnya kau bertahan dua puluh tahun. Bertahanlah sekali lagi—di sisi yang benar, untuk satu kali dalam hidupmu."
Renjana keluar ke malam, meninggalkan kepala keamanan yang dulu membantingnya ke aspal duduk sendirian di hadapan sebuah pilihan—pilihan yang dulu, di tepi sungai itu, tak pernah ditawarkan padanya.
Pukul empat pagi, ponsel Renjana bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal.
Putriku dulu. Jaminannya tertulis. Lalu aku bicara. Semuanya.
Renjana menutup mata. Tangan yang membantingnya ke aspal baru saja memilih untuk mengangkat dirinya sendiri.